Baiat Aqabah Kedua: Batu Pijakan Tegaknya Negara Islam

Oleh: Nabila Ummu Anas

MuslikmahNews.com, SIRAH NABAWIYAH – Sebelum memerintahkan Sahabatnya hijrah ke Madinah, Rasulullah ﷺ ingin melihat kondisi jemaah haji yang datang dari Madinah. Beliau ﷺ ingin mengetahui sejauh mana kesiapan mereka untuk melindungi dakwah dan berkorban di jalan Islam dan apakah kedatangan mereka ke Makkah siap untuk membaiat Rasulullah ﷺ dengan baiat perang.

Pada musim haji tahun ke-12 sejak Beliau ﷺ diutus, sekelompok kaum muslim Madinah dalam jumlah besar datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji bersama dengan kaum musyrik Madinah.

Komunikasi antara kaum muslim Madinah dengan Rasulullah ﷺ terus terjalin secara rahasia. Komunikasi rahasia ini membawa pada kesepakatan menentukan waktu dan tempat pertemuan, untuk meletakkan fondasi kesepakatan terpenting dalam sejarah Islam.

Ibnu Ishâq meriwayatkan kisah pertemuan ini dari Ka’ab bin Mâlik, ia menceritakan,

Kemudian kami berangkat menunaikan ibadah haji, dan kami telah sepakat dengan Rasulullah ﷺ (untuk bertemu) di ‘Aqabah pada pertengahan hari Tasyrîq. Ketika usai melaksanakan ibadah haji dan berlalu sepertiga malam, kami keluar dengan jalan kaki menuju tempat perjanjian. Kami keluar mengendap-endap seperti kucing.

Sampai akhirnya kami berkumpul di Syi’b, yaitu celah antara dua bukit di dekat ‘Aqabah. Kami berjumlah 73 lelaki dan dua wanita yaitu Nusaibah binti Ka’ab atau Ummu ‘Ammârah dan Asmâ` binti ‘Amr bin ‘Adiy, yaitu Ummu Manî’.

Kami berkumpul di tempat itu menunggu Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ datang bersama pamannya ‘Abbas bin ‘Abdil-Muththalib. Kala itu ‘Abbas belum masuk Islam. Ketika beliau ﷺ sudah duduk, yang pertama kali berbicara ialah pamannya, ‘Abbas.

Dia berkata,”Wahai, kaum Khazraj –saat itu orang Arab menamakan orang-orang Anshar ini dengan nama Khazraj, baik yang benar-benar berasal dari Kabilah Khazraj maupun yang dari Kabilah Aus– sesungguhnya Muhammad memiliki kedudukan di sisi kami sebagaimana yang sudah kalian ketahui. Kami telah melindunginya dari kaum kami yang satu keyakinan dengan kami tentang dia. Jadi, Muhammad berada dalam penjagaan dan perlindungan kaumnya di daerahnya. Namun dia lebih memilih bergabung dengan kalian. Jika kalian merasa sanggup memenuhi apa yang kalian janjikan untuknya dan sanggup melindunginya dari orang yang menentangnya, maka terserah kalian. Karena dia (sebenarnya) berada dalam penjagaan dan perlindungan kaumnya di daerahnya.”

Baca juga:  Kualitas Seorang Negarawan dalam Perspektif Islam

Ka’ab berkata, “Lalu kami menyahut, “Kami sudah mendengar ucapanmu. Sekarang berbicaralah, wahai Rasulullah. Pilihlah untukmu dan Rabbmu apa yang engkau inginkan!

Rasulullah ﷺ membacakan Al-Qur’an, menyerukan Islam dan memberikan motivasi dalam berislam. Kemudian beliau ﷺ berkata, “Aku baiat kalian, supaya kalian menjagaku dari segala hal, yang kalian hindarkan dari istri-istri dan anak-anak kalian!.”

Serta merta al-Barrâ` bin Ma`rûr ra. memegang tangan Rasul ﷺ sembari berkata, “Demi Zat yang telah mengutus dengan al-Haq, sungguh kami akan menjagamu dari segala hal yang kami tolak dari kaum, wanita kami. Baiatlah kami, wahai Rasulullah! Demi Allah kami adalah kaum yang memiliki kemampuan bertempur dan saling bahu-membahu, kami telah mewarisi sifat ini dari pembesar-pembesar kami.”

Perkataan al-Barrâ` ini dipotong Abul-Haitsâm, dia berkata, “Wahai Rasulullah, antara kami dan mereka (kaum Yahudi) pernah terjalin hubungan dan kami telah memutusnya. Jika kami telah melakukan itu lalu Allah memenangkanmu, apakah engkau akan kembali ke kaummu dan membiarkan kami?

Mendengar pertanyaan ini, Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda, “Darah dibalas darah, kehancuran dibalas kehancuran. Aku bagian dari kalian, dan kalian bagian dariku. Aku akan memerangi orang-orang yang kalian perangi dan membiarkan orang-orang yang kalian biarkan.”

Baca juga:  [Sirah Nabawiyah] Memperkuat Pengaruh Negara Islam Madinah

Orang-orang Madinah itu pun sangat bersemangat untuk memberikan baiat.

Namun Abbas bin ‘Ubadah segera berdiri dan berkata, “Wahai kaum Khazraj apakah kalian menyadari makna membaiat laki-laki ini? Sesungguhnya kalian membaiatnya untuk memerangi manusia baik yang berkulit putih maupun hitam. Jika kalian menyaksikan harta benda kalian habis diterjang musibah dan tokoh-tokoh kalian mati terbunuh, apakah kalian akan menelantarkannya? Maka mulai sekarang demi Allah, jika kalian melakukannya, itu adalah kehinaan dunia dan akhirat. Namun, jika kalian melihat bahwa diri kalian akan memenuhinya dengan segala hal yang telah kalian janjikan kepadanya, walau harus kehilangan harta dan terbunuhnya para pemuka, maka ambillah dia, dan demi Allah hal itu merupakan kebaikan dunia dan akhirat.”

Kaum Khazraj pun menjawab, “Sesungguhnya kami akan mengambilnya meski dengan risiko musnahnya harta benda dan terbunuhnya para pemuka.” Kemudian mereka berkata , “Wahai Rasulullah, apa bagian kami bila kami memenuhi hal itu?” Rasul menjawab dengan tenang, “Surga.”

Akhirnya mereka pun berbaiat kepada Rasulullah ﷺ dengan kata-kata, “Kami membaiat Rasulullah ﷺ untuk mendengar dan menaati dalam keadaan sukar, mudah, senang, benci maupun musibah tengah menimpa kami. Kami tidak akan merampas kekuasaan dari pemiliknya serta akan mengucapkan kebenaran di mana pun kami berada. Kami juga tidak akan takut di jalan Allah terhadap celaan orang-orang yang suka mencela.”

Baca juga:  Adakah Model Baku Negara Khilafah?

Tatkala mereka selesai, Rasulullah ﷺ berkata, ”Ajukanlah kepadaku dari kalian 12 orang wakil yang akan bertanggung jawab terhadap kaumnya dalam segala urusan mereka.” Mereka memilih sembilan orang dari Khazraj dan tiga orang dari Aus.

Setelah itu mereka kembali ke perkemahan mereka, mengemasi barang-barangnya lalu pulang ke Madinah.

Dengan baiat ini, cahaya mulai tampak memancar menyinari atmosfer dakwah. Menambah jelas arah dakwah politik Rasulullah ﷺ. Semakin menegaskan tujuan Rasulullah ﷺ hijrah dari Makkah ke Madinah bukan untuk menyelamatkan diri dari penyiksaan dan penghinaan.

Tujuannya adalah mendirikan masyarakat baru di Madinah. Masyarakat yang tegak di bawah kontrol dan kendali Rasulullah ﷺ. Masyarakat yang menerapkan sistem yang berasal dari Allah SWT. Itulah dia Negara Islam Madinah. Wallahu a’lam bishshawab. [MNews/Gz]


Sumber:

Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw/ Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji/Al AzharPress

Penjelasan Kitab Daulah Islam/Abu Fuad/Pustaka Thariqul Izzah

2 thoughts on “Baiat Aqabah Kedua: Batu Pijakan Tegaknya Negara Islam

  • 14 Desember 2020 pada 13:14
    Permalink

    Semoga Daulah Islam akan tegak kembali.. Allohu Akbar…!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *