Khilafah Termasuk Ajaran Pokok dalam Islam dan Penopang Eksistensi Kaum Muslim

Oleh: Ustaz Azizi Fathoni

MuslimahNews.com, TSAQAFAH — Berikut keterangan wajibnya Khilafah oleh Al-Imam Almufassir Abu Abdillah Al-Qurthubi Al-Maliki (W. 671 H). Dalam kitab beliau Al-Jâmi’ li Ahkâm Al-Qur’ân (Tafsîr Al-Qurthubî). Beliau berkata,

ﻫﺬﻩ اﻵﻳﺔ ﺃﺻﻞ ﻓﻲ ﻧﺼﺐ ﺇﻣﺎﻡ ﻭﺧﻠﻴﻔﺔ ﻳﺴﻤﻊ ﻟﻪ ﻭﻳﻄﺎﻉ، ﻟﺘﺠﺘﻤﻊ ﺑﻪ اﻟﻜﻠﻤﺔ، ﻭﺗﻨﻔﺬ ﺑﻪ ﺃﺣﻜﺎﻡ اﻟﺨﻠﻴﻔﺔ. ﻭﻻ ﺧﻼﻑ ﻓﻲ ﻭﺟﻮﺏ ﺫﻟﻚ ﺑﻴﻦ اﻷﻣﺔ ﻭﻻ ﺑﻴﻦ اﻷﺋﻤﺔ ﺇﻻ ﻣﺎ ﺭﻭﻱ ﻋﻦ اﻷﺻﻢ ﺣﻴﺚ ﻛﺎﻥ ﻋﻦ اﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﺃﺻﻢ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻛﻞ ﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﺑﻘﻮﻟﻪ ﻭاﺗﺒﻌﻪ ﻋﻠﻰ ﺭﺃﻳﻪ ﻭﻣﺬﻫﺒﻪ، ﻗﺎﻝ: ﺇﻧﻬﺎ ﻏﻴﺮ ﻭاﺟﺒﺔ ﻓﻲ اﻟﺪﻳﻦ ﺑﻞ ﻳﺴﻮﻍ ﺫﻟﻚ، ﻭﺃﻥ اﻷﻣﺔ ﻣﺘﻰ ﺃﻗﺎﻣﻮا ﺣﺠﻬﻢ ﻭﺟﻬﺎﺩﻫﻢ، ﻭﺗﻨﺎﺻﻔﻮا ﻓﻴﻤﺎ ﺑﻴﻨﻬﻢ، ﻭﺑﺬﻟﻮا اﻟﺤﻖ ﻣﻦ ﺃﻧﻔﺴﻬﻢ، ﻭﻗﺴﻤﻮا اﻟﻐﻨﺎﺋﻢ ﻭاﻟﻔﻲء ﻭاﻟﺼﺪﻗﺎﺕ ﻋﻠﻰ ﺃﻫﻠﻬﺎ، ﻭﺃﻗﺎﻣﻮا اﻟﺤﺪﻭﺩ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻭﺟﺒﺖ ﻋﻠﻴﻪ، ﺃﺟﺰﺃﻫﻢ ﺫﻟﻚ، ﻭﻻ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺃﻥ ﻳﻨﺼﺒﻮا ﺇﻣﺎﻣﺎ ﻳﺘﻮﻟﻰ ﺫﻟﻚ.

ﻭﺩﻟﻴﻠﻨﺎ ﻗﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ:” ﺇﻧﻲ ﺟﺎﻋﻞ ﻓﻲ اﻷﺭﺽ ﺧﻠﻴﻔﺔ”

[ اﻟﺒﻘﺮﺓ: 30]

، ﻭﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ:” ﻳﺎ ﺩاﻭﺩ ﺇﻧﺎ ﺟﻌﻠﻨﺎﻙ ﺧﻠﻴﻔﺔ ﻓﻲ اﻷﺭﺽ”

[ ﺻ: 26]

، ﻭﻗﺎﻝ:” ﻭﻋﺪ اﻟﻠﻪ اﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮا ﻣﻨﻜﻢ ﻭﻋﻤﻠﻮا اﻟﺼﺎﻟﺤﺎﺕ ﻟﻴﺴﺘﺨﻠﻔﻨﻬﻢ ﻓﻲ اﻷﺭﺽ”

[ اﻟﻨﻮﺭ: 55]

ﺃﻱ ﻳﺠﻌﻞ ﻣﻨﻬﻢ ﺧﻠﻔﺎء، ﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ اﻵﻱ.

“Ayat ini (ayat 30 surah al-Baqarah) merupakan dasar disyariatkannya mengangkat seorang Khalifah yang ditaati dan dipatuhi, guna menyatukan suara umat Islam, dan terlaksananya kebijakan-kebijakan Khalifah.

Tidak ada perbedaan pendapat di antara umat Islam dan tidak pula di antara para imam mazhab mereka, akan wajibnya hal tersebut kecuali apa yang diberitakan dari Al-Asham, di mana dia benar-benar tuli terhadap syariat. Termasuk siapa saja yang mengikuti pendapat serta mazhabnya. Ia mengatakan bahwa perkara itu tidak wajib dalam agama Islam, melainkan hukumnya boleh saja.

Apabila umat sudah bisa menjalankan haji dan jihad mereka, saling berlaku adil di antara mereka, melakukan kebenaran dari diri mereka, membagikan harta rampasan perang, fai’, dan zakat kepada yang berhak, dan menerapkan hudud atas siapa yang wajib menerimanya, maka itu sudah cukup bagi mereka, dan tidak wajib lagi mengangkat seorang Khalifah untuk menangani itu semua.

Dalil kami adalah … (lalu beliau menyitir al-Baqarah 30 tersebut, Shad 26, an-Nur 55) dan ayat-ayat lainnya”¹

Di bagian berikutnya beliau menegaskan,

Baca juga:  [Hadits Sulthaniyah] Ke-5: Wajibnya Pemimpin Tunggal bagi Kaum Muslim

ﻓﻠﻮ ﻛﺎﻥ ﻓﺮﺽ اﻹﻣﺎﻣﺔ ﻏﻴﺮ ﻭاﺟﺐ ﻻ ﻓﻲ ﻗﺮﻳﺶ ﻭﻻ ﻓﻲ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﻟﻤﺎ ﺳﺎﻏﺖ ﻫﺬﻩ اﻟﻤﻨﺎﻇﺮﺓ ﻭاﻟﻤﺤﺎﻭﺭﺓ ﻋﻠﻴﻬﺎ، ﻭﻟﻘﺎﻝ ﻗﺎﺋﻞ: ﺇﻧﻬﺎ ﻟﻴﺴﺖ ﺑﻮاﺟﺒﺔ ﻻ ﻓﻲ ﻗﺮﻳﺶ ﻭﻻ ﻓﻲ ﻏﻴﺮﻫﻢ، ﻓﻤﺎ ﻟﺘﻨﺎﺯﻋﻜﻢ ﻭﺟﻪ ﻭﻻ ﻓﺎﺋﺪﺓ ﻓﻲ ﺃﻣﺮ ﻟﻴﺲ ﺑﻮاﺟﺐ ﺛﻢ ﺇﻥ اﻟﺼﺪﻳﻖ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻟﻤﺎ ﺣﻀﺮﺗﻪ اﻟﻮﻓﺎﺓ ﻋﻬﺪ ﺇﻟﻰ ﻋﻤﺮ ﻓﻲ اﻹﻣﺎﻣﺔ، ﻭﻟﻢ ﻳﻘﻞ ﻟﻪ ﺃﺣﺪ ﻫﺬا ﺃﻣﺮ ﻏﻴﺮ ﻭاﺟﺐ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻭﻻ ﻋﻠﻴﻚ، ﻓﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻮﺑﻬﺎ ﻭﺃﻧﻬﺎ ﺭﻛﻦ ﻣﻦ ﺃﺭﻛﺎﻥ اﻟﺪﻳﻦ اﻟﺬﻱ ﺑﻪ ﻗﻮاﻡ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ، ﻭاﻟﺤﻤﺪ ﻟﻟﻪ ﺭﺏ اﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ.

“Jika memang keharusan adanya imamah/Khilafah itu tidak wajib, baik Khalifahnya dari suku Quraisy maupun bukan, niscaya perdebatan dan pembicaraan tentangnya tidak perlu terjadi. Niscaya akan ada yang berkata, “Sungguh Khilafah tidak wajib, baik Khalifahnya dari Quraisy maupun bukan,” maka tidak ada alasan dan tidak ada faedah memperdebatkan perkara yang tidak wajib.”

Lalu kemudian Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq ketika menjelang wafatnya berpesan kepada Umar bin Khattab untuk menjadi Khalifah, dan tidak ada seorang pun yang saat itu berkata, “Ini bukan perkara yang wajib bagimu dan bukan pula bagi yang lain.”

Maka itu menunjukkan akan wajibnya Khilafah, dan bahwasanya dia merupakan sebuah ajaran pokok antara ajaran-ajaran pokok dalam Islam yang menjadi penopang eksistensi kaum muslim. walhamdu li-llâhi Rabbil ‘âlamin.”²

Baca juga:  Pendapat Otoritatif dan Mayoritas tentang Wajibnya Hanya Satu Khalifah

___

¹Al-Qurthubi, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar. 2006. Al-Jaami’ li-Ahkaam al-Quraan. (Beirut: Muassasah al-Risalah) vol. 1 hlm. 395

²Ibid. vol 1 hlm 396

___

Fawaid:

  • Menepis anggapan bahwa di dalam Al-Quran tidak ada dalil yang mewajibkan Khilâfah. Buktinya seorang ulama yang otoritatif di bidang tafsir, Al-Imam Al-Qurthubi, menjelaskan bahwa Al-Baqarah ayat 30, adalah dalil wajibnya Khilafah tersebut. Selain itu beliau juga menyebutkan Shad ayat 26 dan An-Nur ayat 55 juga merupakan dalilnya, dan “dan ayat-ayat lainnya” kata beliau menambahkan. Menunjukkan dalilnya tidak terbatas pada 3 ayat tersebut.
  • Al-Imam Al-Qurthubi sampai-sampai mengatai al-Asham, seorang tokoh Mu’tazilah, dengan sebutan “tuli terhadap syariat” lantaran tidak memandang wajib Khilafah, melainkan mubah saja. Dari situ maka akan lebih tuli lagi bahkan mungkin juga buta terhadap syariat jika ada orang yang sampai menolak, mengharamkan, membenci, bahkan memusuhi usaha merealisasikannya.
  • Al-Asham sendiri memberi syarat bahwa tidak wajibnya Khilafah itu apabila telah terlaksana semua syariat Islam dan terealisasi apa-apa yang menjadi tanggung jawab Khalifah meski tanpa keberadaannya. Itu artinya, dalam kondisi tidak diterapkannya syariat Islam mengangkat Khalifah menurutnya masih terbilang wajib.
  • Selain ayat Al-Qur’an, Al-Imam Al-Qurthubi juga mengetengahkan dalil khilafah lainnya berupa ijmak sahabat. Artinya, dalil Khilafah itu tidak hanya Al-Qur’an. Sehingga kalaupun menolak keberdalilan ayat Al-Qur’an di atas masih ada dalil lain berupa ijmak sahabat. Bahkan dijelaskan oleh ulama lainnya, dalil Khilafah juga ada yang berupa hadis-hadis Nabi صلى الله عليه وسلم dan kaidah kulliyyah.
  • Besarnya kewajiban Khilafah sampai-sampai banyak ulama menyebutnya sebagai ahammul wâjibât (kewajiban yang paling prioritas). Maka, tidak heran bila Al-Imam Al-Qurthubi sebagaimana juga Al-Imam Abdul Qahir Al-Baghdadi dan Al-Imam As-Suyuthi, dan ketiganya adalah ulama Sunni, menggolongkan Khilafah ini sebagai ajaran pokok agama, tumpuan (qiwâm) bagi eksistensi kaum muslimin.

2 thoughts on “Khilafah Termasuk Ajaran Pokok dalam Islam dan Penopang Eksistensi Kaum Muslim

Tinggalkan Balasan