Penghinaan Nabi Bukan Sekadar Karikatur. Wasekjen MUI: Banyak Sekali PR Kita

MuslimahNews.com, NASIONAL – Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Wasekjen MUI Pusat Dr. Nadjamuddin Ramly menyatakan, umat Islam tidak bisa mengatakan kasus penghinaan Nabi sebagai sekadar karikatur, karena di dalamnya sudah ada niat dan kesengajaan.

“Untuk itu Dewan Pimpinan MUI sepakat meminta Presiden menarik dubes luar biasa Indonesia di Prancis, sebagai jalan pemutusan hubungan diplomatik sementara hingga Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta maaf. Namun sampai saat ini permintaan maaf itu belum ada. Dan penarikan dubes juga belum dilakukan,” jelasnya pada Ahad, 8/11/2020.

Langkah ini didasarkan Dr. Nadjamuddin pada tiga fungsi MUI. Pertama, khadimul ummah atau pelayan umat. Apa pun kepentingan dan kebutuhan umat direspons, baik berupa fatwa maupun pernyataan sikap. Karena baru itu yang mampu dilakukan.

Kedua, himayatul ummah (pengayom masyarakat). Menjaga dan memelihara akidah Islam ini, jangan sampai ada kelompok yang ingin menyesatkan.

Ketiga, sebagai shadiqul hukumah. Bermitra dengan pemerintah, secara loyal kepada kebenaran dan kritis kepada kemungkaran yang diperlihatkan.

“Oleh sebab itu penghinaan kepada Rasulullah tidak bisa dikatakan ringan dan tidak bisa dibiarkan,” tegasnya.

Hal ini juga tampak dari reaksi umat Islam sedunia. Dr. Nadjamuddin berpendapat Prancis belum kapok setelah dulu pernah dilibas Sultan Abdul Hamid II dari Turki Utsmani.

Baca juga:  Demokrasi Halalkan Hina Nabi Muhammad Saw.

Dengan demikian, persatuan umat Islam menjadi amat penting, mungkin juga perlu common enemy agar umat Islam ini bisa bersatu.

“Karena saat ini Liga Dunia Islam belum mampu menyatukan umat Islam menjadi kekuatan utama dunia,” paparnya.

Dr. Nadjamuddin mengaku prihatin melihat centang perenangnya dunia Islam seperti di Timur Tengah dan Afrika Utara akibat persekongkolan yang dilakukan Amerika Serikat dengan politik hipokrisinya (kemunafikan) yang bekerja sama dengan Israel.

Menurutnya, hal itu akibat negara-negara Barat dengan Israel yang ada di Timur Tengah sebagai fasilitator dan mediatornya. Umat Islam tersudutkan sekarang ini dan berusaha membalas tetapi dengan cara yang tidak sesuai dengan Islam.

“Dan kita mengetahui kehadiran oraganisasi-organisasi itu seperti ISIS justru direkayasa dan dibentuk oleh Amerika dan Israel,” kecamnya.

Menurut Dr. Nadjamuddin tidak boleh kebebasan berekspresi yang digaungkan menyentuh keyakinan umat Islam yang berjumlah hampir dua miliar ini. Termasuk pihak umat Kristen yang akan marah jika pihak Charlie Hebdo membuat karikatur terhadap Yesus.

“Hanya saja pengagungan mereka dan respeknya terhadap orang-orang yang dianggap Tuhan tidak sama dengan respek umat Islam kepada Rasulullah. Oleh karena itu sebutan di dalam Al-Qur’an berbeda antara nabi-nabi yang lain dengan Rasulullah. Allah berselawat kepada Rasulullah dan itu membedakannya dengan nabi-nabi lain,” ujarnya.

Baca juga:  Islamofobia di Prancis Lahir dari Ketakutan Barat pada Islam

Dr. Nadjamuddin mengungkapkan, Macron termakan dengan adagium di Prancis yaitu “liberté, égalité, fraternité” (kebebasan, keadilan, persaudaraan –terj.).

“Perspektif ini salah karena mengganggu hak yang paling asasi dalam diri manusia yaitu keyakinan beragama. Inilah mengapa tidak boleh ada sekularisasi,” tukasnya.

Dewan Pimpinan MUI tidak main-main menyiapkan Komisi Hukum dan Perundang-undangan untuk bersurat kepada Liga Dunia Islam (OKI) dan juga Liga Eropa yang harus memberi sanksi kepada Prancis saat ini.

“Kita sangat tersinggung dan marah, sehingga harus diangkat isu ini sebagai cerminan peradaban yang tidak beradab. Nyatanya kebiadaban inilah yang melegalkan kebebasan berekspresi sehingga hak asasi yang paling asasi, tidak dihormati,” kecamnya.

Oleh sebab itu, tambah Dr. Nadjamuddin, tindakan pemenggalan terhadap Samuel Paty tidak bisa dibenarkan tetapi juga tidak disalahkan.

“Karena bisa jadi jika kita yang dihadapkan pada situasi ini, akan ada tindakan yang lebih keras terhadap mereka. Yang dilakukan pelaku sebenarnya adalah ekspresi terhadap penghinaan kepada Rasulullah,” jelasnya.

Fatwa Boikot Produk

Dr. Nadjamuddin juga menjelaskan terkait respons MUI melalui fatwa boikot produk Prancis. Banyak pihak memberi tekanan kepada MUI yang mempertanyakan mengapa boikot produk karena banyak tenaga kerja Indonesia di perusahaan-perusahaan produk tersebut.

Baca juga:  Dr Nazreen Nawaz: Membela Rasulullah Kewajiban Kaum Muslimin

“Tetapi itu tidak menjadi pertimbangan, pertimbangan satu-satunya adalah keagungan Rasulullah yang dihinakan. Kalau toh pabriknya dibubarkan, masih banyak solusi mencari rezeki bagi tenaga kerja tersebut. Ini ultimatum, tidak ada negosiasi, tidak ada kata mundur karena tidak hanya di Prancis tetapi ada pula di Skandinavia, dan baru-baru ini ada gambar Rasulullah di televisi Cina yang masih diselidiki. Banyak sekali PR di mana akidah kita diganggu orang lain,” tandasnya. [MNews/Ruh-Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *