Transformasi Digital, akankah menjadi Solusi Fundamental?

Oleh: Permadina Kanah Arieska, S.Si., M.Si.

MuslimahNews.com, FOKUS – “Pandemi Covid 19 telah mengubah cara kerja, beraktivitas, belajar, hingga cara bertransaksi dari sebelumnya melalui kontak fisik (offline) menjadi lebih banyak dilakukan secara daring (online).” Pernyataan ini disampaikan Presiden Jokowi di akun Instagramnya @jokowi pada 4/8/2020. Hingga akhirnya presiden menetapkan lima langkah kebijakan yang bertujuan melakukan percepatan transformasi digital.

Lima langkah tersebut adalah pertama, percepatan perluasan akses dan peningkatan infrastruktur digital. Kedua, mempersiapkan peta jalan transformasi digital di sektor-sektor strategis, antara lain pemerintahan, layanan publik, bantuan sosial, pendidikan, kesehatan, perdagangan, industri, dan penyiaran.

Langkah ketiga adalah percepatan integrasi pusat data nasional. Keempat, penyiapan kebutuhan sumber daya manusia talenta digital dan langkah kelima adalah pembuatan regulasi, skema pendanaan, dan pembiayaan transformasi digital. Tak tanggung-tanggung, pemerintah pun menganggarkan dana sebesar Rp30,5 Triliun untuk percepatan transformasi digital ini (nasional.kompas.com, 14/08/2020).

RI 4.0, Era Digitalisasi

Transformasi digital merupakan sebuah proses dan strategi penggunaan teknologi digital yang dapat mengubah secara drastis model beroperasi dan pelayanan terhadap masyarakat.

Fakta ini sudah menjadi hal yang umum di era digitalisasi hari ini. Bahkan memaksa setiap instansi untuk melakukan transformasi sistem internalnya, yang awalnya masih manual beralih ke bentuk digital. Semuanya dilakukan dengan tujuan efisiensi dan digitalisasi.

Revolusi Industri 4.0 menjadi legalisasi bahwa transformasi digital memang sebuah kebutuhan yang pasti. Masyarakat tak bisa lari darinya karena kondisi ini memang sebuah keniscayaan yang harus dihadapi.

Transformasi digital pun diklaim dapat menggerakkan perekonomian dan meningkatkan daya saing bangsa. Perusahaan yang tidak mau bertransformasi akan menjadi perusahaan gagal sebab dianggap miskin inovasi.

Arus digitalisasi pun diadopsi banyak perusahaan. Pekerjaan-pekerjaan yang bersifat rutinitas mulai tergantikan dengan robot atau aplikasi digital. Perusahaan tak lagi membutuhkan banyak karyawan yang akhirnya berdampak pada maraknya PHK massal.

Jika sudah demikian, sebenarnya siapa yang paling diuntungkan dengan akselerasi transformasi digital ini?

Transformasi Digital, Siapa yang Paling Diuntungkan?

Transformasi digital memang mengubah pola transaksi masyarakat, yang awalnya offline menjadi online. Pola transaksi yang baru ini memang menjadi market yang menggiurkan bagi dunia perbankan dan juga perusahaan layanan pembelian online semacam Shopee, Lazada, dan lain sebagainya.

Baca juga:  Pandemi, Momentum Membingkai Transformasi Digital Menjadi Instrumen Ketakwaan

Direktur Utama PT Bank Mega Tbk (MEGA) Kostaman Thayib mengatakan selama pandemi sebanyak 35% nasabah telah meningkatkan penggunaan layanan digital. (cnbcindonesia.com, 17/11/2020).

Program automasi dan digitalisasi perbankan kian membuahkan cuan. Hal ini bisa dilihat dari menguatnya tingkat efisiensi, yaitu rampingnya rasio biaya operasi terhadap pendapatan operasi (BOPO).

Rasio beban operasi terhadap pendapatan operasi (BOPO) Bank Mega misalnya, turun 3,68% menjadi 74%, atau jauh di bawah rata-rata perbankan sebesar 80,65%. Tren positif tersebut berlanjut pada tahun ini, terlihat dari rasio BOPO Bank Mega yang kian menurun menjadi 71%, pada September 2020.

Artinya, keuntungan dari transaksi semakin tinggi sedangkan beban operasionalnya rendah karena telah menggunakan otomatisasi dan digitalisasi.

Tak hanya perbankan yang mendapatkan profit besar, perusahaan penyedia layanan belanja online pun mengalami hal yang sama. Barang impor masuk kian mudah, terlihat dari banyaknya barang yang dijual di toko online yang langsung didatangkan dari luar negeri.

Jika kondisinya semacam ini, jelas kapitalis besarlah yang meraup pundi-pundi keuntungan besar. Sedangkan masyarakat hanya dijadikan sebagai target market pemasaran produknya.

Teknologi yang Menyejahterakan

Tak ada yang salah dengan kemajuan teknologi dan digitalisasi. Semua adalah produk yang bertujuan memudahkan kerja manusia. Teknologi hanya sebuah tool agar kerja manusia bisa terselesaikan dengan efektif dan efisien.

Masalahnya hanya di tangan siapakah teknologi itu dikuasakan? Jika di tangan ideologi kapitalisme sekuler, pemanfaatan teknologi hanya berorientasi pada profit sekelompok kapitalis semata. Variabel kesejahteraan masyarakat, dampak penggunaan teknologi, hingga efek negatif yang ditimbulkan, tak lagi menjadi bahan pertimbangan. Asal menghasilkan koin, maka poin-poin kebermanfaatan masyarakat sengaja diabaikan.

Berbeda sekali dengan teknologi dalam genggaman Khilafah Islam. Khilafah Islam merupakan satu kesatuan institusi kaum muslimin yang menerapkan Islam secara kaffah, menyeluruh dalam seluruh aspek bidang. Oleh karenanya, teknologi yang dihasilkan senantiasa fokus pada teknologi tepat guna untuk menyelesaikan problem yang ada di masyarakat.

Pada abad 9/10 M misalnya, Abu Bakr Ahmed ibn ‘Ali ibn Qays al-Wahsyiyah (sekitar 904 M) menulis Kitab al-Falaha al-Nabatiya. Kitab ini mengandung 8 (delapan) juz yang kelak merevolusi pertanian di dunia, antara lain tentang teknik mencari sumber air, menggalinya, menaikkannya ke atas hingga meningkatkan kualitasnya.

Baca juga:  Pandemi, Momentum Membingkai Transformasi Digital Menjadi Instrumen Ketakwaan

Di Barat teknik ibn al-Wahsyiyah ini disebut “Nabatean Agriculture”. Para insinyur Muslim merintis berbagai teknologi terkait dengan air, baik untuk menaikkannya ke sistem irigasi atau menggunakannya untuk menjalankan mesin giling. Dengan mesin ini, setiap penggilingan di Baghdad abad 10 sudah mampu menghasilkan 10 ton gandum setiap hari.

Pada 1206 al-Jazari menemukan berbagai variasi mesin air yang bekerja otomatis. Berbagai elemen mesin buatannya ini tetap aktual hingga sekarang, ketika mesin digerakkan dengan uap atau listrik.

Di Andalusia, pada abad-12, Ibn Al-‘Awwam al Ishbili menulis Kitab al-Filaha yang merupakan sintesis semua ilmu pertanian hingga zamannya, termasuk 585 kultur mikrobiologi, 55 di antaranya tentang pohon buah. Buku ini sangat berpengaruh di Eropa hingga abad-19.

Tak hanya sebagai p0roblem solving bagi masalah masyarakat, teknologi dalam Khilafah Islam juga difokuskan agar kaum muslimin dapat merealisasikan pelaksanaan ibadah dengan optimal.

Pelaksanaan haji misalnya, di mana terdapat jutaan manusia yang melaksanakan haji dari berbagai dunia, maka diperlukan teknologi di dalamnya. Dalam hal transportasi, saat terdapat aliran calon haji yang amat besar ke satu titik di Makkah dan sekitarnya harus diantisipasi dengan ketersediaan alat dan prasarana transportasi yang memadai.

Dulu di awal era kereta api, Daulah Utsmani sampai membangun jaringan kereta api Hijaz yang membentang dari Istanbul melewati Yerusalem hingga Madinah dan Makkah.

Selain transportasi juga bagaimana mengurus logistik (makanan, hewan kurban), laundry, menjaga udara di lokasi tetap nyaman, hingga pengolahan limbah dan sampah dari jutaan manusia itu.

Ketika Khilafah Islam tegak nantinya –Insya Allah-, teknologi seperti artificial intelligence, digitalisasi, cloud computing, dan big data yang memang akan berefek pada otomatisasi dan digitalisasi beberapa pekerjaan manusia, pastinya tetap dimanfaatkan.

Aspek kemanusiaannya juga tetap diperhatikan dengan menerapkan beberapa kebijakan negara Khilafah Islam, di antaranya:

1) Mengoptimalkan kemampuan warga negara Khilafah Islam, bukan pekerja asing.

Sebagaimana diketahui hari ini, permasalahan utama bukan hanya sekedar pada SDM yang tidak kompeten. Namun juga berkaitan dengan kesempatan mendapatkan pekerjaan di negeri sendiri yang kian sempit. Sebab peluang pekerjaan banyak diberikan kepada pekerja asing. Oleh karena itu, solusi yang diberikan tak cukup hanya sekedar memberikan pelatihan kerja saja, namun juga membuka kran pekerjaan bagi warganegara sendiri harus jauh lebih diutamakan.

Baca juga:  Pandemi, Momentum Membingkai Transformasi Digital Menjadi Instrumen Ketakwaan

2) Pemanfaatan pekerja asing hanya bersifat insidental. 

Pekerja asing boleh dipekerjakan namun sifatnya hanya insidental dan tidak diperkenankan terus menerus dilakukan. Wajib ada alih teknologi agar negara Khilafah menjadi negara yang berdaulat dan berdaya.

3) Sistem industri berjalan atas fondasi sistem ekonomi Islam dari sisi investasi maupun prinsip kepemilikan.

Islam menetapkan bahwa sejumlah sumber daya alam tidak bisa dimiliki individu, apalagi asing. Kepemilikannya adalah milik seluruh umat. Negara menjadi pengelolanya untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi rakyat.

4) Sektor industri vital harus dikuasai negara, seperti pertanian, farmasi, energi, transportasi, infrastruktur, dan sebagainya.

Seluruh pembangunan industri harus dibangun dalam paradigma kemandirian. Tak boleh sedikit pun ada peluang yang akan membuat kita menjadi tergantung kepada orang-orang kafir, baik dari sisi teknologi (melalui aturan-aturan lisensi), ekonomi (melalui aturan-aturan pinjaman atau ekspor-impor) maupun politik. “…Allah sekali-kali tak akan memberi jalan pada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS 4: 141)

5) Optimalisasi produk dalam negeri.

Impor dari negara lain memang suatu keniscayaan dan pasti akan terjadi dalam Khilafah Islam. Namun kuantitasnya sangat minimal. Khilafah Islam tidak diperkenankan tergantung dengan produk luar negeri terutama produk yang berkaitan dengan ketahanan keamanan dan pangan.

Kebijakan ini akan menghilangkan ketergantungan Umat Islam pada teknologi dari negara-negara Barat. Politik monopoli ilmu pengetahuan yang dilakukan Barat akan dihadapi kaum muslimin dengan kemandirian dan kekuatan visi ideologinya.

Perlahan tapi pasti, posisi akan berganti. Baratlah yang akan mengalami ketergantungan ekonomi dan teknologi pada pada Khilafah Islam.

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS al-Anfaal [8]: 60) Wallahu A’lam bish Shawab. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan