Merindukan Partai Islam Ideologis

Oleh: Endiyah Puji Tristanti

MuslimahNews.com, OPINI – Rindu itu kian menggebu. Dorongan kuat untuk memiliki perisai bagi umat dari kriminalisasi dan represifnya rezim anti Islam mendorong “deklarasi” partai-partai Islam. Harapan umat ada di dalamnya. Namun umat masih belum mendapat garansi keberhasilan dari keberadaan partai-partai Islam. Dalam konteks mengupayakan kebaikan hadirnya partai-partai “baru” dengan spirit Islam merupakan optimisme pantang berputus asa dari rahmat-Nya.

Catatan pentingnya, selama partai-partai ini membebaskan diri dari kebijakan politik yang pragmatis berkedok kemaslahatan umat, tentu jalan menuju keberhasilan akan lebih terbuka. Yang jelas trauma umat terhadap gembosnya sejumlah partai berbasis Islam di hadapan tahta dan remah-remah kekuasaan tak gampang terobati. Munculnya partai bersimbol keumatan dan partai dengan nama besar di masa lampau belum cukup mampu menjawab tantangan jaman.

Setidaknya kelemahan partai Islam masa lalu sebab tidak memiliki konsep ideologi Islam yang murni, fikrah dan tsaqofah partai belum memadai, gamang menetapkan satu tujuan penerapan syariah kaffah dalam bingkai Khilafah, dan memilih jalan parlemen.

Parlemen Kanalisasi Aspirasi Umat

Partai Umat, Masyumi, dan partai Islam lain yang mungkin akan lahir menjelang Pilpres 2024 perlu menyiapkan diri untuk menjawab tantangan jaman. Dunia kini berada dalam desain kapitalisme global yang serakah, Penjajahan atas nama investasi dan utang luar negeri berjalan nyaris tanpa bisa dihentikan. Perampokan dan penjarahan harta rakyat dilakukan dengan mekanisme perundang-undangan. Islamophobia terus menggerus politik identitas umat Islam. Kriminalisasi syariah dan Khilafah terjadi di Indonesia sebagaimana terjadi di Barat.

Rezim negara bangsa yang sekuler-pragmatis semakin patuh terhadap arahan rezim kapitalisme global. Dakwah ekstra parlemen sekuat tenaga dikunci mati. Para pengemban dakwah dikurung di balik jeruji besi. Khilafah ajaran Islam semakin dimusuhi. Umat dipojokkan dipaksa membenci ajaran agamanya. Partai-partai Islam terus digerogoti. Tokoh-tokoh Muslim dibeli dengan kursi. Parlemen menjadi ajang kanalisasi suara umat.

Partai Islam perlu menempatkan parlemen sebagai arena dakwah Khilafah, parlemen bukan tujuan bukan pula metode perjuangan. Agar dakwah tidak berhenti merasa kalah selanjutnya terjebak pragmatisme, sekalipun partai Islam hanya menjadi “partai gurem” di mata parlemen. Sebab parlemen dibuat memang bukan untuk memenangkan Islam, parlemen hanya pola baku kanalisasi aspirasi umat dalam sistem absurd demokrasi.

Pun andaikan semua partai berbasis masa Islam melebur menjadi satu. Tanpa menyerukan secara terbuka dakwah Khilafah dan tetap menjadikan parlemen sebagai metode tunggal mewujudkan kekuasaan Islam semata hanya demi mendulang suara, akan sama saja.

Pasalnya pertama, kemenangan partai sekuler selama ini justru berasal dari suara umat Islam yang awam terhadap agamanya. Kedua, naik turunnya perolehan suara partai-partai Islam hanyalah wujud pindah rumah antar partai Islam. Total suara umat yang memilih partai Islam belum bisa mengalahkan total suara umat yang menyumbang kemenangan partai sekuler.

Ketiga, belajar dari “pembatalan” kemenangan FIS (Aljazair), Hamas (Palestina), Muhammad Mursi (Ikhwanul Muslimin) turut menjadi hujah bahwa demokrasi tidak pernah ada untuk memberikan kekuasaan kepada Islam.

Demokrasi hanya memberikan kemenangan sesaat kepada Muslim, untuk digulingkan sesaat sesudahnya. Keempat, keberhasilan Erdogan menjabat Presiden Turki, sampai hari ini tidak ada analisa kuat yang menyatakan Turki di bawah Erdogan ingin merubah Republik Turki menjadi negara Khilafah.

Memenangkan Suara Islam

Pendeklarasian kembali Partai Masyumi mendapatkan respons dari Amien Rais, politikus senior yang baru membentuk Partai Ummat. Amien mengatakan, “Kalau saya misalnya, Masyumi lebih besar, Partai Ummat saya bubarkan untuk Masyumi. Tapi, kalau Partai Ummat lebih besar, please join us,” kata Amien yang hadir langsung di Gedung Dewan Dakwah, Jakarta Pusat, Sabtu (7/11).

Mengingat besarnya suara Masyumi di masa lalu, bisa saja membuka peluang mengulang kemenangan di masa sekarang. Namun fragmentasi umat yang masih sangat menonjol adalah realitas politik era kini yang tak bisa diabaikan. Umat membutuhkan common enemy (musuh bersama) yang disadari dan diakui agar mampu bersatu.

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (TQS as-Shaf: 4)

Menang suara dalam pemilu bukanlah memenangkan Islam atas kekufuran. Menang suara partai Islam hakikatnya kekalahan bagi umat Islam sendiri. Pemilu adalah kontestasi sesama umat Islam dalam cawan demokrasi yang tak bersumber dari Islam.

Kemenangan dalam pemilu demokrasi mutlak kemenangan bagi sekularisme. Artinya, musuh bersama umat sesungguhnya adalah pemikiran dan sistem yang lahir dari sekularisme (pemisahan negara dari politik berasaskan ideologi Islam)

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (TQS al-Ankabut: 41)

Meskipun persatuan kuffar dalam sekulerisme sangat lemah bagai kekuatan sarang laba-laba, namun berhasil mengikat umat Islam agar turut mempertahankan ikatan yang rapuh. Selama umat masih ragu untuk meninggalkan sekulerisme beserta perangkat sistem kehidupannya, masih takut menjatuhkan pilihan dakwah Khilafah secara terbuka, selama itu pula suara umat Islam akan tercerai-berai secara politik.

Satu Langkah Beragam Wadah

Allah SWT berfirman,

”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (TQS Ali Imran: 104)

Para mufasir sepakat bahwa lafaz “min” dalam ayat tersebut bermakna li-[at] tab’id bermakna sebagian. Ayat 104 surat Ali Imran memberikan kewajiban adanya sekelompok umat Islam untuk membentuk partai dakwah ideologis (menyeru kepada Islam, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran). Dan adanya kebolehan (mubah) mendirikan banyak partai Islam ideologis.

Reborn sejumlah partai Islam tak menjadi halangan umat menghadapi common enemy -sistem sekulerisme-liberalisme- asalkan setiap partai yang mengidentifikasi diri sebagai partai Islam menyatukan arah langkah perjuangannya untuk meninggikan ideologi Islam, menerapkan syariah kaffah dalam bingkai Khilafah. Karena memperjuangkan ideologi Islam merupakan amanah Al Qur’an. Dengan kata lain mengusung ideologi Islam di luar arena pertarungan yang telah disiapkan ideologi kapitalisme-sekuler bukan kehinaan, bukan dosa, bukan kemaksiatan.

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (TQS al-Maidah: 55-56)

Garansi kemenangan Islam atas semua ideologi kufur, dan kemenangan umat atas kaum kuffar dan munafik menjadi kepastian bagi partai ideologis (hizbullah). Oleh karena itu, semua partai sudah waktunya memfokuskan aktivitas pada penyadaran umat akan kewajiban berpolitik berasaskan ideologi Islam saja.

Keinginan umat untuk keluar dari lingkaran setan sistem dan rezim anti-Islam butuh segera disambut dengan kejelasan ideologi dan arah perjuangan partai-partai Islam mewujudkan Khilafah untuk syariag kafah. [MNews/G]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *