Berhias dan Tabarruj, Apakah Sama? (Bagian 2/2)

Sambungan dari Bagian 1/2 – Berdandan dan berhias identik dengan perempuan. Lantas samakah dengan tabarruj? Bagaimana Islam mengatur masalah ini?

Oleh: Najmah Saiidah

Dalil-Dalil Larangan Tabarruj

MuslimahNews.com, FOKUS TSAQAFAH — Di antara nas-nas yang melarang perbuatan-perbuatan tabarruj adalah: “Janganlah mereka mengentakkan kaki-kaki mereka agar diketahui perhiasan mereka yang tersembunyi.” (QS An-Nur: 31)

Jelaslah dari sini, bahwa [ayat] itu merupakan larangan untuk menampakkan perhiasan, mengingat Allah berfirman yang artinya, “… Agar diketahui perhiasan mereka yang tersembunyi.”

Perempuan-perempuan tua yang telah berhenti haid dan kehamilan yang tidak ingin menikah lagi, tidaklah dosa atas mereka menanggalkan pakaian mereka tanpa bermaksud menampakkan perhiasannya (tabarruj) dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Mahanijaksana.” (QS An-Nuur: 60)

Dari Abu Musa al-Asy’ari ra berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Perempuan mana saja yang memakai wewangian kemudian dia melewati suatu kaum agar mereka mencium baunya maka dia adalah seorang pezina”, maksudnya seperti pezina. Dikeluarkan oleh An-Nasa’i dan Al-Hakim, dan beliau menyahihkannya.

Hadis ini juga merupakan larangan tabarruj, dan jelas dalam sabda beliau Saw., “Memakai wewangian kemudian dia melewati suatu kaum agar mereka mencium baunya,” bahwa ini merupakan perbuatan pamer perhiasan atau pamer wewangian, agar kaum lelaki dapat mencium harumnya.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw. bersabda, “Ada dua golongan di antara penghuni neraka yang belum pernah aku lihat keduanya: suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk memukul orang-orang; dan perempuan yang berpakaian tapi telanjang yang berjalan dengan berlenggak-lenggok, rambut mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka ini tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aroma surga. Dan sesungguhnya aroma surga itu bisa tercium sejauh perjalanan demikian dan demikian.”

Diriwayatkan oleh Imam Muslim. Ini juga merupakan larangan terhadap salah satu aktivitas yang tergolong tabarruj.

Jelas dalam sabda beliau: “kaasiyaatun ‘aariyaatun” (berpakaian seperti telanjang) adalah memperlihatkan perhiasan. Dan dalam sabda beliau: “mumiilaatun maailaatun” (lenggak-lenggok) yaitu mereka berdiri dengan gerakkan-gerakkan yang menarik perhatian kaum lelaki. Dan di dalam sabda beliau: “rambut mereka seperti punuk unta yang miring”, yaitu mereka memamerkan perhiasan rambut mereka, menghias rambut mereka, dan menonjolkannya menggunakan gulungan sorban atau kain atau semisalnya sehingga menjadi mirip punuk unta.

Kata al-bukhtu adalah unta khurasaniyah, maksudnya: mereka menyisir rambut mereka sehingga menyerupai punuk unta khurasaniyah. Jelas dalam hal ini, ia merupakan larangan terhadap upaya menampakkan kecantikan terhadap kaum lelaki.

Demikian pula halnya dengan seluruh nas yang melarang aktivitas-aktivitas tabarruj, semuanya menjelaskan larangan untuk memamerkan perhiasan dan kecantikan, bukan larangan berhias.

Maka, yang dilarang adalah tabarruj dengan pengertian etimologisnya, berdasarkan hadis-hadis yang melarang berbagai perbuatan yang tergolong tabarruj. Larangan tidak tertuju pada berhias tanpa tabarruj.

Cakupan Tabarruj

Berkaitan dengan tabarruj ini, sesungguhnya memang ada nas-nas yang menjelaskan secara khusus, seperti memakai minyak wangi yang mencolok, bertato, mengerik alis, menggulung rambut sehingga tampak seperti punuk unta, berpakaian tipis atau berpakaian ketat (berpakaian seperti telanjang) berlenggak-lenggok di hadapan laki-laki asing, memukulkan kaki yang memakai gelang kaki sehingga terdengar bunyinya (“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak dari padanya.” (QS an-Nur: 31))

عَنْ عَائِشَةَ ر.ع أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ اَبِيْ بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَي رَسُوْلِ اللهِ ص وَعَليْهَا ثِيِابٌ رِقَاٌقٌ فَاَعْرَضَ عَنْهَا رَسُوْلُ اللهِ ص وَقَالَ: يَا اَسْمَاْءَ اِنَّ الْمَرْأَةَ اِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيْضَ لَمْ تَصْتُحْ أَنْ يُرَي اِلاَّ هَذَا وَ هذَا وَاَشَارَ اِلَي وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

Dari ‘Aisyah ra., “Sesungguhnya Asma binti Abu Bakar masuk ke rumah Rasulullah Saw. dengan memakai pakaian tipis. Lalu Rasulullah berpaling darinya dan bersabda, Hai Asma! sesungguhnya seorang perempuan yang sudah balig tidak boleh terlihat auratnya kecuali ini dan ini, dan Nabi Saw. menunjuk ke wajah dan telapak tangannya.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah bersabda, “Dua golongan dari ahli neraka aku belum pernah melihatnya yaitu; orang-orang yang membawa cambuk seperti ekor sapi mereka memukul manusia dengannya dan perempuan yang memakai pakaian hampir telanjang dengan mengoyang-goyangkan pinggulnya, berlenggok-lenggok kepalanya seperti punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan memperoleh harumnya. Dan sesungguhnya harumnya surga dapat dicium dari jarak sekian dan sekian (jarak yang sangat jauh).” (Hadis Sahih Riwayat Muslim)

“Ketahuilah, parfum pria adalah yang tercium baunya dan tidak terlihat warnanya. Sedangkan parfum perempuan ada­lah yang tampak warnanya dan tidak tercium baunya.” (HR Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi Saw. bersabda, Allah telah melaknat perempuan yang memakai cemara (rambut palsu) dan perempuan yang minta dipakaikan cemara dan perempuan yang menato (mencacah) dan yang minta ditato.” (HR Bukhari).

Lalu bagaimana dengan berdandan atau bersolek, yang memang tidak ada penjelasan dari nas secara langsung?

Memang benar bahwa tidak ada ukuran atau batasan terkait dengan kadarnya. Hanya saja, jika kita mencermati makna tabarruj (yaitu menampakkan perhiasan dan kecantikan kepada laki-laki asing sehingga mengalihkan pandangannya dari pandangan biasa menjadi pandangan syahwat), maka berdandan berlebihan atau tidak seperti biasa ‘urf masyarakatnya, bisa terjerumus kepada tabarruj.

Misalnya, berdandan menor, memakai bedak tebal, eye shadow, lipstik dengan warna mencolok dan merangsang, dan lain sebagainya. Sebab, tindakan-tindakan semacam ini termasuk dalam kategori tabarruj secara definitif.

Syekh ‘Atha’ merinci hal ini, beliau menegaskan bahwa perempuan yang memakai celak pada matanya tidak menarik pandangan, sebab itu di dalam mata. Sementara, seandainya perempuan itu memakai celak pada bulu mata atau di atas kulit mata, lalu diberi warna tertentu, maka itu menarik pandangan.

Demikian juga seandainya perempuan itu membersihkan wajahnya dan menghilangkan bintik-bintik atau jerawat di wajahnya, sehingga wajahnya tampak lebih cantik dari sebelumnya tetapi meniru wajah normal, itu tidaklah menarik pandangan.

Tetapi seandainya dia menerapkan warna pada wajahnya dengan warna menonjol, maka [itu] menarik pandangan.

Dan tentu saja, daerah tempat di mana perempuan itu hidup memiliki peran pada “menarik pandangan atau tidaknya”, misalnya hidup di kampung atau di kota.

Jadi yang penting dalam topik tersebut, bahwa perhiasan yang secara tidak biasa di daerah itu dan menarik pandangan, perhiasan ini menjadi tabarruj. (Soal-Jawab Syekh ‘Atha’ Abu Rasytah tentang rincian Tabarruj)

Di akhir penjelasannya, Syekh ‘Atha’ menegaskan, sesungguhnya perempuan itu biasanya tahu jika perhiasan yang digunakan untuk berhias itu menarik pandangan laki-laki atau tidak. Artinya, tidak sulit mengetahui mana perhiasan yang menarik pandangan dan mana perhiasan yang tidak menarik pandangan. Perempuan mengetahui hal itu dengan pengindraan mereka.

Di atas semua itu, seorang muslimah yang bertakwa akan menjauhi bukan hanya yang haram saja, tetapi dia menjauhi hingga apa yang di dalamnya ada syubhat.

Sebagian Sahabat menjauh dari berbagai jenis kebolehan (mubah) karena dekat dengan daerah haram. Telah sahih dari Rasulullah Saw. bahwa Beliau bersabda,

«لَا يَبْلُغُ العَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنَ المُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَراً لِمَا بِهِ البَأْسُ»

أخرجه الترمذي وقال هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ

“Seorang hamba tidak sampai menjadi bagian dari orang bertakwa sampai dia meninggalkan apa yang tidak ada masalah dengannya karena takut terhadap apa yang ada masalah dengannya.” (HR at-Tirmidzi, dan ia berkata hadis hasan).

Khatimah

Demikianlah Islam telah menjelaskan secara detail dalam Al-Qur’an maupun Hadis Rasulullah Saw. bagaimana seharusnya seorang perempuan berhias.

Tampak sangat jelas bahwa berhias atau tazayyun tidak sama dengan tabarruj. Islam membolehkan seorang muslimah berhias selama tidak berlebihan, karena dandanan yang berlebihan akan bisa mengalihkan pandangan laki-laki yang bukan mahramnya, dari pandangan biasa menjadi pandangan syahwat.

Inilah yang akan membawa kepada tabarruj. Haram hukumnya seorang perempuan ber-tabarruj, yaitu menampakkan kecantikan dan perhiasan kepada laki-laki yang bukan mahramnya.

Karenanya, seorang muslimah harus berhati-hati dalam berdandan, jangan sampai menarik perhatian, mengalihkan pandangan laki-laki yang bukan mahramnya, dari pandangan biasa menjadi pandangan syahwat. Wallahu a’lam bishshawwab.[MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *