Felix Siauw: Peradaban Sekuler Memiliki Lubang Besar yang Tidak Bisa Diisi

MuslimahNews.com, NASIONAL – Ustaz Felix Siauw, dai muda yang kerap mengisi kajian kawula muda ini mengisahkan, pada 1889 ada seorang pemain sandiwara membuat pementasan berjudul “Muhammad”.

Begitu Abdul Hamid II (Khalifah kala itu) mengetahuinya, Sang Khalifah langsung mengirimkan sebuah pesan ke Prancis yang direspons langsung PM Prancis, yakni berupa penghentian dan pembatalan pertunjukan tersebut.

Ternyata, saat itu bukan hanya Prancis yang berulah, ada negara lain yang berulah sama yakni Inggris. Tatkala mengetahui Prancis membatalkan pementasan, Inggris mencoba membuat pertunjukan yang sama yang juga dibuat orang yang sama bernama Henri de Bornier.

Lagi-lagi, jelang pementasan di Inggris itu, Abdul Hamid II memberi ultimatum yang sama seperti ke Prancis, yang dibalas dengan surat yang cukup keras oleh Inggris. Inggris mengatakan, mereka bukanlah Prancis. Inggris merasa memiliki kebebasan di negerinya, tidak seperti di Prancis.

Akhirnya, Abdul Hamid II menuliskan surat yang diarsipkan di Turki yang menyatakan, “Kalian tahu bahwa leluhur-leluhur kami tidak segan mengorbankan darah mereka untuk membela kehormatan Nabi. Dan itu mengalir dalam darah kami dan kami tidak akan segan-segan memerintahkan seluruh kaum muslimin untuk pergi ke negeri Anda untuk membela kehormatan Nabi, jika kalian tetap keras kepala mementaskan pertunjukan ini.”

Dalam lafaz lain dalam buku Shoffatur Rizalul Marid disebutkan, Abdul Hamid II berkata, “Takutlah kepada telunjuk Khalifah kaum muslimin. Yang satu telunjuknya mampu menggerakkan ratusan ribu orang ke negeri Anda.”

Mendengar hal tersebut, sontak Inggris membatalkan pertunjukan itu.

Baca juga:  Sekularis Anti-Islam Hina Nabi, Negara kok Diam Lagi?

Kejayaan (atau Kemunduran) Eropa?

Selain kisah pementasan di dua negara Barat tersebut, Ustaz Felix juga mengisahkan naskah karya Voltaire pada 1700-an, yang menggagas tentang “separatism of church and state”, pemisahan gereja dan negara akibat adanya pengalaman buruk terhadap agama.

Melalui naskah itu, Voltaire sinis terhadap agama apa pun termasuk Islam. Dia kemudian menulis buku Fanatisme Muhammad yang disebut Ustaz Felix isinya hoaks dan buku itu kemudian di-ban oleh Turki ketika memiliki kekuasaan.

Eropa, Ustaz Felix menjelaskan, mulai memasuki masa jaya ketika Islam juga sedang jaya-jayanya. Para penulis di masa itu mengatakan (era) Renaissance dimulai ketika terjadi penaklukan Konstantinopel, saat pemikiran Islam memasuki benak mereka.

Mereka baru sadar bahwa slogan “a deo rex a rege lex” (Raja oleh Tuhan, Hukum oleh Raja) yang melahirkan feodalisme itu salah. Seharusnya, baik kaum proletar maupun land lord adalah sama.

Selanjutnya para cendekiawan melakukan revolusi melawan land lord dan kaum rohaniwan yang mereka anggap sebagai “backup” land lord. Sampai-sampai ada slogan Renaissance berbunyi “gantung raja yang terakhir dengan usus pendeta yang terakhir” karena dianggap lembaga korup.

Ustaz Felix menjabarkan, mereka (para cendekiawan) kemudian membuat konsep pemisahan (sekularisme) seperti yang digagas Voltaire dan Rousseau, (serta Montesquieu) dengan konsep trias politikanya. Mereka benci terhadap agama karena agama dianggap menindas mereka. Sehingga, saat ada pemisahan antara agama dan negara, secara alamiah mereka tidak suka dengan agama yang muncul.

Baca juga:  [Editorial] Pendidikan Sekuler Sukses Menjadi Mesin Perusak Generasi

“Dan ini tidak hanya di Prancis namun terjadi di negara-negara lain penganut ideologi sekularisme. Terlebih bagi negara yang pernah atau ingin menjadi pemimpin dunia seperti Inggris, Prancis, dan Amerika. Dendam ideologis ini akan tetap ada selama ideologinya sekuler,” jelas Ustaz Felix.

Ia juga membeberkan, ada beberapa kelompok yang mempublikasikan tentang terjadi kecenderungan kaum muslimin membuat persatuan secara global pada tahun 2020. Ada yang merilis tahun 2022 atau 2024.

“Samuel Huntington sendiri dalam Clash of Civilization sudah mewanti-wanti adanya polarisasi dunia, contohnya Uni Eropa, terbentuk seolah karena keperluan global. Maka, polarisasi Islam juga terjadi. Dan ini salah satu yang mereka takutkan,” tegasnya.

Faktanya, jelas Ustaz Felix, saat ini telah terjadi kemunduran peradaban Barat dan banyak yang beralih kepada Islam. Pew Research mempublikasikan dalam The World’s Fastest-Growing Religious Group bahwa agama yang paling cepat pertumbuhannya adalah Islam.

Dikatakan pada 2050 akan terjadi kulminasi demografi, populasi kaum Kristen dan Muslim akan sama. Hanya saja, hakikatnya tidak sama karena nyatanya di Amerika (yang menyatakan dirinya negara Kristen), 75 persennya agnostik. Belum lagi di beberapa negara lain di Eropa yang mulai didominasi muslim.

“Kemunduran peradaban yang terjadi adalah akibat sekularisme memiliki lubang besar yang tidak bisa diisi. Yaitu sisi ruhiyah yang dimiliki manusia, tidak bisa disentuh oleh sekularisme. Sehingga semakin maju peradaban mereka, semakin mundur kejiwaan mereka,” tandasnya.

Baca juga:  Sekularisme Menyuburkan HIV/AIDS, Islam Membasmi Sampai Akarnya

Dendam Ideologis dan Makar Allah Atasnya

Ustaz Felix menyatakan, negara mana pun yang dilandaskan sekularisme pasti punya dendam ideologis, meskipun tidak punya dendam historis atau politis.

“Sampai kapan pun hak dan batil tidak dapat bersatu. Bahkan saat mereka menceritakan tentang Nabi Isa sebagai olok-olokan, bagi mereka tidak masalah. Berbeda dengan Islam. Di dalam Islam, Rasulullah itu lebih besar daripada orang tua. Jika orang tua kita dihina dan kita marah adalah hal wajar, apalagi saat Rasulullah dihina. Maka perhitungannya harus ada,” ujarnya pada Ahad, 8/11/2020.

Ia juga menegaskan alasan berulangnya penghinaan kepada Rasulullah adalah problem ideologis dan sebuah ketakutan munculnya girah Islam.

“Prancis sangat menyadari adanya girah Islam yang muncul di seluruh dunia dan Prancis berusaha memadamkannya. Caranya dengan menunjukkan kaum muslim itu kaum sumbu pendek, temperamental, radikal, dan ekstremis,” ujarnya.

Akan tetapi, lanjutnya, apa yang dilakukan sebenarnya merupakan bagian dari makar Allah untuk menunjukkan kepada kaum muslimin bahwa kemuliaan mereka, Rasul, dan agama mereka akan terjaga ketika ada kekuatan besar yang melindunginya pada saat itu.

“Inilah yang harus menjadi perhatian. Yang harus diintensifkan pada saat ini ketika kecaman, surat, atau apa pun sudah tidak berhasil,” katanya. [MNews/Ruh-Gz]

6 thoughts on “Felix Siauw: Peradaban Sekuler Memiliki Lubang Besar yang Tidak Bisa Diisi

  • 19 November 2020 pada 23:58
    Permalink

    MasyaAllah …pemaparan yang luar biasa

    Balas
  • 19 November 2020 pada 19:41
    Permalink

    Masya Allah..
    Lubang besar yang terus menganga yg akhirnya orang akan jatuh ke dalamnya

    Balas
  • 19 November 2020 pada 19:11
    Permalink

    Islam yang benar dan terbaik

    Balas
    • 20 November 2020 pada 01:45
      Permalink

      MasyaaAllah… Sekularisme tidak akan pernah bisa mengisi lubang besar pada jiwa manusia, yaitu sisi ruhiyah

      Balas
  • 19 November 2020 pada 17:13
    Permalink

    Agama yang paling cpt berkembang adalah Islam, Allahuakbar

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *