Menjaga Keutuhan Keluarga Saat Ujian Hidup Melanda

Oleh: Ustazah Ratu Erma Rachmayanti

MuslimahNews.com, TANYA JAWAB — Soal: Selama pandemi, terjadi fenomena peningkatan kasus perceraian sehingga berdampak terhadap keutuhan keluarga. Dalam pandangan Islam, bagaimana menjaga keutuhan keluarga di masa sulit seperti saat ini Ustazah?

Jawab:

Untuk menjaga keutuhan keluarga, harus ada komitmen untuk mempertahankannya, baik dari suami maupun istri. Komitmen itu lahir dari pemahaman bahwa pernikahan adalah sebuah sistem indah yang Allah SWT landaskan pada kasih sayang, rahmat, saling memahami, dan tolong-menolong.

Selain itu, agar bisa bertahan, keluarga memerlukan resistensi atau ketahanan. Ketahanan keluarga terbentuk dari dua unsur. Pertama, internal yaitu keluarga. Kedua, eksternal yaitu masyarakat dan negara.

Mustahil sebuah keluarga dapat menjalankan fungsinya dengan optimal tanpa dukungan suprasistem yakni tatanan kehidupan yang bertanggung jawab penuh mengurusi kepentingan hidup masyarakat.

Nah, ketahanan keluarga dalam kehidupan masyarakat sekuler yang tidak menggunakan Islam sebagai pijakan dalam menjalankan suprasistem, akan menghadapi tantangan besar dan masalah berat. Lebih-lebih saat pandemi melanda, yang tidak ditangani dengan kebijakan yang benar sesuai politik Islam. Virus menjadi tidak terkendali dan berimbas pada semua sektor kehidupan. Pergerakan ekonomi lambat, pendidikan terhambat.

Tentunya hal ini berdampak pada kehidupan keluarga, khususnya secara ekonomi dan psikologi. Hanya sedikit keluarga yang bisa bernapas panjang karena memiliki tabungan. Masih bisa pelesiran dan “kulineran”.

Tetapi mayoritas dalam keadaan susah dan mengganggu proses komunikasi. Terjadi ketegangan hubungan antaranggota keluarga, hingga ada yang benar-benar bercerai. Begitu mudahnya ikatan janji antara suami istri itu lepas. Dan penyebab mendasar adalah karena tidak ada daya dukung sistem kehidupan yang menopang ketahanan keluarga.

Baca juga:  RUU Ketahanan Keluarga, Masalah atau Maslahat?

Sederhananya, ketahanan keluarga itu adalah keberhasilan menghadapi rintangan hidup. Secara ringkas unsur kunci dari ketahanan keluarga itu adalah,

Pertama, sistem keyakinan keluarga. Terdiri dari keimanan kepada Allah, ibadah, dan hubungan baik dengan-Nya, berbaik sangka kepada-Nya, berpasrah diri, juga memahami makna kebahagiaan dan kesengsaraan hidup dengan benar.

Kedua, pola pengorganisasian keluarga. Seperti keeratan hubungan, kelenturannya, optimasi peran dan tugas anggota keluarga, dan sebagainya.

Ketiga, proses komunikasi. Berupa pengungkapan emosi secara terbuka, kerja sama dalam pemecahan masalah, dan lainnya.

Ketiga hal tersebut tidak hanya dihasilkan dari kemampuan keluarga dalam menjalankannya. Semuanya memerlukan dukungan besar dari suprasistem. Sistem keyakinan terhadap agama dalam keluarga yang kuat dibentuk secara masif oleh sistem pendidikan dan informasi secara merata.

Tidak hanya diserahkan kepada keluarga saja seperti hari ini. Wajib ada peran negara dalam mewujudkan sistem keyakinan agama yang kuat di masyarakat dan keluarga.

Ini adalah urusan vital, karena pendidikan dan pembentukan individu yang kuat agamanya akan melahirkan pribadi yang baik, bertanggung jawab dengan tugas dan perannya, bijaksana, dan kuat dalam menghadapi cobaan, serta bersikap lembut dan berkasih sayang terhadap keluarga.

Artinya, faktor agama menjadi dasar baiknya pola-pola organisasi keluarga dan proses komunikasi di antara mereka.

Baca juga:  Khilafah Menjamin dan Menguatkan Ketahanan Keluarga

Keluarga yang berpegang pada keyakinan agama, terbukti kuat dalam menghadapi cobaan. Dia yakin bahwa rezeki sedikit ataupun banyak adalah ketetapan Allah. Dia tidak akan mudah melepas ikatan pernikahan saat kekurangan.

Kepala keluarga tidak akan meledak-ledak emosinya dan melampiaskan pada keluarga. Justru ia akan membimbing melewati masa krisis. Tetap berupaya memenuhi kebutuhan keluarganya dengan jalan halal.

Kalaupun tidak berhasil, karena sulitnya hidup di sistem ekonomi kapitalis hari ini, keluarga tersebut akan mudah menerima bahwa rezeki itu ketentuan Allah, bukan karena hasil kerja. Mereka akan tetap bahagia karena kesabaran dan rida, karena berprinsip bahagia tidak terwujud dari banyaknya harta.

Sebagaimana disinggung di awal, keluarga yang hidup di dunia kapitalisme sekuler sekarang ini—yang tidak menjadikan agama sebagai kunci utama pembentukan ketahanan keluarga—menjadi rentan konflik.

Suprasistem tidak mendukungnya menjadi orang baik untuk keluarga dan bertanggung jawab terhadap kebutuhan ekonomi. Penyebabnya, sistem ekonomi liberal tidak menjamin distribusi pendapatan secara merata. Justru menciptakan gap yang menganga.

Dengan harga kebutuhan pokok dan layanan yang mahal, sementara pendapatan mayoritas keluarga di bawah kecukupan, maka kemiskinan menjadi penyakit laten.

Ditambah lagi sistem pendidikan sekuler yang tidak berbasis agama, membuat masyarakat tidak memiliki perisai untuk menangkal setiap rintangan. Wajar kejahatan meningkat demi bertahan hidup.

Baca juga:  Pemberdayaan Perempuan, Solusi Semu Pengentasan Kemiskinan

Simpulannya, berat menjaga keutuhan keluarga dalam sistem kehidupan materialis. Hidup dalam impitan kemiskinan, mahalnya harga kebutuhan pokok, ancaman kriminalitas, sempitnya lapangan pekerjaan, dan abainya negara dari fungsi utamanya sebagai pengurus umat.

Suprasistem tidak mendukung ketahanan sebuah keluarga. Yang tersisa adalah bagaimana keluarga dengan keterbatasannya, berjuang menjaga keutuhannya dengan pemahaman agama.

Keyakinan terhadap agama semata yang dapat menjaga utuhnya keluarga. Masing-masing suami istri harus memahami hak dan kewajibannya, menjalankannya tanpa melanggarnya. Kepemimpinan suami harus dihormati, berhak ditaati, dan istri harus memenuhinya.

Hak istri untuk dinafkahi, diperlakukan dengan baik, juga harus dipenuhi suami, tidak boleh dilanggar. Jadikan cinta, ketenangan, hubungan baik, dan tolong-menolong mewarnai kehidupan keluarga.

Kembali kepada prinsip Islam bahwa hubungan antara pasangan suami istri adalah hubungan persahabatan, dan Allah mendorong persahabatan yang baik antara suami dan istri: ﴿وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ﴾. Persahabatan ini membawa ketenangan di hati dan kebahagiaan hidup.

Kembali kepada tujuan pernikahan yaitu membangun keluarga, menghasilkan keturunan, dan mendidik mereka agar menjadi generasi yang baik. Prinsip-prinsip dalam berkeluarga ini mesti dijaga. Setidaknya hal inilah yang bisa dilakukan keluarga dalam situasi sulit seperti ini.  [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *