Revolusi Pemikiran Mendobrak Kezaliman Rezim Demokrasi

Oleh: Rindyanti Septiana, S.H.I.

MuslimahNews.com, OPINI – HRS merupakan simbol kerinduan umat atas keadilan, disampaikan Sekum FPI Munarman dalam acara “Fokus: Kedatangan HRS, ke Mana Arah Perjuangan Umat?” di kanal YouTube Fokus Khilafah Channel, (15/11/2020).

Sementara Ujang Komaruddin, pengamat politik dari Universitas Al Azhar menilai IBHRS ialah simbol perlawanan rakyat terhadap pemerintah. Sebab kepercayaan rakyat terhadap pemerintah saat ini rendah. (gelora.co,13/11/2020).

Kedatangan HRS seolah menjadi pengobat bagi umat di tengah ketidakbecusan pengurusan atas rakyat di negeri ini. Wajar jika sambutan yang diberikan umat Islam Indonesia begitu besar.

Publik pun bisa melihat dan menilai kinerja pemerintah yang hingga saat ini tak satu pun menyejahterakan rakyat. Keadilan dan keamanan masih jauh dari harapan. Inilah yang menyebabkan rakyat merasa terzalimi.

Kezaliman rezim demokrasi pada rakyatnya tampak jelas dari abainya penguasa mengurusi rakyatnya, apalagi di masa pandemi, rakyat pontang-panting mencari solusi atas segala kesulitan yang dihadapi. Hak-hak rakyat seperti sandang, papan, pangan, pendidikan, kesehatan, keamanan tidak terpenuhi. Juga merampas hak-hak rakyat dan menyerahkannya pada asing.

Belum lagi dalam penerapan hukum yang tidak adil dan tebang pilih. Seperti mengkriminalisasi ulama tapi membebaskan para koruptor dan narapidana kriminal. Membubarkan organisasi dakwah serta memenjarakan para aktivis Islam. Apalagi rezim demokrasi berupaya dengan segala cara melakukan fitnah keji pada ulama.

Bukankah ini kezaliman rezim yang kasat mata?

Kerinduan Umat Tak Terbendung

Mayoritas umat Islam di Indonesia mengharapkan sosok ulama yang hanya takut kepada Allah, tidak pernah takut kepada selain-Nya walaupun kepada seorang penguasa dunia. Ulama yang diharapkan senantiasa berada di posisi terdepan menentang segala bentuk kezaliman yang dilakukan penguasa.

Sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di kalangan hamba-hambanya hanyalah para ulama.” (QS Fathir [35]: 28).

Ayat ini secara kasat mata menyebutkan yang menjadikan ulama begitu istimewa dibandingkan dengan hamba-hamba Allah yang lain adalah rasa takut mereka kepada-Nya. Karena itulah, Nabi Saw. menyebut ulama sebagai pewaris para Nabi. (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Seperti keberanian Abu Muslim al Khaulani yang berdiri dan berkata tidak mau mendengar dan menaati Khalifah Muawiyah. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab, “Karena engkau telah berani memutuskan bantuan kepada kaum Muslim. Padahal harta itu bukan hasil keringatmu dan bukan harta ayah-ibumu.”

Mendengar itu Khalifah sangat marah, lalu turun dari mimbar dan pergi. Kemudian kembali dan membenarkan apa yang dikatakan Abu Muslim serta mempersilakan siapa saja yang merasa dirugikan boleh mengambil bantuan dari baitulmal. (Al-Badri, Al-Islam bayna al-Ulama wa al-Hukkam, hlm.101)

Ulama seperti inilah yang dirindukan umat. Yakni ulama yang tidak diam, tidak menyetujui dan tidak mendukung kezaliman serta siapa pun yang berbuat zalim. Di saat yang sama, bersama umat mereka siap berjuang mewujudkan kepemimpinan Islam, bukan melanggengkan kepemimpinan demokrasi dan mencampakkan syariat Islam.

Demokrasilah Sumber Kezaliman, Bukan Sekadar Orang

Ada yang harus dipahami, bahwa sumber segala kezaliman yang terjadi di negeri ini adalah penerapan sistem demokrasi. Karena sistem inilah yang telah melahirkan berbagai kebijakan zalim, bahkan melanggengkan kezaliman tetap terjadi.

Maka kita pun bisa melihat, selama masa kepemimpinan rezim demokrasi terus tegak, utang kian menggunung, BUMN dijual kepada asing dan aseng, hak rakyat atas kepemilikan umum seperti tambang emas, minyak dan gas alam dirampas bahkan dijual kepada pihak asing.

Padahal semuanya adalah harta milik rakyat yang diamanahi kepada penguasa agar dikelola dengan baik. Wajar jika angka kemiskinan semakin meningkat dan angka pengangguran terus bertambah, padahal Indonesia adalah negara kaya sumber daya alam.

Di luar itu, kriminalitas berbagai kemaksiatan tak bisa dicegah. Narkoba, pergaulan bebas dan perilaku menyimpang merajalela, pembunuhan pun bukan hal yang langka. Bahkan yang lebih mengerikan kriminalisasi ajaran Islam, ulama dan organisasi dakwah kerap terjadi.

Inilah sederet kezaliman rezim demokrasi. Sementara syariat menempatkan kezaliman sebagai dosa besar.

Firman Allah SWT, “Sesungguhnya dosa besar itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.” (Q.S asy-Syura: 42).

Karenanya semestinya umat tidak diam dengan kezaliman rezim demokrasi, karena dampaknya jauh lebih besar ketimbang kezaliman yang dilakukan seorang individu. Bahkan umat harus mencegah kezaliman mereka, karena hal ini termasuk kemungkaran yang nyata.

Mencegah atau menghilangkannya pun harus dengan kemampuan maksimal (aqsha al-isthitha’ah). Sebagaimana sabda Nabi Saw, “Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR Muslim).

Sistem dan Pemimpin Adil Hanya dalam Khilafah

Umat harus menyadari, bahwa berharap sistem demokrasi mampu melahirkan pemimpin yang adil adalah sebuah mimpi. Sistem ini justru hanya akan melahirkan pemimpin yang fasik dan zalim sebagaimana terjadi hari ini.

Mengapa demikian?

Karena demokrasi memang tidak mensyaratkan pemimpinnya untuk memerintah dengan hukum Allah SWT. Sementara, saat pemimpin tidak memerintah dan berhukum dengan hukum Allah jelas ia telah berlaku zalim, Allah SWT berfirman, “Siapa saja yang tidak memerintah dengan wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah pelaku kezaliman.” (QS. Al-Maidah [5]:5).

Berbeda dengan demokrasi, pemimpin dalam Islam tidak akan pernah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan memerintah dengan hukum Allah Zat Yang Maha Adil dan syariat-Nya dipastikan akan mewujudkan keadilan.

Mereka pun benar-benar memahami bahwa kekuasaan ialah amanah, bahkan salah satu amanah yang penting dan haram untuk dikhianati. Sehingga mereka akan memerintah dan menjaga umat dengan penuh rasa takut dan sungguh-sungguh.

Maka satu hal yang juga bisa kita temukan dalam kepemimpinan Islam adalah penguasa (khalifah) membuka ruang kepada ulama dan umat untuk melakukan fungsi muhasabah, mengawasi dan mengontrol mereka bahkan sampai dibolehkan mengangkat senjata untuk menghilangkan kezaliman jika penguasa menampakkan kekufuran yang nyata.

Semuanya itu merupakan jaminan untuk memastikan tegaknya sistem Islam dengan benar, murni dan konsekuen di tengah-tengah masyarakat. Demi menegakkan keadilan dan hilangnya kezaliman. Dan demi menjaga kekuasaan ada dalam jalan yang Allah tetapkan.

Tak heran jika begitu banyak sosok para pemimpin yang amanah dan adil lahir dari sistem Islam. Seperti Khulafaur Rasyidin yang dikenal kearifan, keberanian dan ketegasan mereka membela Islam dan kaum Muslim.

Mereka negarawan ulung yang sangat dicintai rakyat dan ditakuti lawan-lawannya. Karena memiliki akhlak yang agung dan luhur. Seperti Khalifah Umar bin al-Khaththab yang terkenal sebagai penguasa tegas dan sangat disiplin, tidak segan-segan merampas harta para pejabatnya yang ditengarai berasal dari jalan tidak benar.

Wujudkan Revolusi Pemikiran

Untuk mewujudkan kepemimpinan Islam dibutuhkan revolusi pemikiran yang disandarkan pada Islam. Dimulai dari berpikir tentang akar krisis yang sedang dihadapi masyarakat, menghadirkan ide yang hendak dijadikan asas perubahan masyarakat, serta metode perubahan yang akan ditempuh untuk merealisasikan tujuan.

Siapa pun yang akan melakukan perubahan dituntut untuk memahami Islam sebagai sebuah ideologi, yakni pemikiran yang menyeluruh mengenai alam, manusia dan kehidupan. Termasuk pula realitas sebelum dan setelah kehidupan atau Allah dan Hari Kiamat, serta hubungan alam, manusia, kehidupan dengan Allah dan Hari Kiamat yang dihubungkan dengan syariat juga hisab.

Di dalam pemikiran tersebut juga terkandung ide dan metode, bagaimana konsep tersebut diimplementasikan, dipertahankan, disebarluaskan. Di samping itu, ideologi juga menjelaskan metodenya, yaitu bagaimana ideologi Islam disampaikan ke tengah-tengah masyarakat. Lalu dijadikan sebagai asas untuk membangkitkan umat serta membangun negara adidaya yang menerapkan Islam dalam kehidupan dan mengembannya ke seluruh dunia.

Perlu untuk dipahami juga bahwa siapa pun yang akan melakukan perubahan. Tidak boleh hanya mengemukakan pemikiran Islam saja. Melainkan wajib mengemukakan kebobrokan berbagai pemikiran kufur yang ada di tengah kehidupan umat Islam.

Maka dibutuhkan kajian secara mendalam atas berbagai pemikiran kufur untuk dihancurkan. Di samping mempelajari pemikiran Islam. Hal inilah yang harus diwujudkan untuk melakukan revolusi pemikiran guna melakukan pergantian sistem. Dari sistem demokrasi menuju sistem Islam.

Revolusi Akhlak Hasil dari Pemberlakuan Sistem Islam (Khilafah)

Ketika ada seruan terkait revolusi akhlak, maka perlu dipahami, bahwa akhlak adalah bagian dari hukum syara’ yang kedudukannya sejajar dengan hukum syara’ yang lain.

Oleh karena itu setiap muslim memiliki kewajiban untuk terikat dengan akhlak yang benar yakni berlandaskan akidah Islam sebagai konsekuensi keimanan dan mencerminkan ketakwaannya.

Sejatinya semua itu hanya dapat terealisasikan ketika diterapkan sistem Islam (khilafah). Sebab Khilafah akan menjaga dan menerapkan hukum syara’ secara sempurna. Termasuk menjaga umat agar tetap memiliki akhlak mulia serta melindungi ajaran Islam juga umatnya dari penghinaan maupun berbagai bentuk kezaliman.

Kini tegaknya Khilafah hampir tiba, geliat kerinduan umat atas persatuan Islam begitu besar. Perbedaan kelompok Islam dan mazhab bukan penghalang tegaknya Khilafah, justru semakin melengkapi dan mengisi.

Alhasil, jika mayoritas umat sudah memiliki kesadaran yang sama tentang wajibnya mengembalikan Khilafah maka mudah untuk menyatukan langkah perjuangan. Hal ini telah dibuktikan dalam sejarah Islam pada masa lalu.

Ketika semua mazhab dalam Islam sepakat bahwa menegakkan dan menjaga Khilafah hukumnya wajib. Mereka semua bahu-membahu untuk menegakkan dan menjaga Khilafah. Ditambah lagi keberadaan umat Islam yang memiliki akidah yang sama, maka potensi untuk menjadi satu umat dalam satu kepemimpinan Islam bukan perkara yang utopis. [MNews/Gz]

One thought on “Revolusi Pemikiran Mendobrak Kezaliman Rezim Demokrasi

  • 20 November 2020 pada 08:50
    Permalink

    MasyaAlloh demokrasi mmng akar masalahnya,saatnya Islam d jdkn solusi.✊

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *