Buruh Perempuan di Perkebunan Sawit, Korban Keserakahan Korporasi

Oleh: Juanmartin, S.Si., M.Kes.

MuslimahNews.com, OPINI – Beberapa waktu lalu, kasus kekerasan seksual yang dialami buruh perempuan di perkebunan sawit ramai jadi sorotan media. Dari hasil investigasi yang dilakukan, didapatkan beberapa kasus pelecehan yang kerap dilakukan para mandor terhadap perempuan-perempuan pekerja lepas yang sehari-hari bekerja di perkebunan sawit.

Spesialis Perburuhan Sawit Watch yang juga Koordinator Koalisi Buruh Sawit (KBS) Hotler “Zidane” Pasaoran mengatakan potensi kekerasan dan pelecehan seksual memang besar terjadi di perkebunan sawit.

Meski tak terlibat melakukan investigasi, Hotler mengaku kerap mendengar informasi-informasi pelecehan seksual yang dilakukan para mandor terhadap perempuan di perkebunan sawit ini (cnnindonesia.com).

Dikutip dari kompas.com diberitakan bahwa Associated Press media dari Amerika Serikat melakukan investigasi komprehensif pertama yang berfokus pada perlakuan brutal terhadap perempuan dalam industri minyak sawit, termasuk pelecehan seksual, mulai dari pelecehan verbal dan ancaman, hingga pemerkosaan.

Investigasi tersebut adalah bagian dari pandangan yang lebih mendalam tentang industri yang sering bersinggungan dengan beberapa pelanggaran, termasuk perdagangan manusia, pekerja anak dan perbudakan langsung.

Dan kejadian tersebut terjadi, baik di Indonesia dan Malaysia.

Dalam industri ini, perempuan dibebani dengan beberapa pekerjaan yang paling sulit dan berbahaya di industri tersebut. Mereka menghabiskan berjam-jam di air yang tercemar oleh bahan kimia dan membawa beban yang sangat berat sehingga seiringkali berimplikasi pada rahim mereka.

Selain itu banyak perempuan yang dipekerjakan oleh subkontraktor dengan jam kerja setiap hari tanpa tunjangan, melakukan pekerjaan yang sama untuk perusahaan serupa selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.

Korban Keserakahan Korporasi

Koalisi Buruh Sawit mencatat dari 18 juta buruh perkebunan sawit, lebih dari setengahnya adalah buruh harian lepas dan sebagian besar merupakan perempuan. Indonesia sendiri adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia.

Baca juga:  [News] Hukum Kebiri Kimia dan Buah Pahit Liberalisme

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat ada sekitar 7,6 juta perempuan yang bekerja di kebun kelapa sawit atau sekitar setengah dari total seluruh tenaga kerja.

Angka ini hanyalah jumlah buruh perempuan yang tercatat. Jumlah yang belum tercatat bisa jadi lebih dari angka tersebut. Tuntutan ekonomi telah memaksa kaum perempuan harus berjibaku untuk menyelamatkan ekonomi keluarga.

Bekerja di perkebunan sawit tentu bukan hal mudah karena membutuhkan tenaga fisik yang besar jika dibandingkan dengan bekerja di perkebunan lain. Selain itu, risiko terpapar bahan kimia berbahaya juga cenderung lebih tinggi.

Untuk mendapatkan kualitas minyak sawit yang optimal, tandan buah segar yang siap panen, sawit harus diolah dalam waktu 24 jam. Buruh sawit perempuan ikut andil dalam proses memanen ini. Mereka harus mengangkat tandan buah sawit segar yang berat per buahnya mencapai 20 hingga 35 kilogram.

Fitrah mereka seolah tergadai karena alasan ekonomi. Sayangnya, pekerjaan yang harus mereka lakukan tidak hanya berisiko bagi kesehatan, lebih dari itu, perkebunan sawit telah berubah menjadi medan yang dimanfaatkan pemilik nafsu bejat untuk melakukan pelecehan kepada para buruh perempuan ini.

Di sisi lain, bekerja menjadi buruh lepas dengan pekerjaan yang menguras tenaga ini ternyata hanya diupah dengan angka nominal yang begitu murah. Itupun tanpa tunjangan. Keserakahan para pemilik modal yang menjalankan bisnisnya dengan prinsip mengeluarkan modal sekecil-kecilnya untuk mendapat keuntungan yang sebanyak-banyaknya, kian menambah pilu kisah buruh perempuan di kebun sawit.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian luas lahan sawit Indonesia pada 2017 mencapai 12,3 juta ha. Dari jumlah tersebut, seluas 6,8 juta ha atau 55,24% lahan sawit pengusahaannya dilakukan oleh Perkebunan Besar Swasta (PBS). Sekitar 4,8 juta ha (38,64%) pengusahaannya dilakukan Perusahaan Besar Negara (PBN), sisanya seluas 753 ribu hektare merupakan Perkebunan Rakyat.

Baca juga:  Pandemi Covid-19 Bebani Perempuan?

Potensi sawit memang menggiurkan bagi pemilik modal. Wajar saja korporasi bermain di lahan ini. Sayangnya, otak kapitalis yang bekerja membuat potensi besar ini dibayar dengan harga murah dan penuh risiko. Derita yang diperoleh para buruh perempuan kontras dengan apa yang diperoleh para pemodal. Oleh pemodal, bahan baku dihargai murah, pekerjanya dibayar murah, produknya dijual dengan harga mahal.

Butuh Solusi Tuntas

Kasus pelecehan seksual yang dialami perempuan yang bekerja sebagai buruh sawit ini merupakan bukti dari sekian banyak bukti yang menunjukkan betapa fitrah kaum perempuan harus tergadaikan akibat penerapan sistem kapitalisme. Sistem ini telah menghasilkan kemiskinan kultural juga struktural. Dampaknya, kaum perempuan harus turut menanggung ekonomi keluarga.

Dalam kasus buruh sawit ini kita juga menyaksikan betapa Negara tidak hanya abai dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya, tapi juga gagal melindungi kaum perempuan. Berbagai narasi yang digulirkan dalam kasus ini tentu harus diwaspadai. Sebab ada celah bagi mereka yang menasbihkan diri sebagai pejuang perempuan untuk menawarkan solusi yang tidak menyentuh akar permasalahan.

Menuntut adanya kesetaraan upah, maupun tuntutan kesetaraan gender sebagai solusi untuk menghapuskan kekerasan para buruh perempuan ini bukanlah solusi. Bahkan tawaran ini akan menambah panjang derita buruh perempuan.

Tuntutan kesetaraan upah maupun kesetaraan gender untuk menghapus pelecehan seksual sama sekali tak akan menyelesaikan penderitaan buruh perempuan. Sebaliknya tuntutan ini hanya akan mengukuhkan eksploitasi, seraya memperkuat penjajahan atas fitrah mereka sebagai perempuan. Harus ada alternatif solusi yang bersifat sistemis dan tuntas, dan tidak menyisakan derivat masalah lainnya.

Baca juga:  Pandemi Covid-19 Bebani Perempuan?

Islam, Satu-Satunya Solusi

Masuknya perempuan ke dunia kerja didasarkan atas problem ekonomi serta tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup. Islam memiliki mekanisme yang khas dalam menyelesaikan problem ekonomi termasuk memastikan pemenuhan kebutuhan pokok individu per individu rakyat.

Hal ini menuntut negara hadir untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan pokok harian rakyatnya baik laki-laki maupun perempuan. Islam membebankan kewajiban mencari nafkah kepada laki-laki.

Maka negara wajib membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi laki-laki. Negara juga bisa memberikan fasilitas, agar kaum laki-laki dapat mengerahkan tenaga untuk bekerja dan menghasilkan sesuatu yang bisa memenuhi kebutuhan tanggungannya.

Sedangkan kaum perempuan masuk sebagai tanggungan walinya. Maka dalam hal ini, bekerja bagi seorang perempuan bukanlah kewajiban. Hal ini tidak seperti dalam sistem kapitalisme dimana kaum perempuan dipaksa untuk bekerja bahkan diserahi tanggungjawab menyelamatkan ekonomi keluarga.

Islam juga memiliki konsep yang jelas terkait masalah kepemilikan. Konsep ini menutup celah bagi individu untuk menguasai harta yang masuk dalam kategori kepemilikan umum dan kepemilikan negara.

Sebaliknya, konsep kebebasan kepemilikan dalam sistem kapitalis telah menyebabkan penguasaan kepemilikan atas berbagai aset oleh individu, tanpa melihat apakah itu halal dimiliki atau haram. Alhasil, keserakahan para kapitalis berujung pada berputarnya kekayaan pada segelintir orang, sementara sebagian besar rakyat harus terlunta-lunta memenuhi kebutuhan harian mereka.

Sungguh, perempuan tak akan lepas dari berbagai ancaman selama sistem kapitalisme sekuler ini masih diterapkan. Sudah selayaknya kaum perempuan menyadari bahwa akar masalah dari segala problem yang mereka alami adalah akibat kebuasan sistem kapitalisme global yang diterapkan saat ini. Wallaahu a’lam. [MNews/Gz]

2 thoughts on “Buruh Perempuan di Perkebunan Sawit, Korban Keserakahan Korporasi

  • 29 November 2020 pada 16:53
    Permalink

    Sungguh berat beban perempuan dlm sistem kufur ini. Bnyk tugas yg harus diselesaikan, dalam pengurusan anak, rumah tangga serta mencari nafkah.

Tinggalkan Balasan