Nafsiyah

[Nafsiyah] Merindukan Kematian di Jalan Allah

MuslimahNews.com, NAFSIYAH – Allah Mahatahu kapan ajal kita berakhir. Saat kematian itu tiba, ia dilukiskan bak antrean wawancara suatu pekerjaan. Ia seolah hanya tinggal menunggu panggilan, sesuai urutan.

Saat malaikat Zabaniyah datang tanpa undangan, jiwa raga pun tercabik, tertarik, tercekik, tiada kawan, hanya Allah sebagai sumber pertolongan.

Kematian tak bisa kita hindari, ke mana pun kita berlari. Meski bersembunyi di dalam benteng yang paling kokoh sekalipun, bahkan tak mampu ditembus siapa pun, tetap saja kematian akan menghampiri kita. Allah SWT berfirman,

أَيْنَمَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُرُوْجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di mana pun kamu berada, kematian pasti akan menemukan kamu, sekalipun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS an-Nisa’: 78)

Menjadi pertanyaan bagi kita, apakah kita sudah siap jika kematian tiba? Menyiapkan apa yang akan kita bawa menghadap kepada-Nya. Pernahkah kita menghitung berapa lama waktu yang kita gunakan untuk maksiat, dan berapa yang kita gunakan untuk taat?

Padahal, kita hitung atau tidak, yang pasti Allah Mahatahu dan Malaikat pun telah mencatatnya, sehingga kita pun tak kuasa untuk mengelaknya.

Cerminan dahsyatnya kematian seharusnya menjadi bahan renungan untuk setiap insan. Betapa kita benar-benar putus harapan saat kematian ada di hadapan. Kekayaan, kekuasaan, jabatan, pasangan hidup nan menawan, dan segala hasrat keduniawian sirna saat panggilan itu datang tiba-tiba.

Baca juga:  Saat Ajal yang Pasti Itu Tiba

Kematian Rasulullah Saw. dilukiskan Aisyah dengan berkucurnya keringat dari dahi, leher dan sekujur tubuh beliau.

Rasulullah pun bersabda pada Aisyah, “Hai Aisyah, sesungguhnya roh orang mukmin itu keluar dengan keringat dan roh orang kafir keluar dari kedua rahangnya seperti nyawa keledai,” dan detik-detik kematian, beliau bersabda, “Kerjakanlah salat, kerjakanlah salat!” (HR Thabrani)

Imam Ghazali dalam Dzikrul Maut Wa Maa Ba’dahu, menggambarkan betapa Rasulullah merasakan kepedihan yang sangat, bahkan tampak rintihan dari beliau hingga warna kulit berubah.

Dahi beliau juga berkeringat, hingga tarikan dan hembusan nafasnya mengguncangkan tulang rusuk kanan dan kiri beliau sehingga orang-orang yang menyaksikan beliau menangis, saat beliau berjuang menahan rasa sakit.

Al-Junaid bin Muhammad, salah seorang shalihin membaca tasbih sebanyak 30.000 kali. Ketika kematian menjemputnya, beliau sedang membaca Al-Qur’an, saat itu ia sedang sakratulmaut.

Putranya yang tengah menungguinya bertanya, “Ayah membaca Al-Qur’an, padahal Ayah sedang sibuk menjemput kematian?” Beliau menjawab, “Apakah ada di dunia ini yang lebih membutuhkan amal saleh ketimbang ayah?”

Dahsyatnya sakratulmaut hingga Ibn Abd Dunya meriwayatkan suatu doa untuk meminta meringankan sakratulmaut. “ Ya Allah, sungguh Engkau mengambil ruh di antara urat-urat dan anak-anak jari. Ya Allah, tolonglah aku atas kematian dan ringankanlah.”

Sakitnya sakratulmaut digambarkan sama dengan tiga ratus kali tebasan dengan pedang. Begitu menyakitkan, bukan? Astaghfirullah. Karena itu, “Umar bin al-Khaththab mengingatkan,

Baca juga:  [Nafsiyah] Para Pengembara

حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا

“Hitunglah amal perbuatan kalian, sebelum kalian dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.”

Teladanilah para Sahabat, salah satunya Sa’ad bin Mu’adz, sahabat Nabi yang mulia. Umurnya tidak panjang, hanya sekitar 30 tahunan. Dalam waktu yang tidak kurang dari 6 tahun, dia habiskan waktunya untuk Islam. Dia berikan segalanya untuk Allah dan Rasul-Nya.

Saat ajal menjemputnya, Allah pun memberikan kemuliaan yang tiada tara. Kematiannya dirindukan Allah, membuat singgasana-Nya berguncang.

Tentu kita merindukan kematian di jalan Allah SWT, kematian yang mulia. Namun, sudahkah kita mengisi setiap waktu dan kesempatan untuk optimal dalam setiap kewajiban yang Allah berikan pada kita?

Sudahkah kita maksimal dengan menunaikan segala ibadah, baik salat wajib, sunah, puasa, infak, sedekah di jalan-Nya?

Sudahkah kita memberikan waktu, pemikiran, tenaga, harta yang terbaik untuk perjuangan agama-Nya?

Masih banyak pertanyaan yang harus kita jawab dan tentunya kita tunaikan segala kewajiban kita pada-Nya. Sembari berupaya menjauhi segala kemaksiatan yang dapat mengundang murka-Nya.

Kita pun tak lupa berdoa pada Allah, “Ya Allah, berkatilah umur dan waktu kami. Ya Allah, terimalah amal kami. Jadikanlah kami sebagai hamba-hamba-Mu yang ketika kematian tiba, termasuk hamba-hamba yang menghadap-Mu dengan husnul khatimah, dengan penuh kerelaan dan mendapatkan rida-Mu.” Aamiin. [MNews/Rnd]

One thought on “[Nafsiyah] Merindukan Kematian di Jalan Allah

  • Bundahabib

    Ya Allah semoga Engkau hapuskan dosa dosa kami ketika kami meghadap Mu
    Dan mati dlam keadaaan beriman ke pada Mu ya Allah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *