Kibar Hijab di Ajang Miss Universe

Oleh: Ragil Rahayu, S.E.

MuslimahNews.com, OPINI – Akan ada yang baru di ajang Miss Universe. Biasanya, kontes kecantikan ini menampilkan para perempuan cantik semampai dengan busana yang menampakkan aurat. Tak heran, dulu wakil Indonesia pernah dilarang mengikuti kontes ini, karena dinilai tak sesuai dengan norma ketimuran.

Pada 2020 ini, seorang muslimat bernama Halimah Aden membuat gebrakan baru. Foto model super di Amerika Serikat (AS) ini memutuskan mewakili negaranya, yakni Somalia, di kontes “Ratu” sejagat tersebut.

Sosok Aden dianggap sebagai kuda hitam karena menarik perhatian publik. Dia pernah merasakan pedihnya menjadi pengungsi di Kenya lalu hijrah dan berkarir di dunia modeling Amerika.

Aden sempat meraih puncak karier dengan tampil di sampul depan majalah Vogue dengan mengenakan hijab. Juga tampil di New York Fashion Week dengan gaya busana modest, yakni gaya pakaian yang menutup seluruh bagian tubuh.

Namun, akhir tahun ini Aden rela meninggalkan glamornya panggung catwalk karena pertimbangan keyakinan, yakni kadang tak mendapat kesempatan untuk salat dan menutup aurat.

Kini Aden ingin tampil di panggung Miss Universe, lengkap dengan kibar hijabnya. Publik menduga gadis ini akan gagal, karena sesi pakaian renang di Miss Universe yang melarang burkini.

Namun Halimah bergeming, dengan mantap dia menyatakan, “Aku akan kembali ke negara. Aku akan menjadi Miss Somalia pertama di panggung Miss Universe, rekan kontestan bersiaplah karena aku datang,” tulisnya.

Hijab di Belantara Bisnis Fesyen Barat

Belum diketahui, apakah Halimah akan lolos melenggang ke ajang Miss Universe. Namun, seandainya dia berhasil tampil sekali pun, dikhawatirkan Aden dan hijabnya hanya akan menjadi aksesoris dari bisnis fesyen Barat. Sekadar sebuah pelengkap model busana di antara aneka model lain yang mengumbar aurat.

Sementara Islam memandang kemuliaan muslimah bukan pada kepiawaiannya berlenggak-lenggok di panggung catwalk nan gemerlap. Namun pada ketakwaan yang tercermin dari kepatuhan pada perintah Ilahi.

Di dalam industri fesyen Barat, hijab adalah sebuah pilihan, bukan sebuah keharusan. Menutup aurat adalah soal selera, bukan wujud ketakwaan. Hanya saja, bisnis hijab terlalu “gurih” untuk diabaikan oleh Barat.

Seiring dengan tren berhijab di kalangan muslimah, industri fesyen Barat mau tak mau harus beradaptasi. Mereka mulai merancang busana serba tertutup untuk para hijaber. Beberapa tahun belakangan ini, model berhijab mulai menghiasi panggung-panggung fesyen di Amerika dan Eropa.

Pada 2015, untuk pertama kalinya kontes kecantikan Miss Minnesota Amerika Serikat menerima kontestan berhijab. Kini disediakan slot bagi desainer busana muslim dalam perhelatan mode seperti London Fashion Week dan New York Fashion Week.

Sikap “ramah” Barat terhadap fesyen Islami ini bukan pertanda penerimaan mereka terhadap Islam, namun karena alasan bisnis.

Laporan dari The Global Islamic Economy yang dilakukan pada 2014-2015 mengindikasikan adanya perkembangan konsumen muslim dalam konsumsi busana dan sepatu, dari $266 miliar pada 2013 menjadi $488 miliar di tahun 2019. Perkembangan tersebut terjadi di sejumlah negara di Asia seperti Tiongkok dan Jepang (tirto.id, 30/1/2018).

Konsumsi fesyen muslim Indonesia mencapai US$20 miliar (Rp280 triliun dengan kurs Rp14.000/US$) dengan laju pertumbuhan 18,2% per tahunnya. The State Global Islamic Economy melaporkan konsumsi fesyen muslim dunia mencapai US$270 miliar, terus meningkat dengan laju pertumbuhan 5%. Pada 2023 diproyeksikan akan mencapai US$361 miliar (cnbcindonesia, 1/5/2019).

Bisnis Hijab Diterima, Islamofobia Masih Kentara

Meski hijab dan muslimah diterima di bisnis fesyen Barat, nyatanya islamofobia justru kian meningkat. Banyak pernyataan dan kebijakan pejabat senior Barat ditujukan untuk menyebarkan islamofobia dan mendorong kekerasan terhadap muslim. Presiden AS Donald Trump berada di garis depan islamofobia dan kebencian terhadap muslim di AS dan Barat.

Di Inggris, Prancis, Jerman, dan beberapa negara Eropa lainnya, anti-Islamisme, kekerasan verbal dan fisik, dan diskriminasi terhadap muslim telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Serangan ke masjid, serangan fisik dan verbal terhadap muslim, dan ‌diskriminasi terhadap pemeluk Islam di berbagai bidang pendidikan dan pekerjaan hanyalah beberapa contoh islamofobia di masyarakat Barat. Tak hanya di Barat, Islamofobia bahkan telah mengglobal di belahan bumi lain seperti Australia, Cina, dan lainnya.

Secara global, islamofobia di Barat dilakukan mulai dari menjerat muslim dengan berbagai kasus hukum palsu, melecehkan kesucian Islam, propaganda negatif anti-Islam dan muslim, beragam penganiayaan dan teror, serta diskriminasi. Contoh terbaru dari islamofobia di Barat adalah perilisan beberapa kali kartun yang menghina Rasulullah Muhammad Saw. di Denmark dan Prancis.

Khilafah Pelindung Muslim dari Islamofobia

Kebencian Barat terhadap Islam telah berurat berakar. Islamofobia telah menjadi penyakit akut yang akan selalu mereka idap, meski umat Islam bersikap baik sekalipun. Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS Ali Imran[3]: 118)

Islamofobia bukanlah hal baru bagi Islam dan Muslim. Islamofobia telah ada sejak zaman Rasulullah Saw.

Kaum kafir Quraisy menggunakan segala cara untuk menghentikan dakwah Islam. Mulai dari cara yang halus yakni dengan menawarkan harta, tahta, dan wanita pada Rasulullah Saw. agar berhenti mendakwahkan Islam.

Setelah gagal, mereka menggunakan cara represif yakni memfitnah Nabi Saw. sebagai orang gila, penyihir, dan yang lainnya. Juga melakukan penyiksaan dan pemboikotan pada Rasulullah Saw. dan para sahabat.

Islamofobia yang menjangkiti dunia saat ini menunjukkan pada kita bahwa orang-orang kafir tidak akan pernah berhenti menghina, mendiskriminasi, menyerang dan bahkan membunuh umat Islam karena kebencian mereka. Selama tidak punya pelindung, umat Islam akan selalu menjadi sasaran kebencian mereka.

Hal ini merupakan sinyal mendesaknya kebutuhan kita terhadap kembalinya Khilafah Rasyidah yang berposisi sebagai perisai (junnah) umat Islam, di mana pun dia berada.

Hal ini sebagaimana sabda Baginda Nabi Muhammad Saw.,

إنما الإمام جنة يقاتل من ورائه ويتقى به

”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu bagaikan perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud) Wallahu a’lam bishshawab. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *