Para Intelektual Sepakat, Islam Solusi Karut Marut Sistem Kesehatan ala Kapitalisme

MuslimahNews.com, NASIONAL – Ratusan intelektual muslimah yang merupakan dosen dari berbagai kampus di Indonesia dan tergabung dalam Forum Muslimah Ulul Albab, hadir dalam gelaran diskusi virtual.

Diskusi tersebut bertajuk “Polemik Vaksin Covid-19, Hancurnya Sistem Kesehatan Dunia”, 29/11/2020 lalu, yang dilatarbelakangi persoalan wabah yang belum juga menunjukkan tanda-tanda akan selesai.

Tak hanya memberi koreksi total atas sistem kesehatan dunia, melainkan juga telah memberi pukulan dahsyat terhadap sistem politik dan ekonomi global.

Fokus perbincangan meliputi soal kapitalisasi farmasi di Indonesa, Vaksin Covid 19 yang menunjukkan sistem kesehatan dunia dalam genggaman korporasi, serta tentang solusi Islam sebagai penyelamat peradaban.

Kapitalisme Biang Karut Marut Sistem Kesehatan

Dipaparkan bahwa adanya harmonisasi ASEAN (AFTA) telah mengakibatkan 80% kapital industri farmasi dikuasai Amerika. Sedangkan sisanya dimiliki negara lainnya.

Untuk kasus Indonesia sendiri, ternyata industri farmasinya juga dikuasai top player yang juga mendapatkan suntikan dana dari asing. Sebagai new emerging maket di Asia yang kebutuhan ketersediaan obatnya sangat tinggi, tentu menjadikan Indonesia menggiurkan bagi investor asing.

Dengan demikian tampak kapitalisasi farmasi sedang terjadi. Dalam hal ini industri farmasi telah menjadi komoditi industri sebagaimana layaknya industri perdagangan yang tak bebas dari skema penanaman modal asing.

Bahkan dalam tahapan pembuatan obat terdapat manufacturing process mulai dari production plan hingga sale atau penjualan yang bisa dimanfaatkan golongan yang berkepentingan demi mendapat keuntungan. Tak heran jika harga obat kian tak terjangkau dan layanan kesehatan menjadi sangat mahal.

Padahal semestinya farmasi menjadi bagian dari sarana pelayanan kesehatan dan harus selaras dengan aspek sosial yang ketersediaannya menjadi tanggung jawab negara. Termasuk memanfaatkan semua potensi obat yang sebenarnya telah Allah SWT sediakan untuk manusia, seperti madu, zaitun dan kurma.

Terkait vaksin juga demikian. Saat ini, penelitian soal vaksin juga dihegemoni para kapital. Termasuk adanya keterlibatan organisasi yang berbentuk foundation yang esensinya juga mengincar keuntungan yang besar. Di antaranya ada Melinda Gates, GAVI, CEPI, COVAX, ACT, dan lain-lain.

Baca juga:  Tol Bukan Infrastruktur tapi Ladang Bisnis, Apa yang Mau Dibanggakan?

GAVI (Global aliansi vaksin dan imunisasi) yang menyebut diri sebagai mitra bagi pemerintah dalam mewujudkan kesehatan global mengklaim bertujuan untuk meningkatkan akses negara negara miskin terhadap vaksin. Namun sejatinya mereka sedang menawarkan konsep asuransi dan perlindungan.

Begitupun dengan Covax, CEPI, IFFIM dan lain-lain. Instansi-instansi tersebut merupakan bentukan kapital untuk menguasai vaksin dan mengeruk keuntungan besar. Bahkan setaraf WHO yang diklaim sebagai badan kesehatan dunia di bawah PBB, ternyata tak lepas juga dari kepentingan para kapitalis mengingat 50 persen pendanaannya berasal Bill Gates dan 50 persen lagi dari pemerintahan Amerika. sekalipun Trump telah menarik investasinya.

Mereka memaksa negara dunia berkembang untuk mendanai vaksinasi melalui berbagai macam program inovasi untuk vaksin dengan dalih mewujudkan keadilan hak anak dengan vaksinasi, mengurangi gap negara dunia ketiga dengan negara besar, juga dikaitkan dengan SDGs, dan lain-lain. Hingga ketergantungan negara-negara dunia ketiga ini makin besar kepada negara-negara pemilik kapital.

Semua fakta ini seolah kian membuktikan dunia termasuk Indonesia sedang dihegemoni kapitalisme yang dengan konsep liberalisasi ekonomi dan perdagangannya membuat persoalan hajat hidup orang banyak dikuasai individu bahkan kekuatan asing.

Selain itu, kapitalisme juga mengekspor apa yang disebut sebagai individualisme serta sistem politik demokrasi yang jahatnya luar biasa. Hingga prinsip siapa yang lebih kuat akan berkuasa dan yg lemah akan dimakan.

Maka kita lihat, merebaknya wabah alih-alih memunculkan sikap saling tolong menolong. Tapi justru digunakan sebagai ajang konfrontasi negara adidaya dan mereka sibuk memenuhi kebutuhannya sendiri seraya mencari peluang bisnis sekaligus berupaya menjerat negara lemah dengan utang yang mematikan.

Tentang hal ini dibahas dalam sesi diskusi yang menggambarkan secara ditel contoh fakta betapa kapitalis memang hanya berorientasi pada keuntungan dan bagaimana memenangi persaingan dengan ukuran-ukuran ekonomi seperti IHSG, dan lain-lain.

Baca juga:  Pemimpin “Asbun”, Penanganan Covid-19 Maju Mundur

Dengan semua fakta-fakta tersebut forum menyimpulkan bahwa hegemoni sistem kapitalisme global memang menjadi pangkal kezaliman. Karena kapitalisme tegak di atas asas kebebasan, jauh dari halal haram, dan sangat materialistis. Bahkan menjadikan penjajahan sebagai metoda penyebaran dan metoda untuk menjaga eksistensinya.

Islam Beri Jalan Keluar

Adapun terkait solusi, dibahas soal urgensi adanya negara yang mampu menjadi sentral dalam penanganan masalah pandemi dan problem kesehatan dunia lainnya. Yakni dengan cara menjadikan seluruh potensi alam yang merupakan sumber bahan baku obat ada di bawah kekuasaan negara, memberdayakan expert untuk berkontribusi dalam kesediaan obat, menyediakan sarana prasarana untuk kebutuhan riset dan persediaan obat, serta memprioritaskan pemanfaatan produk untuk kebutuhan dalam negeri.

Salah satu narasumber menegaskan, negara dengan pola kepemimpinan berparadigma mengurus dan menjaga umat seperti ini tidak mungkin ada pada kepemimpinan kapitalisme yg rakus. Sehingga menurutnya, kalaupun vaksin Covid 19 ini ditemukan, maka tidak menjamin kesengsaraan berakhir. Apalagi ada banyak masalah lain yang harus ditangani seperti resesi dan lain-lain.

Maka, perbincangan dalam diskusi mengerucut pada urgensi mewujudkan sistem kepemimpinan politik Islam global, yakni wujudnya sistem Khilafah. Sebagai bentuk ketundukan manusia dan keyakinan seorang Muslim pada firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya jika penduduk negeri itu beriman dan bertakwa maka nisacaya akan dibukakan berkah dari langit dan dari bumi”. (TQS. Taha: 124).

Dengan adanya Khilafah, akan memutus semua jenis konvensi internasional yang ada yang membuat negara-negara lemah makin terjajah. Begitupun dengan kepemimpinannya yang bersifat global, maka kebijakan penanganan wabah akan bisa diterapkan secara komprehensif dan simultan dalam satu kebijakan yang diterapkan secara serentak di semua wilayah.

Hal seperti ini merupakan keniscayaan. Bahkan keKhilafahan Islam yang pernah tegak belasan abad sudah membuktikan Islam memiliki sistem kesehatan terbaik yang berorientasi kepentingan umat. Ilmuwan-ilmuwan Islam yang disupport Khilafah Islamlah yang pertama menemukan vaksin dan ilmu-ilmu pengobatan lainnya. Sementara di saat sama, dunia barat sedang tenggelam dalam kebodohan.

Baca juga:  Rezim Demokrasi Penuh Pencitraan, Aslinya Hanya Tipuan

Namun memang tampak sistem kesehatan Islam yang kuat ini dibentuk sistem politik dan juga sistem ekonomi Islam, serta sistem-sistem hidup lainnya yang juga kokoh. Yang menunjukkan posisi negara dalam Islam merupakan sentral dalam pelaksanaan tanggung jawab di semua bidang tersebut. Bukan sebagaimana sistem kapitalisme, yang menempatkan negara sebagai penyokong kepentingan pemilik modal.

Sistem ini dipastikan akan menjadi jalan keluar komprehensif dan tuntas karena tegak di atas asas akidah yang sahih, aturannya bersumber dari wahyu Allah. Bahkan secara empirik Khilafah telah terbukti selama belasan abad mampu menyolusi setiap problem kehidupan masyarakat, sehingga kesejahteraan dan keadilan menjadi sesuatu yang nyata. Termasuk mampu tampil sebagai negara yang mandiri dan berdaulat, yang justru menjadi pionir peradaban dunia.

Intelektual Harus Mereposisi Peran

Salah satu rekomendasi penting yang muncul di akhir diskusi adalah agar para intelektual turut berperan dalam upaya penegakkan Khilafah ini. Termasuk berperan dalam aktivitas mengoreksi dan menjaga penguasa agar menerapkan hukum Allah sebagai salah satu bentuk tanggung jawab mereka terhadap karunia ilmu dan kedudukan yang telah dianugerahkan Allah SWT.

Dalam hal ini forum juga sepakat saat ini peran intelektual dalam dua aspek tersebut belum optimal. Bahkan hari ini seolah ada gap antara intelektual berikut ilmu yang dimilikinya dengan realitas kehidupan masyarakat yang butuh perubahan. Termasuk adanya realitas potensi intelektual justru dibelokkan untuk kepentingan mengokohkan kapitalisme. Contohnya melalui riset-riset yang didanai kapitalis dan hasilnya tentu akan dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis, termasuk riset untuk vaksin.

Terakhir, dibahas pula keharusan adanya reposisi peran intelektual. Yakni dengan jalan mewujudkan kepribadian Islam seraya sungguh-sungguh berupaya menjadi pakar dan ahli dibidangnya untuk didedikasikan bagi perjuangan Islam.

Di saat yang sama, menguatkan pemahaman Islam politik agar intelektual memahami bagaimana Islam memberi solusi atas semua persoalan dan turut memperjuangkan penegakannya dalam kehidupan. [MNews/SNA-Gz]

3 thoughts on “Para Intelektual Sepakat, Islam Solusi Karut Marut Sistem Kesehatan ala Kapitalisme

  • 4 Desember 2020 pada 18:58
    Permalink

    Dengan tegaknya KHILAFAH dan penerapan syariat ISLAM yang menyeluruh disegala hidang baik ibadah,politik,ekonomi,sosial,budaya,pendidikan dan kesehatan maka akan melahirkan generasi yang cemerlang dibidangnya dan kesejahteraan rakyat pun akan terwujud

Tinggalkan Balasan