Jadilah Ahlun Nushrah

Oleh: Sulistiawati Ummu Aisyah

MuslimahNews.com, FOKUS – Keterlibatan Pangdam Jaya dalam penurunan baliho HRS menimbulkan pro kontra di tengah masyarakat. Ada yang mengatakan ini bukanlah wewenang militer, sehingga seharusnya cukup tugas Satpol PP. Sebagian lain ada yang setuju dengan tindakan ini karena terkait dengan kesatuan dan keamanan negara. Pro kontra pun bergulir mempertanyakan bagaimana peran militer sesungguhnya.

Peran militer dalam negara apa pun, sangatlah penting dan berpengaruh. Karena dialah yang memiliki kekuatan komando dan senjata yang legal. Dalam sejarah, keterlibatan militer sering kali terlibat dalam perubahan masyarakat. Lantas bagaimana sesungguhnya peran militer dalam perubahan masyarakat? Dan bagaimana peran militer dalam perubahan masyarakat di masa Rasulullah?

Ahlul Man’ah wal Quwwah

Dalam perubahan masyarakat di masa Rasulullah, hal yang identik dengan peran militer adalah disebut ahlul man’ah wal quwwah. Hal ini karena militer saat ini memiliki hal yang sama dengan ahlul man’ah wal quwwah ini. Yaitu sama-sama memiliki man’ah dan quwwah (kekuatan).

Di masa Rasulullah Saw., memiliki pelindung dakwah yang amat disegani tokoh dan masyarakat Quraisy saat itu. Dialah Abu Thalib dan Khadijah binti Khuwailid. Keduanya selain orang dekat dan memiliki kekerabatan dengan Rasulullah Saw., mereka memiliki peran penting yang memunculkan penghormatan masyarakat. Tiada yang berani menyakiti siapa pun yang dilindungi tokoh ini. Mereka termasuk pemilik kekuatan yang ada di masyarakat.

Inilah gambaran ahlul man’ah atau pemilik kekuatan. Tokoh penting lainnya sebagai pemilik kekuatan, adalah Abu Bakar Shidiq, Utsman bin Affan, Hamzah bin Abdul Muthallib dan Umar bin Khaththab.

Mereka termasuk orang-orang yang telah beriman kepada Islam saat itu. Namun, tokoh pemilik kekuatan di Makkah yang belum bahkan tidak pernah beriman pada Islam, yaitu Abdul al-Uzza bin ‘Abdul Muththalib (Abu Lahab), Ummu Jamil (istri Abu Lahab), Amr bin Hisyam (Abu Jahal), Al-Walid bin Al-Mughirah, dan Umaiyyah bin Khalaf.

Mereka adalah para pemilik kekuatan di Makkah. Keamanan kota Makkah ada di tangan pihak ini. Seluruh kebijakan yang mengamankan dan dianggap mengancam kota Makkah, maka pihak inilah yang berwenang dalam menetapkan kebijakan.

Baca juga:  [Sirah Nabawiyah] Dari Propaganda Jahat Hingga Pemboikotan

Rasulullah Saw. sangat serius menyampaikan tentang dakwahnya kepada masyarakat juga ahlul man’ah ini. Tercatat dalam sebab turunnya Al-Qur’an surah ‘Abasa, Rasulullah Saw. secara serius berdialog dengan Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Abi Jahal, Abbas bin Abdul Muthallib, Umayyah bin Khalaf, dan Walid bin Mughirah. Yang semuanya adalah ahlul man’ah wal quwwah.

Begitu besar peran penting pemangku kekuatan ini di mata Rasulullah Saw., hingga Rasulullah Saw. terpaksa bermuka masam kepada Abdullah bin Ummi Maktum yang sudah beriman kala itu. Semuanya demi dukungan terhadap dakwah yang telah dibebankan Allah SWT di pundak Rasulullah Saw. dan semua mukmin.

Bahkan ketika keputusan penguasa Makkah saat itu menolak dan mengkriminalisasi Rasulullah Saw. dan pengikutnya, respons Rasulullah dan para Sahabatnya tetap mengikuti tanpa melakukan perlawanan fisik terhadap ahlul man’ah wal quwwah ini.

Hingga saat dakwah sangat ditekan oleh rezim Makkah disertai peristiwa wafatnya dua penolong dakwah Rasulullah Saw., yaitu Abu Thalib dan Khadijah binti Khuwailid, kelompok dakwah Rasulullah Saw. tidak pernah menyerah melakukan aktivitas interaksi dengan kepala-kepala suku Arab lain yang juga memiliki kekuatan.

Di tengah pemberlakuan UU yang memblokade kelompok dakwah Rasulullah Saw., kesempatan untuk ibadah haji ke Makkah digunakan Rasulullah untuk bertemu dengan suku-suku yang memiliki daya tolong (nushrah).

Dalam Sirah Ibnu Hisyam:

قال ابن إسحاق: «فكان رسول الله (صلى الله عليه وآله وسلم) على ذلك من أمره كلما اجتمع له الناس في بالمواسم أتاهم يدعو القبائل إلى الله وإلى الإسلام, ويعرض عليهم نفسه وما جاء به من الله من الهدى والرحمة, وهو لا يسمع بقادم يقدم مكة من العرب له اسم وشرف إلا تصدى له ودعاه إلى الله وعرض عليه ما عنده».

Ibnu Ishaq menceritakan, “Demikianlah saat itu Rasulullah Saw. menjalankan perintah Allah SWT melaksanakan daerahnya, Rasulullah Saw. menyampaikan kepada siapa yang ditemui pada musim-musim haji, selalu menyerukan agar beriman pada Allah dan menerima Islam. Dan Rasulullah Saw. menjelaskan risalah yang ada padanya adalah hidayah dan rahmat dari sisi Allah SWT. Tidak ada satu kabilah yang memiliki kemuliaan kecuali pasti didatangi oleh Rasulullah Saw.. Beliau Saw. mengajak kabilah itu untuk beriman pada Allah dan aturan-aturan Allah.”

Hingga datanglah Rasulullah Saw. ke Tsaqif , Bani Kilab, Bani Amir bin Sha’sha’ah, Bani Kindah, dan Bani Hanifah. Semua menolak dengan cara yang berbeda.

Baca juga:  Kafir Quraisy Menginginkan Kehancuran Islam dan Kaum Muslimin

Ada yang kasar hingga melukai Rasulullah Saw., dan ada yang secara halus setelah ditolak keinginan kekuasaan hanya untuk kabilah mereka setelah wafatnya Rasulullah Saw.

Upaya mendatangi ahlu man’ah (pemilik kekuatan) dan ahlun nushrah (pemilik pertolongan) yang tidak pernah berhenti dilakukan Rasulullah Saw., menunjukkan ini adalah perintah Allah SWT.

Tiada keringanan dalam pelaksanaannya, walaupun seberat apa pun risiko yang dihadapi. Maka, hukum aktivitas ini adalah perintah Allah yang wajib untuk diikuti (wajibul ittiba’).

Hingga datanglah kemudian dari Yatsrib suku Aus yang datang ke Makkah saat itu. Kabilah Aus adalah suku yang musyrik. Begitu pula suku kuat di Yatsrib yaitu Khazraj, mendatangi Rasulullah Saw..

Dakwah yang tidak kenal putus asa untuk menawarkan Islam dan mendukung tegaknya syariat yang dibawa Rasulullah Saw. akhirnya membuahkan hasil.

Para kepala suku Aus dan Khazraj mengerti betul sistem yang ditawarkan inilah yang sudah sering diperbincangkan kabilah-kabilah Yahudi di Yatsrib. Termasuk ciri-ciri kenabian yang tampak pada sosok Muhammad, menjadikan mereka dengan sepenuh keyakinan berpindah agama menjadi muslim dan siap mendukung sistem yang ditawarkan oleh Muhammad Saw..

Jawaban kepala suku Aus dan Khazraj adalah,

إن وراءنا بالمدينة قوماً قد اختلفوا، فإن جمعهم الله عليك لم يكن أحد أعز منك

“Kami memiliki pengikut di belakang kami yang masih berbeda dengan kami. Allah menyatukan mereka untuk menyerangmu, dan tiada yang lebih berharga daripada membunuhmu (wahai Rasul).” (Sirah Ibnu Hisyam).

Maka, Rasulullah Saw. mengutus sahabatnya Mush’ab bin Umair untuk menyertai para kepala kabilah ke Yatsrib (Madinah). Yang dalam waktu satu tahun, keberhasilan dakwah Mush’ab menjalar ke seluruh Madinah, hingga siap menerima kedatangan pemimpin baru bagi mereka setelah peristiwa Aqabah kedua terjadi.

Baca juga:  Kafir Quraisy Menginginkan Kehancuran Islam dan Kaum Muslimin

Menolong Tegaknya Syariat Allah

Inilah hakikat pemilik kekuatan dan daya tolong yang amat dirindukan saat ini. Bahkan dirindukan Rasulullah Saw. dengan perjumpaan di dekat telaganya Rasulullah Saw. di surga kelak.

Siapa pun yang memiliki kekuatan dan daya tolong seperti Aus dan Khazraj memiliki kehormatan untuk tegak membela agama Allah dan apa yang dibawa Rasulullah Saw. Siapa pun itu.

Ia memiliki daya bantu yang melekat pada wewenang yang diberikan umat pada dirinya. Pihak seperti ini seharusnya mengulurkan bantuan terhadap tegaknya syariat di tempat kekuasaan yang mereka ada di dalamnya. Sikap mulia yang sudah tertulis dalam janji Allah akan kembali tegaknya Khilafah atas metode kenabian.

ثم تكون وخلافة على منهاج النبوة

“Kemudian akan ada Khilafah atas metode kenabian.”

Maka dari itu, peran militer sekarang sudah seharusnya merujuk kepada ahlu man’ah dan quwwah di masa Rasulullah Saw.. Militer seharusnya berani berpihak pada kebenaran dan mendukung perjuangan Islam.

Terlebih lagi pahala yang amat besar telah tersebut dalam hadis saat wafatnya Sa’ad bin Mu’adz yang menggetarkan ‘Arsy Allah SWT dan disambut serta disalatkan ribuan malaikat. Rasulullah Saw. mengabarkan berita gembira kematian Sa’ad bin Mu’adz, beliau bersabda,

اهْتَزَّ الْعَرْشُ لِمَوْتِ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ

“Singgasana Allah Azza wa Jalla berguncang karena kematian Sad bin Mu’adz.” (HR al-Bukhâri)

Setiap sikap yang ditujukan untuk kepentingan selain Allah dan Rasul-nya, justru akan membawa para pemangku kekuatan ini kepada kerendahan derajat di mata manusia terlebih di hadapan Allah SWT.

Tampaknya inilah saat yang tepat untuk menunaikan janji Allah dan Rasul-nya, wahai para pemilik kekuatan yang muslim. Berilah uluran tangan kalian untuk meraih keberkahan bagi semesta alam, dengan menolong tegaknya syariat Islam.

Sejarah telah mencatatkan siapa saja yang terus membenci Islam hingga akhir hayatnya, dan juga siapa yang memberikan pertolongannya melindungi penegakan Islam hingga berjayanya. [MNews/Gz]

One thought on “Jadilah Ahlun Nushrah

  • 26 November 2020 pada 08:27
    Permalink

    Masyaallah, semoga para pemilik kekuatan segera membuka hati dan pikirannya untuk menolong dan membela agama Allah. Aamiin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *