RCEP, Bukti Kapitalisme Global Makin “Nancep”

Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si. (Koordinator LENTERA)

MuslimahNews.com, OPINI – Cina, Jepang, Korea Selatan (Korsel), Australia, dan Selandia Baru serta 10 negara ASEAN termasuk RI, sepakat meneken Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), pada Minggu (15/11/2020) (cnbcindonesia.com, 16/11/2020) melalui pertemuan virtual dan tatap muka di Hanoi, Vietnam.

Perundingan dalam kerangka RCEP mencakup empat pilar, yakni promosi, proteksi, fasilitasi, dan liberalisasi. Tak heran, RCEP diyakini mengalahkan Trans Pacific Partnership (TPP) yang ditinggalkan Amerika Serikat era Donald Trump. RCEP pun dipastikan menjadi blok dagang terbesar di dunia.

Ini yang kemudian perlu disadari bahwa RCEP ini sangat penting. Di samping menyumbang 50 persen lebih produk domestik bruto (PDB) global, kelompok beranggotakan 21 negara dan teritori ini juga menguasai hampir separuh perdagangan dunia dan 40 persen populasi dunia.

RCEP juga mencakup tiga miliar lebih populasi, gabungan PDB sekitar US$17 triliun, dan menguasai sekitar 40 persen perdagangan dunia. Hal ini meliputi perdagangan barang, jasa, investasi, kerja sama ekonomi dan teknis, haki, persaingan, penyelesaian sengketa, dan isu-isu lain.

Direktur Eksekutif Sekretariat APEC Rebecca Sta Maria mengatakan, keikutsertaan negara-negara berpendapatan rendah dalam RCEP merupakan salah satu poin penting yang kerap diabaikan banyak pihak. Padahal RCEP mematok standar yang baru bagi hubungan perdagangan internasional agar lebih inklusif. Namun justru pada poin inilah yang menjadi kontribusi penting RCEP bagi perdagangan dunia.

Mencermati hal ini, tentu saja pengesahan RCEP mengirimkan pesan positif ke seluruh pelaku pasar di dunia. Dengan kata lain, negara-negara anggota APEC akan bekerja sama dengan ASEAN dan para negara mitra (dialogue partner) demi memastikan roda perdagangan terus berputar dan penyatuan pasar di kawasan akan terus berlanjut.

RCEP juga jadi bukti masyarakat dunia saat ini masih mendukung globalisasi dan multilateralisme. RCEP dipastikan mendorong adanya investasi yang bebas dan terbuka, liberalisasi ekonomi, sehingga dapat tumbuh dan cepat pulih setelah terpuruk akibat pandemi Covid-19.

Baca juga:  Jerat Kapitalisme Melalui RCEP

RCEP, Pemanfaatan Ekonomi Kawasan Penunjang Roda Kapitalisme

Alexander Capri, pakar perdagangan di National University of Singapore Business School mengatakan RCEP memperkuat ambisi geopolitik regional Cina yang lebih luas di sekitar Belt and Road Initiative (BRI/OBOR).

Sementara Iris Pang, kepala ekonom ING untuk Cina, menanggapi, RCEP dapat membantu Beijing mengurangi ketergantungannya pada pasar dan teknologi luar negeri. Yang mana, kedua elemen itu saat ini terganggu keretakan yang semakin dalam dengan Washington.

Beijing, perihal RCEP memang sudah menjadi promotornya sejak awal. Karenanya, saat AS mundur dari panggung regional dan menjalankan kebijakan perdagangan berdasarkan unilateralisme, para pemimpin Cina menggunakan kekosongan itu untuk menggambarkan Beijing sebagai mitra pilihan yang dapat diandalkan untuk pertumbuhan ekonomi, perdagangan, dan investasi bagi negara-negara berpenghasilan rendah di kawasan ASEAN seperti Myanmar, Kamboja, dan Laos sebagai anggota kerja sama pasar bebas.

RCEP ditargetkan mewujudkan liberalisasi tarif level tinggi, yang dibangun di atas level liberalisasi yang ada antarnegara partisipan. RCEP juga mengklaim akan komprehensif, berkualitas tinggi, dan konsisten dengan aturan-aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dan seluruh sektor jasa yang menjadi subjek negosiasi.

AS sendiri, meski tampak cuci tangan dari proyek RCEP dengan tampilnya Cina secara lebih menonjol, tapi arah kerja RCEP ke depannya masih akan terikat dengan WTO yang selama ini diketahui AS menjadi “bidan” utama di baliknya.

Di samping itu, keberadaan Australia tentunya wajib membuat kita yakin AS masih memiliki kepentingan terhadap RCEP meski AS menggunakan Australia. Toh selama ini sudah lazim diketahui Australia adalah “kawan dekat” AS.

Pun Inggris. Tanpa terlibat langsung di RCEP, kehadiran Selandia Baru telah menjelaskan segalanya. Karena Selandia Baru adalah salah satu negara anggota persemakmuran Inggris yang penting di kawasan Asia Pasifik.

RCEP, Ketika Kapitalisme Makin “Nancep”

Dengan ini semua, jelas perguliran RCEP sejatinya tidak akan berpihak pada rakyat golongan ekonomi lemah, kendati di antara target RCEP menghendaki pertumbuhan ekonomi negara-negara berpenghasilan rendah di ASEAN.

Baca juga:  Lonceng Kematian Rezim Demokrasi di Berbagai Belahan Dunia

Menurut data 2016 saja, tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan Asia selama 10 tahun terakhir sebelumnya secara konsisten melebihi rata-rata pertumbuhan global pada umumnya. Ini tentu saja menjadi potensi ekonomi yang menggiurkan.

Artinya, laju RCEP tidak dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi perorangan rakyat dari negara anggotanya. Standar ekonomi yang digunakan dalam RCEP adalah PDB, yang tentu saja angka PDB itu adalah rata-rata dan bukan ukuran kesejahteraan ekonomi secara riil.

Kawasan regional Asia Tenggara dan Pasifik ini dimanfaatkan melalui RCEP semata-mata karena potensinya sebagai kawasan pemasaran produk terbesar di dunia. Kawasan ini telah menunjukkan perkembangan yang luar biasa akibat kemajuan yang dicapai para negara Macan Asia, khususnya Cina dan India, yang muncul sebagai kekuatan global, serta hubungan jaringan perdagangan yang semakin dinamis yang membentang di seluruh wilayah Asia Pasifik.

Ini menegaskan, RCEP sungguh melegitimasi kapitalisme akan makin “nancep” (menancap), khususnya di kawasan ASEAN dan Asia Pasifik.

Penjajahan Ekonomi Berjenjang dan Urgensi Tegaknya Institusi Berideologi Islam

Menyikapi hal ini, kian nyata cengkeraman kapitalisme. Terlebih era pandemi dan juga kebutuhan pada era Big Data, RCEP adalah angin segar demi terus berputarnya roda ekonomi ideologi kapitalisme yang menunjang hingga ke kancah global. RCEP tak ubahnya penjajahan berjenjang berdasarkan kawasan di atas penjajahan lokal di negara-negara sasaran kapitalisasi.

Bisa dibayangkan, betapa krisis kemanusiaan yang melawan fitrah manusia, kehidupan, dan alam semesta akan makin menggila. Dunia juga makin jauh disetir aturan-aturan absurd produk hawa nafsu manusia.

Sungguh, tiada lagi agenda terbesar selain tegaknya ideologi Islam. Hanya ideologi Islam saja yang mampu menghadapi ideologi kapitalisme sebagai lawan yang sebanding.

Kebutuhan akan tegaknya Khilafah selaku institusi pengemban ideologi Islam tentu menjadi wacana pokok yang tak dapat tergantikan. Di samping sebagai kawasan yang kaya dengan sumber daya alam, Asia Pasifik khususnya ASEAN juga menjadi kawasan terbesar tempat bermukimnya kaum muslimin dunia.

Baca juga:  Cara Khilafah Menghentikan Dominasi Kapitalisme Global (Bagian 2/2)

Wajar, ketika Timur Tengah dan Afrika Utara “dimiskinkan” harapannya terhadap tegaknya kembali ideologi Islam, hingga coba beralih pada sistem sekuler. Isu islamofobia dipropagandakan di kawasan ASEAN agar kaum muslimin lebih sibuk dengan konflik agama dan rasialisme, yang diperkirakan dapat melalaikan agenda terbesarnya yakni tegaknya Islam sebagai ideologi.

Lihat saja isu-isu yang melanda kaum muslimin Rohingya, Pattani, Filipina, bahkan di Indonesia. Semua bermuara pada satu isu, yakni radikalisme.

Sungguh, hanya Khilafah sajalah negara bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Yakni sebagai negara yang maju, mandiri, visioner, tidak disetir asing, serta tidak bergantung pada tekanan global.

Khatimah

Hendaklah kita menyadari sesegera mungkin akan urgensi tegaknya Khilafah, negara berideologi Islam yang akan menyebarkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Betapa rendah manusia ketika masih menjadi sasaran kapitalisasi. Betapa hina manusia ketika kehidupannya masih saja diatur dengan sistem sekuler.

Allah SWT berfirman,

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).” (TQS ‘Ali Imran [03]: 28).

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’.” (TQS Al-Baqarah [02]: 30). [MNews/Gz]

One thought on “RCEP, Bukti Kapitalisme Global Makin “Nancep”

  • 7 Desember 2020 pada 20:34
    Permalink

    Siasat baru kaum kapitalis ( yg sdg terancam resesi ) utk menguasai ekonomi kaum muslimin.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *