[Nafsiyah] Mengutamakan Orang Lain

MuslimahNews.com, NAFSIYAH – Pernahkah kita berpikir kelebihan harta yang kita miliki dimanfaatkan untuk memudahkan urusan orang lain yang membutuhkan? Atau kita tak pernah berpikir sedikit pun untuk berbagi pada sesama jika Allah titipkan harta, yang sebenarnya cukup jika harus digunakan untuk membantu orang lain.

Dan pernahkah kita tahu atau mencari tahu, di samping kita mungkin ada tetangga yang sering menahan lapar karena tidak ada uang untuk membeli makan? Padahal, mungkin saat itu di rumah kita kelebihan makanan.

Mengapa diawali dengan beberapa pertanyaan di atas? Sebab bisa jadi kita hanya sedikit sekali memiliki rasa simpati, empati, dan mengutamakan orang lain. Hingga tidak peka dengan kesusahan saudara atau tetangga di sekeliling kita. Sistem kepitalisme sedikit banyaknya telah menggerus semua sifat itu pada diri manusia, lalu menggantinya dengan sifat individualisme.

Padahal Rasul Saw menggambarkan hubungan persaudaraan Muslim sejati dengan perumpamaan yang indah. “Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam saling mencintai dan saling mengasihi bagaikan satu tubuh, apabila satu anggaota badan merintih kesakitan, sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR Muslim)

Islam mengajarkan untuk memperhatikan diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya karena hal itu merupakan akhlak terpuji yang merupakan salah satu ciri orang bertakwa. Sebagaimana firman Allah SWT,

لَّيْسَ ٱلْبِرَّ أَن تُوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلْكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّۦنَ وَءَاتَى ٱلْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينَ وَٱبْنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَٰهَدُوا۟ ۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِى ٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلْبَأْسِ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُتَّقُونَ

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Baqarah [2]: 177)

Rasulullah Saw juga pernah bersabda , “Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, dan dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu juga memiliki hak atasmu, maka hendaknya engkau tunaikan setiap hak kepada pemiliknya.” (HR Bukhari)

Seperti kisah seorang sahabat Anshar yang kedatangan tamu seorang sahabat Muhajir. Ia sangat ingin menghormati tamunya tersebut. Namun, makanan yang ada sangat terbatas. Kemudian, ia bertanya kepada istrinya, “Apakah kamu memiliki sesuatu untuk menjamu tamu?

Istrinya menjawab, “Tidak ada, hanya makanan yang cukup untuk anak-anak kita.” Lalu, sahabat tersebut berkata, “Alihkan perhatian anak-anak kita dengan sesuatu, kalau mereka ingin makan malam, ajak mereka tidur. Dan apabila tamu kita masuk (ke ruang makan), padamkanlah lampu. Dan tunjukkan kepadanya bahwa kita sedang makan bersamanya.” Mereka duduk bersama, tamu tersebut makan, sedangkan mereka tidur dalam keadaan menahan lapar.

Tatkala datang waktu pagi, pergilah mereka berdua (sahabat dan istrinya) menuju Rasulullah Saw. Rasulullah Saw memberitakan (pujian Allah SWT terhadap mereka berdua), “Sungguh Allah merasa kagum dengan perbuatan kalian berdia terhadap tamu kalian.”

Kemudian, turunlah ayat yang memuji sahabat Anshar tersebut, “…dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-oranng yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Oleh karena itu, ketika seorang Muslim membebaskan kesulitan sesamanya, pada hakikatnya ia sedang membebaskan kesulitan dirinya. Jadi, mengutamakan kepentingan orang lain merupakan puncak kebajikan dan bagian dari akhlak mulia. Perbuatan tersebut juga bagian pengejawantahan persaudaraan Islam sejati. Mungkin bagi sebagian orang terlihat aneh, tetapi di sisi Allah SWT termasuk perbuatan sangat terpuji. [MNews/Rnd]

One thought on “[Nafsiyah] Mengutamakan Orang Lain

  • 16 November 2020 pada 06:49
    Permalink

    MasyaAllah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *