Sakit Mendatangkan Maslahat

MuslimahNews.com, NAFSIYAH – Sebagian kita mungkin memandang sakit sebagai ujian yang begitu berat, sampai-sampai putus asa mendera. Sebab sakit tak kunjung sembuh, ditambah biaya pengobatan semakin mahal. Tapi seharusnya bagi seorang Muslim, penyakit bukan untuk disesali, kehadirannya justru kerap kali mendatangkan maslahat. Bukan maslahat dunia melainkan akhirat.

Dari Nabi Ayub as. kita belajar arti kesabaran menghadapi ujian sakit, bertahun-tahun Nabi Ayub as. bertarung melawan penyakitnya. Tak ada keluh kesah meski banyak orang yang menjauhinya.

Dari Anas bin Malik, sebagaimana disebutkan Abu Ya’la dan Abu Nu’aim, mengisahkan, “Sesungguhnya Nabiyullah Ayub as. berada dalam ujiannya selama 18 tahun. Baik keluarga dekat maupun keluarga jauh menolaknya kecuali dua orang laki-laki dari saudara-saudaranya. Kedua saudara itulah yang selalu memberinya makan dan menemuinya.”

Pada kisah yang lain, Ali Zainal Abidin, cucu Rasulullah Saw., ia terkadang bingung, manakah yang harus disyukuri antara sehat dan saki? Karena sehat dan sakit baginya kenikmatan. Ketika sakit, dosa-dosanya banyak yang terhapus dan hatinya menjadi lebih tenang. Masya Allah.

Dua kisah di atas mengajarkan kita, bahwa berkeluh kesah sama sekali tidak mendatangkan manfaat, sebaliknya justru mendatangkan dosa dan kesedihan. Penyakit seharusnya disikapi dengan kesabaran dan keimanan.

Firman Allah SWT, “Dan Kami memberikan cobaan kepada kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai fitnah (ujian).” (QS. Al-Anbiya :35)

Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas bahwa Allah SWT menguji manusia dengan musibah, di waktu lain dengan kenikmatan hingga bisa diketahui siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur, siapa yang sabar dan siapa yang putus asa.

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya besarnya balasan disertai dengan besarnya musibah, Sesungguhnya Allah bila mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Maka siapa yang rida, dia akan memperoleh keridaan dan siapa yang murka, ia akan memperoleh kemurkaan.” (HR at-Tirmidzi)

Sesungguhnya penyakit dapat menyucikan dosa, menutupi kesalahan dan mengangkat derajat. “Tidaklah menimpa seorang mukmin satu kepayahan pun, tidak pula sakit yang terus-menerus, tidak pula kecemasan, kesedihan, gangguan, dan tidak pula kesusahan sampai-sampai duri yang menusuknya, kecuali dengan semua itu Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Allah juga menghibur bagi si sakit dengan ganjaran pahala amalan sunah yang biasa dilakukan ketika sakit, sekalipun ketika sakit tidak dikerjakannya. “Apabila seorang hamba sakit atau safar (bepergian jauh), maka dicatat untuknya amalan semisal apa yang diamalkannya saat tidak safar dan saat sehat.” (HR Bukhari).

Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bersabar kala ujian sakit melanda. Tidak berputus asa apalagi berkata-kata tidak baik atas ujian yang Allah berikan. Karena penyakit yang menimpa merupakan tanda kecintaan Allah SWT, jika hamba-Nya sabar dan rida atasnya. Allah angkat derajatnya, Allah hapus dosa-dosanya. Masya Allah. [MNews/Rnd]

Tinggalkan Balasan