Mengetahui Cara Kematian Demokrasi, Mewujudkan Ideologi Islam sebagai Variabel Tegaknya Khilafah

Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si. (Koordinator LENTERA)

MuslimahNews.com, OPINI – Pekan lalu, viral di jagat maya foto pejabat ibu kota yang berpose membaca buku How Democracies Die. Terlarut dalam pemviralan tersebut, antara menyesali bakal kematian demokrasi sekaligus menyambut harapan akan sistem penggantinya, warganet tak kalah antusias berfoto dengan pose membaca buku yang sama.

Tak ayal, buku yang bersangkutan pun turut viral. Baik edisi berbahasa Inggris maupun edisi terjemahan berbahasa Indonesianya yang berjudul Bagaimana Demokrasi Mati. Sejumlah kantor berita online nasional memberitakan buku ini. Berbagai forum diskusi virtual bahkan membedahnya.

Menakar Umur Demokrasi

Merujuk pada kelahirannya, demokrasi tak bisa dilepaskan dari ideologi kapitalisme. Demokrasi melegitimasi definisi dirinya sebagai pandangan di mana manusia berhak membuat peraturan (undang-undang). Menurutnya, rakyat adalah sumber kekuasaan, maka rakyat pula yang membuat undang-undang.

Rakyat yang menggaji kepala negara untuk menjalankan undang-undang yang telah dibuatnya. Tersebab itu, rakyat berhak mencabut kekuasaan itu dari kepala negara sekaligus menggantinya, hingga akhirnya mengubah undang-undang sesuai kehendak rakyat.

Hal ini karena demokrasi adalah kontrak kerja antara rakyat dan kepala negara tersebut, yang digaji untuk menjalankan pemerintahan sesuai undang-undang yang dibuat rakyat.

Akan tetapi, benarkah praktiknya sedemikian ideal? Nyatanya tidak! Sekalipun demokrasi lahir dari rahim kapitalisme, namun porsi idealismenya tetap kurang menonjol dibandingkan sistem ekonomi dalam menjiwai ideologi kapitalisme tersebut.

Penerapan ideologi kapitalisme di negara-negara Barat ternyata sangat memengaruhi elite kekuasaan (pemerintahan). Mereka tunduk kepada para kapitalis (pemodal). Dapat dikatakan, para kapitalislah yang menjadi penguasa sesungguhnya di negara-negara penganut kapitalisme.

Terlepas dari kapitalisme, demokrasi ternyata juga efektif sebagai wadah menghidupkan ideologi sosialisme-komunisme. Faktanya, komunisme juga menyuarakan demokrasi dan menyatakan kekuasaan berada di tangan rakyat. Tak heran jika di negara-negara bersistem demokrasi, selalu ada celah bagi tumbuhnya ide-ide sosialisme-komunisme.

Tapi tentu saja sangat mengejutkan, ketika para pakar hasil didikan demokrasi malah memprediksi kematian demokrasi itu sendiri, melalui buku How Democracies Die tadi. Ini sama saja mengukur pada “umur” berapa demokrasi mati.

Baca juga:  George Bush Senior "Sang Penjagal Irak" Wafat

Tidakkah ini suatu sinyal kuat? Di antara para penganut demokrasi yang meyakini kematian sistem pujaannya itu suatu saat nanti, pun meragukan masa depannya bagi kemaslahatan dunia.

Membuktikan Ketidaklayakan Kapitalisme dan Sosialisme-Komunisme sebagai Ideologi bagi Dunia

Penting kiranya mengetahui paradigma baru di luar buku How Democracies Die terkait titik lemah demokrasi, hingga dapat memproyeksikan kehancurannya.

Penting pula mengecek ulang ideologi lain sebagai pedoman perjalanan kehidupan. Yang bisa menyolusi problematik hidup mereka di muka bumi. Agar kehidupan manusia berjalan sesuai fitrahnya, tercapai kepuasan akal, dan terwujud ketenangan hati di dalamnya.

Menilik kapitalisme dan sosialisme-komunisme selaku dua ideologi tempat tumbuh suburnya demokrasi, jelas yang harus diruntuhkan terlebih dahulu adalah keduanya, baik akidahnya maupun cara pandang dan pengaturannya terhadap kehidupan.

Keduanya sama-sama memiliki keyakinan bahwa nilai-nilai paling tinggi dan terpuji pada manusia adalah nilai-nilai yang ditetapkan manusia itu sendiri.

Di samping itu, kedua ideologi ini juga meyakini kebahagiaan hidup diraih dengan memperoleh sebesar-besarnya kesenangan fisik (jasmaniah).

Keduanya pun sependapat memberikan kebebasan pribadi bagi manusia. Manusia bebas berbuat semaunya menurut keinginannya, selama manusia itu melihat ada kebahagiaan di dalamnya. Kebebasan individu adalah hal yang paling diagung-agungkan ideologi kapitalisme dan sosialisme-komunisme.

Dengan demikian, sungguh lemah legitimasi bagi kapitalisme dan sosialisme-komunisme untuk menjamin kelayakan masa depan kehidupan manusia, khususnya di dunia Islam.

Harus diyakini, solusi kepincangan dunia akibat demokrasi bukanlah dengan memperbaiki demokrasi itu sendiri, tapi justru dengan meruntuhkannya dan menggantinya dengan sistem baru.

Islam, Ideologi yang Sesuai Fitrah Manusia

Dunia Islam sebagai penghuni bumi dengan jumlah terbesar ini sepatutnya meraba diri. Ideologi apa yang tengah mereka jalani? Apakah ideologi tersebut sesuai fitrah kemanusiaannya atau tidak? Mengingat beragam ketimpangan dan abnormalitas kehidupan ibarat badai yang siap melanda setiap saat.

Faktanya, belum ada satu pun negara di dunia yang mengambil Islam sebagai ideologi, kendati mereka negeri-negeri muslim, khususnya pascakeruntuhan Khilafah Turki Utsmani (Ottoman) pada 1924.

Sejatinya, setiap diri manusia menurut fitrahnya selalu cenderung pada agama. Kendati manusia saat ini hidup dalam naungan ideologi yang bertentangan dengan fitrahnya, tetap saja dirinya pasti akan mencari jalan kembali pada fitrahnya tersebut.

Baca juga:  Bahaya Komunisme dan Kapitalisme

Ini naluriah. Manusia akan selalu mencari sesuatu yang jauh lebih sempurna (Mahasempurna) dibandingkan dirinya untuk selalu diagungkan.

Sehingga jelas, ideologi kapitalisme dan sosialisme-komunisme bertentangan dengan fitrah manusia ini, di mana terletak kecenderungan untuk senantiasa terikat dengan aturan Sang Mahasempurna, Allah SWT.

Agama/keyakinan pada Sang Pencipta bagi kehidupan manusia berperan penting mengatasi problematik hidup manusia, dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Inilah Islam. Islam sesuai dengan fitrah manusia, maka Islam pasti mudah diterima manusia. Ketika manusia tidak menjadikan Islam sebagai ideologi, mereka akan keliru menerapkan Islam di tengah-tengah sekumpulan manusia lainnya. Oleh sebab itu, wajib menjadikan Islam sebagai ideologi dalam kehidupan.

Relevansi Penerapan Ideologi Islam dalam Format Negara

Sebagai agama yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah Saw. dan berlaku hingga akhir zaman, Islam pasti dapat diterapkan kapan pun dan di mana pun. Keberadaan umat Islam di seluruh penjuru dunia membuktikan Islam adalah ajaran yang disebarkan melalui aktivitas dakwah yang tersebar luas.

Karena itu, sesungguhnya bukan sesuatu yang aneh jika kaum muslimin di seluruh dunia menghendaki adanya negara pelaksana ideologi Islam yang akan menaungi kehidupan mereka.

Tegaknya negara berideologi Islam tentu saja sebagai bentuk aktualisasi fitrah kemanusiaan mereka selaku makhluk Allah SWT untuk hidup dalam negara yang diatur syariat-Nya.

Jadi, tegaknya sistem Khilafah sebagai negara berideologi Islam adalah suatu kebutuhan mendesak di saat umat Islam dan manusia seluruhnya terlalu lama hidup dengan aturan yang bertentangan dengan fitrah mereka.

Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di seluruh dunia. Negara Khilafah berperan untuk menegakkan syariat Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Khilafah adalah penjamin penerapan ideologi Islam secara sempurna dan menyeluruh, suatu kewajiban yang akan menopang tegaknya kewajiban-kewajiban lain yang ditetapkan hukum syariat.

Baca juga:  [Editorial] Kapitalisme Menantang Azab

Hukum-hukum tersebut mencakup seluruh aspek kehidupan, antara lain aspek sosial, ekonomi, pendidikan, pengelolaan sumber daya alam, militer, politik dalam dan luar negeri, pemerintahan, dan sebagainya.

Jelas sekali, pelaksanaan seluruh ide-ide Islam bergantung pada keberadaan Khilafah, karena hanya Khilafah metode untuk merealisasikan eksistensi Islam.

Keberhasilan penerapan ideologi Islam ini tercatat dalam sejarah, umat Islam pernah menjadi umat yang terkemuka di dunia dalam berbagai bidang (peradaban, tsaqafah, dan ilmu pengetahuan).

Negara Khilafah Islamiyah telah menjadi negara terbesar dan terkuat di dunia selama kurang lebih 13 abad, menjadi kebanggaan dunia layaknya matahari yang sinarnya menerangi dunia selama negara tersebut ada.

Khatimah

Demikianlah, hendaknya kaum muslimin mengambil Islam seutuhnya sebagai ideologi. Ideologi Islamlah variabel yang tepat menuju tegaknya Negara Khilafah Islamiyah.

Islam akan berlaku sebagai akidah yang di atasnya dibangun pandangan tentang kehidupan. Islam juga akan mengatur kehidupan yang bersumber dari akidah Islam.

Manusia dipastikan tidak menjadi sumber hukum dan undang-undang. Legalitas hukum semata-mata terletak di tangan syariat, bukan yang lain. Pun standardisasi kebahagiaan dalam kehidupan, semua dikembalikan pada rida Allah SWT, yakni dengan senantiasa terikat pada aturan-Nya.

Jalan kebangkitan kaum muslimin hanya satu, semata-mata melalui berlanjutnya kehidupan Islam. Itulah jalan menjemput janji Allah dan bisyarah Rasul-Nya.

Firman Allah SWT,

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan-Ku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An-Nuur [24]: 55).

Rasulullah Saw. bersabda, ” … Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan al-Bazzar).

One thought on “Mengetahui Cara Kematian Demokrasi, Mewujudkan Ideologi Islam sebagai Variabel Tegaknya Khilafah

Tinggalkan Balasan