Gagal Lindungi Ibu dan Anak, Akibat Penerapan Sistem Salah

Oleh: Rindyanti Septiana, S.H.I.

MuslimahNews.com, OPINI — Ibu mana yang tega membunuh anak kandungnya sendiri? Jawabnya ibu yang hidup dalam tekanan ekonomi dan berbagai masalah kehidupan lainnya di sistem demokrasi kapitalisme. Sebab bertahan dalam sistem saat ini butuh kekuatan keimanan dan kesabaran yang luar biasa. Apalagi bagi seorang ibu yang harus mengasuh, mendidik bahkan mencari nafkah untuk anak-anaknya.

Tak jarang kita temukan kasus pembunuhan yang dilakukan seorang istri pada suami dan anak-anaknya. Atau yang saat ini masih hangat menjadi buah bibir di tengah masyarakat, berita seorang ibu berinisial MT membunuh ketiga anaknya di Kecamatan Namohalu Esiwa, Nias Utara, Sumatra Utara.

Polisi pun segera menangkap MT. Sesaat sebelum dibawa, ia terbaring di samping mayat ketiga anaknya sembari memegang sebilah parang. Paur Humas Polres Nias, Iptu Yadsen Hulu mengatakan dari hasil penyelidikan sementara tersangka tega membunuh ketiga anaknya karena masalah ekonomi keluarga. (sumut.inews.id, 10/12/2020)

Hal yang sama juga terjadi sebelumnya pada seorang ibu di Tangerang, tega membunuh anaknya lantaran korban susah diajarkan saat belajar online. Peristiwa tersebut terjadi pada (26/8/2020) lalu, di rumah kontrakan Kecamatan Larangan.

Ibunya menganiaya anaknya yang duduk di bangku sekolah dasar kelas 1 dengan mencubit, memukul menggunakan gagang sapu, bahkan memukulinya di kepala bagian belakang sebanyak tiga kali. (megapolitan.kompas.com, 16/9/2020)

Mengapa kedua kasus di atas terjadi di tengah-tengah kehidupan kita? Manusia seolah tak lagi memiliki akal sehat dan hati nurani ibu pada anak-anaknya jadi mati. Penerapan sistem salah menjadi penyebab utama semua ini bisa terjadi. Hilangnya nyawa tak menjadi masalah dalam sistem yang salah ini.

Ironi Demokrasi, Hilangnya Harapan Hidup Seorang Ibu

Sebelum peristiwa pembunuhan tiga anak laki-laki oleh ibu kandungnya terjadi, sang suami pergi ke TPS untuk mencoblos Pilkada di Nias Utara. Ia berharap adanya pemimpin yang baru mampu menyejahterakan kehidupan keluarganya. Karena menurut pengakuan suaminya, mereka sering hanya makan sekali dalam tiga hari karena masalah ekonomi keluarga. (waspada.id, 14/12/2020)

Baca juga:  Solusi Total Atasi Kemiskinan Massal

Istri dan anak-anaknya ternyata kehilangan harapan hidup. Meregang nyawa akibat kemiskinan yang menjadi beban kehidupan keluarga hingga tak mampu lagi bertahan hidup dalam pengurusan sistem demokrasi kapitalis.

Mau mengadu pada siapa atas kesengsaraan yang dirasakan? Mau minta makan ke mana ketika perihnya menahan lapar?

Hilangnya harapan hidup seorang ibu ini bersamaan dengan semakin rakusnya para pejabat mengambil hak rakyat. Demokrasi akan terus menghasilkan berbagai kerusakan serta kegagalan melindungi ibu dan anak dari beban fisik dan psikis. Tekanan datang bertubi-tubi pada seorang ibu menyebabkannya gelap mata, hingga anak-anaknya tewas di tangannya.

Pergantian pemimpin dalam sistem demokrasi tidak satu pun menyejahterakan rakyat, justru makin melarat. Bukan hanya gagal menyejahterakan rakyat, tapi juga gagal membantu para ibu mendidik anak-anaknya selama masa pandemi. Derita ibu dan anak akan berakhir jika sistem demokrasi mati dan tidak bangkit kembali.

Ke Mana Perginya Naluri Keibuan?

Publik akan terus bertanya-tanya, kenapa bisa seorang ibu tega membunuh anak kandungnya sendiri? Namun, inilah sistem demokrasi, tindakan kriminal mudah terjadi dalam sistem ini, karena menuhankan aturan manusia. Padahal aturan Sang Pencipta, Allah SWT yang paling benar dan mengetahui apa yang terbaik bagi manusia.

Naluri keibuan tergerus habis dalam sistem ini, padahal naluri ini ialah salah satu bentuk naluri yang Allah berikan kepada setiap perempuan, melekat sebagai fitrahnya. Seorang ibu seharusnya sosok yang lembut, penuh kasih sayang, dan menjaga kelangsungan generasi. Seorang ibu seharusnya bukan sosok yang menakutkan bahkan menghabisi nyawa anak kandungnya sendiri.

Memukuli anaknya dengan beringas, atau pun menghajar anaknya bagai musuh tak sedikit pun memberi ampun. Tak ada lagi empati apalagi kasih sayang, yang ada sikap penuh amarah, menghardik dan menggunakan kekerasan pada buah hatinya sendiri. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Baca juga:  Jerat Kapitalisme Melalui RCEP

Abainya negara menanamkan akidah Islam dalam pendidikan setiap individu masyarakat hingga tidak mampu melahirkan individu bertakwa. Salah satu hasil dari pendidikan ialah kesiapan orang tua menjalankan salah satu amanahnya yaitu merawat dan mendidik anak-anak dengan penuh kasih sayang. Sampai mengantarkan mereka ke gerbang kedewasaan.

Orang tua mempunyai peranan penting dalam menyayangi anak-anak, mendidiknya, serta menjaganya dari ancaman kekerasan, kejahatan, serta terjerumus pada azab neraka.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At- Tahrim [66]: 6)

Gagal Lindungi Ibu dan Anak, Demokrasi Biang Masalah

Kegagalan demokrasi lindungi ibu dan anak yang paling menonjol saat tidak terpenuhinya kebutuhan dasar individu. Semakin banyaknya keluarga miskin menjadi salah satu indikator nyata, kaum ibu terus menjerit karena harga bahan pokok semakin membumbung tinggi.

Tak diragukan rezim demokrasi telah gagal menjadi penanggung jawab pemenuhan segala kebutuhan rakyat dan gagal melindungi pula. Sistem ini berupaya menjauhkan peran agama dari urusan politik, ulama yang memberi nasihat pada petinggi negeri justru dianggap musuh dan dipersekusi.

Begitu nyata, rezim demokrasi memusuhi apa saja yang berkaitan dengan Islam. Menutupi semua kegagalan yang dihasilkannya dengan berbagai tipu muslihat. Penerapan sistem ekonomi kapitalistik memuluskan perampokan SDA milik publik untuk dikuasai swasta dan asing.

Sementara itu, kaum ibu dituntut untuk bekerja mengejar sekeping dua keping recehan dengan risiko kehilangan nyawa dan pengabaian pengasuhan pada anak-anaknya.

Padahal, kekayaan negeri melimpah yang dianugerahkan Allah sebagai hak rakyat agar hidup layak. Kaum ibu terus dihadapkan berbagai masalah, baik himpitan ekonomi, retaknya keluarga dan tidak berfungsi dengan maksimal pendidikan keluarga terhadap anak-anaknya.

Baca juga:  Omnibus Law dan Lonceng Kematian Demokrasi

Inilah jika negeri dipimpin demokrasi, selalu menghasilkan berbagai masalah. Inilah jika Islam tidak ditetapkan sebagai standar terhadap pelayanan dan tanggung jawab penguasa kepada rakyatnya.

Khilafah Menjamin Kebutuhan Dasar Rakyat dan Pendidikan

Islam telah memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan dengan menetapkan beban nafkah dan peran sebagai kepala keluarga ada pada pundak suami, bukan pada diri istri. Sehingga istri tidak usah bersusah payah bekerja ke luar rumah dengan menghadapi berbagai risiko sebagaimana yang dialami perempuan-perempuan bekerja dalam sistem kapitalis sekarang ini.

Bahkan Khilafah akan memfasilitasi para suami untuk mendapatkan kemudahan mencari nafkah dan menindak mereka yang lalai dalam melaksanakan kewajibannya. Juga mewajibkan para wali perempuan untuk menafkahi, jika suami tidak ada. Jika pihak-pihak yang berkewajiban menafkahi memang tidak ada, negaralah yang akan menjamin pemenuhan kebutuhan para ibu.

Dalam pemenuhan pendidikan, Islam memandang pendidikan sebagai kebutuhan pokok dan asasi manusia serta merupakan hak setiap warga negara. Negara bertanggung jawab penuh untuk menyediakan akses pendidikan secara gratis untuk semua kalangan.

Apalagi dalam kondisi pandemi saat ini, kebutuhan pembelajaran jarak jauh akan didukung sepenuhnya oleh negara sekaligus melakukan pengawalan dan evaluasi dalam setiap pembelajaran yang berlangsung.

Bahkan dalam Khilafah, orang-orang badui yang sering berpindah-pindah, dikirimkan guru yang juga siap berpindah-pindah mengikuti tempat tinggal muridnya. Kaum ibu akan tenang karena Khalifah akan berupaya membantu para ibu menjalankan semua perannya dalam keluarga.

Dengan penerapan hukum Islam, kemuliaan para ibu sebagai pilar keluarga dan masyarakat demikian terjaga, sehingga mereka mampu mengoptimalkan berbagai perannya, baik sebagai individu, sebagai istri, sebagai ibu, maupun sebagai anggota masyarakat. [MNews/Gz]


#BongkarBorokDemokrasi

#PerempuanRinduPerubahanHakiki
#PerempuanBicaraDemokrasi-Khilafah

One thought on “Gagal Lindungi Ibu dan Anak, Akibat Penerapan Sistem Salah

  • 19 Desember 2020 pada 06:13
    Permalink

    MasyaAllah.
    Betapa kompleks dan menyeluruhnya aturan Islam dalam mengatur dan melindungi umat-Nya. Tak hanya di skala individu, masyarakat, atau komunitas saja, tapi juga skala negara. Agar berkah dari Islam betul² dirasakan oleh seluruh umat. The real Rahmatan Lil Alamin.

Tinggalkan Balasan