Abrasi Winong untuk Diatasi, Bukan Sekadar Diantisipasi

MuslimahNews.com, LENSA DAERAH – Dampak abrasi di Winong Kesugihan, Kabupaten Cilacap mulai dirasakan sejak pembangunan kanal intake dan maintenance dredging yang dilakukan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap berbahan bakar Batubara (PLTU7-B) milik PT Sumber Segara Primadaya (S2P). Bahkan hingga kondisi terakhir sudah 2 rumah tenggelam akibat abrasi sepanjang 200 meter dan mengancam 40 rumah lainnya.

Jarak antara bibir pantai dengan perumahan warga yang dulunya 500 meter, kini tersisa 5 meter hingga 7 meter.

Sangat disayangkan dengan sikap pemerintah Kabupaten Cilacap melalui wakil rakyat di dewan yang menyebutkan hanya mampu melakukan upaya penanggulangan sementara karena dianggap penanganan bencana ini merupakan wewenang Pemerintah Pusat. Sehingga Pemda hanya mampu mengatasi penanganan sementara saja yang hingga kini pun hasilnya belum dirasakan warga.

Padahal bencana bukan hanya masalah penanganan sementara. Butuh kepastian karena menyangkut nyawa manusia. Ancaman sudah di depan mata, antisipasi pun sudah dilakukan secara mandiri oleh warga, dengan menyusun tumpukan materil berisi pasir.

Tapi ancaman abrasi tetap mengintai. Lagi-lagi rakyat harus mengalah dengan keganasan kapitalis dalam mengeruk kekayaan di negeri ini.

Beragam upaya pun sudah diperjuangkan baik melalui audiensi, kerjasama dengan lembaga non pemerintah lainnya bahkan aksi tuntutan pun kerap dilakukan. Tapi seakan semua itu nihil, tanpa hasil. Pergerakan rakyat  seakan menunjukkan bahwa demokrasi yang katanya suara rakyat sangat didengar pada faktanya jauh panggang dari api. Rakyat berteriak pun seakan tak digubris, yang terjadi justru saling lempar tanggung jawab antara satu pihak dengan yang lainya.

Baca juga:  Nestapa Nelayan di Pulau Kodingareng

Inilah realitas dalam negara yang menerapkan sistem kapitalisme. Ada dominasi kaum kapitalis yang jauh lebih kuat dibanding suara rakyat kecil meski berjumlah ribuan. Mekanisme pengaturan wilayah dengan melihat sisi strategis pemetaan wilayah telah membuat pemerintah saling lempar tanggung jawab dalam upaya penyelamatan dan perlindungan warga.

Industri Kapitalis, Biang Masalah

Sistem kapitalisme yang diterapkan di negeri ini telah menjadikan para pemodal sebagai penguasa negeri. Kebijakan neoimperialisme ini jauh dari nilai kemanusiaan. Beragam masalah sosial dan ekonomi akibat masuknya industri kapitalis  selalu menimbulkan problem kompleks.

Kurangnya visi ideologis pemimpin, lemahnya penguasaan visi politik dalam mengelola wilayah telah menjadikan negeri ini sasaran empuk negara asing.

Sekaya apa pun wilayah suatu negeri, jika tak memiliki visi politik yang mandiri, tetap saja akan mudah didikte negara asing.

Menjadikan pengelolaan daerah sebagai penyelamatan warga saja akhirnya tak mampu dilakukan karena terbentur dengan kebijakan pengelolaan investasinya sendiri.

Di sisi lain, karakter politik luar negeri kapitalisme yang bersifat menjajah  dan rakus telah menggandeng pihak oportunis untuk mencari keuntungan dan posisi. Beragam regulasi disetir untuk memuluskan penjarahan kekayaan negeri atas nama investasi.

Pada akhirnya, investasi justru menggiring negeri ini menjadi budak imperialisme kaum berdasi. Kisah abrasi Winong hanyalah sepenggal kisah pilu yang menggambarkan betapa lemahnya pertahanan negara di hadapan para pemilik modal. [MNews/Juan]

Baca juga:  Pelabuhan Kaliadem, Upaya Integratif Pembangunan Pesisir Jakarta

Kontributor: Deu Ghoida


Referensi:

https://suaraindonesianews.com/news/abrasi-mengancam-winong-pemerintah-dan-korporasi-diam-rakyat-bertindak/

Abrasi Makin Parah, Banyak Sampah, Jarak Pantai di Winong Slarang dengan Pemukiman Tinggal 7 Meter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *