[Tapak Tilas] Mengenal Syi’ib Abi Thalib, Tempat Pemboikotan Kelompok Dakwah Rasulullah dan Pendukungnya

Oleh: Siti Nafidah Anshory

MuslimahNews.com, Tapak Tilas – Syi’bi atau Syi’ib Abi Thalib/شعب أبي طالب adalah salah satu tempat yang menjadi saksi beratnya perjalanan dakwah Rasulullah Saw.. Sekaligus menjadi saksi besarnya pengorbanan yang dialami para pengikut beliau dan para pendukungnya.

Tempat ini berupa lembah. Terletak di antara dua gunung Abu Qubaisy dan Khandamah di Makkah. Berbentuk pelataran sempit yang dikelilingi dinding batu terjal lagi tinggi dan tidak dapat dipanjat.

Orang hanya dapat masuk keluar dari sebelah barat melalui celah sempit setinggi kurang dari dua meter, yang hanya dapat dilewati unta dengan susah payah.

Posisinya sendiri ada di sebelah timur Ka’bah, di dekat Mas’a (tempat sa’i), lebih dekat ke bukit Shafa. Dulunya merupakan wilayah yang dimiliki oleh Abdul Muthalib, kakek Rasulullah SAW. Lalu dikuasai oleh Abu Thalib yang juga pemimpin Bani Hasyim.

Di sinilah Nabi Saw. dan para pembesar Bani Hasyim lahir. Sehingga syi’ib ini pun dikenal sebagai Syi’ib bani Hasyim atau Syi’ib Mawlid. Di kawasan ini juga terdapat rumah Khadijah, yang juga rumah Rasulullah Saw., dan juga tempat lahirnya putra putri beliau.

Boikot, Strategi Baru Menghadang Islam

Pada tahun ke-7 kenabian, dakwah Rasulullah saw mengalami situasi yang sangat sulit. Saat itu, para anggota Darun Nadwah (parlemen) dan penguasa Quraisy menetapkan sebuah keputusan politik yang sangat kejam atas kelompok dakwah Rasul dan para pendukungnya. Yakni pemboikotan!

Sebagaimana diketahui, masuk Islamnya Hamzah dan Umar bin Khaththab ra. sebelum masa pemboikotan terjadi, benar-benar telah membawa spirit baru bagi pergerakan kelompok dakwah Rasulullah saw.

Para sahabat makin mantap dan kuat memeluk Islam. Seraya kian gencar dan tanpa rasa takut mendakwahnya kepada penduduk sekitar. Hal ini tergambar dari perkataan Ibnu Mas’ud ra. yang diriwayatkan Imam Bukhari,

مازلنا أعزة منذ أسلم عمر

“Sejak ‘Umar bin Khaththab masuk Islam, kami senantiasa memiliki ‘izzah (rasa bangga).”

Tak heran jika di masa ini, benturan pemikiran dan pergumulan politik antara Islam dan kekufuran terasa makin keras dan berlangsung secara lebih terbuka. Hal ini sejalan dengan turunnya ayat-ayat Allah yang juga makin keras menyerang kebodohan orang-orang kafir dan busuknya akidah mereka.

Namun situasi ini justru memberi kesempatan kepada penduduk Makkah untuk berpikir mendalam tentang hakikat akidah dan sistem hidup rusak yang dipeluknya. Hingga mereka yang memiliki kehanifan mulai mampu melihat cahaya kebenaran dan memeluk Islam. Maka pengikut dakwah Rasul pun makin bertambah banyak.

Situasi inilah yang membuat para pembesar Quraisy kewalahan. Semua ikhtiar untuk membendung bahaya ideologis ini ternyata sama sekali tak bermanfaat untuk mengukuhkan kekuasaan mereka.

Misalnya, mereka telah melakukan upaya stigmatisasi, kriminalisasi bahkan intimidasi berbentuk siksaan fisik yang membuat sebagian sahabat yang tak memiliki pelindung terpaksa harus berhijrah ke negeri Habsyah. Namun semua itu justru membuat Islam makin tersebar ke luar kota Makkah.

Bahkan mengundang simpati Najasi raja Habasyah untuk melindungi mereka dan mengusir dua utusan Quraisy yang berupaya melobi raja agar mendeportasi warga Quraisy yang berhijrah untuk meminta suaka di sana.

Maka, di saat itulah kaum kafir Quraisy bersepakat membuat keputusan politik berupa pemboikotan secara total. Tak hanya untuk pengikut Rasulullah SAW saja. Tapi juga seluruh Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib yang dikenal sebagai pendukung dakwah Nabi, kecuali Abu Lahab yang membelot kepada kaum kafir Qurasy.

Menggantung Shahifah di Dinding Ka’bah

Untuk meneguhkan legalitas keputusan itu, ditulislah sebuah deklarasi perjanjian (Shahifah) oleh Manshur bin Ikrimah bin Amir bin Hasyim. Riwayat lain menyebutkan penulisnya adalah Baghid bin Amir.

Lalu Shahifah itu pun digantung di dinding Ka’bah agar bisa dibaca oleh siapa pun yang datang ke kota Makkah dan menjadi pengingat agar semua pihak menaatinya.

Di dalam kitab Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam I hal 2004 (terj.) karya Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al Muafiri, disebutkan, bahwa isi Shahifah itu adalah:

  1. Mereka dilarang menikah dengan wanita-wanita dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.
  2. Mereka dilarang menikahkan putri-putri mereka dengan orang-orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.
  3. Mereka dilarang menjual sesuatu apa pun kepada Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.
  4. Mereka dilarang membeli sesuatu apa pun dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.

Pemboikotan atau alienasi yang dilakukan oleh kaum kafir Makkah ini bisa dikatakan sebagai situasi paling memilukan dalam sejarah penyebaran Islam generasi awal. Mereka berharap upaya ini akan melepas ikatan perlindungan Bani Hasyim dan Bani  Muththalib kepada kaum muslimin.

Bahkan mereka berharap, upaya ini akan membuat kaum muslimin meninggalkan keislaman mereka. Sehingga Muhammad akan ditinggal sendirian, dengan kemungkinan beliau akan meninggalkan dakwahnya, atau dakwahnya tidak lagi membahayakan mereka.

Situasi berat ini digambarkan Ibn Hisyam dalam sirahnya, “Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib menjalani pemboikotan orang-orang Quraisy selama dua atau tiga tahun, hingga mereka mengalami kesengsaraan yang luar biasa, karena tidak ada makanan atau minuman yang bisa sampai pada mereka kecuali secara diam-diam dan siapa pun dan orang-orang Quraisy tidak bisa berhubungan dengan mereka kecuali dengan rahasia.”

Digambarkan, beberapa orang terpaksa makan daun dan kulit pohon. Mulut mereka sampai terluka dan anak-anak pun merintih kelaparan. Beberapa sahabat bertahan dengan bubuk kulit binatang yang sudah sangat kering yang direndam dengan air lalu  ditumbuk.

Kebencian dan keseriusan orang kafir dalam melaksanakan pemboikotan ini, tampak dari apa yang dilakukan Abu Lahab untuk mencegah mereka yang menjadi target pemboikotan untuk mendapat akses terhadap pasokan logistik dari luar.

Ketika datang rombongan kafilah dagang ke kota Makkah, dia berseru kepada para pedagang:

“Wahai para pedagang! Naikkan hargamu kepada sahabat-sahabat Muhammad agar mereka tidak bisa membeli apa pun! Kalian semua sudah mengetahui kekayaanku, dan kalian sudah tahu bahwa aku akan menepati janjiku. Dan aku akan mengganti kalian semua sehingga tidak akan ada kerugian atas kalian.

Maka para pedagang itu pun menaikkan harganya berlipat-lipat. Sehingga para sahabat tak bisa membeli barang yang dibutuhkan, dan pulang kembali ke rumahnya dengan tangan kosong seraya disambut oleh tangisan anak-anak mereka yang kelaparan.

Hikmah Besar di Balik Ujian Besar

Namun demikian, apa yang dialami Rasulullah dan kaum muslim ternyata tak menyurutkan langkah dakwah sedikit pun. Peristiwa pemboikotan ini justru kian mengukuhkan hubungan mereka dengan tali agama Allah. Bahkan berbagai hikmah dakwah justru terjadi di era ini.

Di antara hikmah itu adalah terblow-upnya pergerakan dakwah Islam dan upaya pemboikotan penguasa Quraisy ke berbagai kabilah di luar kota Makkah. Hingga nama Rasulullah dan Islam makin tersebar luas dan menjadi perbincangan para musafir.

Hal ini karena, meski kaum muslim dalam kondisi sulit bahkan ditimpa kelaparan luar biasa, dakwah Islam tidak pernah surut.  Bahkan baginda Rasulullah saw memanfaatkan situasi atau ‘urf  yang diyakini penduduk Makkah. Berupa penghargaan mereka terhadap bulan-bulan haram, yang tidak boleh ada aksi kekerasan.

Sehingga di bulan-bulan haram itulah beliau Saw. memaksimalkan dakwah dengan cara mendatangi Ka’bah dan mengajak para peziarah untuk menerima dakwah Islam.

Inilah yang akhirnya menimbulkan simpati  bangsa Arab, baik di dalam kota Makkah maupun di luar kota Makkah. Sehingga opini mereka kian terbelah, antara yang sepakat perjanjian dan yang tidak sepakat perjanjian.

Maka di antara mereka ada yang membantu secara diam-diam. Hakim bin Hisyam misalnya kerap membawakan gandum untuk diberikan kepada bibinya, Khadijah ra. Namun suatu ketika dia dihadang oleh Abu Jahal dan diinterogasi olehnya guna mencegah upayanya.

Untung saja, ada Abu al-Bukhturiy yang menengahi dan membiarkannya lolos membawa gandum tersebut kepada bibinya. Demikian pula yang dilakukan Hisyam bin Amr, seorang yang dimuliakan kaumnya.

Pada malam hari, Hisyam membawa unta yang dipenuhi makanan dan pakaian ke dekat lembah. Lalu kendalinya dilepas agar masuk ke tempat Bani Hasyim dan Bani Muththalib sehingga mereka bisa bertahan dengannya.

Bahkan setelah tiga  tahun berlalu, Hisyam inilah yang menginisiasi pembatalan perjanjian dengan cara menghimpun dukungan dari empat orang kawannya. Mereka adalah Zubair bin Abu Umayyah, Al Muthi’im bin Adi, Al Bakhtari bin Hisyam, Zama’ah bin Al Aswad bin Muththalib.

Setelah intens berembuk, kelima orang ini pergi ke Ka’bah dengan tujuan merobek surat perjanjian (Shahifah) itu. Namun usaha mereka sempat mendapat penentangan keras dari Abu Lahab. Lalu ketika mereka benar-benar akan menyobeknya, ternyata didapati nota perjanjian itu telah habis dimakan rayap kecuali tulisan “Bismika Allahumma”.

Dengan demikian secara otomatis berakhirlah masa  pemboikotan itu.  Namun bukan berarti tantangan dakwah menjadi berkurang. Karena setelah itu, kelompok dakwah Rasulullah SAW mengalami ujian yang lebih berat, dengan wafatnya para pelindung dakwah beliau, bunda Khadijah dan paman beliau Abu Thalib.

Inilah tahun kesedihan bagi Nabi Saw. dan para pengikutnya yang dalam sirah dikenal dengan Aamul Huzni. Dan setelah itu, setidaknya butuh waktu 3 tahun lagi perjuangan berat Rasulullah SAW dan para sahabat untuk sampai pada kemenangan.

Hari ini kawasan Syi’ib Abi Thalib hanya tampak berupa pelataran Masjidilharam dengan beberapa buah bangunan. Salah satunya, situs bangunan yang menjadi ciri tempat kelahiran sekaligus rumah baginda Nabi Saw. berupa bangunan tingkat dua yang difungsikan sebagai maktab atau perpustakaan.

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad. Wa ‘alaa aalihi, wa shahbihi ajma’iin.[MNews/Juan]

 (Disarikan dari berbagai sumber).

One thought on “[Tapak Tilas] Mengenal Syi’ib Abi Thalib, Tempat Pemboikotan Kelompok Dakwah Rasulullah dan Pendukungnya

  • 22 November 2020 pada 13:58
    Permalink

    Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad. Wa ‘alaa aalihi, wa shahbihi ajma’iin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *