[Tanya Jawab] Partai Islam dan Jebakan Politik Kursi (Bagian 2/2)

Sambungan dari Tanya-Jawab Bagian 1/2*

Khilafah Tegak, Bagaimana Parpol?

Apakah jika Khilafah tegak nanti partai politik tetap ada? Seperti apa kriteria partai politik yang diberi izin oleh Khilafah? (Utina Mimi, Aceh)

Jawaban Ustazah Qisthi Yetti Handayani:

MuslimahNews.com, TANYA JAWAB – Utina Mimi yang dirahmati Allah SWT. Dalam sistem Khilafah, partai politik adalah fardu kifayah (QS Ali Imran:104).

Partai politik dalam Islam sebagai institusi pemikiran dengan tugas, di antaranya:

(1) Mengedukasi rakyat tentang syariat Islam; hak dan kewajiban rakyat dan penguasa; kewajiban amar makruf nahi mungkar, dan lain-lain.

(2) Melakukan amar makruf nahi mungkar termasuk di dalamnya muhasabah lil hukkam (mengoreksi penguasa) ketika melenceng dari syariat Islam, maupun ketika menerapkan kebijakan publik yang menzalimi rakyat.

(3) Memiliki hak mengangkat Khalifah, namun tak berhak menghentikannya. Mengingat hak menghentikan ada di tangan syariat.

Sehingga tak ada istilah oposisi dalam sistem Khilafah. Karena partai politik yang boleh ada adalah partai politik berasaskan Islam dan yang bisa merealisasikan tugas parpol. Parpol yang menganut sosialis komunis, sekularisme, liberalisme, dan lain-lain, dilarang. Wallahu a’lam. [MNews]


Pemimpin Negeri Islam Mencontoh Biden?

Sudah kita ketahui Joe Biden telah menang dalam pemilihan presiden Amerika dan negara ini pun ikut euforia dengan pencitraan ala Islam. Apakah sebaiknya pemimpin negeri Islam mencontoh ala Biden tersebut? Tapi apakah setelah pemilihan, lalu organisasi atau partai Islam bisa menang dan mendapatkan pemimpin Islami, bisa menjadikan negara berasaskan Islam? (Parmi, Pundong Jogya)

Jawaban Ustazah Qisthi Yetti Handayani:

MuslimahNews.com, TANYA JAWAB – Ibu Parmi yang dirahmati Allah SWT. Islam dengan syariat Islamnya yang kafah sudah memiliki aturan sendiri terkait pemerintahan maupun kepemimpinan dengan sistem Khilafahnya.

Islam sudah memiliki aturan terkait syarat utama pemimpin yang wajib dipenuhi yakni, muslim, laki-laki, merdeka, berakal, balig, adil (menerapkan syariat Islam), dan kafaah (mampu sebagai pemimpin), serta syarat tambahan (afdhaliyah) seperti pemberani, mujtahid, dll.

Islam juga memiliki mekanisme suksesi kepemimpinan yang khas yang berbeda, bahkan bertolak belakang dengan sistem demokrasi yang diterapkan di Amerika. Di mana pesta demokrasi (pemilu) identik dengan bancakan para kapitalis dalam menjaga keserakahan dan ketamakannya hingga menghalalkan segala cara.

Demokrasi adalah alat penjajahan negara besar di negeri muslim untuk melanggengkan jajahannya dan demokrasi tak sedikit pun memberi ruang untuk penerapan syariat Islam kecuali syariat yang menguntungkan mereka seperti dana zakat dan haji. Artinya tak akan tegak syariat Islam yang kafah lahir dari proses demokrasi. Sehingga tak layak kita mencontohnya.

Baca juga:  Ustazah Ratu Erma: Jangan Lelah Membela Islam

Bahkan secara akidah (keimanan) kita haram (terlarang) untuk mengambil/menerapkannya. Wallahu a’lam. [MNews]


Mengarahkan Spirit Umat

Assalamu’alaikum ustazah, bagaimana cara mengarahkan spirit umat Islam dalam hal berpolitik Islam sekarang agar bisa menuju arah yang benar? (Ratu, Balikpapan)

Jawaban Ustazah Qisthi Yetti Handayani:

MuslimahNews.com, TANYA JAWAB – Ukhti Ratu yang dicintai Allah SWT. Cara mengarahkan spirit politik umat Islam ke arah yang benar adalah dengan dakwah, dakwah, dan dakwah!

Yakni dakwah yang fokus untuk melakukan perubahan hakiki sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Saw.

Dakwah menyerukan dan menawarkan syariat Islam kafah dan Khilafah Islam sebagai solusi bagi persoalan umat Islam dan persoalan dunia.

Terus dan terus tanpa putus asa dengan keikhlasan semata, mengikuti metode dakwah Rasulullah Saw. Tetap istikamah berjalan dengan jalan dakwah Rasulullah Saw. dan tak tergiur tawaran semu dari demokrasi, baik kursi kekuasaan/kudeta/people power.

Fokus dengan metode Rasulullah Saw. demi meraih rida Allah SWT hingga Allah SWT menurunkan pertolongan-Nya, sehingga kemenangan Islam dan kaum muslimin benar-benar terwujud dengan tegaknya syariat Islam dan Khilafah.

Dan kemenangan itu sangat dekat jika Allah SWT menghendaki. (QS Al Fath: 27-28). Wallahu a’lam. [MNews]


Terjebak Perjuangan Politik Pragmatis

Apa sebetulnya yang menjadi alasan/latar belakang yang paling mendasar para tokoh Islam, termasuk di negeri ini, yang masih mudah “terjebak” dalam aktivitas perjuangan politik pragmatis? Sedangkan di sisi lain dakwah kebangkitan Islam kafah dan Khilafah juga masif disuarakan. Mengapa tawaran Islam kafah tersebut belum diterima sebagai jalan kebangkitan oleh para tokoh Islam tersebut? Mohon tanggapan dan analisis ustazah narasumber. Jazakillah khayran. (Rahmah, Kotabaru)

Jawaban Ustazah Qisthi Yetti Handayani:

MuslimahNews.com, TANYA JAWAB – Saudariku Rahma, ada beberapa faktor penyebab di antaranya:

Pertama, faktor internal di tubuh kaum muslimin (termasuk tokohnya) dari sisi lemahnya pemahaman Islam terutama tentang Islam politik, yakni gambaran utuh tentang Khilafah sebagai satu satunya institusi politik Islam yang (wajib) dicontohkan Rasulullah Saw. dan ketiadaan Khilafah menjadi persoalan utama umat Islam (qadhiyah masiriyah) yang wajib diperjuangkan.

Hal ini akibat pengaruh pemikiran sekularisme (fasludiin ‘anil hayah) pemisahan agama dari kehidupan yang selanjutnya pemisahan agama dari negara/politik. Sehingga gambaran politik Islam kabur (samar) tercampur dengan pemikiran sekuler.

Umat Islam (termasuk tokohnya) dominan dipengaruhi metode berpikir “jalan tengah/manfaat” dibandingkan “metode ijtihad”. Bahkan istilahnya ijtihad namun hakikatnya jalan tengah.

Baca juga:  Korporatokrasi yang Bermasalah, Kenapa yang Diusir Pendukung Khilafah?

Selanjutnya ketika menyikapi berbagai persoalan, dihukumi dengan mengedepankan kemanfaatan dibandingkan pertimbangan halal/haram.

Kedua, faktor eksternal yang masif menyerang pemikiran dan tsaqafah umat Islam, di antaranya pemikiran tentang nasionalisme, menjadikan ruang berpikir umat jadi sempit dan hanya fokus di wilayahnya saja, seolah masing-masing negeri terpisah.

Selanjutnya umat Islam lemah dalam mengaitkan persoalan umat muslim negeri satu dengan negeri yang lain. Padahal kaum muslimin adalah satu kesatuan universal (internasional).

Ini memudahkan penjajah kafir memetakan politik suatu negeri hingga menyiapkan pemimpin yang pro penjajah pun disiapkan mereka.

Ketiga, negara adidaya pengusung demokrasi menjaga kekuasaan dengan cara menghabisi umat Islam yang menginginkan syariat Islam yang kafah atas nama memerangi teroris, dengan program Global War on Terrorism (GWOT ), sekarang atas nama melawan radikalisme, memunculkan rasa takut/khawatir pada umat Islam itu sendiri. Sehingga framing ini memengaruhi arah perjuangan umat Islam.

Maka dari itu, mengikuti metode dakwah Rasulullah Saw. yakni melakukan edukasi (tasqif/pembinaan), baik dalam rangka kaderisasi maupun menyiapkan kesadaran umat tentang syariat kafah dan Khilafah, menjadi urgen.

Karena dengan clear-nya pemahaman pada tokoh dan umat, akan menjadi energi besar dan kokoh tak mudah berpecah belah karena kepentingan individu ataupun partai. Wallahu a’lam. [MNews]

Dipilih tetapi Ternyata Tidak Amanah

Fenomena pemilu di Indonesia tidak kalah menyedihkan, umat diajak memilih yang baik di antara yang buruk. Apa pula hukumnya bagi pemilih yang berharap pilihannya akan amanah tapi ternyata tidak? Apakah dia ikut mendapat dosa atas pilihannya? Jazakillah khairan atas jawabannya. (Nunik, Magetan)

Jawaban Ustazah Qisthi Yetti Handayani:

MuslimahNews.com, TANYA JAWAB – Ukhti Nunik yang dirahmati Allah SWT. Berarti pemimpin yang dipilih adalah seorang pendusta (dalam hadis dinyatakan sebagai ciri orang munafik).

Sementara Al-Qur’an dan Hadis telah menegaskan bahwa pemimpin dalam sistem Islam hendaknya memiliki sifat Shiddiq (jujur), amanah, tablig, dan fatanah (cerdas/cakap).

Empat sifat ini hanya akan terwujud dalam sistem Islam. Sebab, demokrasi hanya melahirkan pemimpin pendusta dan zalim.

Kondisi seperti ini sudah digambarkan Rasulullah Saw. dalam sabdanya, “Dan di antara kami ada bantal dari kulit. Baginda lalu bersabda, ‘Sesungguhnya akan ada setelahku para pemimpin yang berdusta dan zalim. Barang siapa mendatangi mereka kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka dalam kezalimannya, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya. Serta ia tidak akan minum dari telagaku. Dan barang siapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu mereka dalam kebenaran kezaliman, maka ia adalah dari golonganku dan aku adalah dari golongannya. Dan kelak ia akan minum dari telagaku.’.” (HR Ahmad No: 17424).

Baca juga:  Menebar Isu Islamofobia Lewat Partai Baru

Bagaimana jika kita menemui masa di mana ada pemimpin pendusta dan zalim di tengah-tengah kita? Rasulullah Saw. dalam hal ini telah membagi dua kelompok manusia.

Maka, teruslah berjuang menegakkan sistem Islam yang akan melahirkan para pemimpin yang baik-baik, (seperti) Rasulullah Saw. dan Sahabat (para Khalifah).

Ketika merasa dihadapkan pada seolah-olah memiliki yang terbaik dari pilihan yang buruk, tetap tidak bisa jadi alasan, karena akan menjadi bagian kelompok yang mendukung pemimpin dusta.

Sesungguhnya ada pilihan yang benar-benar baik, yakni sistem syariat dan Khilafah, namun ini belum jadi pilihan umat. Harusnya mukmin hanya percaya kepada Islam secara mutlak dan tidak bergeser sedikit pun untuk mencari jalan lain, selain jalan Islam.

Bahkan sebenarnya MUI sendiri pada 2015 telah mengeluarkan fatwa haram pilih pemimpin pendusta. Maka, teruslah berjuang menegakkan Islam, maka akan mendapat pertolongan Allah, juga akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam. [MNews]


“Berhasil Ditipu” Demokrasi

Bagaimana dengan banyaknya kaum muslimin di Indonesia dan AS yang masih “berhasil ditipu” dengan janji-janji demokrasi, bagaimana memperbaikinya? Jazakillah. (Ummu Qosam, Banjarbaru)

Jawaban Ustazah Qisthi Yetti Handayani:

MuslimahNews.com, TANYA JAWAB – Ummu Qosam yang dirahmati Allah SWT, untuk memperbaiki kondisi perpolitikan kaum muslimin hari ini, hanya ada satu pilihan yakni meneladani Rasulullah Saw.

Ketika mengubah kondisi masyarakat jahiliah menjadi masyarakat Islam di bawah naungan Negara Islam Madinah, Rasulullah mulai dengan membina umat (tatqif) tentang politik Islam (syariat dan Khilafah) secara terus menerus hingga pemikiran Islam politik ini menghunjam di pikiran dan hati umat.

Artinya, umat hanya mau diatur dengan syariat Islam saja dan dipimpin seorang Khalifah dalam naungan Khilafah Islam.

Juga memenangkan opini umum bahwa syariat dan Khilafah adalah ajaran Islam dari Sang Pencipta yang mampu menyelesaikan segala problematik kehidupan, sehingga syariat dan Khilafah adalah tawaran satu-satunya solusi di era ini.

Selanjutnya membongkar kejahatan dan kezaliman dari persekongkolan penjajah kafir dengan para penguasa dalam menghalangi tegaknya syariat dan Khilafah Islam. Insya Allah dengan izin Allah SWT, kemenangan Islam terwujud. Aamiin. [MNews]


*Tanya Jawab ini adalah tanya jawab pada Diskusi WhatsApp Group Muslimah News ID pada Ahad, 15/11/2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *