Madinah Al Munawwarah: Masyarakat dan Negara Islam Pertama di Dunia

Oleh: Ustazah Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH – Setelah Rasulullah Saw. sampai di Madinah, maka beliau mulai menyiapkan berbagai persiapan dalam membangun masyarakat dan negara. Mewujudkan Negara Islam sebagai salah satu institusi politik di dunia. Sebagai wadah yang memiliki kekuatan untuk memimpin dan melindungi manusia yang berada di bawah naungannya.

Masjid sebagai Sentral Negara

Ibnu Ishaq berkat, “Kemudian Rasulullah Saw. memerintahkan pembangunan masjid. Rasulullah Saw. sendiri menetap di rumah Abu Ayyub hingga usai pembangunan masjid dan rumah beliau.”

Rasulullah Saw. ikut terlibat dalam pembangunan tersebut. Ini beliau lakukan untuk memotivasi kaum muslim dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam pembangunan masjid secara sungguh-sungguh.

Aktivitas Rasulullah Saw. dengan membangun masjid di Madinah tidak bisa diartikan hanya sebagai pelepas dahaga spiritual. Pembangunan masjid diartikan sebagai pusat sekaligus markas peradaban Islam yang baru.

Masjid juga menjadi poros masyarakat Islam di Madinah dan jantung bagi Negara Islam. Di masjid, Rasulullah Saw. menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an dan mengajarkan Islam.

Di situ pula Nabi Saw. mengeluarkan perintah dan keputusannya. Beliau Saw. menerima delegasi dan utusan dari luar negeri.

Bahkan dari masjid pula Rasulullah Saw. mengirim utusan keluar negeri dan mengirimkan pasukan perangnya ke berbagai wilayah. Masjid Nabi Saw. di Madinah menjadi sentral pemerintahan Negara Islam.

Rekonsiliasi dan Piagam Madinah

Aktivitas selanjutnya yang dilakukan Rasulullah Saw. adalah menulis surat perjanjian antara Muhajirin dan Anshar, di dalamnya juga memuat perjanjian damai dengan Yahudi. Surat perjanjian tersebut mengakui Yahudi dalam agama dan harta mereka, serta menetapkan sejumlah syarat pada mereka.

Kemungkinan munculnya kecemburuan sosial, perpecahan, dan konflik horizontal diantisipasi dan diselesaikan melalui kesepakatan ini. Kondisi yang dapat mengancam stabilitas masyarakat dan kekacauan di dalam negara yang baru tumbuh, oleh Rasulullah Saw. dipecahkan melalui kesepakatan seluruh elemen masyarakat yang ada di Madinah. Inilah yang dinamakan Piagam Madinah.

Masyarakat harus tunduk kepada kesepakatan yang tertuang dalam Piagam Madinah. Jika mereka tidak dapat menyelesaikan konflik yang ada, maka Rasulullah Saw. adalah sosok yang keputusannya harus mereka taati.

Mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar

Usai mengikat masyarakat Madinah dengan Piagam Madinah, langkah Rasulullah Saw. adalah mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar. Ibnu Ishaq berkata : Rasulullah Saw. mempersaudarakan sahabat-sahabatnya dari kaum Muhajirin dengan sahabat-sahabatnya dari kaum Anshar. Beliau bersabda, “Bersaudaralah kalian karena Allah, dua orang, dua orang.” Beliau saw kemudian memegang tangan Ali bin Abi Thalib, seraya bersabda, “Ini saudaraku.”

Hamzah bin Abdul Muthalib singa Allah, singa Rasulullah dan paman beliau, dipersaudarakan dengan Zaid bin Haritsah mantan budak beliau. Ja’far bin Abi Thalib dipersaudarakan dengan Muadz bin Jabal. Abu Bakar ash Shiddiq dipersaudarakan dengan Kharijah bin Zaid bin Abu Zuhair, dan seterusnya.

Kedatangan kaum Muhajirin dalam jumlah besar yang tidak membawa apa-apa ke tempat yang baru dan jauh, berpotensi menjadi beban ekonomi dan sosial tersendiri. Sebagian besar dari mereka tidak memiliki saudara.

Tindakan Rasulullah Saw. yang mempersaudarakan antara Muhajirin dengan Anshar merupakan langkah tepat untuk memecahkan permasalahan yang mungkin muncul saat itu. Sehingga krisis sosial maupun ekonomi yang biasa muncul dalam kasus-kasus imigran-pengungsi tidak dijumpai di dalam Islam.

Membentuk Struktur Negara

Rasulullah Saw. –selaku kepala negara- juga menyusun struktur dan fungsi beberapa pilar pemerintahan. Hal ini direpresentasikan dengan pengangkatan para sahabatnya di masing-masing bidang yang ditetapkan oleh Nabi Saw.

Ini menjadi bukti bahwa agenda thalab annushrah-nya adalah dalam rangka mendirikan Negara Islam, membangun masyarakat dan peradaban baru yang berlandaskan asas yang selama ini didakwahkan oleh Rasulullah Saw., yaitu Islam.

Di masa pemerintahan Rasulullah Saw., Abu Bakar dan Umar menjadi wazir (pembantu) Nabi Saw. Sabda Rasulullah Saw., “Pembantuku dari penduduk langit adalah Jibril dan Mikail, sedangkan dari penduduk bumi adalah Abu Bakar dan Umar.(HR imam Tirmidzi dari Abi Sa’id al Khudri)

Abu Bakar dan Umar giat membantu Rasulullah Saw. dalam berbagai urusan, mulai urusan perang, pengadilan, sampai mengumumkan sesuatu kepada kaum muslim.

Rasulullah Saw. mengangkat Hudzaifah bin Yaman sebagai amir assirr (Sekretaris Negara). Dia juga yang memegang cap/stempel Negara.

Nabi Saw. juga mengangkat Wali dan ‘Amil. Setiap kawasan besar dipimpin oleh seorang wali. Dan kawasan kecil yang berada di bawah pengawasan wali dipimpin oleh seorang ’amil. Muadz bin Jabal serta Hudzaifah bin Yaman pernah diangkat oleh Rasulullah Saw. sebagai wali di daerah Yaman.

Untuk pejabat setingkat ’amil, Beliau saw mengangkat Amru bin Sa’id di kawasan Wadi al-Qurra dan Qada’ah ad-dausi sebagai ‘amil untuk kabilah Bani Asad.

Ada beberapa orang pejabat wali yang juga bertugas sabagai qadhi. Seperti Muadz bin Jabal dan Ali bin Abi Thalib di Yaman Selatan dan Utara.

Untuk yang bertugas mencegah kezaliman di tengah-tengah masyarakat, Rasulullah Saw. mengangkat Rasyid bin Abdullah sebagai amir untuk keperluan pengadilan kezaliman. Namun terkadang tugas tersebut dilakukan sendiri oleh Rasulullah Saw.

Ada qadha al hisbah yaitu orang yang bertugas mengadili kasus pelanggaran yang mengganggu hak masyarakat secara luas. Umar pernah diserahi tugas ini untuk pasar Madinah.

Rasulullah Saw. mengangkat juru tulis untuk membantu administrasi. Ali bin Abi Thalib pernah bertugas sebagai juru tulis untuk keperluan perjanjian antar negara. Mu’aiqib bin Abi Fathimah bertugas sebagai juru tulis untuk urusan ghanimah. Zubair bin Awwam juru tulis keuangan zakat, Mughirah bin Syu’bah menjadi juru tulis simpan pinjam dan muamalah.

Ditetapkannya Rasulullah Saw. sebagai pemilik keputusan dan wewenang menegaskan akan fungsi dan kedudukan beliau ditengah-tengah masyarakat Madinah, yaitu sebagai pemimpin dan kepala negara.

Keberadaan struktur negara yang dibuat oleh Rasulullah Saw. menunjukkan bahwa Islam bukan sekadar agama ritual. Dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya bukan hanya merubah perilaku penyembahan berhala menjadi menegakkan ibadah salat. Islam adalah ajaran dari Allah SWT untuk diterapkan dalam kehidupan bernegara, bermasyarakat, keluarga, dan individu.

Madinah al Munawwarah sebagai Negara Islam dan peradaban baru yang muncul di kawasan jazirah Arab. Negara yang mengatur dan memelihara masyarakatnya dengan hukum-hukum Islam. Sebuah negara yang akan menyebarluaskan Islam ke pelosok bumi, agar agama Allah ini dimenangkan-Nya atas seluruh agama dan keyakinan.

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar Dia memenangkannya di atas segala agama, sekalipun orang-orang musyrik membencinya.(TQS. Ash Shaff: 9) Wallahua’lam bishshawab. [MNews/Rgl]


Sumber:

  1. Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, Al Azhar Press
  2. Penjelasan Kitab Daulah Islam, Abu Fuad, Pustaka Thariqul Izzah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *