Editorial: Ke Mana Arah Perubahan?

MuslimahNews.com, EDITORIAL – Tak dimungkiri situasi politik kian hari kian karut marut. Meski mesin pencitraan terus berjalan, namun nyatanya tak mampu menutupi kebobrokan sistem yang terus memproduksi krisis di berbagai bidang kehidupan.

Gelar rezim gagal, ingkar janji, represif anti-Islam, dan antek asing, sudah lama tersemat pada rezim demokrasi sekuler neolib yang sedang tegak ini.

Betapa tidak? Di tengah kegagapan menghadapi situasi pandemi, kesejahteraan kian jauh dari harapan. Resesi ekonomi pun seakan tak berujung. Sementara utang ribawi kian menggunung.

Alih-alih mampu mewujudkan janji manis saat pemilihan, rezim penguasa hari ini justru kian mantap berjalan bersama kepentingan korporasi dan kaum oligarki. Sibuk membangun dinasti kekuasaan yang begitu zalim dan minus hati nurani.

Di sisi lain, kriminalisasi ajaran Islam dan pengembannya pun terus terjadi. Isu radikalisme masih saja jadi senjata bagi penguasa untuk membungkam kalangan oposan. Ketundukan pada asing juga makin kuat sejalan keluarnya kebijakan-kebijakan yang memberi jalan lebar bagi penjajahan.


KONDISI ini ternyata tak hanya terjadi di negeri ini. Krisis multidimensi pun terjadi di berbagai belahan dunia, meski dengan kadar yang berbeda. Yang pasti, cengkeraman korporatokrasi dan kapitalisme global makin kuat di berbagai belahan negeri.

Tak heran jika atas realitas ini, banyak yang mulai membincang soal perubahan. Sebagian bahkan sudah mulai mempertanyakan kelayakan sistem sekuler demokrasi kapitalis neoliberal dalam mengatur kehidupan.

Pasalnya, sistem ini tampak sudah tak mampu menutupi jati dirinya yang didominasi ketamakan dan kekejaman. Wajah manis demokrasi yang sering diklaim sebagai sistem politik terbaik, kian terbaca sebagai monster penebar berbagai kerusakan.

Tengok saja. Meski kredo demokrasi memberi kedaulatan kepada rakyat, tapi kebebasan dan sekularisme yang menjadi rohnya telah memberi ruang besar bagi terjadinya penyalahgunaan kekuasaan.

Meskipun ada konsep pembagian kekuasaan, yang muncul justru konflik kepentingan. Jika terjadi kasus, lazim terjadi praktik saling sandera di antara berbagai kekuatan.

Biaya politiknya yang super mahal pun nyatanya hanya membuat kekuasaan demokrasi rentan korupsi dan praktik kolusi. Kebijakan yang dikeluarkan jadi ajang transaksi. Dan supremasi hukum pun bisa dibeli. Kenapa? Karena halal haram tak ada tempat dalam sistem rusak ini.

Belum lagi dampak kebebasan menyangkut soal moral. Krisis akhlak kian telanjang dalam sistem ini. Pelaku maksiat dan para penyeru kekufuran kian jemawa, mengalahkan pamor mereka yang berusaha keras menapaki jalan kebaikan.

Baca juga:  Generasi Muda Motor Perubahan; Suarakan Aspirasi, kok, Dibungkam?

Tidak ada suasana aman dan nyaman dalam negara yang menerapkan demokrasi. Malah kian terbukti, kekuasaan yang tegak di atas sistem ini begitu jauh dari kata adil sejahtera. Yang ada justru kian menguatnya dominasi otoritarianisme dan kerusakan di tengah umat.


INDONESIA sendiri katanya sudah “merdeka” sejak tiga per empat abad yang lalu. Semestinya sudah cukup waktu untuk tampil sebagai negara kuat, adil, makmur, dan sejahtera. Apalagi dengan segala anugerah rezeki yang Allah beri.

Begitu pun dengan negeri-negeri Islam lainnya yang rata-rata merupakan negeri yang kaya raya. Namun faktanya, kehidupan rakyatnya ternyata sama-sama jauh dari sejahtera. Bahkan sebagaimana kita, negeri mereka menjadi bancakan dan korban kerakusan negara-negara adidaya.

Hanya saja, menggagas perubahan tentu tak seperti membalik telapak tangan. Meski perubahan merupakan fitrah, tapi arah perubahan bisa benar, bisa salah.

Indonesia sendiri telah melewati beberapa kali momentum perubahan. Mulai dari yang damai hingga yang berdarah-darah. Tapi apa yang terjadi? Kondisi Indonesia tak pernah bertambah baik! Malah sebaliknya, kian hari kian bertambah parah.

Masalahnya, bangsa ini belum punya visi jelas tentang arah perubahan. Berbagai momentum perubahan selalu berkutat pada target pergantian orang. Sementara yang menjadi akar persoalan justru tetap dipertahankan.

Perubahan hakiki sejatinya membutuhkan tiga hal. Pertama, adanya pemahaman terhadap realitas masyarakat yang bobrok berikut akar masalahnya. Kedua, adanya pemahaman mengenai bentuk kehidupan (konstruksi) masyarakat yang ideal yang seharusnya diwujudkan. Ketiga, paham bagaimana road map/peta jalan perubahan yang harus dilakukan.

Untuk yang pertama, siapa pun sudah bisa menangkapnya dengan jelas. Namun yang kedua dan ketiga, tampak belum mengkristal. Wajar jika arah perubahan yang digagas sering kali tak jelas arah dan cenderung asal berubah. Bahkan umat sering kali jadi korban pembodohan yang berujung kekecewaan.


SEMESTINYA umat benar-benar memahami situasi buruk hari ini memang berakar dari kerusakan sistem. Yakni sistem demokrasi sekuler kapitalis neoliberal yang tegak di atas akidah rusak dan bertumpu pada akal manusia yang serba lemah dan aturan-aturannya melahirkan kekacauan.

Baca juga:  Regulasi Jahat dan Kezaliman Terstruktur Akibat Adopsi Korporatokrasi

Perubahan hakiki yang bisa membalik keadaan tentu tak cukup hanya dengan pergantian orang. Harus dengan mencampakkan sistem rusak ini dan menggantinya dengan sistem yang benar.

Yakni sistem yang tegak di atas akidah sahih, dan darinya lahir aturan yang mampu memecahkan seluruh masalah kehidupan dengan pemecahan yang benar dan mendasar. Itulah sistem atau kepemimpinan Islam!

Oleh karenanya, menghadirkan sistem Islam harus menjadi visi perubahan yang diperjuangkan umat. Dan untuk itu dibutuhkan upaya serius dan terarah agar terwujud kesadaran umat akan realitas Islam sebagai sebuah ideologi.

Islam tidak hanya dipahami ritual, tetapi sebagai solusi seluruh problematik kehidupan. Islam yang tak hanya bicara urusan langit, tapi juga mengatur urusan-urusan kehidupan.


UNTUK mewujudkan sistem Islam ini, Rasulullah Saw. sendiri telah menetapkan sebuah peta jalan. Langkah perubahan yang berbasis pada aktivitas dakwah pemikiran di tengah umat dan perjuangan politik melawan kekufuran. Bukan perubahan yang berbasis pada semangat pragmatisme atau perasaan terzalimi semata.

Saat itu, beliau bukan sekadar mengumpulkan orang. Tapi, beliau Saw. membina sebuah kelompok dakwah yang memiliki visi kuat tentang urgensi dan kewajiban menegakkan Islam sebagai jalan perubahan.

Bersama kelompok dakwahnya, beliau intens membina umat dengan akidah yang mampu menggerakkan semangat ketundukan kepada hukum-hukum Allah. Sekaligus memberi keyakinan tentang kemuliaan hidup yang akan mereka raih dengan Islam.

Di saat yang sama, beliau gencar melakukan perang pemikiran, menentang ide-ide rusak, dan membongkar kebobrokan sistem jahiliah. Sekaligus menyingkap konspirasi penguasa, hingga terwujud eskalasi politik yang mengarah pada tuntutan perubahan di tengah umat.

Upaya-upaya strategis dan politis inilah yang menjadikan umat rindu hidup dalam sistem Islam dan siap menanggung risiko berjuang bersama kelompok dakwah Rasul.

Mereka siap menentang sistem yang rusak demi mewujudkan kehidupan yang lebih mulia di sisi Allah, baik di dunia berupa terwujudnya masyarakat Islam maupun di akhirat sebagai ahli surga. Isy kariiman aw mut syahiidan.

Dengan cara ini beliau bersama kelompoknya tadi, secara “ajaib” berhasil membalik pola pikir dan pola jiwa masyarakat jahiliah. Yang tadinya penganut paganisme, mendewakan hawa nafsu, mengagungkan kemuliaan suku/nasionalisme dan hidup tanpa standar halal haram, menjadi masyarakat Islam yang kuat, rela tunduk pada nilai-nilai ukhrawi, menjunjung kemuliaan akhlak, serta siap dipersatukan ikatan akidah dan aturan-aturan Islam di bawah kepemimpinan Islam.

Baca juga:  Kepemimpinan Islam Dambaan Umat

Tentu saja seluruh upaya ini tak akan berakhir mulus tanpa adanya dukungan dari pemilik kekuatan (ahlul quwwah) di tengah umat. Mereka adalah kalangan penguasa atau militer yang loyalitasnya sudah terpaling kepada Islam.

Karenanya dakwah kepada kelompok ini pun menjadi kemestian dalam menggagas sebuah perubahan. Sebagaimana Rasulullah Saw. melakukan aktivitas politik ini saat beliau mendatangi pemimpin-pemimpin kabilah untuk meminta dukungan kekuatan demi wujudnya kepemimpinan Islam.


SUNGGUH umat hari ini sudah rindu akan wujudnya kepemimpinan Islam menggantikan kepemimpinan sekuler. Namun tampaknya, prasyarat perubahan baru sampai pada poin pertama. Itu pun masih berputar di sebagian masyarakat saja.

Masih menjadi PR besar bagi kita, menghadirkan konstruksi Islam ke tengah umat dengan pemaparan yang gamblang. Agar tampak di hadapan mereka betapa unggulnya sistem Islam dibanding dengan sistem yang hari ini ditegakkan.

Penting pula disampaikan, Rasulullah Saw. mencontohkan peta jalan menegakkan sistem Islam yang sudah terbukti sukses menyampaikan pada tujuan. Yakni jalan dakwah pemikiran dan perjuangan politik berlandas akidah Islam. Bukan melalui jalan demokrasi yang justru menyimpangkan arah perubahan dan melanggengkan keburukan.

Allah Ta’ala memang telah menjanjikan dan Rasul-Nya pun telah mengabarkan, terwujudnya kembali kehidupan Islam merupakan sebuah keniscayaan. Dengan tegaknya kepemimpinan Islam, Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah untuk yang kedua kali.

Namun Allah dan Rasul-Nya, meminta setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan untuk meraih semua itu dengan jalan berjuang, dengan berkontribusi maksimal dalam proses perubahan, mewujudkan janji Allah dan bisyarah Rasul-Nya tadi dalam waktu secepatnya.

Untuk semua ikhtiar inilah, Allah siapkan kebaikan dan pahala berlimpah. Berupa kemuliaan hidup di dunia dan janji surga di keabadian sana.

مِنَ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ رِجَالٌ صَدَقُوۡا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيۡهِ‌ۚ فَمِنۡهُمۡ مَّنۡ قَضٰى نَحۡبَهٗ وَمِنۡهُمۡ مَّنۡ يَّنۡتَظِرُ‌ ۖ وَمَا بَدَّلُوۡا تَبۡدِيۡلًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).” (QS Al-Ahzab : 23). [MNews/SNA]

One thought on “Editorial: Ke Mana Arah Perubahan?

  • 24 November 2020 pada 22:08
    Permalink

    Perubahan hakiki hanya terjadi dengan ideologi Islam.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *