Hari Kiamat dan Jiwa yang Menyesali Diri (Tafsir Al-Qur’an Surah al-Qiyamah [75]: 1-5) Bagian 2/2

Sambungan dari Bagian 1/2

MuslimahNews.com, TAFSIR AL-QUR’AN – Kemudian Allah SWT berfirman, Balâ Qâdirîna ‘alâ an Nusawwiya banânah (Bukan demikian. Sebenarnya Kami kuasa menyusun [kembali] jari-jemarinya dengan sempurna).

Ayat ini pun membantah pengingkaran orang-orang kafir itu terhadap Kari Kiamat sekaligus mengukuhkan kepastian kejadian hari tersebut. Tatkala mereka mempertanyakan bagaimana mungkin manusia bisa dikumpulkan kembali ketika sudah menjadi tulang-belulang yang berserakan? Dijawab oleh ayat ini: Balâ.

Menurut as-Syaukani, kata balâ merupakan jawaban terhadap kalimat nafi yang disimpulkan dari al-istifhâm atau kalimat.28 Maknanya: Bukan demikian. Allah SWT berkuasa lebih dari itu, yakni: an-nusawwiya banânahu (menyusun [kembali] jari-jemarinya dengan sempurna). Kata al-banân menurut orang Arab bermakna al-ashâbi‘ (jari-jemari). Bentuk tunggalnya banânat[un].29

Menurut asy-Syaukani, firman-Nya: ‘alâ an Nusawwiya banânah (menyusun [kembali] jari-jemarinya dengan sempurna) bermakna: Kami mengumpulkan kembali sebagian dengan sebagian lainnya, lalu Kami mengembalikannya seperti semula dengan kerumitan dan kekecilannya. Lalu bagaimana dengan organ lainnya yang lebih besar?30

Secara khusus, Allah SWT menyebutkan kata al-banân, yakni al-‘ashâbi` (jari-jemari) serta tidak menyebutkan organ lainnya. Ini menunjukkan, kekuasaan untuk membangkitkan dan mengembalikan organ lainnya tentu lebih bisa daripada mengembalikan jari-jemari yang kecil dan rumit beserta sendi-sendinya, kukunya, urat-uratnya yang halus dan tulang-tulangnya yang rumit. Inilah aspek penyebutannya secara khusus. Demikian menurut al-Zajjaj dan Qutaibah.31

Baca juga:  [Syarah Hadis] Wanita Penghuni Neraka

Maknanya: “Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan kembali tulang-belulangnya? Bukan demikian. Sebenarnya Kami akan mengumpulkannya kembali dan Kami mampu untuk menyusun kembali jari-jemarinya.” 32

Kemudian Allah SWT berfirman: Bal yurîdu al-insânu li yafjura amâmahu (Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus-menerus). Kata bal di sini bermakna idhrâb, mengalihkan dari topik pembicaraan sebelumnya dalam rangka untuk mengukuhkan perkara lain.33 

Maknanya, manusia pada hakikatnya menginginkan untuk terus-menerus mengerjakan perbuatan al-fujûr. Menurut asy-Syaukani, kata al-fujûr asalnya bermakna al-mayl ‘an al-haqq (menyimpang dari kebenaran).

Lalu digunakan untuk menyebut semua yang menyimpang dari kebenaran, baik ucapan maupun perbuatan.34 Kata amâmahu  menunjukkan terus-menerus.

Dengan demikian ayat ini memberitakan bahwa manusia terus-menerus berbuat maksiat dan menyimpang dari kebenaran. Demikian penjelasan para mufassir. Asy-Syaukani berkata, “Bahkan manusia mengerjakan perbuatan maksiat di hadapannya setiap saat dan masa yang akan datang sehingga melakukan dosa dan menunda tobat.”35

Al-Anbari berkata, “Manusia ingin berbuat maksiat sepanjang usianya dan tidak ada niatan untuk bertobat dari dosa yang dia kerjakan.”36

Mujahid, al-Hasan, Ikrimah, as-Sudi dan Said bib Jubair berkata: Dia mengatakan, “Saya akan bertobat.” Namun, dia tidak bertobat hingga mati. Itu adalah keadaan yang paling buruk.37

Baca juga:  [Nafsiyah] Menantang Api Neraka

Setelah menjelaskan ayat-ayat tersebut Wahbah az-Zuhaili berkesimpulan bahwa pengingkaran terhadap kebangkitan muncul dari tuduhan: Pertama, manusia menganggap mustahil berkumpulnya bagian-bagian tubuh setelah terpisah-pisah dan hilang. Kedua,  manusia mengingkari Hari Kiamat berdasarkan hawa nafsu, buruknya tabiat dan penyimpangan dari kebenaran.38

Pelajaran Penting

Terdapat banyak pelajaran yang dapat diambil dari ayat ini. Di antaranya:

Pertama, kepastian dan keagungan Hari Kiamat. Penyebutan Hari Kiamat sebagai al-muqsam bih atau benda yang disebutkan sebagai penguat sumpah jelas menunjukkan Hari Kiamat sekaligus keagungan dan kebesarannya. Sebab, Allah SWT tidak ada akan menjadikan sesuatu tidak ada untuk menguatkan sumpah.

Demikian juga bantahan terhadap pengingkaran kaum kafir yang menganggap mustahil tulang-belulang akan dikumpulkan menjadi manusia kembali. Bahkan ayat ini menegaskan bahwa Dia akan menyusun kembali jari-jemari manusia yang sudah lenyap setelah mati seperti sedia kala. Ini menunjukkan dengan jelas kepastian Hari Kiamat.

Kedua, buruknya sikap manusia. Berita adanya Hari Kiamat yang membalas semua perbuatan manusia semasa hidup di dunia tidak membuat mereka serta-merta berhenti dari kemaksiatan. Sebaliknya, dalam ayat ini mereka terus-menerus melakukan kemaksiatan dan kedurhakaan hingga mati.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [MNews/Rgl]

Baca juga:  Bukti Kepastian Hari Kiamat (Tafsir QS al-Qiyamah [75]: 36-40) Bagian 2/2

Catatan Kaki:

1        Al-Alusi, h al-Ma’ânî, vol. 15 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), 166

2        Al-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5 (Damaskus: Dar Ibnu Katsir, 1994), 415; al-Alusi, h al-Ma’ânî, vol. 15, 150

3        Al-Alusi, h al-Ma’ânî, vol. 15, 150

4        Abu Hayyan al-Andalusi, al-Bahr al-Muhîth, vol. 10 (Beirut: Dar al-Fikr, 1420 H), 344

5        As-Suyuthi, al-Durr al-Mantsûr, vol. 8, 342

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *