Hilangnya Rasa Malu kepada Allah SWT

MuslimahNews.com, NAFSIYAH – Saat sistem kapitalisme liberal memimpin dunia, saat itu pula corak kehidupan masyarakat jauh dari kata “rasa malu”. Sebab paham kebebasan yang diusung begitu dijunjung tinggi, hingga tak mengapa jika harus mempertontonkan kemaksiatan di hadapan sesama. Baik dalam bentuk pemikiran (ide), ucapan (pendapat), maupun tindakan (perilaku).

Kalangan yang mengusung paham kebebasan, banyak melontarkan ide-ide rusak dan merusak dengan penuh kebanggaan bahkan kesombongan di tengah masyarakat. Al-Qur’an dikritisi, ayat-ayatnya ditakwilkan agar sesuai dengan zaman, hukum-hukumnya pun diputarbalikkan jika melanggar HAM dan kebebasan.

Dan yang lebih parahnya lagi, para mufasirnya mereka rendahkan dengan tuduhan “bias gender”, dipengaruhi lingkup sosial zamannya. Atau yang sedang viral saat ini, seorang yang mengaku muslim dengan bangga mendukung L98t dan senang jika dimasukkan ke dalam neraka jahanam. Astaghfirullah…

Begitu pula dengan tindakan mereka pengusung paham kebebasan, berbuat seenak hawa nafsunya tanpa ada lagi rasa malu. Mulai dari jajaran petinggi dalam pemerintahan, politisi, tokoh parpol dan artis.

Sempat menjadi pemberitaan media, salah satu petinggi parpol di daerah melakukan perzinaan, dan viral video perzinaannya di jagat maya. Awalnya mengaku bahwa ia pelaku dalam video tersebut, namun belakangan tidak mengakuinya.

Bukan hanya itu saja, mereka yang memiliki kedudukan tak malu saat ditangkap KPK karena korupsi berjemaah. Padahal terang-terangan merampas hak rakyat, tapi telah menjadi ‘makanan harian’ hingga rasa malu pun hilang. Inilah buah penerapan sistem kapitalisme liberal.

Bila rasa malu hilang, manusia cenderung berbuat seperti binatang bahkan bisa lebih parah lagi. Allah SWT berfirman, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah ), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS Al A’raf [7]: 179)

Kita juga telah diingatkan oleh Rasulullah Saw lewat sabdanya, “Jika Allah SWT ingin menghancurkan suatu kaum, dicabutlah dari mereka rasa malu. Bila rasa malu telah hilang maka yang muncul adalah sikap keras hati. Bila sikap keras hati membudaya, Allah mencabut dari mereka sikap amanah. Bila siap amanah telah hilang maka yang muncul adalah para pengkhianat. Bila para pengkhianat merajalela Allah mencabut rahmat-Nya. Bila rahmat Allah telah hilang maka yang muncul adalah manusia laknat. Bila manusia laknat merajalela Allah akan mencabut dari mereka tali-tali Islam.” (HR Ibnu Majah)

Syeih Muhammad Al Gazhali menerangkan makna hadis di atas, “Bila seorang tidak mempunyai rasa malu dan amanah, ia akan menjadi keras dan berjalan mengikuti kehendak hawa nafsunya. Tak peduli apakah yang harus menjadi korban adalah mereka yang tidak berdosa. Ia rampas harta dari tangan-tangan mereka yang fakir tanpa belas kasihan, hatinya tidak tersentuh oleh kepedihan orang-orang lemah yang menderita. Matanya gelap, pandangannya ganas. Ia tidak tahu kecuali apa yang memuaskan hawa nafsunya. Bila seorang sampai tingkat perilaku seperti ini, maka telah terkelupas darinya fitrah agama dan terkikis habis jiwa ajaran Islam.” (Khuluqul Muslim, h.171)

Demikianlah, jika rasa malu telah hilang pada Allah SWT, Islam tak lagi dijadikan pedoman, kebebasan diagung-agungkan, budaya dan ide-ide Barat dijadikan rujukan. Jika sudah begitu, kehancuran hanya tinggal menunggu waktu. [MNews/Rnd]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *