Wajibnya “Ridha bil Qadha”

MuslimahNews.com, NAFSIYAH – Kewajiban rida menerima qadha (ridha bil qadha) adalah apa yang diriwayatkan Ibnu Abi Ashim dan Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan Al-Hakim, ia menyahihkan hadis ini. Adz Dzahabi juga menyetujuinya, dengan lafaz hadis,

«وَأَسْأَلُكَ الرِّضَاءَ بَعْدَ الْقَضَاءِ»

“Dan aku meminta kepada-Mu ya Allah, bisa rida setelah menerima qadha.”

Syariat telah memuji seorang hamba yang berserah diri terhadap qadha, sebagaimana dijelaskan dalam hadis dari Abi Hurairah: Sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda kepadaku,

«أَلاَ أُعَلِّمُكَ قَالَ هَاشِمٌ أَفَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ كَنْزِ الْجَنَّةِ مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ يَقُولُ أَسْلَمَ عَبْدِي وَاسْتَسْلَمَ»

“Aku akan memberitahumu satu kalimat yang datang dari bawah Arasy dan dari gudangnya Surga, yaitu “Tiada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan (kekuasaan) Allah”. Allah berfirman, ‘Sungguh hamba-Ku telah tunduk dan berserah diri kepada-Ku.’.”

(HR Al-Hakim. Ia berkata hadis ini sahih sanadnya, dan tidak tercatat adanya kecacatan, meski tidak ditakhrij Bukhari dan Muslim. Ibnu Hajar berkata hadis ini telah ditakhrij Al-Hakim dengan sanad yang kuat).

Haram Marah terhadap Qadha dari Allah

Marah terhadap qadha dari Allah SWT hukumnya haram. Al-Qirafi menuturkan dalam Al-Dakhirah adanya ijmak (kesepakatan) atas keharaman marah terhadap qadha dari Allah tersebut.

Yang dimaksud dengan ijmak ini adalah ijmak para mujtahid. Lafaz ijmaknya adalah, “Marah terhadap qadha Allah hukumnya haram berdasarkan ijmak.”

Al-Qirafi telah membedakan antara Qadha dan Al-Maqdhi.

Beliau berkata, “Jika ada seseorang diuji dengan suatu penyakit, kemudian ia merasa sakit sebagai risiko dari tabiat suatu penyakit, maka hal seperti ini tidak dipandang sebagai sikap tidak rida terhadap qadha, melainkan disebut tidak rida terhadap Al-Maqdhi.

Jika ia berkata, ‘Apa (gerangan) yang telah aku lakukan hingga aku ditimpa dengan musibah ini? Dan apa dosaku? Padahal aku tidak layak mendapatkannya,’

maka yang seperti ini disebut tidak rida terhadap Qadha bukan terhadap Al-Maqdhi.”

Keharaman marah terhadap qadha ini ditunjukkan hadis dari Mahmud bin Lubaid (sebagaimana telah disebutkan) bahwa Rasulullah Saw. bersabda,

«وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ»

“Sesungguhnya jika Allah akan mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan ujian kepada mereka. Barang siapa yang bersabar, maka kesabaran bermanfaat baginya. Dan barang siapa marah (tidak sabar), maka kemarahan itu akan kembali kepadanya.”

(HR Ahmad dan AT-Tirmidzi. Ibnu Muflih berkata: Isnad hadis ini baik)

Manusia Akan Ditanya

Rida dan Marah termasuk aktivitas/amal (yang bisa dikuasai) manusia. Karena itu, manusia akan diberi pahala atas sikap ridanya dan akan disiksa atas kemarahannya (terhadap qadha).

Sedangkan Qadha sendiri tidak termasuk amal manusia, sehingga manusia tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang terjadinya Qadha, karena bukan termasuk amalan yang dikuasainya.

Tetapi, manusia tetap akan ditanya tentang rida dan marahnya terhadap qadha karena termasuk amalnya. Allah berfirman,

وَأَنْ لَيْسَ لِلإِنْسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS An-Najm [53]: 39)

Penebus Dosa

Qadha dari Allah ini akan menjadi penebus atas dosa-dosa seseorang dan sebagai sarana dihapuskannya kesalahan. Dalilnya sangat banyak, di antaranya hadis dari Abdullah, sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda,

«…مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا»

“Seorang muslim yang diuji dengan rasa sakit karena duri atau yang lebih dari itu, maka Allah pasti akan menebus kesalahan-kesalahannya kerana musibah itu. Sebagaimana suatu pohon menggugurkan daunnya.” (Mutafaq ‘alaih).

Hadits lain adalah dari Aisyah, ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda,

«لاَ تُصِيبُ الْمُؤْمِنَ شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ قَصَّ اللهُ بِهَا مِنْ خَطِيئَتِهِ»

“Satu duri atau yang lebih darinya yang menimpa seorang mukmin, maka pasti dengan duri itu Allah akan mengurangi kesalahannya.” Dalam satu riwayat dikatakan “naqushshu” artinya kami akan mengurangi. (Mutafaq ‘alaih).

Hadis dari Abu Hurairah dan Abi Said dari Nabi Saw. bersabda,

«يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ مِنْ خَطَايَاهُ»

“Setiap musibah yang menimpa seorang mukmin, berupa sakit yang berterusan, sakit yang biasa, kebingungan, kesedihan, kegundahan, hingga duri yang menusuknya, maka pasti musibah itu akan menjadi penghapus bagi kesalahan-kesalahannya.” (Mutafaq ‘alaih).

Dalam bab ini terdapat juga hadis senada dari Saad, Muawiyah, Ibnu Abbas, Jabir, Ummu Al-Ala, Abu bakar, Abdurrahman bin Azhar, Al-Hasan, Anas, Syadad, dan Abu Ubaidah ra.; dengan sanad-sanad ada yang baik dan ada yang sahih. Semuanya sampai kepada Nabi Saw. (hadis marfu), yang isinya menyatakan “setiap ujian akan menggugurnya kesalahan”.

Hadis dari Aisyah ra. sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda,

«…مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُشَاكُ شَوْكَةً فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً»

“Seorang muslim yang tertusuk duri atau yang lebih dari itu, maka pasti Allah dengan musibah itu akan mengangkat satu derajat untuknya dan menggugurkan satu kesalahan darinya.”

Dalam riwayat lain dikatakan,

«إِلاَّ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً»

“Maka pasti Allah dengan musibah itu akan mencatat satu kebaikan baginya.”

Yang dimaksud dengan pahala di sini adalah pahala atas sikap ridanya terhadap qadha dari Allah, atas kesabaran dan syukurnya, serta tidak mengadukan musibahnya kecuali hanya kepada Allah.

Banyak sekali hadis yang menjelaskan batasan (Al-Qayid) ini. Di antaranya hadis riwayat Muslim dari Shuhaib, sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda,

«عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»

“Aku kagum terhadap urusan orang yang beriman, karena seluruh urusannya merupakan kebaikan baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia akan bersyukur. Maka syukur adalah kebaikan baginya. Jika ia ditimpa kesulitan, ia akan bersabar. Maka sabar itu merupakan kebaikan baginya. Hal seperti ini tidak akan didapati pada seseorang kecuali pada orang yang beriman.”

Hadis riwayat Hakim, ia menyahihkannya yang disepakati oleh Adz-Dzahabi dari Abi Darda ra., ia berkata aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda,

«إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَا عِيسَى إِنِّي بَاعِثٌ مِنْ بَعْدِكَ أُمَّةً إِنْ أَصَابَهُمْ مَا يُحِبُّونَ حَمِدُوا اللهَ وَشَكَرُوا وَإِنْ أَصَابَهُمْ مَا يَكْرَهُونَ احْتَسَبُوا وَصَبَرُوا وَلاَ حِلْمَ وَلاَ عِلْمَ قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ هَذَا لَهُمْ وَلاَ حِلْمَ وَلاَ عِلْمَ قَالَ أُعْطِيهِمْ مِنْ حِلْمِي وَعِلْمِي»

“Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Wahai Isa, sungguh Aku akan mengirim suatu umat setelahmu. Jika mereka mendapatkan perkara yang mereka sukai, mereka pasti akan memuji kepada Allah. Jika mereka mendapatkan perkara yang tidak mereka sukai, mereka akan ikhlas menerimanya dan bersabar menghadapinya, padahal mereka tidak memiliki kepandaian dan ilmu.’ Isa berkata, ‘Wahai Tuhanku, bagaimana itu bisa terjadi?’ Allah berfirman, ‘Aku memberikan kepada mereka sebagian dari kepandaian dan ilmu-Ku.’.”

Hadis riwayat At-Thabrani dengan sanad yang sehat dari cacat dari Ibnu Abbas ra. ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda,

“Siapa saja yang ditimpa musibah dengan hartanya atau dalam dirinya, kemudian ia menyembunyikannya dan tidak mengadukannya kepada manusia, maka Allah pasti akan mengampuninya.”

Hadis riwayat Bukhari dari Anas ia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda,

«إِنَّ اللهَ قَالَ إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِي بِحَبِيبَتَيْهِ فَصَبَرَ عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجَنَّةَ»

“Sesungguhnya Allah SWT berfirman, ‘Jika Aku menguji hamba-Ku dengan (kematian) kekasihnya kemudian ia bersabar, akan menggantinya dengan Surga.’.”

Hadis Riwayat Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dari Abi Hurairah ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda,

Seorang muslim yang tertusuk duri di dunia, ia ikhlas menerimanya, maka pasti ujian itu akan menjadi penyebab Allah melenyapkan kesalahan-kesalahannya di hari kiamat.”

Wallahu a’lam bishshawab. [MNews/Gz]

2 thoughts on “Wajibnya “Ridha bil Qadha”

Tinggalkan Balasan