Pandemi Covid-19 Bebani Perempuan?

Oleh: Chusnatul Jannah

MuslimahNews.com, OPINI – Sudah sembilan bulan pandemi menyertai. Selain berdampak pada ekonomi, pandemi Covid-19 diklaim membebani kaum perempuan. Menurut data global terbaru lembaga yang menangani kesetaraan gender di bawah naungan PBB yaitu UN Women, pandemi virus corona dapat menghapus perjuangan selama 25 tahun dalam menciptakan kesetaraan gender.

Berdasarkan data itu, kaum perempuan kini lebih banyak melakukan pekerjaan rumah tangga dan mengurus keluarga akibat dampak Covid-19. “Semua yang kami kerjakan, yang telah menghabiskan 25 tahun, bisa hilang hanya dalam setahun,” kata Wakil Direktur Eksekutif UN Women Anita Bhatia.

Kesempatan mendapatkan akses atas pekerjaan dan pendidikan bisa hilang, dan perempuan mungkin menderita kesehatan mental dan fisik yang lebih buruk. Beban dalam merawat dan mengasuh menimbulkan “risiko nyata untuk kembali ke stereotip gender era 1950-an”, kata Bhatia. (BBC Indonesia, 26/11/2020)

Hal yang disorot UN Women adalah dampak Covid-19 bagi eksistensi perjuangan kaum gender yang selama ini mereka gaungkan. Seperti kesetaraan dalam pekerjaan dan aktivitas domestik bagi perempuan.

Covid-19 Menambah Beban Perempuan?

Di antara dampak pandemi yang berpengaruh pada perempuan adalah meningkatnya angka kekerasan  dalam rumah tangga. Dilansir dari Republika, 26/11/2020, panggilan hotline nasional untuk kekerasan dalam rumah tangga meningkat lima kali lipat di beberapa negara setelah kebijakan bekerja dari rumah mulai diberlakukan selama wabah.

Pembatasan pergerakan, isolasi sosial, dan kemerosotan ekonomi menyebabkan semakin rentannya perempuan dan kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu sebagian besar dari mereka juga terpaksa diisolasi serumah dengan pelaku kekerasan. Selain itu, layanan yang diberikan kepada perempuan yang menjadi korban kekerasan terganggu karena pandemi.

Pandemi Covid-19 juga dinilai mengurangi jumlah tenaga kerja perempuan terutama di sektor retail dan pariwisata. Perempuan juga dianggap lebih rentan tertular Covid-19. Sebab, hampir 70 persen tenaga kesehatan di seluruh dunia adalah perempuan.

Covid-19 juga dianggap sebagai penyebab meningkatnya ketidakadilan beban domestik yang mesti ditanggung perempuan dalam ranah keluarga. Para pegiat gender itu seakan mengambinghitamkan Covid-19 sebagai penyebab utama hilangnya perjuangan mereka terhadap kaum perempuan selama ini.

Baca juga:  Ilusi 'Perkawinan' antara Perempuan dan Ekonomi Digital

Benarkah Covid-19 mengubah nasib kaum perempuan akibat dampak sosial, ekonomi, kesehatan, dan psikologis mereka?

Pandemi Bukan Satu-Satunya Sumber Masalah Perempuan

Menganggap pandemi penyebab bertambahnya beban perempuan berpangkal dari paradigma pemikiran gender itu sendiri. Bagi mereka, perempuan harus berdaya dan mandiri secara ekonomi. Menurut mereka, status ibu rumah tangga adalah bentuk diskriminasi dan marginalisasi bagi kaum perempuan.

Ide kesetaraan gender yang menitikberatkan pada kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam segala aspek sesungguhnya telah mengobrak-abrik tatanan kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.

Akibat tuntutan kesetaraan, fitrah yang mestinya menjadi jati diri perempuan tergerus pemikiran sekuler-liberal. Kaum gender menuntut kesetaraan pekerjaan, dibukalah peluang perempuan berkarier dan bekerja sesuai keinginan mereka.

