Bagaimana Solusi Sistem Pendidikan Islam Menghilangkan Stres?

Oleh: Ummu Naira Asfa (Forum Muslimah Indonesia/ ForMind)

MuslimahNews.com, OPINI — Memilukan, orang tua kandung membunuh anaknya karena susah mengikuti pembelajaran daring selama masa pandemi ini, bahkan pelaku sempat membuat laporan palsu bahwa anaknya hilang. Polres Lebak, Banten, mengungkap motif pembunuhan anak perempuan berusia delapan tahun oleh orang tua kandungnya, warga Jakarta Pusat.

Kasat Reskrim Polres Lebak, AKP David Adhi Kusuma mengatakan, ibu korban melakukan penganiayaan karena putrinya sulit memahami pelajaran, saat belajar daring. Pelaku IS, yang juga ibu korban, mengaku menganiaya korban pada 26 Agustus lalu, hingga tewas.

Untuk meninggalkan jejak, IS mengajak suaminya LH, untuk membawa jenazah korban ke Cijaku, Lebak, dengan menggunakan sepeda motor. LH menambahkan, sempat membuat laporan kehilangan anak untuk mengelabui polisi. (kompas.tv, 15/09/2020).

Stres dalam Belajar, Bagaimana Solusi Islam?

Masa pandemi Covid-19 adalah masa yang sulit, terutama dialami oleh keluarga yang tak mampu di Indonesia. Kendala biaya akses internet menjadi beban tambahan bagi keluarga miskin. Untuk makan sehari-hari saja sudah susah, ditambah beban untuk kebutuhan membeli kuota internet yang sebelumnya hanya menjadi kebutuhan sekunder bahkan tersier.

Apalagi jika kemampuan mencerna pelajaran pada anak tak semudah yang dibayangkan. Stres pada anak dan juga orang tua kerap kali terjadi. Konflik dalam rumah tangga bertambah.

Alasan yang mengemuka pada kasus pembunuhan anak oleh orang tuanya sendiri di Banten tersebut adalah stres pada orang tua karena anaknya tidak kunjung paham saat pembelajaran jarak jauh (daring).

Bagaimana dengan masalah yang lain? Ekonomi? Cek-cok rumah tangga? Atau motif lain yang tak terungkap? Ini adalah satu masalah yang tampak, bak gunung es, masalah yang lain bisa jadi lebih kompleks dan rumit.

Lalu bagaimana solusi terbaik agar proses pembelajaran selama pandemi tetap dapat menghasilkan output pendidikan yang berkualitas optimal tanpa menimbulkan stres?

Baca juga:  Gara-gara Stres, 3.750 Guru di Inggris Cuti Panjang

Stres pada anak didik dalam sistem pendidikan Islam tidak akan terjadi karena orientasi sistem pendidikan Islam bukan pada hasil, tapi proses. Metode pendidikan dalam Islam menekankan pada proses pembinaan pada anak sampai terbentuknya kepribadian Islami, bukan sekadar hasil nilai di atas kertas.

Tujuan dari sistem pendidikan Islam selain membentuk kepribadian Islam ada dua, yaitu penanaman tsaqafah Islam sebagai pemahaman dan penguasaan ilmu kehidupan atau iptek. Umat Islam diharapkan tidak hanya paham ilmu Islam, namun juga paham ilmu iptek untuk menyikapi problem yang ada, dalam artian menerapkan ilmu sebagai amal dalam kehidupan.

Ini jelas berbanding terbalik dengan tujuan sistem pendidikan ala kapitalis sekarang yang cenderung mengejar nilai rapor dan mengesampingkan proses pemahaman pada anak, terutama pemahaman akidah (agama).

Sehingga wajar jika output pendidikan saat ini bisa jadi berprestasi tapi akhlaknya nol karena pelajaran hanya dipahami sebagai sarana hafalan dan hafalan semata. Pembinaan karakter anak di kurikulum saat ini tanpa disertai kesungguhan menanamkan nilai-nilai kepribadian Islam akan menghasilkan output anak didik bermental instan, mudah stres, bahkan bisa bunuh diri akibat minimnya keimanan kepada Allah SWT.

Mengaca dari sini, sistem pendidikan Islam sangat bisa mengurangi tingkat stres saat belajar khususnya di masa pandemi ini. Karena sekali lagi, capaian belajar yang diinginkan adalah proses pembinaan anak sesuai dengan usia dan jenjang pendidikannya, bukan sekadar mengejar hasil rapor yang bagus namun dengan beban belajar yang sangat banyak. Dengan daring atau luring, metode pembelajaran Islam dapat dilaksanakan tanpa menimbulkan masalah yang berarti.

Sistem (Pendidikan) Islam Menghilangkan Stres Komunal

Bagaimana gambaran riil bahwa sistem pendidikan dalam penerapan ideologi Islam oleh negara secara kafah mampu menghilangkan stres komunal di tengah masyarakat?

Baca juga:  Anak Sekolah Daring, Emak-emak "Darting"

Pertama, Islam menerapkan metode pembelajaran yang membangun konsep berpikir benar atau penyadaran, sehingga ilmu bukan hanya dihafal atau guru bukan hanya transfer ilmu namun bersama membangun pemahaman yang terkonsep agar menjadi pola pikir sekaligus pola sikap jika sudah menjadi pemahaman.

Kedua, orientasi pendidikan Islam yang tidak melulu pada nilai rapor atau hasil ujian akhir anak akan sangat berpengaruh pada aspek yang lain, contohnya kepada guru dan orang tua. Guru tidak akan terbebani dengan hal teknis pembelajaran yang sangat berat apalagi di masa pandemi yang harus menyiapkan piranti belajar secara daring. Stres pada guru bisa diminimalisir karena tidak dikejar target anak didiknya harus mendapatkan nilai bagus bagaimanapun caranya.

Pada orang tua atau wali murid juga demikian. Dengan orientasi pendidikan para pembentukan pola pikir dan pola sikap anak yang islami, maka orang tua akan lebih bisa bersabar menghadapi anaknya.

Proses belajar yang didorong keimanan kepada Allah SWT akan memberikan suasana lebih tenang dan nyaman karena orang tua juga tidak merasa dikejar-kerjar target anaknya harus segera bisa menjawab pertanyaan atau menyelesaikan tugasnya.

Ketiga, sistem hidup Islami dengan tatanan sistem lain yang juga Islami seperti sistem pergaulan islami, sistem ekonomi, pendidikan, sosial, sanksi, peradilan, dan lain-lain yang menjalankan syariat Islam akan bisa meminimalisir akumulasi stres pada anak atau orang tua.

Semua dapat dijalankan dengan kondusif karena suasana keimanan yang tinggi. Angka korupsi, pengangguran, problem masyarakat yang lain akan dapat diminimalisir juga karena para pemimpin sangat amanah dengan adanya sistem pemerintahan dan perundang-undangan yang Islami tersebut.

Kita bisa lihat bagaimana penerapan negara Islam dalam masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz di mana rakyatnya bisa sejahtera dan keadilan dapat ditegakkan. Kondisi ini tentu sangat berpengaruh pada dunia pendidikan juga di masa itu. Output pendidikan bisa berkualitas tanpa harus mengalami stres komunal.

Baca juga:  Histeria Sang Guru Pertama di Tengah Corona: Sebuah Problem Psikosistemis

Sistem Pendidikan Islam Terintegral dengan Sistem Hidup yang Lain

Secara personal, Islam memberikan solusi terhadap individu yang mengalami stres. Tidak lain tidak bukan adalah dengan berpegang kepada Al-Qur’an dan hadis Rasulullah Saw.

Al-Qur’an telah memberikan resep kepada kita dalam menghadapi berbagai persoalan hidup dengan tenang dalam surat Al-Ahzab ayat 21, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya telah ada dalam diri Rasulullah itu contoh teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah.” (QS Al-Ahzab: 21).

Rasulullah Saw. juga bersabda, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan untukmu. Jika kamu beregang teguh kepadanya, niscaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah.” (HR Imam al-Hakim)

Namun jika kemudian stres yang terjadi adalah stres komunal yang diakibatkan penerapan sistem pendidikan yang salah dan juga sistem kehidupan sekuler yang mencetak generasi instan gampang stres, maka kita harus mengganti sistem yang rusak itu. Kenapa? Karena sistem pendidikan adalah subsistem kehidupan yang lebih luas. Akar masalah stres komunal itulah yang harus kita hilangkan.

Oleh karena itu, kita harus menggantinya dengan solusi fundamental yaitu sistem Islam Kafah yang merupakan sistem kehidupan yang berasal dari wahyu Allah SWT yang mampu menciptakan atmosfer pendidikan yang sehat, dan tentu saja lebih melegakan bagi anak didik, orang tua, dan para pendidik karena didorong keimanan kepada Allah SWT.

Sebagaimana hadis Rasulullah saw., “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 3913). Wallahu a’lam bish-shawwab. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan