Hukum Khamr (Minol) dalam Islam

Oleh: KH. M. Shiddiq Al-Jawi, S.Si., M.Si. (Founder Institut Muamalah Indonesia)

MuslimahNews.com, FIKIH – Pengertian Khamr:

الخمرهي كل شراب مسكر

Al Khamr hiya kullu syarabin muskirin.” Khamr adalah setiap minuman yang memabukkan. (Abdurrahman al-Maliki, Nizhamul ‘Uqubat, hal.49)

Sifat memabukkan pada khamr ini, menurut ilmu pengetahuan modern, karena zat bernama “etil alkohol”/“etanol” (C2H5OH) atau disebut secara populer dengan sebutan “alkohol”.

Maka khamr dapat juga didefinisikan sebagai “setiap minuman yang mengandung alkohol baik kadarnya sedikit maupun banyak.” (Abu Malik Al-Dhumairi, Fathul Ghafur fi Isti’mal Al-Kuhul Ma’a al-‘Uthur, hal. 13).

Hukum Khamr

Tidak ada perbedaan pendapat di ulama, bahwa khamr hukumnya haram. Dalil keharamannya adalah firman Allah SWT,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْخَمْرُ وَٱلْمَيْسِرُ وَٱلْأَنصَابُ وَٱلْأَزْلَٰمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ فَٱجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya [minum] khamr (minuman beralkohol), berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al Maaidah [5] : 90)

Qarinah (indikasi / petunjuk) keharaman khamr dalam ayat tersebut dapat dilihat dari banyaknya penegasan (takiid) antara lain:

(1) menggunakan taukid (kata penegas) “innama”;

(2) disejajarkan dengan penyembahan berhala;

(3) khamr disebut rijsun (najis);

(4) meminumnya disebut perbuatan setan;

(5) ada perintah untuk menjauhinya;

(6) ada harapan keberuntungan bagi yang menjauhinya;

(7) ada berbagai dampak buruknya (QS Al Maaidah: 91). (Abdurrahman al-Maliki, Nizhamul ‘Uqubat, hal.24-25)

Keharaman khamr juga dapat disimpulkan dari qarinah (petunjuk) berupa azab yang akan diterima oleh peminum khamr di neraka.

Sabda Rasulullah Saw.,

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menjanjikan bagi peminum khamr akan diminumkan kepadanya “thiinatul khabaal”. Mereka bertanya, “Hai Rasulullah, apakah itu “thiinatul khabaal?” Rasulullah Saw. menjawab, “Keringatnya penghuni neraka atau perasan [cairan] penghuni neraka. (HR Muslim, no 3732)

Khamr tidak hanya haram diminum, tapi juga haram diperjualbelikan. Sabda Rasulullah Saw.,

Baca juga:  Khamr Haram dan Induk Kejahatan!

“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan jual beli khamr, bangkai, babi, dan berhala (patung).” (HR Bukhari dan Muslim).

Khamr haram pula diproduksi, didistribusikan, dan diperdagangkan dalam segala aspeknya. Dalam Jami At Tirmidzi:

“Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Saw. telah melaknat dalam khamr itu sepuluh pihak: pemerasnya, yang minta diperaskan, peminumnya, pembawanya, yang minta dibawakan, penuangnya, penjualnya, pemakan harganya, pembelinya, dan yang minta dibelikan.” (HR Tirmidzi, no. 1295)

Kenajisan Khamr

Menurut jumhur fukaha, seperti Imam Abu Hanifah, Maliki, Syafi’i, Ahmad, dan Ibnu Taimiyah, khamr itu najis.

Namun menurut sebagian ulama, seperti Rabi’ah Al-Rayi, Imam Laits bin Sa’ad, dan Imam Muzani, khamr itu tak najis (atau suci). (Wahbah Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, 1/260 & 7/427; Imam Al-Qurthubi, Ahkamul Quran, 3/52; Abdurrahman al-Jaziri, Al-Fiqh ‘Ala Madzahib al-Arba’ah, 1/18).

Ulama yang menganggap khamr najis berdalil dengan ayat:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْخَمْرُ وَٱلْمَيْسِرُ وَٱلْأَنصَابُ وَٱلْأَزْلَٰمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ

”Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji (rijsun) termasuk perbuatan setan.” (QS Al-Maidah: 90)

Ayat ini menunjukan kenajisan khamr, karena Allah SWT menyebut khamr sebagai rijsun, yang berarti najis. (Wahbah Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, 7/427)

Namun ulama yang menganggap khamr tak najis membantah pendapat tersebut. Mereka berkata rijsun dalam ayat tersebut artinya adalah najis secara maknawi, bukan najis secara hakiki. Artinya khamr tetap dianggap zat suci, bukan najis, meskipun memang haram untuk diminum. (Tafsir Al-Manar, 58/7; Imam Shan’ani, Subulus Salam, 1/36; Sayyid Sabiq, Fiqih As-Sunnah, 1/19)

Adapun menurut kami, yang rajih (lebih kuat) adalah pendapat jumhur bahwa khamr itu najis. Dalilnya hadis dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani ra. Dia pernah bertanya kepada Nabi Saw.,

إِنَّا نُجَاوِرُ أَهْلَ الْكِتَابِ ، وَهُمْ يَطْبُخُونَ فِي قُدُورِهِمْ الْخِنْزِيرَ ، وَيَشْرَبُونَ فِي آنِيَتِهِمْ الْخَمْرَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنْ وَجَدْتُمْ غَيْرَهَا فَكُلُوا فِيهَا وَاشْرَبُوا ، وَإِنْ لَمْ تَجِدُوا غَيْرَهَا فَارْحَضُوهَا بِالْمَاءِ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا . صححه الألباني في صحيح أبي داود .

Baca juga:  Narkoba Menghancurkan Generasi, Islam Menyelamatkan Masa Depan Generasi

”Kami bertetangga dengan Ahli Kitab sedang mereka memasak babi dalam panci-panci mereka dan meminum khamr dalam bejana-bejana mereka.” Nabi Saw. menjawab, ”Jika kamu dapati wadah lainnya, makan dan minumlah dengannya. Jika tidak kamu dapati wadah lainnya, cucilah wadah-wadah mereka dengan air dan gunakan untuk makan dan minum.” (HR Ahmad & Abu Dawud, dengan isnad sahih). (Subulus Salam, 1/33; Nailul Authar, hal. 62).

Hadis di atas menunjukkan kenajisan khamr, mengapa? Sebab tidaklah Nabi Saw. memerintahkan untuk mencuci wadah mereka dengan air, kecuali karena khamr itu najis. Ini diperkuat dengan satu riwayat dari Ad-Daraquthni, bahwa Nabi Saw. bersabda,

“Maka cucilah wadah-wadah mereka dengan air karena air itu akan menyucikannya.” (farhadhuuhaa bil-maai fa-inna al-maaa thahuuruhaa) (Lihat Mahmud Uwaidhah, Al-Jami’ Li Ahkam Al-Shalah, 1/45).

Para ulama kontemporer berbeda pendapat mengenai alkohol, apakah dia najis atau suci (tidak najis). Sebagian ulama kontemporer menghukumi alkohol itu suci berdasarkan asumsi bahwa khamr (minuman beralkohol) itu zat yang suci. (Muhammad ‘Ali Al Bâr, Al Khamr Baina al Thibb wa al Fiqh, hlm. 52; Shâlih Kamâl Shâlih Abu Thâhâ, At Tadâwi bi Al Muharramât, hlm. 54).

Namun, sebagian ulama kontemporer lainnya berpendapat, bahwa alkohol itu najis, berdasarkan asumsi bahwa khamr itu zat yang najis. (Abdul Majîd Mahmûd Shalâhain, Ahkâm An Najâsât fi Al Fiqh Al Islâmi, hlm. 253).

Walhasil, persoalan najis tidaknya alkohol, berakar pada persoalan najis tidaknya khamr. Para ulama sendiri sejak dulu berbeda pendapat mengenai najis tidaknya khamr. Jumhur ulama, di antaranya adalah ulama mazhab yang empat, yaitu mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali, berpendapat khamr itu najis.

Sedangkan sebagian ulama lain, seperti Imam Syaukani, berpendapat khamr itu suci. (Al Mausû’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 40/93).

Baca juga:  Islam Tegas Melarang Miras!

Pendapat yang rajih (lebih kuat) bagi kami, adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan khamr itu najis. Pendapat inilah yang telah dipilih oleh Syekh Taqiyuddin An Nabhani. (Ahkâmush Sholâh, hlm. 32).

Dalil ulama jumhur antara lain, khamr dikategorikan najis (rijsun) dalam firman Allah SWT,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْخَمْرُ وَٱلْمَيْسِرُ وَٱلْأَنصَابُ وَٱلْأَزْلَٰمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ فَٱجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah najis (rijsun) termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah najis itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al Maaidah: 90)

Berdasarkan ayat tersebut, khamr itu najis karena termasuk dalam “rijsun”. Menurut Imam Nawawi, sebagaimana dikutip Syekh Abdul Majid Shalahain, tidak ada mani’ (penghalang), suatu kata seperti “rijsun” mempunyai makna hakiki (najis zati) pada khamr, dan makna majazinya sekaligus, yakni najis maknawi pada judi, menyembelih korban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah. (Abdul Majîd Mahmûd Shalâhain, Ahkâm An Najâsât fi Al Fiqh Al Islâmi, hlm. 253).

Hanya saja, penggunaan zat najis untuk keperluan pengobatan hukumnya tidak haram, melainkan makruh. (Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakhshiyyah Al Islamiyyah, Juz III, hlm. 116).

Karena Nabi Saw. pernah membolehkan berobat dengan meminum air kencing unta. Padahal air kencing unta itu zat najis. (HR Bukhari, no. 231).

Sanksi Pidana bagi Peminum Khamr

Dalam sistem pidana Islam (Nizham Al ‘Uqubat), peminum khamr dijatuhi sanksi pidana berupa hudud, yaitu dicambuk 40 (empat puluh) kali, atau boleh 80 (delapan puluh) kali cambukan. (Abdurrahman al-Maliki, Nizhamul ‘Uqubat, hal.58)

Dalilnya:

Dalam Sahih Muslim, “Bahwa Ali ra. memerintahkan Abdullah bin Ja’far untuk mencambuk Al Walid bin Uqbah 40 (empat puluh) kali, kemudian Ali berkata, ”Nabi SAW telah mencambuk 40 kali cambukan.” Abu Bakar mencambuk 40 cambukan, sedang Umar 80 cambukan. Semua itu sunah dan ini yang lebih aku sukai.” (HR Muslim) [MNews/Rgl]

One thought on “Hukum Khamr (Minol) dalam Islam

Tinggalkan Balasan