Setelah kesetaraan partisipasi kerja itu diberi, mereka masih protes. Beban kerja perempuan dinilai terlalu tinggi. Satu sisi menuntut partisipasi kerja bagi perempuan. Namun di sisi lain, mengeluhkan beban kerja perempuan yang disamakan dengan laki-laki.

Bukankah hal ini menunjukkan kerapuhan ide gender yang mereka usung? Sebab, fitrahnya perempuan adalah mendidik anak, bukan bekerja mencari nafkah.

Kaum gender juga menuntut kesetaraan dalam tugas domestik. Terjadilah ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Perempuan mulai meninggalkan tugas utama mereka sebagai ibu dan pengatur rumah bagi suaminya. Kepemimpinan suami terhadap istri dianggap tak memiliki nilai mutlak.

Ide ini membayangi ketahanan keluarga. Angka perceraian meningkat seiring dengan masifnya penyebaran feminisme di ranah keluarga. Pada akhirnya, anak-anak menjadi korban keculasan ide gender. Anak-anak kehilangan sosok panutan.

Para pegiat gender mengatakan kekerasan seksual kerap menimpa kaum perempuan. Tidak sadarkah mereka bahwa kehidupan sekuler liberallah pemicunya. Kaum perempuan kerap dieksploitasi atas nama kebebasan berekspresi. Kehormatan mereka tak terjaga karena kehidupan sekuler yang jauh dari agama.

Perlu diketahui, kejahatan marak bukan hanya karena banyaknya penjahat. Namun, adanya peluang dan kesempatan melakukan tindak asusila pada kaum perempuan. Sistem sanksi yang lemah menambah banyaknya angka kriminalitas.

Pegiat gender juga mengklaim kemiskinan melanda kaum perempuan. Pada dasarnya, kemiskinan pada perempuan terjadi lantaran sistem kapitalistik yang memiskinkan mereka. Sistem ekonomi yang ditopang kapitalisme menjadikan roda perekonomian hanya berputar di kalangan kapitalis.

Baca juga:  Muslimah Tidak Butuh Peringatan Tahunan akan Kegagalan Global dalam Memecahkan Masalah Perempuan. Kita Butuh Khilafah yang akan menjadi Penjaga dan Pelindung

Mereka bilang pemberdayaan perempuan adalah obat bagi kaum perempuan. Padahal pemberdayaan ekonomi perempuan hanyalah racun berbalut madu. Terlihat manis namun sejatinya meracuni sendi kehidupan terutama kehidupan keluarga. Perempuan dijadikan mesin ekonomi bagi negara.

Perempuan bekerja mereka katakan berdaya. Perempuan mandiri mereka bilang itu kemajuan. Jangan menggantungkan hidup pada kaum lelaki, kata mereka. Begitulah mantra yang senantiasa mereka gaungkan agar kaum perempuan melepaskan hakikat fitrahnya.

Adapun pandemi Covid-19, ia hanyalah second effect. Bukan pemicu utama permasalahan perempuan. Akar masalah perempuan sesungguhnya bermula dari ide kesetaraan yang digagas kaum gender dan sistem kapitalisme yang tengah dijalankan saat ini.

Ada hikmah di balik pandemi Covid-19. Pandemi ini hendak menunjukkan kepada kita betapa rapuhnya ide kesetaraan gender selama ini. Dihantam pandemi, borok kehidupan sekuler kapitalistik tampak jelas.

Mulai dari penanganan wabah, ekonomi kapitalis yang rentan krisis, kondisi sosial psikologis masyarakat, hingga peran domestik kaum perempuan.

Hakikat Peran Perempuan dalam Islam

Dalam Islam, ibu adalah madrasatul ula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya. Ungkapan ibu adalah tiang negara sudah tepat. Sebab, di tangan ibulah peradaban itu dibangun. Yaitu mendidik generasi cemerlang dalam iman dan iptek.

Jika kaum ibu kian stres dengan adanya kebijakan belajar daring anak-anak, bukankah fitrahnya mereka memang semestinya mendampingi anak-anak dalam proses pendidikan mereka? Didikan sekularisme memang telah menggerus naluriah ibu sebagai pendidik utama.

Adapun sekolah, fungsinya menjalankan dan mendukung sistem belajar dengan visi misi yang sama dalam keluarga. Sayangnya, keluarga hari ini dihadapkan pada sistem pendidikan sekuler. Inginnya anak berkepribadian Islam, sekolah tak memberi jaminan itu akibat kurikulum berasas sekuler.

Mengapa kaum ibu di banyak negara stress menghadapi pandemi? Karena mereka tak memahami hakikat peran mereka. Perempuan memang terlahir dengan keterampilan mendidik, bukan bekerja. Dalam Islam, konsep pengasuhan itu sangat jelas. Tapi dalam peradaban kapitalis, konsep peran ibu dirusak oleh feminisme.

Dalam aspek ekonomi, Islam membolehkan perempuan bekerja menjalankan peran publiknya. Hanya saja, hal itu tak boleh melalaikan amanah utamanya sebagai ibu dan pendidik utama bagi anaknya. Kebolehan bekerja pada perempuan harus menyesuaikan pemenuhan kewajiban mereka sebagai ibu dan pengatur rumah tangga bagi suaminya.

Baca juga:  Membuka Kedok Ide KG sebagai Proyek Melanggengkan Hegemoni Kapitalisme

Perempuan bukanlah tulang punggung yang harus menghidupi ekonomi keluarga. Kewajiban nafkah dibebankan pada kaum lelaki. Oleh karenanya, dalam sistem Islam, lapangan pekerjaan lebih banyak porsinya untuk laki-laki, bukan sebaliknya.

Dengan begitu, kaum perempuan bisa berfokus terhadap peran domestiknya. Meski, mereka juga tidak dilarang menjalankan peran publik sebagai bagian dari masyarakat. Seperti berdakwah, menjadi guru di sekolah, dokter, perawat, dan sebagainya.

Dalam aspek sosial, sistem Islam memuliakan kaum perempuan dengan aturan pergaulan laki-laki dan perempuan. Larangan perempuan membuka aurat, berduaan tanpa mahram, campur baur, larangan safar tanpa mahram, bermuamalat dengan lawan jenis sesuai koridor Islam, semua pengaturan rinci itu bertujuan untuk menjaga kehormatan kaum perempuan.

Tak perlu kesetaraan. Sebab, adil dalam Islam adalah menempatkan segala hal sesuai porsi masing-masing. Bukan menuntut kesetaraan.

Jika kaum perempuan memahami hakikat perannya dalam rumah tangga, ia tidak akan merasa terbebani dengan tugas domestik itu. Justru tugas sebagai ibu adalah medan ‘jihad’ baginya. Ia akan senang hati mendampingi putra-putrinya belajar di masa pandemi.

Yang membuat stress adalah penerapan sistem kapitalisme beserta turunannya yang merusak seperti sekularisme, feminisme, liberalisme, dan lainnya. Tanpa pengaturan Islam, berbagai persoalan yang melanda perempuan akan terus  berulang.

Pandemi sejatinya menambah buruknya keadaan yang sebenarnya sudah memburuk. Ibarat katalis, Covid-19 memperburuk kerja sistem kapitalisme yang sudah remuk. Andai kata kehidupan ini diatur dengan Islam, tentu pandemi bisa ditangani dengan cepat, sigap, dan efektif.

Jika negara menerapkan Islam, perempuan tidak membutuhkan ide kesetaraan. Perempuan juga tidak membutuhkan program pemberdayaan ekonomi. Sebab, Islam sudah mengatur sedemikian rinci bagaimana memberikan kemuliaan dan kesejahteraan bagi kaum perempuan.

Pandemi Covid-19 mestinya menyadarkan kita semua. Dunia membutuhkan imunitas Islam sebagai sistem yang mampu bertahan dan memberikan kesejahteraan selama 1.300 tahun lamanya. Dunia membutuhkan Khilafah sebagai arah baru bagi perubahan sistem. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *