Menata Langkah Perjuangan Mewujudkan Perubahan Hakiki

Oleh: Dedeh Wahidah Achmad

MuslimahNews.com, FOKUS – Tuntutan perubahan terus meluncur seiring dengan kian banyaknya fakta kezaliman rezim demokrasi kapitalis yang dirasakan umat di negeri ini. Keadilan dan kesejahteraan menjadi barang langka dalam sistem sekarang. Sementara, penderitaan dan kesengsaraan merupakan perkara lumrah.

Wajar saja jika kemudian umat semakin kecewa dan jengah pada kebijakan-kebijakan yang diambil, juga kehilangan kepercayaan pada kepemimpinan yang sedang berlangsung.

Alih-alih menyejahterakan mereka, yang terjadi justru semakin membuat kehidupan terpuruk, terbelit berbagai krisis, bahkan hilangnya eksistensi sebagai bangsa yang mandiri dan berdaulat.

Gegap gempitanya khalayak menyambut kepulangan Habib Rizieq Shihab menjadi salah satu bukti kerinduan mereka terhadap sosok yang dipercaya bisa membawa perubahan. Sementara seruan “Revolusi Akhlak” yang digadang-gadang bisa menggantikan Revolusi Mental, menunjukkan perbaikan yang dijanjikan rezim saat ini telah terbukti gagal.

Namun, hal yang penting dipahami adalah bagaimana menata gelora perubahan yang membuncah di tengah umat menjadi sebuah gerakan kuat mewujudkan kebangkitan hakiki. Harus diwaspadai jangan sampai perjuangan dibelokkan ke arah lain.

Saat itu tujuan perjuangan menjadi tidak jelas lagi dan dikalahkan kepentingan politik sesaat atau ambisi pribadi. Bahkan tidak mustahil justru dimanfaatkan pihak musuh untuk semakin mengukuhkan hegemoninya. Sementara di sisi lain, umat tetap menjadi korban kezaliman.

Iman sebagai Landasan Perjuangan

Perjuangan menegakkan kebenaran dan mewujudkan keadilan tidak cukup hanya dengan menggelorakan semangat. Harus dibarengi dengan kejelasan ke mana perubahan akan diarahkan dan langkah seperti apa yang harus diayunkan agar melahirkan pergerakan dalam barisan yang tertata rapi dan penuh kekuatan.

Langkah yang tertata akan menghantarkan turunnya cinta Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, sebagaimana firman-Nya,

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (TQS Ash Shaf [61]:4).

Imam Al Qurthuby meriwayatkan, ayat di atas turun ketika para Sahabat bertanya, “Law na’lam ayyul a’maali ahabbu ilallahhi la’amilnaahu.” (Seandainya kami tahu amal yang paling Allah cintai, niscaya kami akan melakukannya); lalu turunlah ayat di atas.

Baca juga:  Arah Perubahan Umat dan Tantangan Mewujudkan Perubahan Hakiki

Dalam ayat tersebut Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menggambarkan barisan rapi yang diharapkan adalah laksana bangunan yang kuat dan kokoh tak tergoyahkan (ka’annahum bunyaanun marshush. ‘Kekukuhan bangunan hanya mungkin tercapai ketika ditopang fondasi yang kuat’.)

Demikian juga barisan umat Islam, akan kokoh jika memiliki landasan yang benar. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menjelaskan bahwa landasan yang harus ada pada amal setiap manusia adalah keimanan (QS Ali Imran [3]: 85; QS Al Ashr [103]: 2-3).

Keimanan yang benar akan menuntun mereka ketika beramal. Melakukan apa pun senantiasa muncul karena dorongan keimanan dalam rangka melaksanakan ketaatan pada aturan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, termasuk dalam memperjuangkan perubahan.

Mereka paham bahwa tidak boleh membiarkan kezaliman dan kemaksiatan. Dan kemaksiatan terbesar adalah ketika syariat Allah tidak diterapkan.

Mereka tidak boleh diam menyaksikan kehidupan diatur sistem yang bukan berasal dari Allah (QS 5:44-50). Karenanya, mereka akan bergerak untuk mengganti sistem sesat tersebut dengan aturan kehidupan yang dijamin kebenaran oleh Al-Qur’an. Juga sudah dicontohkan pelaksanaannya oleh baginda Nabi ﷺ dan dilanjutkan para Khalifah setelah beliau.

Menentukan Tujuan Perjuangan

Perbuatan yang dilakukan tanpa tujuan akan bergerak tanpa arah. Karenanya, perjuangan yang dilakukan umat Islam sudah semestinya diawali dengan penetapan tujuannya, semata untuk menegakkan kebenaran Islam.

Jadi, tujuan yang dihunjamkan bukan semata mengganti rezim. Namun untuk mengenyahkan sistem sesat yang telah melahirkan rezim zalim dan menghantarkan pada penderitaan umat.

Oleh karena itu, standar keberhasilannya adalah ketika sistem salah tersebut ditinggalkan diganti dengan sistem Islam yang akan menerapkan syariat Islam secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan. Bukan semata dengan bergantinya orang yang menjabat.

Baca juga:  Regulasi Jahat dan Kezaliman Terstruktur Akibat Adopsi Korporatokrasi

Pembatasan perjuangan semata untuk meninggikan risalah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى telah dijelaskan Rasulullah ﷺ dalam hadis berikut,

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Ibnu Numair dan Ishaq bin Ibrahim dan Muhammad bin Al ‘Ala, Ishaq berkata; telah mengabarkan kepada kami, dan yang lainnya berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Syaqiq dari Abu Musa dia berkata,

“Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai seorang laki-laki yang berperang supaya dikatakan pemberani, berjuang karena membela kesukuan dan berjuang karena ingin dipuji, maka manakah yang disebut berjuang di jalan Allah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda, “Barang siapa berjuang untuk menegakkan kalimat Allah setinggi-tingginya, maka itulah yang disebut berjuang di jalan Allah.” (Hadis Sahih Muslim No. 3525 – Kitab Kepemimpinan)

Perjuangan Hakiki Mensyaratkan Perubahan Pemikiran

Kebangkitan umat tidak cukup hanya dengan adanya semangat perubahan yang lahir karena perasaan sesaat. Demikian pula tidak bisa terwujud jika munculnya semata karena dorongan kekecewaan saja.

Kebangkitan hakiki membutuhkan langkah yang tepat, yang akan menyatukan antara perasaan dengan kesadaran yang benar.

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nidzamu al-Islam menyatakan kebangkitan yang hakiki harus dimulai dengan perubahan pemikiran (taghyiru al-afkar) secara mendasar (asasiyan) dan menyeluruh (syamilan) menyangkut pemikiran tentang kehidupan, alam semesta, dan manusia; serta hubungan antara kehidupan dunia dengan sebelum dan sesudahnya.

Dengan kata lain, menurut Imam Taqiyuddin, kebangkitan umat Islam akan terjadi ketika mereka memiliki akidah yang sahih.

Keimanan yang benar akan membentuk pemahaman (mafahim) bahwa hidup di dunia semata untuk ibadah kepada Allah (QS 51: 56) yang ditunjukkan dengan sikap taat yang sempurna pada seluruh aturan Islam dalam setiap aspek kehidupan. Baik terkait urusan individu, dalam masalah keluarga, maupun perkara pengaturan masyarakat dan negara.

Semuanya merupakan lahan untuk beribadah jika dilakukan karena dorongan iman dan dikerjakan sesuai tuntunan syariat Islam.

Baca juga:  Umat Merindukan Parpol Islam, Pemimpin Perubahan Hakiki

Dengan demikian, kebangkitan umat Islam adalah kembalinya pemahaman seluruh ajaran Islam ke dalam diri umat dan terselenggaranya pengaturan kehidupan masyarakat dengan cara Islam.

Perjuangan yang Benar Akan Berbuah Kemenangan

Para pejuang hakiki tidak akan ragu atas kesuksesan yang akan diraih, sekalipun berbagai rintangan menghadangnya. Mereka senantiasa yakin kebenaran akan datang menggantikan kebatilan selama mereka istikamah menempuh jalan yang benar.

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa, mereka senantiasa menyembah-Ku (samata-mata) dan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun, dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik.(QS An Nuur: 55).

Terkait ayat ini, Imam Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah janji dari Allah Ta’ala kepada Rasulullah ﷺ bahwa Dia akan menjadikan umat Nabi ﷺ penguasa di muka bumi, yaitu pemimpin umat manusia, yang dengan mereka akan baik (keadaan) seluruh negeri dan semua manusia akan tunduk. Dan Dia akan menggantikan rasa takut mereka kepada manusia menjadi rasa aman, bahkan (merekalah yang menjadi) penegak hukum bagi manusia.” [Tafsir Ibnu Katsir (3/401)].

Janji Allah tersebut pasti terlaksana karena Dia tidak akan menyalahi janji. Tugas kita adalah berusaha memenuhi syaratnya seperti yang tertera dalam firman Allah surah An Nuur: 55, yakni menghadirkan keimanan yang lurus dan ketaatan yang sempurna. Wallaahu A’lam. [MNews/Gz]

3 thoughts on “Menata Langkah Perjuangan Mewujudkan Perubahan Hakiki

  • 2 Desember 2020 pada 18:37
    Permalink

    Ganti sistem yang ada sekarang karena sistem kapitalis sekulerisme ini sangat merusak dan menyengsarakan rakyat…..tegakkan sistem ISLAM secara KAFFAH yang nyata” akan memberikan keamanan dan kesejahteraan kepada seluruh umat manusia bukan hanya Muslim tapi juga non muslim,

Tinggalkan Balasan