Solusi Karut-marut Pendidikan di Masa Pandemi

Oleh: Yusriana

MuslimahNews.com, FOKUS – Masa pandemi Covid-19 sudah berlangsung hampir menghabiskan tahun 2020 ini. Namun sampai saat ini, belum ada tanda-tanda akan hilangnya virus yang konon telah bermutasi gen itu dari kehidupan insan di seantero bumi.

Sepanjang masa pandemi ini pula, dunia pendidikan khususnya di Indonesia terus diwarnai berbagai kegalauan dan kegundahan dari segenap masyarakat, khususnya insan pendidikan.

Hal ini terjadi akibat berbagai kebijakan pendidikan di masa pandemi yang belum mampu memberikan solusi jitu yang dibutuhkan untuk menuntaskan problematik pendidikan, terlebih di masa pandemi.

Problem dan Problem Lagi

Satu problem pendidikan yang paling meresahkan banyak pihak di masa pandemi ini adalah program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Kebijakan PJJ ditempuh sebagai solusi untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di dunia pendidikan melalui aktivitas tatap muka secara langsung.

Namun nyatanya, program PJJ bukanlah solusi ideal, terbukti dengan banyaknya para guru dan siswa yang mengeluhkan proses PJJ ini.

Guru yang kurang kapabel dalam pembelajaran daring, fasilitas gadget yang tidak memadai, ketidakmampuan membeli kuota internet, beban pelajaran yang padat, semuanya menjadi dinamika yang membuat guru, orang tua, juga siswa menjadi stres dalam proses PJJ.

Mirisnya lagi, program PJJ telah menelan korban. Setidaknya terungkap dua orang siswi tewas menghabisi nyawanya sendiri akibat tekanan tugas yang menumpuk saat mengikuti pembelajaran daring. Belum lagi bocah kecil yang dianiaya ibu sendiri akibat ketidakmampuan sang ibu mendampingi proses belajar di rumah. Ini semua terjadi karena ketidakjelasan dan ketidaktegasan pemerintah dalam pengaturan kebijakan PJJ.

Berbagai kebijakan pendidikan lain di masa pandemi pun banyak yang tidak sinkron dan tidak memberikan solusi. Di antaranya pemerintah mengizinkan penggunaan dana BOS untuk keperluan kuota internet. Pemerintah bahkan menggelontorkan subsidi kuota internet bagi siswa, guru, dan dosen melalui operator swasta. Sementara masalah ketidaktersediaan jaringan internet di berbagai daerah tidak dicarikan solusi mendasarnya.

Pemerintah pun mengizinkan semua SMK dan Perguruan Tinggi di semua zona untuk belajar dengan tatap muka agar bisa praktik, namun kebijakan ini tidak diimbangi penyiapan protokol kesehatan yang matang dan sesuai prosedur.

Berikutnya, kebijakan pemerintah berubah-ubah tentang kebolehan tatap muka di zona kuning-hijau, sementara wacana kurikulum darurat tidak diberlakukan secara serentak. Dalihnya agar satuan pendidikan dalam kondisi khusus dapat menggunakan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran peserta didik.

Dan yang saat ini, yang terus menjadi polemik di tengah masyarakat adalah terkait wacana akan dimulainya kembali sekolah tatap muka di bulan Januari 2021, sementara positivity rate Covid-19 di Indonesia masih tinggi untuk menjadi ukuran amannya sekolah tatap muka.

Selain semua kebijakan yang tidak sinkron itu, dari aspek tercapainya tujuan pendidikan sungguh amat menyesakkan dada. Di tengah koar-koar PPK (Penguatan Pendidikan Karakter), yang terjadi justru dekadensi moral banyak terjadi di masa pandemi Covid-19.

Berita 37 pasangan siswa SMP yang melakukan pesta seks, bidan desa yang hamil 3 bulan lantaran ditiduri seorang pelajar SMA, begitu pula pemberitaan 240 siswa SMA yang minta dispensasi nikah karena hamil, sungguh sangat mencoreng dunia pendidikan.

Akibat Sistem Sekuler Demokrasi

Semua kondisi karut-marutnya dunia pendidikan di atas, memberikan sebuah realitas ketidaksiapan penguasa negeri ini menjalankan sistem pendidikan di tengah pandemi.

Sistem pendidikan Indonesia yang berlandaskan sistem sekuler demokrasilah biang keladi ketidakmampuan menghadapi berbagai problematik pendidikan. Akibat penerapan sistem sekuler demokrasi, rakyat menjadi korban. Sebab, sistem ini meniscayakan adanya kelalaian penguasa dengan tidak memberikan pelayanan maksimal bagi rakyatnya.

Penguasa hanya bertindak sebagai regulator, bukan penanggung jawab terhadap semua permasalahan rakyatnya. Ketidakjelasan kebijakan pendidikan menunjukkan penguasa kurang serius dalam penyelenggaraan pendidikan di masa pandemi ini.

Pemerintah seharusnya membuat kebijakan yang jelas dengan kebijakan yang mampu mewujudkan proses pembelajaran yang optimal bagi generasi. Ketika PJJ dijadikan solusi untuk memutus rantai wabah, seharusnya pemerintah mempersiapkan berbagai hal yang bisa mendukung optimalisasi proses belajar.

Dimulai dari infrastruktur, seperti jaringan internet yang harus memadai. Untuk masalah ini peran pemerintah sangat besar. Pemerintah harus benar-benar memastikan fasilitas jaringan sudah tersedia dengan baik di seluruh wilayah dan bisa diakses dengan gratis atau biaya yang tidak membebani masyarakat.

Setelah itu, perangkat untuk mengakses PJJ juga harus dipastikan dimiliki secara memadai oleh siswa maupun guru sebagai penunjang proses PJJ.

Berikutnya yang tidak kalah penting adalah kesiapan sumber daya manusia (SDM) yaitu guru dan para pelajar. Sebab tidak ada gunanya infrastruktur dan fasilitas yang baik jika para penggunanya yaitu guru dan pelajar tidak siap menjalankannya.

Di sinilah peran penting pemerintah untuk mempersiapkan SDM yang mampu menjalankan proses pembelajaran di masa pandemi agar tidak mengorbankan kualitas generasi di masa yang akan datang.

Pemerintah juga tidak seharusnya bersikap terburu-buru memutuskan dibukanya sekolah tatap muka, padahal pandemi belum menunjukkan gejala berakhir. Pemerintah harus lebih mengutamakan keselamatan dan kesehatan generasi, serta memastikan proses pendidikan tetap berjalan optimal dengan berbagai kebijakan yang pro pada rakyat, bukan pro pada segelintir kelompok rakyat (pengusaha).

Karena faktanya, penguasa dalam sistem kapitalisme sekuler lebih mempertimbangkan kepentingan para kapitalis.

Sistem Islam Solusinya

Ketika sistem kapitalisme sekuler nyata-nyata tidak bisa diharapkan, satu-satunya harapan kita adalah pada sistem yang sempurna, yang diciptakan Yang Mahasempurna, karena sudah dapat dipastikan dan tidak diragukan lagi sistem tersebut adalah sistem yang pasti sempurna, sistematis, integral, dan menjangkau seluruh aspek kehidupan.

Hal ini merupakan suatu hal yang “wajar” dan sesuai fitrah manusia untuk kembali pada aturan dan ketentuan dari Sang Pencipta.

Satu-satunya solusi yang mampu menyelesaikan seluruh problematik kehidupan yang ada hanyalah Islam. Islam adalah pedoman hidup yang diberikan Allah kepada umatnya.

Allah SWT berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk Kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridai Islam itu menjadi agamamu.’’ (TQS Al-Maidah: 3)

Kita sebagai seorang muslim tentunya harus kembali pada aturan yang sudah digariskan Allah SWT sebagai satu-satunya harapan dan pedoman terpenting dalam hidup dan kehidupan manusia. Aturan dan sistem tersebut tentunya adalah aturan dan sistem yang sesuai dengan syariat Islam. Aturan tersebut dikelola dan dilaksanakan kaum muslimin dalam naungan Negara Islam (Daulah Khilafah).

Generasi cetakan Daulah Khilafah Islam sangat jauh berbeda dengan generasi cetakan sistem sekuler. Dalam Islam, tujuan pendidikan sangat jelas, selain itu sistem Islam juga menempatkan bidang pendidikan pada tempat istimewa dan menjadi bagian dari kebutuhan primer yang wajib dijamin negara.

Khilafah adalah negara yang mengambil peran keseluruhan untuk mengurusi rakyatnya tanpa terkecuali, bukan seperti hari ini di mana negara hanya sebagai badan regulator yang menghubungkan antara rakyat dan pemilik modal.

Wajar jika kondisi umat saat ini mengalami kerusakan total di seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan, sebab fungsi negara yang seharusnya menjamin kesejahteraan, ketenteraman, dan keamanan seluruh warga negara, hilang dan tenggelam bersama kepentingan-kepentingan yang dibangun penguasa dan pengusaha.

Hanya syariat Islamlah yang mampu memecahkan seluruh masalah manusia bila diterapkan secara sempurna dan menyeluruh dalam bingkai Khilafah, kepemimpinan umum kaum muslim seluruh dunia. [MNews/Gz]

One thought on “Solusi Karut-marut Pendidikan di Masa Pandemi

  • 14 Desember 2020 pada 14:41
    Permalink

    Masya Allah … Islam sempurna mengatur seluruh masalah manusia, apapun termasuk masalah pendidikan. Kita harus perjuangkan tegaknya sistem Islam.

Tinggalkan Balasan