Ummul Fadhl Lubabah binti Al-Harits ra, Ibunda Ulama Terbesar dan Ahli Tafsir Terkemuka

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF – Kita akan berjumpa dengan wanita yang sangat mulia, Ummul Fadhl binti Al-Harits bin Hazn bin Buhair Al-Hilaliyah, seorang wanita merdeka dan agung. Ia adalah istri Abbas, paman Nabi saw. dan ibu dari enam anak lelaki yang cerdas.

Nama aslinya adalah Lubabah, ia adalah saudara perempuan Ummul Mukminin Maimunah binti Al-Harits, sekaligus bibi Khalid bin Al-Walid dan saudara kandung Asma’ binti ‘Umais. Mari kita simak perjalanan hidupnya yang harum semerbak dengan sepenuh hati.

Keistimewaan-Keistimewaan Ummul Fadhl

Sebelum membuka lembaran-lembaran dan membaca catatan hidup Ummul Fadhl ra., kita akan mencermati sejenak, latar belakang dan lingkungan keluarganya yang diliputi oleh kemuliaan dan kehormatan.

Suami Ummul Fadhl adalah Abbas, paman Rasulullah saw., seorang tokoh terkemuka Bani Hasyim yang selalu siap memberi perlindungan dan mengorbankan hartanya bagi setiap orang yang terhimpit kebutuhan dan musibah. Ia senang memberi pakaian kepada orang miskin yang nyaris tidak memiliki baju dan memberi makan orang yang kelaparan.

Putranya adalah Habrul Ummah (ulama terbesar umat ini) dan Turjumaan Al-Qur’an (ahli tafsir Al-Qur’an) dan Ibnu Abbas ra. Selain Abdullah, Ummul Fadhl juga dikaruniai beberapa putra dari pernikahannya dengan Abbas, yaitu Al-Fadhl (nama inilah yang selalu disertakan dalam panggilannya), ‘Ubaidullah, Qutsam, Ma’bad, Abdurrahman, dan Ummu Habibah.

Ubaidullah bin Yazid Al-Hilali menyebut kemuliaan Ummul Fadhl dalam puisinya,

Tidak ada wanita terhormat yang melahirkan orang-orang besar
Sejauh pengetahuanku baik di gunung maupun di kota
Seperti enam orang yang terlahir dari rahim Ummul Fadhl
Menjadi kebanggaan setiap orang dan orang tuanya
Ayahnya adalah paman Nabi pilihan yang paling utama
Rasul terakhir dan Rasul terbaik di antara para Rasul

Saudara-saudara perempuan Ummul Fadhl juga merupakan wanita-wanita mulia, terutama Maimunah binti Al-Harits, ibunda orang-orang mukmin dan istri Nabi saw. yang dinikahi oleh beliau pada tahun 6 Hijriah.

Maimunah adalah wanita yang sangat mulia. Selain Maimunah, saudara-saudara perempuannya yang lain adalah Lubabah Ash-Shughra, ‘Ashma’, ‘Izzah, dan Huzailah. Semuanya putri Al-Harits.

Sedangkan saudara-saudara perempuannya dari pihak ibu adalah Asma’, Salma, dan Salamah. Ayah mereka adalah ‘Umais yang berasal dari suku Khatsam.

Cobalah cermati asal-usul keluarga yang saleh dengan akar yang penuh berkah ini. Semuanya merupakan kemuliaan yang tiada bandingannya. Ada yang mengatakan bahwa Zainab binti Khuzaimah Al-Hilaliyah, salah satu istri Nabi saw., adalah saudara perempuan mereka dari pihak ibu.

Ummul Fadhl adalah bibi (dari pihak ibu) Khalid bin Al-Walid. Seorang tokoh penting yang disebut oleh Rasulullah saw., “Khalid bin Al-Walid adalah salah satu pedang Allah yang terhunus untuk menghancurkan orang-orang musyrik.”

Sedangkan Abu Bakar ra. pernah berkata, “Wanita-wanita sekarang tidak sanggup lagi melahirkan anak seperti Khalid.”

Sungguh, semua itu merupakan keistimewaan yang sulit dicari bandingannya. Adakah kemuliaan yang setara dengannya?

Keberaniaan Tiada Tara

Sungguh luar biasa sosok Ummul Fadhl ra. ketika menorehkan catatan besar dalam lembaran sejarah. Setelah kaum muslimin meraih kemenangan gemilang dalam perang Badar, Ummul Fadhl ra. melakukan suatu hal yang menunjukkan ketulusan iman, kedalaman akidah, dan keberaniannya.

Mari kita simak penuturan Abu Ar-Rafi’, pelayan Rasulullah saw., tentang peristiwa monumental yang melibatkan Ummul Fadhl ra. dengan musuh Allah, Abu Lahab. ‘Ikrimah, pelayan Ibnu Abbas menceritakan bahwa Abu Rafi’, pelayan Rasulullah saw., berkata, “Ketika itu aku masih menjadi pelayan Abbas bin Abdul Muththalib. Cahaya Islam telah merambah seluruh anggota keluarga; Abbas telah memeluk Islam, begitu Ummul Fadhl dan aku.

Masalahnya, Abbas khawatir terhadap Quraisy dan ia tidak ingin bentrok lagi dengan mereka, sehingga ia menyembunyikan keislamannya. Abbas adalah orang yang kaya raya dan sekian banyak hartanya berada di tangan orang-orang Quraisy (pinjaman, piutang, dll.).

Abu Lahab tidak sempat ikut perang Badar, sehingga ia membiayai Al-‘Ashi bin Hisyam bin Mughirah untuk menggantikan posisinya. Begitulah yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Quraisy lainnya, jika mereka berhalangan untuk pergi ke Badar, maka akan menugaskan seseorang untuk menggantikannya.

Ketika Abu Lahab mendengar berita kekalahan Quraisy dalam perang Badar, ia sangat terguncang dan murung, sedangkan kami merasakan ada semangat kekuatan dan kebanggaan yang semakin besar.

Saat itu aku adalah orang yang lemah, pekerjaanku hanya pembuat wadah air di ruangan sekitar sumur Zamzam. Saat itu aku sedang duduk dan sibuk membuat wadah air, sedangkan Ummul Fadhl duduk tidak jauh dariku.

Kami sedang bahagia karena mendengar berita kemenangan kaum muslimin. Tiba-tiba, Abu Lahab masuk ke dalam ruangan kami dengan langkah yang sangat berat, lalu duduk di atas balai-balai sambil menyandarkan punggungnya di punggungku.

Ketika dia sedang duduk seperti itu, tiba-tiba orang-orang berteriak, “Abu Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Muththalib datang!” (Menurut Ibnu Hisyam, nama asli Abu Sufyan adalah Al-Mughirah).

Abu Lahab langsung berkata, “Kemarilah, engkau pasti membawa berita yang lebih jelas. Setelah Abu Sufyan duduk di sampingnya, sedangkan orang-orang berdiri di sekelilingnya, Abu Lahab mulai bertanya, “Wahai keponakanku, ceritakan kepadaku, bagaimana keadaan teman-teman kita di Badar?”

Abu Sufyan menjawab, “Demi Allah, ketika kami mulai bentrok dengan musuh, kami seakan-akan menyodorkan leher-leher kami untuk mereka tebas dan menawan kami sesuka hati. Demi Allah, sebenarnya aku tidak kecewa dengan kekuatan pasukan kita, karena ada pemandangan yang mengejutkan, kami berhadapan dengan pasukan yang semuanya berbaju putih dan menunggang kuda yang gagah. Mereka seakan-akan terbang dan menerjang dengan hebat, sehingga tidak mungkin ada yang dapat menahannya.”

Abu Rafi’ melanjutkan, “Saat mendengar penjelasan Abu Sufyan tersebut, aku berkata, “Demi Allah, itu adalah malaikat.” Tiba-tiba Abu Lahab melayangkan tangannya dan menamparku keras-keras. Aku berusaha mempertahankan diri, tetapi dia malah membantingku di tanah dan menindihku sambil terus memukuliku.

Tetapi, tanpa diduga, Ummul Fadhl mengambil sebatang kayu lalu menghantam kepala Abu Lahab hingga luka cukup parah. Ummul Fadhl membentak, “Engkau berani memukulinya saat tuannya tidak ada di sini.”

Tanpa banyak bicara, Abu Lahab langsung meninggalkan tempat itu dengan perasaan malu. Demi Allah, Abu Lahab hanya bertahan hidup selama tujuh hari sejak kejadian itu, karena Allah membuatnya menderita penyakit kulit akut yang merenggut nyawanya.

Dalam riwayat lain dinyatakan bahwa Abu Rafi’, pelayan Rasulullah saw., berkata, “Allah membuat Abu Lahab menderita penyakit kulit akut hingga mati karenanya. Kedua anaknya membiarkan mayatnya tetap terbaring begitu saja selama tiga hari, mereka tidak berani menguburkannya hingga menyebarkan bau busuk.”

Orang-orang Quraisy sangat takut dengan penyakit kulit seperti itu sama seperti ketakutan mereka terhadap penyakit menular.

Kondisi seperti itu terus berlanjut, sampai ada seseorang yang menegur mereka, “Celaka kalian, apakah kalian tidak malu dengan mayat ayah kalian yang telah membusuk dan belum dikubur hingga hari ini?” Mereka menjawab, “Kami takut tertular oleh penyakit kulit itu.” Orang itu berkata lagi, “Sudahlah, cepat lakukan sesuatu, aku akan membantu kalian.”

“Demi Allah, mereka tidak memandikannya, melainkan hanya disiram air dari kejauhan, karena tidak berani mendekat. Lalu, mereka membawanya ke tempat yang paling tinggi di Makkah dan meletakkannya dalam sebuah bangunan, kemudian melemparinya dengan batu sampai tertimbun.”

Kisah Ummul Fadhl di atas menunjukkan keberanian seorang wanita luar biasa yang sulit dilukiskan dengan tulisan. Ia tidak hanya memukul seorang musyrik biasa, melainkan seorang tokoh besar yang sangat disegani dan dihomati oleh semua orang Quraisy.[MNews/Juan]

Sumber: Mahmud Al-Mishri. 2006. 35 Sirah Shahabiyah (35 Sahabat Wanita Rasulullah saw.) Jilid 2. Jakarta: Al-I’tishom

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *