Al-Qur’an, Kompas Kehidupan yang Tak Boleh Disisihkan

Oleh: Asy Syifa Ummu Sidiq

“Kamilah santri TK Al-Qur’an
Rajin belajar giat beramal
Qur’an di tangan jadi pedoman
Kita sambut kebangkitan Islam
Bila kau jauh dari Al-Qur’an
Hidupmu pasti akan sengsara
Kacau dunia rusak binasa
Di akhirat mendapat siksa”

MuslimahNews.com, OPINI – Sebuah lirik lagu yang pernah terngiang dalam ingatan masa kecil kita. Saat masih belia, belajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Beramai-ramai menyanyikan bait lagu itu dengan semangat dan suka cita. Tentu saat itu, kita tak pernah memahami apa makna di balik setiap diksinya. Kita hanya anak kecil yang diajari cinta Al-Qur’an dan Nabi-Nya.

Berbicara masalah Al-Qur’an tak akan pernah habisnya. Sebuah peninggalan yang lebih berharga dari harta karun ini, akan menjamin para pengikutnya selamat dunia dan akhirat. Wajar bagi kita untuk selalu menjaganya, mempelajarinya, hingga mengamalkan isinya.

Beberapa waktu yang lalu, perhelatan akbar digelar untuk menghormati kitab suci umat Islam. Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tahun ini digelar di Sumatra Barat. Sebuah provinsi yang memiliki motto “Adat asandi syarak, syarak basandi Kitabullah“. Tentu ditempatkannya MTQ di Sumbar diharapkan memiliki nilai lebih. Pasalnya, Sumbar termasuk provinsi yang memiliki budaya Islam yang kuat.

Pesan Agenda MTQ

Dalam acara penutupan MTQ kemarin, ada satu pesan yang sangat berharga bagi kaum muslimin. Dua tokoh masyarakat menyampaikan pesan yang sama. Salah satunya K.H. Ma’ruf Amin, sebagai Wakil Presiden Indonesia menyampaikan pesan,

“MTQ juga memiliki nilai strategis bagi umat Islam untuk lebih memahami kitab suci Al-Qur’an,” pesan ini disampaikan secara virtual pada Jumat malam (20/11/2020).

Menurut Wapres dalam wejangannya, Allah menurunkan Al-Qur’an dengan tujuan memberikan pedoman bagi manusia, sekaligus menjadi asas berpikir bagi manusia dalam hidup sehari-hari. Oleh karena itu tak cukup hanya sekadar membacanya. Umat muslim perlu memahami dan mendalami isinya, sehingga dapat mengamalkan dalam sendi-sendi kehidupan (ihram.co.id, 21/11/20).

Senada dengan Wapres, Wakil Menteri Agama (Wamenag) K.H. Zainut Tauhid Sa’adi juga mengajak umat untuk memahami substansi ayat Al-Qur’an. Selain itu juga memantapkan nilai-nilai Islam dalam sendi kehidupan. Kesuksesan acara MTQ ke-28 ini juga ditandai dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat dalam beragama (republika, 22/11/20).

Nilai Islam Bukan Sekadar Ibadah Ritual

Pesan kedua tokoh di atas memang luar biasa. Wejangan yang sering dilupakan kaum muslimin di Indonesia. Secara umum kaum muslimin malah beranggapan beribadah itu cukup dengan menjalankan ibadah ritual, seperti salat, zakat, puasa, sedekah, baca Al-Qur’an. Jika ingin menyempurnakan amalan ditambah dengan hijab syar’i, ikut ngaji (yang menenangkan hati), dan naik haji.

Mereka menganggap (hanya) dengan melakukan itu semua sudah mendapat jaminan surga. Walhasil, kaum muslimin pun akhirnya merasa puas dengan aktivitas ibadah tersebut. Padahal, aturan Allah tak hanya masalah ibadah ritual saja. Dari 6.666 ayat Al-Qur’an, masih banyak aturan Allah yang belum dijalankan.

Lebih parah lagi, ada yang beranggapan akhlak Islam saja sudah cukup menjadikan kaum muslimin menjadi baik. Dengan menanamkan nilai-nilai Islam yang toleran, pemaaf, baik, murah senyum, ramah akan menjadikan Islam sebagai rahmat seluruh alam. Padahal, ada kalanya kaum muslim harus marah dan tegas, yaitu saat menghadapi musuh Islam.

Apa yang terjadi di sekeliling kita saat ini sebagai contohnya. Sebut saja utang ugal-ugalan yang dilakukan pemerintah. Sudah jelas dalam Islam haram hukumnya terlibat riba. Tapi pada kenyataannya semua utang yang dilakukan mengandung riba.

Pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang tak mengikuti anjuran Nabi. SDA yang harusnya dikelola negara kemudian hasilnya diberikan kepada rakyat, faktanya justru dikuasai asing/aseng/asong. Terjadi privatisasi di mana-mana. Rakyat hanya kebagian lumpur dan limbahnya.

Ada juga masalah perdebatan RUU Larangan Minol. Al-Qur’an menjelaskan minuman ini dapat merusak akal. Selain itu minol termasuk minuman haram. Namun, dalam sistem saat ini keharaman minol tak berlaku. Apalagi cukai minol ternyata memberikan sumbangsih cukup besar bagi pendapatan negara. Makanya, aturan RUU ini masih tarik ulur pengesahannya.

Jadi, harusnya sebagai umat yang beriman kita tak boleh membatasi diri pada ibadah ritual atau akhlak Islami saja.

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dan ‘Ali bin Hujr keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Isma’il yaitu Ibnu Ja’far dari Al A’laa dari Bapaknya dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw. pernah bertanya kepada para Sahabat, “Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?”

Para Sahabat menjawab, “Menurut kami, orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan salat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.” (HR Muslim No. 4678)

Dari hadis tersebut kita akhirnya tersadarkan bahwa belum tentu amalan ibadah selama ini langsung diterima dan membuat masuk surga. Dari itu kita pun perlu menambah dengan amalan-amalan lainnya.

Mewujudkan Amalan yang Sempurna

Allah menurunkan Al-Qur’an dalam satu kesatuan yang sempurna. Di dalamnya terdapat syariat yang harus dijalankan kaum muslimin, baik berupa fardu ain, fardu kifayah, maupun keharaman. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS Al Baqarah ayat 208,

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Allah sendiri memerintahkan kepada orang beriman untuk menjalankan Islam secara sempurna. Makna dari sempurna ini adalah menjalankan syariat Islam tanpa memilah-milah. Syariat Allah terdiri dari hubungan manusia dengan Allah, dirinya sendiri dan dengan manusia yang lain.

Hubungan manusia dengan Allah mengatur masalah akidah dan ibadah. Hubungan manusia dengan dirinya menyangkut masalah pakaian, makanan, dan akhlak. Sedangkan hubungan manusia dengan manusia lainnya mencakup pendidikan, pemerintahan, kesehatan, ekonomi, hingga sistem sanksi.

Semua syariat itu harus dilaksanakan. Baik yang hukumnya fardu ain atau fardu kifayah sebagai orang yang beriman ketaatan total hanya pada syariat. Sebagaimana firman Allah SWT,

“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran (dari padanya).” (QS Al-A’raf [7]: 3).

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An-Nisa’: 65)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS Al-Ahzab: 36)

Taat Tapi Milih-Milih

Bagaimana jika ada yang memilih syariat? Maka, Allah telah menyatakan dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, ‘Kami beriman kepada sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain),’ serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman dan kafir). Merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Kami telah menyiapkan siksaan yang menghinakan untuk orang-orang yang kafir itu. (QS An-Nisa’: 150-151)

“Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab dan ingkar kepada sebagian kepada sebagian (yang lainnya)? Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian itu di antara kalian selain kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Baqarah: 85)

Dari ayat-ayat di atas masihkah ada keinginan kita sebagai kaum muslimin untuk tidak taat syariat? Atau sekadar taat sebagian? Cukuplah kita menjadikan Allah sebagai pembuat aturan. Tidak perlu mencari aturan selain Islam.

Pesan saat penutupan MTQ di Sumatra Barat seyogianya dengan sepenuh hati kita laksanakan. Baik dalam aspek pribadi, bermasyarakat maupun bernegara. Karena hanya mengandalkan individu atau kelompok tak akan mampu menjalankan semua aturan Allah. Perlu peran dan dukungan pemerintah untuk menyempurnakan segala aturan.

Sebut saja masalah sistem ekonomi Islam seperti riba, pengelolaan SDA, hingga berbagai transaksi ber-muamalah butuh aturan negara. Sebagai individu kita tak mampu mengendalikan. Begitu pula masalah sistem pendidikan, kesehatan hingga sanksi. Semua itu butuh peran negara.

Hanya negara yang mampu menerapkan aturan Islam secara sempurna. Maka kita membutuhkan sistem pemerintahan yang dapat menjalankannya. Bagaimana dengan sistem demokrasi saat ini? Mampukah mengantarkan kaum muslimin pada ketaatan total?

Puluhan tahun kita merdeka. Namun, tak pernah sedetik pun demokrasi membuat kaum muslimin taat tanpa tapi. Dalam demokrasi hanya aturan manusia yang berlaku, aturan Allah hanya penghias belaka.

Kita butuh sistem yang mendukung seluruh syariat Islam. Sistem pemerintahan itu tidak lain adalah Khilafah. Jika demokrasi ternyata tak mampu mengayomi kita untuk taat beribadah, masihkah kita berpikir untuk tak mengambil syariat Islam kafah dalam bingkai Khilafah? [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *