Siapa pun Presidennya, Wajah AS Tetap Sama

Oleh: Chusnatul Jannah

MuslimahNews.com, OPINI – Joe Biden memenangkan pemilu AS. Ia meraih 290 suara elektoral mengalahkan Trump yang hanya meraih 214 suara elektoral. Biden dibanjiri ucapan selamat dari para pemimpin negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Hanya Rusia, Cina, dan Turki yang absen mengucap selamat. Pasangan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Biden-Haris dianggap mewakili warna AS yang plural.

Biden seolah membawa pesan yang lebih menggugah ketimbang Trump. Dalam kampanye kala itu, ia bahkan mengutip hadis Nabi Saw. tentang melawan kemungkaran.

Pidato kemenangan Biden juga menghipnotis warga dunia. Ia berjanji akan menjadi Presiden AS yang menyatukan semua pihak, bukan memecah belah. Biden-Harris juga menjanjikan tidak akan membeda-bedakan ras maupun etnis.

Biden sesumbar akan lebih memperhatikan umat Islam. Ia berjanji akan mengisi jajaran stafnya dari kaum muslim. Dalam acara online yang dipandu Emgage Action, Biden memuji Islam dan mengatakan Islam adalah salah satu agama terbaik.

Ia juga berjanji akan mencabut kebijakan Trump tentang “Larangan Muslim” masuk ke negaranya. Terpilihnya Joe Biden dianggap memberi harapan baru bagi penyelesaian konflik Palestina-Israel. AS di bawah kepemimpinan Biden diperkirakan akan menyelesaikan konflik Palestina-Israel ke meja perundingan atau jalur diplomatik.

Benarkah Biden akan membawa harapan baru bagi umat Islam? Sejauh mana pengaruh Biden bagi kebijakan politik luar negeri AS?

Antara Biden dan Trump

Kemenangan Biden tidak terlepas dari kontroversi yang kerap ditunjukkan Trump selama menjabat sebagai Presiden AS. Trump lebih frontal, sarkas, dan cenderung blak-blakan. Biden ingin menampilkan kembali wajah AS yang tenang dan stabil, bukan meledak-ledak sebagaimana yang dilakukan Trump selama ini. Warga AS pun berujar, “Siapa pun dia, asal bukan Trump.”

Kebijakan Trump sejauh ini secara terang-terangan tidak memihak kepada umat Islam. Ia bahkan dengan lantang mendukung penuh kebijakan Israel. Saat Israel mengakuisisi wilayah Tepi Barat, Trump diam. Terhadap isu umat Islam, Trump bungkam. Biden pun datang seakan memberi harapan baru bagi nasib umat Islam dengan tampilan kalem dan lebih merangkul.

Mencermati respons umat Islam terhadap Biden, tampaknya umat kembali terlena dengan kampanye dan janji “islami” Biden. Seolah lupa siapa AS dan bagaimana politik luar negeri mereka.

Baca juga:  Corong-Corong Rezim

Hingga saat ini, dominasi AS sebagai polisi dunia belum tergantikan. Juru atur dunia ini meski berganti wajah Presidennya, mereka tetap berada pada jalur kapitalis sekuler yang menjadi ideologinya.

Biden, Harapan Baru?

Umat mestinya menyadari kemenangan Biden-Harris tidaklah sesederhana itu. Ini alasannya:

Pertama, Biden adalah pemimpin produk demokrasi.

Kampanye “manis” yang dilakukan Biden tak lebih hanya untuk mendobrak elektabilitasnya sebagai calon Presiden yang membawa misi berbeda dari Trump. Pencitraan adalah hal yang wajib dilakukan bagi kontestan pemilu demokrasi. Tujuannya, agar pemilih terpikat dan memberi dukungan suara untuknya.

Biden membawa style yang lebih “Soft” dibandingkan Trump yang keras. Terpilihnya Kamala Harris, peranakan India, juga bertujuan menggaet suara dari kalangan minoritas yang banyak dihuni kaum berkulit hitam. Sebagaimana pernah dilakukan Obama sebagai Presiden berkulit hitam yang dikesankan ramah serta menghilangkan sentimen rasisme yang kerap melanda negeri Paman Sam tersebut.

Kita tentu masih mengingat bagaimana dulu Trump terpilih. Kampanye “Make America Great Again”-nya kala itu berhasil menyihir warga AS kulit putih yang menjadi warga mayoritas di AS. Isu Black Live Matter juga membawa Trump pada citra yang buruk. Ia dianggap sebagai Presiden yang gagal mempersatukan warga multiras tersebut.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa membangun citra positif adalah bagian terpenting kampanye ala demokrasi. Itulah yang sedang dilakukan Biden saat ini. Menciptakan citra positif bagi dunia. Merangkul umat, antirasis, dan pembawaannya tenang. Semua ini hanya tentang citra dan janji manis semata.

Kedua, siapa pun presidennya, wajah AS tetap sama.

Jangan lupa! AS adalah negara pengemban ideologi kapitalisme. Ideologi ini disebarkan ke negeri-negeri muslim demi menjalankan misi politik luar negerinya. Imperialisme sebagai metode khas bagi ideologi kapitalisme adalah jati diri AS yang sesungguhnya. Jika nantinya Biden memimpin, hal itu tak akan membawa perubahan berarti bagi kaum muslim.

Style kepemimpinan boleh beda, namun wajah ideologinya tetaplah sama. Mental kolonial sudah mendarah daging di tubuh negara pengemban kapitalisme tersebut. Sikap AS terhadap Israel akan selalu sama: Konsisten berdiri membela kepentingan Israel di tanah Palestina.

Dalam hal konflik di Timur Tengah, Biden menyatakan tidak akan mengadopsi kebijakan pemerintahan Trump terhadap pendudukan Israel di Tepi Barat. Meski demikian, kebijakan luar negeri AS tidak akan berubah, yaitu komitmennya menjaga hubungan dekatnya dengan Israel. Mau Biden atau Trump, Palestina tetap terjajah. Negeri muslim tetap dalam cengkeraman imperialisme kapitalis seperti AS.

Baca juga:  Berdoalah dan Berjuang untuk Membangun Kembali Perisai Kita, Khilafah, sehingga Kashmir yang Diduduki Dibebaskan

Ketiga, AS bukanlah negara pemersatu, namun ia sumber konflik.

Lebih tepatnya, AS-lah yang berperan besar membuat negeri-negeri muslim tercerai berai dengan proyek global bernama War On Terrorism yang bergeser menjadi perang melawan radikalisme. Akidah sekularisme yang diusung AS juga mengubah wajah kehidupan kaum muslim terpuruk. Rusak dalam segala sendi kehidupan.

Paham liberalisme Barat juga memorakporandakan pemahaman kaum muslim terhadap Islam. Jadi, bila Biden menyatakan akan mempersatukan semua golongan, itu hanyalah pemanis. Mungkin lebih tepatnya ia akan menjadi pemersatu kepentingan AS atas negara lainnya.

Jangan terlewat pula dengan bagaimana potret peradaban kapitalis sekuler di AS. Di balik nama kebesarannya, AS menimbun banyak masalah internal di negaranya. Seperti kemiskinan, meningkatnya kriminalitas, kebebasan tanpa batas, kekerasan seksual, rasisme, hingga utang negara.

Meski memiliki power sebagai negara besar, AS memiliki utang terbanyak di dunia. Jumlah utang negara di masa Donald Trump saja mencapai US$ 21 miliar atau hampir setara dengan Rp 300 ribu triliun pada tahun 2018. Dari total utang negara-negara di dunia yang mencapai US$ 63 triliun, kurang lebih 31 persennya merupakan utang AS.

Ditinjau dari rasionya, rasio utang AS terhadap PDB-nya sebesar 107,7 persen. Hal ini menunjukkan jumlah utang AS lebih besar dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan ekonominya. Satu fakta yang mengindikasikan ekonomi AS sebenarnya keropos. Mereka terlihat kuat di luar, tapi sebenarnya lemah dari dalam.

Biden bukanlah harapan baru bagi umat Islam. Obama, Trump, atau Biden hanyalah pion dalam menjalankan kebijakan politik luar negeri AS yang bersandar pada ideologi kapitalisme mereka. Lantas, bagaimana harapan baru bagi umat Islam sendiri?

Baca juga:  Beneficial Owner: The Untouchable Men Pengendali Negeri

Khilafah, Harapan Baru bagi Umat Islam

Mengharapkan AS sebagai juru selamat bagi umat adalah ilusi. Sejauh ini, keberadaan AS sebagai juru damai dunia terbilang nihil. Apa yang sudah dilakukan AS untuk menyuarakan anti diskriminasi dan persekusi terhadap kaum muslim?

Adakah AS membela dan memperjuangkan hak muslim Rohingya, Uyghur, muslim India, Suriah, Afghanistan, dan negeri muslim lainnya?

Sejauh ini, justru keterlibatan AS terhadap konflik suatu negeri memperkeruh suasana. Sok membela, padahal yang dilakukannya hanyalah untuk menjaga kepentingan nasional AS di wilayah tersebut.

Mestinya umat tidak terjebak berulang kali dengan narasi palsu demokrasi kapitalis. Umat harus memiliki agenda sendiri dalam membangun kembali peradaban yang runtuh akibat kelicikan kapitalisme dan paham derivatnya.

Problematik yang menimpa kaum muslim adalah masalah umat Islam. Di mana masalahnya? Yakni saat umat tak memiliki visi misi yang sama dalam membangun kembali peradaban Islam. Ketika pemikiran dan perasaan umat belum dipersatukan oleh kekuatan politik Islam.

Menggantungkan harapan Islam kepada AS dan Barat sama halnya memberi angin segar bagi negara imperialis tersebut untuk memainkan peran dan kepentingan mereka. Umat tidak boleh teperdaya janji manis mereka.

Lantas, apa harapan baru bagi umat Islam?

Harapan baru itu ada pada Islam dan Khilafah. Hanya Khilafah yang mampu menandingi kekuatan AS sebagai negara adidaya. Hanya Khilafah pula yang akan mempersatukan kekuatan kaum muslim dunia. Dan hanya Khilafah yang mampu membebaskan negeri muslim dari penjajahan AS dan sekutunya. Penegakan Khilafah adalah agenda masa depan bagi umat Islam.

Di bawah payung kapitalisme, kondisi dunia Islam terpuruk dan terjajah. Di bawah naungan Khilafah, umat Islam mampu berdiri tegak dan tampil sebagai negara adidaya yang mandiri tanpa harus menghamba pengharapan dan belas kasih dari Barat.

Hal itu sudah pernah terjadi saat Islam berkuasa selama 13 abad di pentas dunia. Dan inilah yang ditakutkan Barat –termasuk AS– terhadap ideologi Islam yang akan mengancam hegemoni ideologi kapitalis sekuler. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *