[Hadits Sulthaniyah] Ke-3 dan 4: Wajibnya Khilafah

MuslimahNews.com, HADITS SULTHANIYAH

Wajibnya Khilafah #1

“Siapa saja yang melepaskan tangannya dari ketaatan (kepada Allah), niscaya ia akan berjumpa dengan Allah di Hari Kiamat tanpa memiliki hujah. Dan siapa saja yang mati, sedangkan di pundaknya tidak ada baiat, maka matinya (seperti) mati (dalam keadaan) jahiliah.” (HR Imam Muslim No. 3441)

Wajibnya Khilafah #2

“Siapa saja yang keluar dari jemaah (kaum muslim) meski sejengkal, maka sungguh ia telah melepaskan Islam dari pundaknya sampai ia kembali ke dalam jemaah. Dan siapa saja yang mati dan tidak mempunyai seorang pemimpin bagi jemaah, maka matinya (seperti) mati (dalam keadaan) jahiliah.(Mustradak al-Hakim No. 239)

Penjelasan:

a. Kedua hadis di atas menjelaskan tentang kewajiban untuk bersatu atas dasar kebenaran (Islam); larangan keluar dari jemaah meski hanya “sejengkal” menunjukkan bahwa perpecahan –betapa pun kecilnya– merupakan sesuatu yang diharamkan.

b. Islam mewajibkan umatnya untuk taat kepada penguasa yang sah, meski tetap harus
disandingkan dengan hadis-hadis yang menjelaskan tentang keadaan-keadaan khusus yang membolehkan kaum muslim melakukan pembangkangan atau bahkan perlawanan, misalnya ketika pemimpin mereka menerapkan hukum selain syariat (hukum) Islam.

c. Baiat yang dimaksud dalam hadis di atas adalah baiat yang diberikan kepada para pemimpin –sebagaimana Rasulullah dan para Sahabatnya– yang mengatur urusan umat dengan Al-Qur’an dan Sunah; dan sebagai gantinya mereka berhak untuk ditaati.

Baca juga:  [Hadits Sulthaniyah] Ke-6 dan 7: Akidah Islam Merupakan Landasan Negara

d. “Mati jahiliah” menjadi sebuah petunjuk dalam hadis-hadis tersebut, bahwa mati tanpa memiliki baiat di pundak merupakan sebuah perkara yang diharamkan. Dengan demikian, dapat ditarik pengertian bahwa baiat merupakan suatu perkara yang diwajibkan; dan sebagai konsekuensinya, mengharuskan keberadaan seorang Khalifah yang dibaiat.

Demikianlah penjelasan Imam Taftazani dan Syah Waliyullah Dahlawi dalam bukunya –yang aslinya ditulis dalam Bahasa Persia– Izalatul Khafa ‘an Khilafatul Khulafa.

e. Pada hadis yang kedua, pemahaman tersebut diungkapkan secara lebih eksplisit dengan kalimat: “Tidak mempunyai seorang pemimpin bagi jemaah (kaum muslim)”.

Kalimat pada hadis kedua ini menjelaskan apa yang dimaksud oleh pernyataan pada hadis pertama –di pundaknya tidak ada baiat.

f. Oleh karena itu, menegakkan Negara Khilafah merupakan perkara wajib, sesuai dengan kaidah: “Segala sesuatu yang menyebabkan tidak sempurnanya sebuah kewajiban, maka ia termasuk perkara wajib.”

Kewajiban tersebut dialamatkan kepada seluruh umat manusia, mengingat hadis tersebut bersifat umum yang ditunjukkan oleh kata “man” –siapa saja. [MNews/Gz]


Sumber: Abu Lukman Fathullah, 60 Hadits Sulthaniyah (Hadits-Hadits tentang Penguasa), 2010; Dengan penyesuaian redaksi.


 

One thought on “[Hadits Sulthaniyah] Ke-3 dan 4: Wajibnya Khilafah

Tinggalkan Balasan