Melabuhkan Rindu Umat pada Partai Islam Ideologis

Oleh: Retno Sukmaningrum

MuslimahNews.com, FOKUS – Pascapemilu 2019, muncul sejumlah parpol Islam baru. Ada Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora) yang dideklarasikan pada 28 Oktober 2019. Menyusul Partai Umat (1/10/20) dan kembali aktifnya Partai Masyumi (7/11/20). Dalam deklarasinya, Partai Masyumi berjanji akan berjihad demi terlaksananya ajaran dan hukum Islam di Indonesia.

Menelisik jejak para pendiri parpol Islam baru tersebut, mereka pemain lama yang memakai “baju baru”. Tengoklah Partai Gelora, dibidani Machfud Siddiq, Fachry Hamzah, dan Anis Matta sebagai jebolan PKS. Begitu pula dengan Partai Ummat yang dibidani Amien Rais –mantan pendiri dan Ketua Umum PAN.

Lahirnya partai-partai baru bukan hanya kekecewaan personal terhadap terhadap partai lama, tetapi seperti jawaban atas kebutuhan rakyat. Partai lama tidak lagi berjalan sesuai dengan visi dan misi awal dicanangkannya. Bukan lagi berpikir menyejahterakan rakyat, tapi berbelok menyejahterakan diri sendiri. Terlebih lagi hubungan elite partai dan kader tidak berjalan harmonis.

Di hadapan wartawan, Amien Rais menyampaikan, bahwa latar belakang berdirinya Partai Umat, tak lain karena Al Qur’an mendorong menegakkan kebajikan dan memberantas keburukan. Dan kedua menegakkan keadilan dan memberantas kezaliman.[i] Sedangkan Masyumi kembali di kancah politik hari ini karena kerinduan akan sepak terjang Masyumi seperti di masa lampau. Saat ini, sedikit politisi partai politik yang ideologis dan memiliki kebijakan berintegritas.[ii]

Pertanyaan yang muncul kemudian, apa yang menjamin parpol-parpol Islam baru tersebut tidak akan melenceng dari tujuannya sebagaimana parpol Islam yang dulu mereka kendarai? Penyimpangan yang terjadi apakah berangkat dari personal individu yang tak layak sejak awalnya bergabung dalam partai? Ataukah penyimpangan orientasi karena kekuatan eksternal (sistem) di luar tubuh partai-partai Islam?

Memotret Perjuangan Parpol Islam

Sejak runtuhnya Daulah Khilafah Islamiyah dan kaum muslimin terpecah dalam puluhan negara, pemikiran untuk mengentaskan kaum muslimin dari kondisi buruk di bawah kepemimpinan kuffar tak pernah berhenti. Berbagai gerakan muncul di tengah kaum muslimin, namun kondisi tak kunjung membaik. Berbagai upaya telah dikerahkan musuh-musuh Islam menghalangi persatuan dan jalan kembali kepada Islam.

Islam dijauhkan dari sumbernya, dimunculkan Islam Arab versus Islam Nusantara. Demikian pula tubuh umat dikotak-kotakkan menjadi kelompok-kelompok fundamentalis, tradisionalis, modernis, dan sekularis.

Walhasil ketika umat Islam saling bertikai, hegemoni Barat makin menguat. Parahnya, penguasa negeri muslim justru menjadikan Barat sebagai sahabat dan sandaran mereka. Mereka membuat makar menimpakan tekanan dan siksaan terhadap kaum muslimin.

Dalam perjalanannya, tekanan yang semakin keras tersebut memunculkan reaksi di tubuh umat. Kezaliman terhadap umat mengantarkan pada kesadaran bahwa sistem yang ada hanyalah mengantarkan pada kesengsaraan. Tidak ada penyelesaian bagi mereka kecuali kembali pada Islam.

Inilah yang mengantarkan munculnya gerakan dan partai-partai Islam di negeri-negeri kaum muslimin, termasuk Indonesia. Hanya saja semangat yang tak diiringi pemahaman Islam yang utuh dan tidak adanya keterikatan dengan metode Rasulullah Saw. dalam menjalankan aktivitas politik, mengantarkan kerancuan dalam memberikan gambaran konkret tentang kemuliaan Islam yang dicitakan, yang pada akhirnya membelokkan partai dari tujuan awalnya.

Dalam kitab Takattul Hizby- karangan Syekh Taqiyuddin An Nabhani diurai secara rinci mengapa partai Islam gagal menjaga tujuan. Kegagalan itu dikarenakan tidak memiliki pemahaman ideologis, termasuk para pendiri partainya.

Mereka tidak diikat dengan tsaqafah Islam, sehingga pemikiran partai sangat mudah dimasuki tsaqafah barat. Mereka mencoba mencari kesesuaian antara Islam dan realitas. Maka tak heran jika hari ini muncul Partai yang berasaskan Islam sekaligus nasionalis dan demokratis.

Bagaimana mungkin Islam yang bersifat universal (rahmatan lil’alamin) digabungkan dengan ide nation state? Sungguh ini adalah bentuk pengebirian Islam itu sendiri. Persoalan keumatan seolah dibatasi dengan “wilayah negara”. Parpol Islam tak bersuara dengan derita muslim Uyghur, Rohingya, Pakistan, Banglades, Palestina, dan yang lainnya karena dirasa bukan merupakan persoalan bangsanya sendiri.

Begitu pula saat menyejajarkan Islam dengan demokrasi, sedangkan keduanya mempunyai prinsip kedaulatan yang bertolak belakang. Islam menjadikan kedaulatan di tangan syara, sedangkan demokrasi menjadikan kedaulatan di tangan umat. Padahal, mereka tahu bahwa sumber penderitaan umat hari ini dibidani dari kebijakan yang lahir dari sistem demokrasi, tapi mereka masih berkubang di dalamnya.

Di sisi lain, demokrasi adalah sistem pemerintahan berbiaya mahal. Yusril Ihza Mahendra-Ketua Partai Bulan Bintang saat mengomentari deklarasi Partai Masyumi menegaskan partai memerlukan dana besar untuk bergerak. Kebanyakan partai-partai Islam, hidupnya “ngos-ngosan“.

Sangat sulit memperoleh dana besar. Apalagi zaman sekarang anggota partai membayar iuran. “Dunia sudah berubah. Sebagian besar umat Islam hidup dalam kekurangan. Sedangkan, pemilik dana besar itu para cukong, para pengusaha. Baik dalam maupun luar negeri. Sepanjang pengalaman saya, tidak ada para cukong dan para pengusaha besar itu yang sudi mendanai partai Islam,” ungkapnya[iii].

Hal senada disampaikan Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan. Disampaikannya bahwa partai Islam yang ingin mendapatkan pengaruh luas dalam alam politik hari ini, mesti memiliki faktor logistik yang cukup untuk menopang sosialisasi masif parpol, baik melalui media konvensional seperti televisi maupun nonkonvensional seperti media sosial.

Oleh karenanya, bukan pemandangan yang aneh, jika dalam sistem demokrasi, di balik penguasa atau pejabat publik, ada pengusaha. Tidak aneh, dalam demokrasi para politikus terjebak dalam politik uang.

Jejak sejarah juga menunjukkan, bahwa Demokrasi tak pernah berpihak pada Islam. Sebagaimana terjadi atas kemenangan partai FIS (Front Islamique du Salut) di pemilu Aljazair. Pada pemilu putaran pertama 20 Juni 1991, FIS memenangkan 54% suara dan mendapat 188 (81%) kursi di parlemen.

Beberapa hari setelah kemenangannya, pemerintah sekuler Aljazair mengumumkan darurat militer, menganulir kemenangan FIS dan mengumumkannya sebagai partai terlarang. Jadi jelas, demokrasi bukan dari Islam dan bukan untuk Islam.

Maka, apa layak partai Islam menjadikan asas partainya adalah demokrasi dan tetap ngotot berjuang mewujudkan kemuliaan umat dalam sistem demokrasi?

Umat Mulia, melalui Parpol Islam Sahih

Kebangkitan umat Islam mutlak membutuhkan sebuah partai politik Islam sejati yang benar-benar mampu mengantarkan umat meraih kemuliaannya. Adanya partai politik Islam yang sahih merupakan jaminan bagi tegaknya Daulah Khilafah Islamiyah, serta jaminan bagi penjagaan eksistensinya.

Kriteria partai politik Islam yang ingin mencapai kebangkitan yang benar adalah menjadikan Islam semata sebagai ideologinya, memiliki fikrah Islam, thariqah Islam dan individu yang menginternalisasi fikrah dan thariqah Islam.

Begitu pula ikatan yang mengikat keanggotaannya adalah akidah Islam. Kader-kader partai harus memiliki kematangan terhadap tsaqafah kepartaian (Islam). Sehingga tidak ada cerita partai Islam menjadi partai terbuka –yang keanggotaannya terbuka bagi nonmuslim.

Dengan akidah dan tsaqafah Islam inilah, partai terjun di tengah umat, mendidik dan menyiapkan umat untuk siap berkorban dan siap diatur dalam kehidupan Islam. Maka, hal yang menonjol dalam aktivitas parpol Islam adalah melakukan dakwah menyeru umat dan penguasa untuk bertahkim pada hukum Allah SWT.

Parpol Islam akan senantiasa mengontrol pemikiran dan perasaan masyarakat, serta menghalangi kemerosotan pemikiran masyarakat. Parpol Islam akan senantiasa hadir dan melazimi kehidupan umat setiap saat. Bukan hanya hadir di saat jelang pemilu, sekedar untuk mendulang suara umat demi sampainya di pusaran kekuasaan.

Parpol Islam seperti ini tentunya tak akan sepi dari ujian dan tantangan, baik dari umat itu sendiri maupun rezim yang sedang berkuasa. Umat yang sudah telanjur jauh dari tsaqafah Islam bisa jadi awalnya menolak dan menjauh darinya. Namun hal tersebut akan mampu dihadapi, sepanjang parpol Islam tegak fikrah ideologinya dan istikamah melakukan dakwah di tengah umat.

Adapun rezim yang ditopang oleh kekuatan kuffar Barat tak segan berupaya memberangus parpol Islam ideologis. Bisa jadi mereka mencabut izin berdirinya, memersekusi anggota partai, atau menyerang ide yang diembannya.

Namun ini pun akan mampu dihadapi parpol Islam yang menyadari betul eksistensi dirinya di tengah umat semata memenuhi seruan Allah SWT- bukan karena adanya lembar perizinan dari penguasa yang zalim.

Bagi parpol Islam yang sahih –di tengah ujian dan fitnah yang ada– cukuplah kemenangan yang dijanjikan Allah SWT sebagai peneguhnya. Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahih-nya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Akan senantiasa ada sekelompok orang di antara umatku yang menang di atas kebenaran, tidaklah membahayakan mereka orang lain yang menyia-nyiakan mereka hingga datang ketetapan Allah sementara mereka senantiasa berada dalam keadaan demikian.” (HR Muslim dalam Kitab al-Imarah, hadis no. 1920).

Maka, sekalipun musuh Islam membencinya, namun inilah prototype parpol Islam yang sejati. Parpol yang menjadi tujuan umat melabuhkan perjalanannya menuju kemuliaan Islam. [MNews/G]


[i] https://ibox.co.id/product/iphone-se-2nd-gen-ib-con?utm_source=eskimi&utm_medium=programmatic&utm_campaign=available_iphone_se_ads_2

[ii] https://www.merdeka.com/politik/partai-masyumi-reborn.html

[iii] https://www.rmolbanten.com/read/2020/11/09/20126/Soal-Masyumi-Reborn,-Yusril:-Tidak-Ada-Cukong-Sudi-Mendanai-Partai-Islam-

One thought on “Melabuhkan Rindu Umat pada Partai Islam Ideologis

  • 16 November 2020 pada 15:25
    Permalink

    Dalam demokrasi tidak ada kawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan abadi. Islam menjaga itu persahabatan dengan cara terikat pada hukum syara’. Selama mereka sama2 menegakkan hukum syara’ maka abadilah persahabatan itu.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *