Keberanian Barat Memerangi Islam Telah Pudar

Oleh: Endiyah Puji Tristanti

MuslimahNews.com, OPINI – Pemimpin-pemimpin Barat membutuhkan sensasi untuk menutupi kegagalan dalam negerinya. Setelah Donald Trump di Amerika Serikat, Emmanuel Macron di Prancis ingin menggulung citra buruknya dari publik dalam negeri. Macron sibuk membangun pencitraan sebagai penjaga laicite.

Macron mendesak para pemimpin muslim menerima “Piagam Nilai-nilai Republik” sebagai bagian dari tindakan keras terhadap Islam radikal dan ekstremisme. Macron mengeluarkan ultimatum 15 hari kepada Dewan Kepercayaan Muslim Prancis (CFCM) untuk menerima piagam tersebut.

“Dua prinsip akan tertulis hitam di atas putih dalam piagam itu, yakni penolakan atas politik Islam dan campur tangan asing,” menurut satu sumber kepada surat kabar Le Parisien setelah pertemuan 18/11 itu, dilansir di BBC, Jumat (20/11).

Bagi Prancis, sekularisme negara (laicite) merupakan pusat identitas nasional. Wajar dalam sebuah RUU yang akan dibahas segera, disebutkan bahwa pemerintah Prancis bisa membubarkan LSM Muslim jika tindakan mereka mengancam martabat manusia atau jika mereka melakukan tekanan psikologis atau fisik pada orang lain. Macron menutup mata atas kenyataan bahwa Prancis sendiri memiliki populasi muslim terbesar di Eropa Barat dan akan terus tumbuh.

Ultimatum Urakan Menuai Kecaman

Menurut Marco Perolini, peneliti Eropa Barat Amnesty International, undang-undang tentang pembubaran organisasi di Prancis sudah sangat bermasalah. Badan amal muslim terbesar Prancis BarakaCity pun telah ditutup Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerald Darmanin tanpa pengawasan yudisial.

Kelompok hak-hak sipil muslim-Amerika menyebut perintah Emmanuel Macron bahwa pembentukan Dewan Imam Nasional di bawah parameter pemerintah sebagai tindakan munafik dan berbahaya. Sebab dewan ini bertugas melakukan sertifikasi terhadap para imam dan ulama muslim di Prancis.

Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) mengutuk upaya Emmanuel Macron yang mendikte prinsip-prinsip agama Islam kepada para imam di Prancis. Tuntutan Macron yang secara salah menyatakan bahwa Islam adalah agama apolitik.

Sebagai organisasi hak-hak sipil muslim terbesar di Amerika Serikat, CAIR mengecam ultimatum Macron dengan menyatakan pemerintah Prancis tidak memiliki hak untuk memberi tahu umat muslim atau agama minoritas lainnya bagaimana menafsirkan keyakinan mereka sendiri.

“Presiden Macron harus berbalik arah sebelum bangsanya kembali ke rasisme kolonial dan kefanatikan agama yang menghantui begitu banyak negara Eropa selama berabad-abad. Presiden Macron mengubah liberte, egalite, fraternite (kebebasan, keadilan, dan persaudaraan) menjadi represi, ketidaksetaraan, dan perpecahan,” tutur Direktur Eksekutif CAIR Nihad Awad, mengacu pada semboyan nasional Prancis, dilansir dari Middle East Eye.

Trauma Barat dan Dendam Ideologi

Prancis hanyalah “mural peradaban Barat yang kuno yang terkungkung dalam bayang-bayang kejayaan masa lalu. Prancis memang pernah menduduki predikat negara adidaya, menguasai sebagian besar Eropa kecuali Britania dan Rusia. Namun Prancis harus mau menelan pil pahit kejatuhannya atas kegagalan menginvasi Rusia tahun 1812 silam.

Prancis pun tak sepatutnya menaruh dendam sejarah terhadap Islam politik. Prancis wajib berterima kasih kepada peradaban Islam atas jasa Khilafah Utsmani. Khalifah Sulaiman al Qanuni telah mengabulkan permohonan Prancis untuk menyelamatkan raja Fransis I dari tawanan Spanyol.

Bila bukan sekadar dendam sejarah lalu, atas dendam apa Prancis memusuhi Islam politik?

Jawabnya karena Prancis merepresentasikan nilai-nilai Barat yang sebenarnya untuk dendam ideologis. Salah satu poin penting “Piagam Macron” adalah agar CFCM menyatakan secara terbuka bahwa Islam hanyalah sebuah agama dan bukan gerakan politik. Sekularisme dengan ide liberte, egalite, fraternite telah memabukkan dunia Barat untuk membenci Islam atas alasan ideologis. Sebab Islam politik telah menantang konsep nilai-nilai Barat yang nyatanya absurd.

Respons ketidakberdayaan Barat atas tantangan ini, tahun 2003, lembaga think-tank AS, yakni Rand Corporation, mengeluarkan sebuah kajian teknis berjudul “Civil Democratic Islam”.

Rand Corp membagi umat Islam menjadi empat kelompok muslim: fundamentalis, tradisionalis, modernis [moderat], dan sekularis. Setelah dilakukan pengelompokan atas umat Islam, langkah berikutnya yang dilakukan Barat adalah melakukan politik belah bambu; mendukung satu pihak dan menjatuhkan pihak lain serta membenturkan antarkelompok.

Ultimatum 15 hari Macron mengukuhkan desain Rand Corp untuk memolarisasi muslim Eropa menjadi Islam politik dengan cap radikal dan Islam sekularis yang membawa misi moderasi liberal. Perancis ingin menyetir muslim agar berjalan di sisi Islam sekularis yang moderat demi mengamankan laicite.

Jawaban Arogansi Barat

Kekuatan politik Islam dalam wujud Khilafah Islamiyah yang menguasai 2/3 wilayah dunia selama belasan abad memberikan rasa frustasi bagi Barat. Atas obsesinya menghancurkan Islam, Barat merasa gagal meski berhasil menghilangkan Khilafah seabad lalu.

Melalui tangan Prancis, ideologi Barat selama ini terus menekan muslim Eropa yang berdiri tanpa negara. Barat benar-benar telah kehilangan keberaniannya berhadapan dengan Islam politik face to face. Bagaimana mungkin Barat dikatakan menang dalam peperangan melawan suatu kaum tanpa otoritas politik yang satu?

Cukuplah dokumen NIC meyakinkan dunia Barat atas runtuhnya norma dan nilai-nilai Barat. Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat (National Intelligent Council/NIC) pada Desember 2004 merilis laporan dalam bentuk dokumen berjudul Mapping The Global Future: Report of the National Intelligence Council’s 2020 Project.

“A New Caliphate provides an example of how a global movement fueled by radical religious identity politics could constitute a challenge to Western norms and values as the foundation of the global system.”

Sangat jelas ideologi Barat yang kufur dan fasad sangat rapuh untuk mampu bertahan menyelesaikan masalah-masalah dunia modern yang ditimbulkannya. Sifat nilai-nilai Barat yang self-destructifve memastikan kekalahan ideologi kapitalis-sekuler atas peperangan yang tak berimbang ini. Upaya menghadirkan kembali Khilafah Islamiyah tentunya akan mempercepat datangnya ajal ideologi Barat yang telah sekarat.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.“ (TQS an Nur: 55) [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan