[Tanya Jawab] Partai Islam dan Jebakan Politik Kursi (Bagian 1/2)

Terjebak Demokrasi

Assalamu’alaikum warohmatullahi wa barokatuh. Umat benar-benar telah terjebak dengan demokrasi. Hampir seabad Khilafah terakhir runtuh, tapi proses cuci otak yang dilakukan penjajah sudah menancap di bawah sadar kaum muslimin. Sehingga orang yang kita panggil ulama pun tidak bisa mengelak dari rayuan demokrasi.

Saya merasa sebagian besar ulama/ustaz terkesan “malu-malu” menyerukan bersatu dalam Khilafah Islam adalah wajib, walaupun semua sepakat “Islam solusi untuk semua permasalahan”.

Kebanyakan berpendapat yang penting dakwah akidah, meluruskan pandangan sesat tentang sifat Allah. Yang penting hidup bebas riba, nanti Khilafah adalah “hadiah” dari Allah. Apalagi menjelang Pilkada begini, semua bakal calon memakai peci dan sorban serta berkerudung dengan jargon-jargon terdengar Islami.

Apakah tidak ikut pemilu adalah solusi? Karena sebenarnya hati ini sudah tidak percaya dengan semua calon. Tapi, ada ustaz yang menyarankan tetap harus memilih yang paling minimal mudaratnya di antara calon yang ada. (Pitri, Mataram)

Jawaban Ustazah Qisthi Yetti Handayani:

MuslimahNews.com, TANYA JAWAB – Wa’alaykumsalam, saudari Pitri di Mataram. Menanggapi pertanyaan saudari, pertama yang harus dipahami adalah tentang politik dalam Islam adalah mengatur urusan umat baik urusan dalam negeri maupun luar negeri sesuai dengan syariat Islam.

Maka, sebuah kewajiban bagi partai politik Islam melanjutkan kehidupan Islam dengan cara menerapkan syariat Islam secara kafah menjadi cita cita dan tujuannya.

Kedua, berpolitik dalam Islam tak sekadar memilih pemimpin (nasbul imamah). Namun ada hal penting bagi umat Islam untuk memahami imam seperti apa yang harus diangkat/dipilih.

Terkait hal ini, saya perlu jelaskan terlebih dahulu makna imam. “Imam terbesar (al-Imam al-A’dham) yang memimpin rakyat, dan Ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyatnya”. (HR Al-Bukhari)

Imamah dalam pembicaraan ulama muktabar bukan sembarang kepemimpinan namun yang mereka maksudkan adalah kepemimpinan umum untuk seluruh kaum muslimin di dunia. Artinya, gelar imam dan lembaga imamah tidak digunakan kecuali dalam konteks pemerintahan yang tertinggi ini.

Tidak sembarang pemerintahan layak disebut imamah dan tidak semua pemimpin negara relevan dengan konsep imam yang dibicarakan para ulama. Hanya pemerintahan yang menerapkan syariat Islam saja yang disebut sebagai imamah dan pemimpin negara yang menerapkan syariat Islam saja yang diberi gelar imam.

Konsep tersebut tergambar dalam definisi yang dikemukakan Al-Iji, imamah adalah “pengganti kedudukan Rasul Saw. (khilafatur Rasul) dalam hal menegakkan agama, sehingga wajib bagi seluruh umat (kaaffatul ummah) untuk menaatinya.” (An Nasafi, Bahrul kalam, Damaskus: Maktabah Dar al-Farfur, 2000.)

Kata kaaffatul ummah menunjukkan yang dimaksud dengan imamah tersebut adalah kepemimpinan bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia. Artinya imamah adalah Khilafah.

Baca juga:  Jebakan-jebakan Demokrasi bagi Partai-partai Islam

Imam Al-hafidz Ibn Jarir Ath-thabari berkata, “Sulthanul a’dzam (penguasa yang agung) disebut Khalifah, karena dia menggantikan yang sebelumnya. Dia menempati posisi (yang sebelumnya) dalam memegang pemerintahan. Maka dia itu baginya adalah pengganti. Juga dikatakan: dia menggantikan Khalifah, dia menggantikannya sebagai Khilafah dan Khalifah.” (Imam Al-hafidz Ibnu Jarir Ath-thabari, Jami’ul Bayan fii Ta’wilil Qur’an, juz I hal 199).

Tentang imamah, Imam Al-Mawardi Asy-syafi’i menyatakan, “Imamah itu objeknya adalah Khilafah nubuwwah dalam menjaga agama serta politik yang sifatnya duniawi.” (Imam Al-Mawardi, Ali bin Muhammad, Al-ahkam As-sulthaniyyah, hal 5).

Artinya, yang seharusnya menjadi fokus umat Islam adalah mengangkat Khalifah dengan cara menempuh metode Rasulullah Saw. bukan sekadar ikut pemilu (pesta demokrasi) yang terbukti rusak dan merusak. Wallahu a’lam. [MNews]


Percaya Janji Manis?

Mengapa muslim di Amerika masih percaya dengan janji-janji manis Biden. Bukankah sistem pemerintahannya masih demokrasi kapitalis dan sekuler? Bukankah seharusnya mereka belajar dari kegagalan selama ini? Mohon jawabannya ya Ustazah. (Erlina, Medan)

Jawaban Ustazah Qisthi Yetti Handayani:

MuslimahNews.com, TANYA JAWAB – Saudari Erlina di Medan yang dirahmati Allah SWT. Ada dua sorotan yang bisa saya ungkapkan: (1) AS adalah negara kampiumnya demokrasi yang dikendalikan oleh para kapitalis. Demokrasi adalah nilai yang dijadikan kapitalisme untuk mempertahankan kekuasaan dan penjajahannya.

Maka, prinsip yang ditanamkan pada rakyatnya adalah nilai demokrasi dan rakyat pun tertanam untuk mempertahankan bahkan memperjuangkan demokrasi termasuk rakyatnya yang muslim (1,1 persen).

Pandemi Virus Corona Covid-19 telah merenggut lebih dari 230.000 nyawa, juga mengubah kehidupan dan politik Amerika pada 2020. Ditambah persoalan sosial, islamofobia yang merebak di AS, serta gaya Trump yang arogan, menyebabkan rakyat menilai kepemimpinan Trump gagal sehingga opini terkuat rakyat AS: “Presiden AS boleh siapa saja yang penting bukan Trump” inilah yang menguat.

Sehingga, Biden menang meskipun banyak juga kelemahan dan kekurangannya. Bahkan, menurut analisis The Economic, ekonomi AS di tangan Biden tidak akan banyak mengalami perubahan.

(2) Opini Islam sebagai ideologi (way of life) yang mampu menggantikan sistem demokrasi kapitalisme dalam mengatur dunia belum menguat di AS, sehingga rakyat tak punya pilihan lain selain tetap bertahan dengan sistem demokrasi kapitalisme yang rusak dan merusak.

Pelajaran yang bisa kita petik, urgennya kita umat Islam untuk menawarkan Islam sebagai konsep yang sempurna (Islam sebagai sebuah ideologi) dalam naungan Khilafah, untuk mengatur kehidupan ini yang akan mewujudkan rahmatan lil ‘alamiin. [MNews]

Baca juga:  Beneficial Owner: The Untouchable Men Pengendali Negeri

Cara (Sistem) Islam Tegak Kembali

Ustazah, saya masih belum paham, saat ini kan banyak negara menganut sistem kapitalisme-demokrasi, lalu bagaimana caranya sistem Islam-Khilafah tegak kembali? Apa dengan perang/kudeta atau bagaimana Ustazah? (Tris, Klaten)

Jawaban Ustazah Qisthi Yetti Handayani:

MuslimahNews.com, TANYA JAWAB – Tris yang saya cintai karena Allah SWT. Pertama kita harus menerima dengan keimanan kita bahwa Khilafah adalah sistem terbaik dari Allah SWT.

Khilafah adalah ajaran Islam yang dijanjikan Allah SWT dan bisyarah (kabar gembira) dari Rasulullah Saw. atas pergiliran kekuasaan di dunia ini. Khilafah adalah satu satunya solusi bagi dunia bil khusus umat Islam atas segala persoalan yang menimpa umat Islam.

Kedua, dalam menyongsong janji Allah SWT tersebut, Rasulullah Saw. telah memberikan teladan (teladan terbaik: Rasulullah Saw. (QS. Al Ahzab:21) dalam melakukan perubahan menuju Negara Islam Madinah, yakni melalui metode umat yang dilakukan secara berjamaah (berpartai politik).

Ada tiga tahapan yang ditempuh oleh Rasulullah Saw.

(1) Pengaderan dan pembinaan, yakni mencetak kader yang akan menjadi pejuangnya.

Integritas/kepribadiannya di gembleng menjadi pribadi muslim sejati, kokoh memegang teguh syariat Islam baik dalam perkataan maupun perbuatannya. Tak akan pernah menjadi penjilat apalagi pengkhianat.

(2) Interaksi bersama umat, dengan melakukan pembinaan dan pendidikan kepada umat tentang pentingnya hidup dengan syariat Islam dalam naungan Khilafah.

Sehingga dengan kesadarannya umat menginginkan syariat dan Khilafah. Tak tertipu dengan tipu daya orang-orang kafir dengan sistem demokrasi kapitalisme maupun sosialis komunisnya yang menipu dengan pencitraannya. Umat Islam memiliki jalan/metode sendiri sesuai tuntunan Rasulullah Saw. dan tak terjebak jalannya para penjajah.

(3) Ketika kesadaran ini sudah terakumulasi, maka pengambilalihan kekuasaan dari tangan-tangan penjajah ke pangkuan kaum muslimin terjadi dengan sukarela.

Inilah proses yang terjadi ketika Rasulullah Saw. menegakkan negara Islam Madinah. Rasulullah Saw. tak pernah mencontohkan dengan kudeta/perang. Sebab peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. ketika sudah ada negara Madinah, dengan tujuan menghilangkan hambatan fisik (para penguasa yang tidak mau menerima Islam) ketika menyebarluaskan Islam sebagai rahmatan lil’aalamiin.

Maka, haram menjadikan kudeta/perang sebagai jalan menegakkan Khilafah. [MNews]


Ikut Politik, Pentingkah?

Seberapa penting kita harus ikut politik? (Eka, Bekasi)

Jawaban Ustazah Qisthi Yetti Handayani:

MuslimahNews.com, TANYA JAWAB – Ukhti Eka yang dicintai Allah SWT Terkait dengan pertanyaan Ukhti, seberapa penting kita harus berpolitik, jawabannya sepenting iman kita pada Allah SWT dan Rasulullah Saw.

Baca juga:  Rezim Neolib Berkuasa, Islamofobia Menggejala

Berpolitik dalam arti politik Islam, bukan politik demokrasi. Sebab politik dalam Islam adalah mengurusi urusan kehidupan sesuai dengan syariat Islam baik urusan dalam negeri (ipoleksosbudhankam) mencakup hubungan rakyat dengan negara, rakyat muslim dengan muslim, muslim dengan nonmuslim, maupun politik luar negeri tentang hubungan negara Islam dengan luar negeri dalam rangka penyebarluasan syariat Islam ke seluruh penjuru dunia.

Semuanya diatur dengan syariat Islam. Inilah politik Islam yang dijelaskan oleh Al-Qur’an maupun Hadis.

Sebagai pengingat, Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa bangun di pagi hari tidak memikirkan kondisi kaum muslimin, maka bukan golonganku.” (Al Hadis).

Berpolitik dalam Islam bukan hanya sekadar pesta rakyat (pemilu) sebagaimana politik demokrasi. Oleh karenanya, saatnya bagi kaum muslimin untuk menjalankan politiknya sesuai yang dicontohkan Rasulullah Saw. [MNews]


Keberadaan Partai Masyumi

Apakah keberadaan Partai Masyumi (Reborn, ed.) yang baru dideklarasikan sekarang, murni bertujuan untuk membela kaum muslim dan Syariat Islam sebagaimana pendahulunya atau partai ini justru dijadikan sebagai alat untuk semakin menjauhkan kaum muslim dan partai yang memperjuangkan Syariat dan Khilafah? Jazakumullah khair. (Nur, Ternate)

Jawaban Ustazah Qisthi Yetti Handayani:

MuslimahNews.com, TANYA JAWAB – Ukhti Nur yang dirahmati Allah SWT. Sebagai muslim kita patut apresiasi semangat dari munculnya partai politik Islam tak hanya Partai Masyumi baru, ada juga Partai Ummat dan Partai Gelora yang ingin membela kaum muslimin dan bercita-cita menerapkan syariat Islam.

Ini hal wajar seiring dengan bangkitnya roh perjuangan umat Islam akibat dari kezaliman penguasa pada umat Islam khususnya dan rakyat pada umumnya. Serta kegagalan penguasa yang menerapkan sistem demokrasi kapitalisme/sosialis komunis buatan manusia dalam menyejahterakan rakyat dan memuliakan manusia.

Namun, yang masih harus dievaluasi dan direkomendasikan untuk pendiri/pendeklarasi partai adalah metode/jalan yang ditempuh melalui jalan pesta demokrasi yang rawan dengan perebutan kursi kekuasaan dengan aturan main demokrasi yang jelas-jelas tak memberi ruang bagi penerapan syariat Islam.

Dengan kata lain, demokrasi memberi ruang umat Islam berpolitik namun terlarang menerapkan syariat Islam secara kafah. Sementara proses pembinaan dan pendidikan kepada umat akan rincian dan pendetailan mekanisme syariat Islam dalam menyelesaikan berbagai problem kehidupan masih minim.

Ini seharusnya yang menjadi fokus partai politik Islam. Bukan sekadar mengejar kekuasaan di tahun politik 2024. Wallahu a’lam. [MNews]


Bersambung ke Tanya-Jawab Bagian 2/2*

*Tanya Jawab ini adalah tanya jawab pada Diskusi WhatsApp Group Muslimah News ID pada Ahad, 15/11/2020

One thought on “[Tanya Jawab] Partai Islam dan Jebakan Politik Kursi (Bagian 1/2)

  • 19 November 2020 pada 20:40
    Permalink

    Parpol dalam sistem demokrasi tidak akan lepas dari Jebakan kursi.. Sehingga tak akan pernah dipercaya menjadi jalan bagi kebangkitan umat islam dan tegaknya Khilafah Islam.. Maka harus segera diganti dng sisten pemerintah Khilafah Islam

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *