‘Atikah binti Zaid ra.; Siapa yang Ingin Mati Syahid, maka Menikahlah dengan ‘Atikah binti Zaid ra.

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF – Ada ungkapan yang sangat masyhur di kalangan penduduk Madinah, “Siapa yang ingin mati syahid, maka menikahlah dengan ‘Atikah binti Zaid.” Awalnya, ‘Atikah menikah dengan Abdullah bin Abu Bakar yang kemudian gugur di medang perang. Lalu, ia menikah dengan Umar bin Khaththab yang kemudian meninggal karena dibunuh orang. Akhirnya, ia menikah dengan Zubair bin Al Awwam yang juga meninggal karena dibunuh orang.

Atikah adalah seorang sahabat wanita mulia yang memiliki sekian banyak kemuliaan dan keistimewaan yang tidak mungkin dapat kita ungkapkan dalam tulisan ini. Bagaimana tidak, ia adalah saudara kandung dari Sa’id bin Zaid, salah seorang dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Ibunya adalah Ummu Kuraiz binti Al-Hadhrami dan paman dari pihak ibunya adalah Al-‘Ala’ bin Al-Hadhrami, seorang sahabat Rasulullah saw. yang sangat terkenal.

Tentang Al-‘Ala’ ini, Abu Hurairah pernah berkata, “ Aku menyaksikan tiga hal dari Al-‘Ala’, hingga aku sangat mencintainya sepanjang hidupku. Ia pernah menyeberang sungai besar dengan tetap menunggang kuda dalam peristiwa perang Darain. Ketika sampai di Bahrain, ia berdoa kepada Allah, maka tiba-tiba air memancar dengan deras hingga semua orang dapat minum hingga puas. Saat itu, ada seseorang yang lupa dengan barangnya hingga ia mencarinya lebih dulu, tetapi ketika kembali, air telah habis. Ketika ia meninggal dunia, kami tidak memiliki air sedikit pun. Tiba-tiba Allah mengirim awan, lalu hujan lebat pun turun mengguyur kami, hingga kami dapat menggali lubang kuburnya dengan pedang-pedang kami. Kemudian, kami menguburkan jasadnya di dalam kuburan yang dibuat tanpa liang lahad.”

Bibinya dari pihak ibu bernama Ash-Sha’bah binti Al – Hadhrami. Ia adalah ibunda Thalhah bin ‘Ubaidillah, salah seorang dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Suami ‘Atikah yang pertama adalah Abdullah bin Abu Bakar, putra sahabat Rasulullah saw. paling terkemuka dan orang pertama dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Setelah Abdullah gugur, ia menikah dengan Umar bin Khaththab, salah seorang dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga.

Setelah Umar meninggal dunia, suami ketiga ‘Atikah adalah Zubair bin Al-‘Awwam, salah seorang dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Di kalangan orang-orang Quraisy, ‘ Atikah dikenal sangat fasih dalam berbahasa, menguasai ilmu sastra, cerdas dan cantik jelita.

Baca juga:  Asma’ binti Yazid Al-Anshariyah ra: Sosok Muslimah Cerdas dan Tangguh

Menikah dengan Abdullah bin Abu Bakar ra

Abu Nu’aim meriwayatkan dari ‘Aisyah ra. bahwa ‘Atikah adalah istri Abdullah bin Abu Bakar Ash – Shiddiq ra. Abu Umar menambahkan, “Atikah termasuk wanita-wanita yang hijrah. Abdullah bin Abu Bakar Ash-Shiddiq menikahinya. Ia adalah seorang wanita yang berparas cantik jelita sehingga Abdullah sangat mencintainya dan membuatnya agak bermalas-malasan untuk terjun di medan perang. Melihat hal ini, Ayah Abdullah, Abu Bakar, menyuruhnya agar menceraikan istrinya yang cantik itu. “Maka, Abdullah berkata,

Mereka menyuruhku menceraikan ‘Atikah

Dan membiarkan aku terbawa dalam bayangan mimpi

Sesungguhnya menceraikan seorang istri idaman

Apalagi memiliki segalanya adalah musibah paling besar

Keluhannya ini tidak dihiraukan sang ayah. Bahkan, Abu Bakar mempertegas perintah agar putranya segera menceraikan istrinya itu. Dengan terpaksa, Abdullah menceraikannya juga, tapi ia tidak dapat menutupi kerinduan dan kecintaannya. Suatu hari, Abu Bakar mendengar putranya melantunkan puisi,

Aku tidak pernah melihat orang sebodoh diriku

Yang sanggup menceraikan wanita seperti dirinya

Aku juga tidak pernah melihat wanita sepertinya

Yang diceraikan tanpa kesalahan atau dosa

Mendengar ungkapan yang sangat menyentuh hati itu, Abu Bakar pun merasa iba, sehingga ia mengizinkan putranya rujuk kembali dengan ‘Atikah. Dalam perkembangan berikutnya, ketika pasukan muslim mengepung kota Tha’if, Abdullah terkena anak panah yang membuatnya terluka parah dan akhirnya meninggal di Madinah. Saat itulah, giliran ‘Atikah yang menangisi kepergian suami tercintanya dengan melantunkan bait-bait puisi yang menyayat hati,

Hari ini aku menangisi kepergian manusia terbaik,

Setelah Nabi dan Abu Bakar yang tak pernah berhenti mencintai

Aku bersumpah, air mataku tidak akan pernah terhenti

Dan biarlah kulitku berselimut debu sepanjang masa

Selama burung Atikah tetap bemyanyi pilu

Selama malam dan siang silih berganti

Hanya Allah yang tahu

bahwa tidak ada pemuda yang setara dengannya

Selalu tampil gagah berani

Tak pernah mengenal takut mati di medan jihad

Jika kilatan pedang telah berkecamuk hebat

la menyongsong kematian hingga tombak,

berubah merah karena bersimbah darah

Pernikahannya yang Penuh Berkah dengan Umar bin Khaththab ra.

Setelah Abdullah bin Abu Bakar gugur sebagai syahid dan masa ‘iddahnya telah berakhir, Umar bin Khaththab melamar dan menikahinya. Ia mendapat kedudukan yang sangat terhormat di sisi sahabat agung ini dan belajar banyak dari kedalaman ilmu, kezuhudan dan kesederhanaannya.

Baca juga:  Hindun binti Utbah,  Pejuang Perang Yarmuk

Yahya bin Abdurrahman bin Hathib menuturkan, “Atikah sangat mencintai Abdullah bin Abu Bakar dan begitu pula sebaliknya, sehingga Abdullah memberinya harta khusus dengan syarat Atikah tidak akan menikah lagi, jika ia meninggal dunia lebih dulu. Setelah Abdullah meninggal dunia, Umar mengutus seseorang kepada Atikah untuk menyampaikan pesan, ‘Engkau telah mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah. Kembalikanlah harta yang engkau terima dari Abdullah kepada keluarganya.’ ‘Atikah menuruti saran Umar, lalu Umar melamar dan menikahinya.”

Abu Umar menyatakan dalam kitab At-Tamhiid, “Ketika Umar melamarnya, `Atikah menerima dengan syarat Umar tidak boleh memukulnya, tidak melarangnya melakukan perkara yang benar, dan tidak menghalanginya jika ingin shalat di Majid Nabawi.”

Musa bin ‘Uqbah meriwayatkan dari Salim bahwa saat ‘Atikah binti Zaid menjadi istri Umar, ia sering sekali pergi ke Masjid Nabawi. Sebenarnya, Umar kurang setuju dengan kebiasaannya itu. Seseorang pernah mengingatkan ‘Atikah tentang sikap Umar tersebut, akan tetapi ‘Atikah menjawab, “Aku tidak akan meninggalkan kebiasaan ini, kecuali jika Umar melarangku secara langsung. ”Tampaknya, Umar juga merasa keberatan untuk melarangnya langsung. Setelah Umar meninggal dunia, ‘Atikah menikah dengan seseorang yang melarangnya melakukan kebiasaannya itu. Aku bertanya kepada Salim, “Siapakah orang itu?” Salim menjawab, “Zubair bin Al – ‘ Awwam.”

Perpisahan yang Memilukan

Dalam peristiwa Hajjatul Wada’ (Haji Perpisahan), Nabi saw. menyampaikan pidato-pidato yang sangat penting di depan seluruh sahabatnya. Tampaknya, setelah melewati masa perjuangan yang begitu panjang dalam menyampaikan risalah Islam, Rasulullah saw. ingin mengutarakan nasihat-nasihat terakhir kepada para sahabat.

Beliau merasa bahwa tidak lama lagi, rombongan ini akan melanjutkan perjalanannya melintasi sahara kehidupan tanpa kehadirannya. Oleh sebab itu, beliau menyampaikan pesan-pesan penting kepada umatnya, seperti pesan seorang ayah kepada putranya yang akan pergi.

Beliau memberi nasihat agar mereka tetap berpegang teguh dengan kebenaran dan menyampaikan hal-hal yang berguna bagi mereka kelak. Adalah kebiasaan Nabi yang baik hati ini, setiap kali merasa khawatir setan akan mengembuskan bisikan-bisikan jahat kepada manusia, beliau akan segera memberikan peringatan-peringatan tajam dan nasihat-nasihat yang menyentuh lubuk hati yang paling dalam.

Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan petunjuk dan ilmu, membatalkan perkara-perkara yang tidak memiliki dasar yang kuat dan meminta persaksian dari segenap para sahabatnya bahwa mereka telah mendengar apa yang disampaikannya.

Baca juga:  Asma’ binti Yazid Al-Anshariyah ra: Sosok Muslimah Cerdas dan Tangguh

Sudah 23 tahun Rasulullah saw. menghubungkan langit dengan bumi dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan oleh Malaikat Jibril kepada seluruh manusia, baik yang hidup bersamanya maupun yang tinggal di pelosok negeri. Beliau membersihkan noda-noda Jahiliyah yang telah merusak semua aspek kehidupan manusia dan mendidik generasi baru dari kalangan masyarakat Arab yang sangat mengerti nilai – nilai kebenaran dan memahami batasan-batasannya.

Tidak lama setelah melaksanakan haji Wada itu, beliau jatuh sakit. Dan, hanya dalam hitungan hari, beliau menghadap Allah ‘Azza wa Jalla. Berita duka tersebut langsung tersebar ke seluruh pelosok Madinah. Setiap orang tidak kuasa mendengarnya dan hati mereka tidak sanggup merasakan beban kepiluan yang menyayat. Seluruh kaum muslimin merasakan bahwa cakrawala Madinah telah tertutup dengan kegelapan yang sangat pekat , sehingga mereka tampak sangat kebingungan dan tidak mengerti apa yang seharusnya dilakukan.

Ketika mendengar berita duka tersebut, Umar bin Khaththab berdiri (ia seperti kehilangan kesadarannya) seraya berkata, “Sesungguhnya sekelompok orang munafik menyebarkan berita bahwa Rasulullah saw. telah wafat. Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah saw. tidak wafat, melainkan sedang menemui Tuhannya, seperti pernah dilakukan oleh Musa bin ‘Imran. Ia meninggalkan kaumnya selama 40 hari, kemudian kembali lagi setelah kaumnya mengira ia telah mati. Demi Allah, Rasulullah saw. juga akan kembali lagi, lalu beliau akan memotong tangan dan kaki orang-orang yang menganggapnya telah meninggal dunia!”

‘Atikah sangat sedih dengan kematian Rasulullah saw., sehingga hatinya nyaris luluh seperti disayat sembilu. Ia mengungkapkan kesedihannya dalam beberapa bait puisi yang menyayat hati,

Sore itu semua tunggangannya merasa kehilangan

Karena selama ini mereka dinaiki

oleh sang tuan yang paling baik hati

Sore itu semuanya menangisi sang tuan

Air mata meluncur deras tanpa henti

Sore itu istri-istrimu belum sanggup menguasai diri

Karena kepiluan hati atas musibah terbesar agama ini

Sore itu semua wajah tampak pucat pasi

Seperti warna pedang yang tidak terpakai lagi

Mereka merasakan kepedihan yang tak terperi

Hanya lubuk hati yang dapat mengukur kapan akan berhenti

Beliau adalah manusia utama dan junjungan pilihan

Pembawa ajaran yang menghimpun segala kebenaran

Apalah arti hidupku setelah sang Rasul pergi

Kepergiaannya seakan telah menggiring kematianku sendiri

[MNews/Juan]

2 thoughts on “‘Atikah binti Zaid ra.; Siapa yang Ingin Mati Syahid, maka Menikahlah dengan ‘Atikah binti Zaid ra.

Tinggalkan Balasan