Islam Berkembang, Islamofobia Meradang

Oleh: Dedeh Wahidah Achmad

MuslimahNews.com, FOKUS – Buntut dari kasus pemenggalan pembunuhan Samuel Paty yang melakukan penghinaan kepada Rasulullah ﷺ, islamofobia merebak di Perancis dan meluas ke Eropa.

Respons yang bernada islamofobia tidak saja ditunjukkan individu, bahkan juga ditampakkan pemimpin sebuah negara seperti Kanselir sayap kanan Austria Sebastian Kurz telah mengumumkan serangkaian tindakan baru yang akan membuat politik Islam sebagai pelanggaran pidana (https://republika.co.id/berita/qjq3ek320/austria-siapkan-undangundang-baru-larang-islam-politik)

Pernyataan Kanselir Austria tersebut diamini Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell yang mengatakan, “Kita harus memerangi terorisme Islam bersama-sama.”

Borrell juga menulis “gelombang terorisme” ini telah menargetkan fondasi masyarakat sekuler dan demokratis yang mayoritas diterapkan negara-negara Eropa. https://republika.co.id/berita/qjdj8k320/uni-eropa-dukung-prancis-lawan-ekstremis-islam-ironis

Sebenarnya apa hakikat islamofobia ? Apa yang merangsang semakin masifnya ketakutan mereka terhadap Islam? Dan bagaimana menghadapi gelombang islamofobia tersebut?

Hakikat Islamofobia

Sebenarnya fakta islamofobia bukan hal baru, sudah tampak sejak masa Rasulullah Saw. Kafir Makkah melakukan berbagai cara untuk menghalang-halangi manusia dari dakwah Islam. Mereka pun melontarkan tuduhan keji terhadap Islam dan Rasulullah ﷺ sendiri.

Sebagaimana dikabarkan Allah SWT dalam firman-Nya,

Demikianlah, tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (TQS: 51:52-53).

Dewasa ini, para penyeru Islam tidak disebut tukang sihir. Ada istilah lain yang disematkan, namun memiliki konotasi sama sebagai ajaran yang buruk dan berbahaya. Maka, muncullah istilah baru seperti Islam agama teroris disebut “ideologi iblis” sebagaimana disebut mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, di hadapan Kongres Partai Buruh.

Islam Berkembang, Islamofobia Meradang

Sebenarnya islamofobia muncul bukan sekadar respons atas beberapa kasus “kekerasan” yang dilakukan sejumlah muslim. Peristiwa-peristiwa tersebut hanyalah momen yang digunakan untuk semakin menyebarkan kebencian terhadap Islam dan penganutnya.

Sebenarnya yang mereka takuti bukan sekadar jumlah umat Islam yang kian membesar, namun ketakutan terhadap kehadiran Islam sebagai pengatur kehidupan.

Hal ini tampak jelas dalam pernyataan Tony Blair ketika dia menyebutkan ciri-ciri “ideologi iblis”, yaitu: ingin mengeliminasi Israel, menjadikan syariat Islam sebagai sumber hukum, menegakkan Khilafah, dan bertentangan dengan nilai-nilai liberal.” (BBC News, 16/7/2005).

Mereka menyadari kebobrokan ideologi yang selama ini mereka jalankan juga kezalimannya akan terbongkar manakala sistem Islam hadir dalam kehidupan.

Hegemoni mereka pada negeri-negeri Islam akan disadari sebagai cengkeraman penjajahan yang layak untuk disingkirkan karena bertentangan dengan aturan Islam yang mengharamkan muslim berada dalam kekuasaan orang kafir.

Allah ‘Azza wa Jalla melarang memberikan jalan apa pun bagi orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman dalam firman-Nya:

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.” (QS Al-Nisâ’ [4]: 141)

Larangan menjadikan orang kafir sebagai penguasa juga terdapat dalam ayat Al-Qur’an berikut,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebagian mereka adalah auliya bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.(QS Al Maidah [5]: 51)

Terkait ayat ini imam Ibnu Katsir mengatakan, “Allah Ta’ala melarang hamba-Nya yang beriman untuk loyal kepada orang Yahudi dan Nasrani. Mereka itu musuh Islam dan sekutu-sekutunya. Semoga Allah memerangi mereka. Lalu Allah mengabarkan bahwa mereka itu adalah auliya terhadap sesamanya.

Kemudian Allah mengancam dan memperingatkan bagi orang mukmin yang melanggar larangan ini,

Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.’.” (Tafsir Ibni Katsir, 3/132).

Kesadaran umat atas kegagalan kapitalisme sekularisme dalam menyelesaikan masalah kehidupan serta berbagai krisis yang dilahirkannya, kian memuncak. Di sisi lain tuntutan perubahan sistemis ke arah penerapan Islam kafah juga terus gencar disuarakan.

Menghadapi kenyataan ini, para pembenci Islam ini semakin meradang dan menampakkan kesungguhannya untuk menghadang kebangkitan Islam dan kembalinya peradaban Islam dalam kehidupan.

Salah satu upaya tersebut adalah dengan menyebarkan opini buruk terkait Khilafah. Khilafah digambarkan sebagai negara yang keji dan tidak mempertimbangkan hak-hak kemanusiaan.

Untuk membenakkan gambaran Khilafah versi mereka maka kemudian muncullah ISIS, sebuah “negara” rekaan yang mengklaim dirinya sebagai Khilafah Islamiyah. Gambaran keji inilah yang terus disuguhkan ke tengah-tengah umat. Parahnya, pengetahuan umat sendiri tentang Khilafah ala minhajinnubuwah sangatlah minim.

Wajar jika kemudian banyak di antara umat Islam yang menolak sistem Khilafah. Seolah-olah Khilafah yang didakwahkan para pejuang yang mukhlis itu akan mengancam keselamatan mereka, akan menghilangkan hak-hak mereka, layaknya ISIS yang menakutkan.

Orang-orang yang termakan opini Islamofobia di negeri ini semangat mendukung UU antiterorisme bahkan semenjak masih RUU sudah didesak untuk segera disahkan dengan alasan eksistensi negara dalam ancaman.

Khilafah Menyebar Rahmat, Memberantas Islamofobia

Islamofobia harus dihentikan. Solusinya tidak cukup hanya dengan memberikan penjelasan bagaimana ajaran Islam yang benar. Umat harus disadarkan, di balik istilah islamofobia sesungguhnya ada rencana jahat untuk menjegal laju perjuangan Islam ideologis.

Sepak terjang mereka untuk menimpakan kemudaratan pada orang beriman sudah dinyatakan Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman Nya,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS Ali Imran[3]: 118).

Imam Al-Qurtubi berkata, “Makna “mereka tidak henti-hentinya menimbulkan mudarat kepada kalian, mereka tidak akan capek dalam upaya merusak kalian”, artinya, meskipun mereka tidak memerangi kalian, akan tetapi mereka akan tetap melakukan makar dan tipu daya.

Dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta’ala menyebut orang yang membuat-buat kedustaan sebagai orang yang hendak memadamkan cahaya Allah,

“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik benci.(QS Ash Shaff [61]: 8).

Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, maksud ayat tersebut adalah mereka berupaya menolak perkara yang hak dengan perkara yang batil. Perumpamaan mereka dalam hal ini sama dengan seseorang yang ingin memadamkan sinar mentari dengan mulutnya.

Selain membongkar skenario jahat orang kafir, umat pun harus disadarkan bahwa penyelesaian islamofobia akan tuntas ketika syariat kafah sudah diterapkan secara praktis oleh negara.

Saat itulah seluruh manusia akan menyaksikan keadilan dan kesejahteraan yang nyata di hadapan mereka. Fitnah dan tuduhan keji terkait Islam dengan sendirinya akan terbantahkan realitas yang disuguhkan daulah Islam.

Rahmat dan kebaikan yang dijanjikan Islam akan tersebar ke seluruh penjuru dunia, bahkan bisa menarik kerinduan siapa pun untuk hidup dalam naungan Khilafah. Fakta demikian pernah tercatat dalam sejarah.

Pengakuan tulus diberikan oleh Nasrani Syam pada 13 H, mereka menulis surat kepada Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah yang isinya:

“Wahai kaum muslim, kalian lebih kami cintai daripada Romawi, mereka seagama dengan kami. Kalian lebih menepati janji kepada kami, lebih lembut kepada kami dan tidak menzalimi kami. Kalian lebih baik dalam mengurusi kami. Romawi hanya ingin mendominasi segala urusan kami dan menguasai rumah-rumah kami.” (Al-Baladzuri, Futûh al-Buldân, 139).

Hanya Khilafah yang mampu menghentikan islamofobia dengan nyata. Kebijakan yang ditetapkan Negara akan memberantas tuntas para penyebar opini buruk tentang Islam. Mereka akan dikenakan sanksi yang tegas jika tidak menghentikan makarnya. Wallaahu A’lam. [MNews/Gz]

One thought on “Islam Berkembang, Islamofobia Meradang

  • 18 November 2020 pada 19:52
    Permalink

    Islamofobia muncul karena umat jauh dari Islam dan segala ajarannya, baik pemikiran, peraturan dan perasaannya. Maka saatnya bersatu, bersama berdakwah mengembalikan umat kepada Islam idiologis.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *