Arah Perubahan Umat dan Tantangan Mewujudkan Perubahan Hakiki

Oleh: Ratu Erma Rachmayanti

MuslimahNews.com, FOKUS – Mayoritas kita, pasti menyepakati kondisi kita sedang tidak baik. Tak perlu bukti ataupun data ilmiah, cukup dengan yang kita rasakan dan terlihat di sekeliling kita.

Terlebih dalam 10 bulan terakhir di masa pandemi, meski disebut NNL (new normal life), aktivitas ekonomi berjalan, namun pemenuhan kebutuhan hidup tetap saja senjang. Sudah banyak pihak yang tidak percaya rezim sekarang akan bisa mengubah keadaan negeri ini menjadi baik.

Utang luar negeri yang kian bertambah, korupsi tidak berkurang –pesimis untuk diselesaikan. Biaya layanan publik terus mahal, ketidakadilan hukum makin tampak, bahkan hukum dikendalikan penguasa.

Siapa yang ditangkap, siapa yang dibiarkan, tergantung kepentingan penguasa. Ulama dan aktivis yang lantang mengkritik kebijakan penguasa, cepat ditangkap. Penguasa menebar ketakutan bagi siapa saja yang kritis.,

Di tengah ketidakadilan dan kezaliman rezim yang terus mendera, berita pulangnya seorang Habib dirasa umat sebagai titik cerah. Sosok ulama yang diharap menjadi pemimpin yang akan menggantikan rezim korup dan zalim, yang akan mengubah keadaan bangsa, menebar keadilan, dan membangkitkan.

Sambutan kegembiraan umat seperti menjadi sinyal bahwa ulama yang menjadi representasi syariat Islamlah yang diinginkan umat. Ya, sebenarnya umat sudah menginginkan perubahan.

Namun demikian, benarkah solusi untuk negeri ini cukup dengan mengganti rezim dengan seorang ulama? Mungkinkah syariat Islam bisa diterapkan dengan sempurna dalam bentuk negara seperti hari ini? Perubahan hakiki yang bagaimana yang ditetapkan Islam, dan bagaimana umat harus melakukannya?

Proses Perubahan

Sahabat Muslimah, keinginan umat untuk berubah, adalah modal penting bagi perubahan itu sendiri. Artinya umat sudah menyadari fakta buruk yang ditimbulkan kebijakan penguasa dan ingin menggantinya agar menjadi baik.

Jika yang diinginkan umat itu adalah perubahan kepada penerapan hukum Islam oleh negara, dengan pemimpinnya seorang muslim yang saleh dan kapabel, memang seperti itulah yang dikehendaki Islam.

Namun, jika yang diinginkan umat itu adalah mengganti sosok pemimpin dengan Muslim yang saleh saja, sementara format negara tetap seperti yang ada saat ini, tidak akan mengantarkan pada perubahan hakiki.

Baca juga:  Menata Langkah Perjuangan Mewujudkan Perubahan Hakiki

Sebaliknya akan mengantarkan pada kegagalan. Mengapa? Karena umat hanya mengulang jalan dan cara yang sama dalam melakukan perubahan.

Karena itu, dalam perubahan mesti terjadi beberapa proses. Pertama, mesti ada proyeksi atau pemetaan masalah. Umat harus memahami apa yang menjadi masalah utama sebagai penyebab kondisi buruk, faktor apa yang ada pada diri umat sehingga mereka tidak hidup mulia, dan faktor eksternal apa yang memengaruhinya. Pemetaan menjadi hal penting dalam menentukan masalah.

Tahap kedua adalah mengenali masalah dengan baik. Umat harus menyadari bahwa masalah mereka adalah ketidakpahamannya tentang hidup mulia dalam naungan Islam, kelemahannya karena terpencar di berbagai negara, tidak punya power untuk mengendalikan dunia.

Menyadari masalah eksternal: negerinya dikuasai asing sehingga aspek politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, semuanya menggunakan aturan produk pemikiran asing yang pastinya tidak kompatibel dengan aturan Islam.

Proses selanjutnya adalah tahapan penyiapan untuk perubahan. Apa saja yang diperlukan, yaitu umat harus mengetahui segala hal yang menjadikan kehidupannya kembali menjadi umat terbaik, yaitu diatur dengan Islam. Mereka harus diperkenalkan pada sejarah kegemilangan Islam dalam naungan Islam.

Hidup sejahtera, minim kriminalitas, pendapatan merata, keadilan didapatkan, generasi hidup dalam jaminan keamanan, pendidikan yang baik dan benar dalam melahirkan manusia baik dan bermanfaat, merasakan layanan Kesehatan yang baik dan gratis, dll. Mendalami nas syariat dan hukumnya yang memerintahkan umat untuk hidup dalam naungan Islam. Mendalami sirah Rasul, sejarah para Sahabat, para Khalifah pemimpin umat Islam, dsb. Mereka harus mempelajari hukum akidah, syariat dakwah dan jihad.

Juga tentang Khilafah sebagai institusi yang akan menerapkan seluruh hukum Islam. Bagaimana mesti mewujudkan semua itu, dengan kewajiban untuk membentuk kelompok umat yang memperjuangkannya penerapan syariat.

Baca juga:  Regulasi Jahat dan Kezaliman Terstruktur Akibat Adopsi Korporatokrasi

Berikutnya adalah tahapan action dari kelompok tersebut bersama umat memperjuangkan pemikiran perubahan yang telah dituntunkan Rasulullah Saw..

Dimulai dengan tahapan membina umat dengan berbagai hukum syariat dan menginteraksikannya dengan masyarakat, hingga terbentuk kesadaran pada umat secara aghlabiyah (mayoritas) untuk penerapannya.

Langkah ini harus terus digelorakan, dilakukan, dan terus dijaga hingga terbentuk kesadaran umum di berbagai lapisan masyarakat akan keharusan menerapkan syariat Islam dalam bentuk negara baru yang ditetapkan Islam, yaitu Khilafah.

Dan terjadi akad baru antara umat dengan calon pemimpin yang mereka inginkan agar pemimpin ini menerapkan syariat Islam dalam kehidupan mereka.

Pada tahapan penjagaan perjuangan ini, memerlukan keteguhan hati, ketekunan, kesabaran, dan keyakinan untuk mendapatkan hasil.

Tantangan dalam Perubahan

Ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam melakukan proses perubahan, yaitu saat umat menggunakan cara dan metode yang sama dalam perubahan.

Melakukan langkah yang sama dengan jalan yang sama, tetapi berharap hasil yang berbeda. Tentu saja ini melanggar sunatullah perubahan. Karena bersikukuh ingin berubah, tetapi menempuhnya dengan cara yang menjadi penyebab keburukan itu sendiri, yaitu umat bertahan dengan sistem demokrasi dan cara-caranya dalam mewujudkan kepemimpinan.

Yang karena sistem inilah, sistem ekonomi kapitalis liberal, sosial budaya permisif, politik koruptif, dsb. masih tetap bercokol. Hal ini dikarenakan ketidakpahaman umat akan wujud perubahan hakiki, yaitu berubahnya negeri-negeri muslim menjadi negara Islam (daar al Islam) dalam wujud tegaknya Khilafah di satu negeri muslim yang akan memimpin umat dan dunia dengan syariat Islam.

Perubahan Hakiki Tidak Cukup dengan Niat Baik

Dalam gambaran umat yang belum paham, perubahan itu mungkin terjadi dengan mengganti pemimpin, namun mempertahankan format yang ada dan hanya mengganti konstitusi dengan syariat Islam, tanpa mengubah tatanan atau konstelasi global.

Dua hal utama yang harus ada pada negara Islam adalah pemerintahannya menerapkan hanya syariat Islam, tidak yang lain. Keamanannya berasal dari tentara muslim, sandaran kekuatannya berasal dari dalam negeri, dari dukungan umat dan militer.

Baca juga:  [Event Diskusi WAG] Menaruh Harapan pada Ulama Hari Ini, Akankah Terwujud?

Jika tidak demikian, negeri muslim meskipun dalam negerinya bisa menerapkan syariat Islam, hubungan luar negerinya tidak mungkin independen, karena dia tetap berhubungan dengan negara adidaya yang masih ada.

Jadi, negara Islam Khilafah itu adalah negara adidaya baru yang berhasil melemahkan adidaya lama sekuler yang menjadi sebab kesengsaraan umat dan dunia.

Jika masalah ini tidak dipahami umat dengan baik, perjuangan mereka akan tetap mengulangi hal yang sama, yaitu mendapati kegagalan.

Ilustrasi yang menginspirasi misalnya: Salah satu negara mengalami masalah kronis di bidang pendidikan, Menteri Pendidikannya meminta pada Komite Kurikulum Pendidikan untuk mengembangkan kurikulum pendidikan negara tersebut. Perubahan tidak akan terjadi, mengapa? Karena yang diminta adalah orang yang sama dan pemikiran yang sama yang mengakibatkan kegagalan dalam dunia pendidikan. Mereka tidak akan mampu melakukan perubahan dengan mentalitas dan pola pikir yang sama yang menciptakan kurikulum lama.

Misal lain, ada partai tertentu yang ikut pemilu di negara tertentu, dan hasilnya gagal besar. Pimpinan partai ini diminta untuk melakukan perubahan, dalam alam politik yang tidak berubah. Apa hasil yang diharapkan?

Karena itu, perubahan hakiki itu tidak cukup dengan niat baik tanpa dibarengi dengan aksi dengan pengerahan tenaga. Perubahan nyata hanya dapat terjadi setelah mengakui masalah dan kesalahan, mengidentifikasi cacat, dan mengembangkan rencana strategis; selain mengubah pikiran, cara berpikir, dan metode untuk menemukan solusi praktis, dengan kejelasan visi dan misi yang dijadikan panduan semua pelaku perubahan.

Walhasil, mendakwahkan perubahan hakiki yakni mewujudkan tegaknya Khilafah sebagai negara adidaya baru yang mengatur peradaban dunia dengan syariat Islam adalah satu-satunya bentuk komitmen serius dari umat untuk mengubah kezaliman menjadi kesejahteraan dan kemuliaan. [MNews/Gz]

Tulisan ini adalah materi diskusi online WhatsApp Group Muslimah News ID pada Ahad (22/11/2020)

2 thoughts on “Arah Perubahan Umat dan Tantangan Mewujudkan Perubahan Hakiki

  • 23 November 2020 pada 19:16
    Permalink

    Maa syaa Allah

    Balas
  • 23 November 2020 pada 19:00
    Permalink

    Ma Syaa Allah… Perubahan hakiki yakni hadirnya negara adidaya baru yang mengatur peradaban dunia dengan syariat Islam. Yaitu Daulah Khilafah Islamiyah.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *