Pengusiran Yahudi Bani Qainuqa’ dari Madinah

Oleh: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH – Sejak dulu, sebelum Rasulullah Saw. hijrah, di Madinah terdapat komunitas Yahudi. Mereka telah dikenal berusaha menggagalkan agama baru (Islam) dengan berbagai cara.

Setelah Rasulullah Saw. hijrah dan memimpin masyarakat Madinah, Beliau menyelesaikan persoalan dengan orang-orang Yahudi dengan membuat surat kesepakatan perjanjian dengan mereka.

Akan tetapi ketika kaum Muslim memperoleh kemenangan dalam perang Badar, dendam kaum Yahudi semakin bertambah. Mereka senantiasa mengganggu dan melontarkan fitnah terhadap kaum Muslim. Akibatnya kaum Muslim marah dan membalasnya setiap kali muncul gangguan dari orang-orang Yahudi.

Yahudi Bani  Qainuqa’ Melanggar Perjanjian

Yahudi Bani Qainuqa’ adalah Yahudi pertama yang merusak kesepakatan antara mereka dengan Rasulullah Saw. Dalam kesepakatan dengan kaum Yahudi  terdapat pernyataan, “Di antara mereka harus saling menasehati dan melakukan kebajikan harus lebih dikedepankan dari melakukan kejahatan.

Suatu hari, seorang wanita Arab datang ke pasar Yahudi Bani Qainuqa’. Wanita itu duduk di dekat tukang emas. Orang-orang Yahudi mulai berbuat kurang ajar.

Tukang emas mendekati ujung baju wanita itu, kemudian mengikatnya pada punggungnya. Ketika wanita itu berdiri, terbukalah auratnya. Melihat itu, orang-orang Yahudi tertawa terbahak-bahak sambil menghina.

Karena merasa dilecehkan, wanita itu pun menjerit berteriak. Seorang laki-laki dari kaum Muslim yang melihatnya menjadi marah. Kemudian laki-laki itu mendatangi tukang emas tersebut dan membunuhnya.

Orang-orang Yahudi sangat marah kepada laki-laki Muslim tersebut, karena tukang emas itu adalah seorang Yahudi. Akhirnya mereka mengeroyok laki-laki Muslim itu dan membunuhnya. Kaum muslimin menjadi sangat marah, sehingga terjadi pertengkaran antara kaum muslimin dengan Yahudi Bani Qainuqa’.

Kaum Yahudi yang Sombong

Rasulullah Saw. mengumpulkan mereka di pasar dan bersabda kepada mereka, “ Wahai orang-orang Yahudi, waspadalah agar kalian tidak ditimpa siksaan yang pedih dari Allah, seperti yang dialami kafir Quraisy. Masuk Islam-lah kalian, sesungguhnya kalian semua tahu bahwa aku Nabi yang diutus oleh Allah. Semua itu kalian temukan dalam kitab kalian, dan Allah telah menjanjikan hal itu kepada kalian.

Namun mereka menjawab, “Wahai Muhammad, kamu anggap kami ini kaummu. Kamu jangan bermimpi. Apakah Kamu telah bertemu dengan suatu kelompok yang tidak memiliki keahlian dalam berperang, sehingga kamu berpeluang untuk mengalahkannya? Demi Allah jika kami benar-benar mau memerangimu, maka kamu benar-benar tahu bahwa kami adalah komunitas yang tidak terkalahkan.

Dan turunlah firman Allah SWT, “Dan jika kamu khawatir akan terjadinya pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.(TQS Al Anfal : 58)

Rasulullah Saw Mengusir Yahudi Bani Qainuqa’

Akhirnya Rasulullah Saw. dan pasukannya pergi menuju Yahudi Bani Qainuqa’. Benderanya dibawa oleh Hamzah bin Abdul Muththalib. Rasulullah Saw. mengepung perkampungan mereka selama lima belas hari.

Kemudian Allah SWT menancapkan dalam hati mereka rasa takut, sehingga akhirnya mereka tunduk terhadap kekuasaan Rasulullah Saw. Beliau pun memutuskan untuk mengusir mereka dari Madinah.

Sikap Sekutu Bani Qainuqa’

Adalah Abdullah bin Ubay bin Salul -pemimpin orang-orang munafik- sekutu Yahudi Bani Qainuqa pergi mendatangi Nabi Saw. Dia berkata kepada Nabi Saw., “Wahai Muhammad berbuat baiklah terhadap orang-orang yang masih loyal kepadaku.

Rasulullah Saw. berpaling darinya dan berkata “Menjauhlah dariku”. Beliau Saw. tampak marah. Dan berkata “ Celaka kamu! Menjauhlah dariku!

Abdullah bin Ubay bin Salul berkata, “Tidak, Demi Allah, aku tidak akan menjauh darimu sampai kamu berbuat baik terhadap orang-orang yang masih loyal kepadaku, yaitu 400 orang yang tidak memakai baju besi dan 300 orang yang memakai baju besi. Sungguh dengan mereka aku akan terlindungi dari golongan merah dan hitam yang akan menyerang dengan tiba-tiba. Demi Allah, aku orang yang sangat takut menderita.” Rasulullah Saw. berkata, “Mereka semua untukmu.”

Rasulullah Saw. mengusir mereka semua dari Madinah dengan tidak boleh membawa sesuatu pun selain wanita dan anak-anaknya. Harta benda mereka harus tetap ada di Madinah. Mereka pergi ke Adzra’at bagian dari wilayah Syam.

Ubadah bin Shamit juga ada ikatan persekutuan dengan Yahudi Bani Qainuqa’. Namun Ubadah bin Shamit lebih mengutamakan Rasulullah Saw. dan memutuskan ikatan persekutuan dengan Yahudi.

Semua itu dilakukannya karena cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, aku jadikan Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin sebagai penolongku dan aku berlepas diri dari orang-orang kafir dan kekuasaannya.

Allah SWT berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.”

“Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: “Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?” Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi.”

“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (TQS Al Maidah: 51-54) [MNews/Rgl]

Sumber: Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, Al Azhar Press

Tinggalkan Balasan