Hukum Pernikahan Dini (Menikahi Anak Perempuan yang Belum Haid )

Oleh: Ustaz M. Shiddiq al Jawi

MuslimahNews.com, FIKIH – Tanya: Ustaz, bolehkah seorang laki-laki dewasa menikahi seorang anak perempuan yang masih kecil dan belum haid?

Jawab: 

Hukumnya boleh (mubah) secara syar’i dan sah seorang laki-laki dewasa menikahi anak perempuan yang masih kecil (belum haid). Dalil kebolehannya adalah Al-Qur’an dan Sunah. Dalil Al-Qur’an adalah firman Allah SWT,

وَاللاَّئِي يَئِسْنَ مِنْ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنْ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللاَّئِي لَمْ يَحِضْنَ

“Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (menopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid.” (QS Ath-Thalaq [65]: 4)

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyatakan bahwa yang dimaksud “perempuan-perempuan yang tidak haid” (lam yahidhna) adalah anak-anak perempuan kecil yang belum mencapai usia haid (ash-shighaar al-la`iy lam yablughna sinna al-haidh).[1]

Ini sesuai dengan sababun nuzul ayat tersebut, ketika sebagian sahahat bertanya kepada Nabi Saw. mengenai masa iddah untuk 3 (tiga) kelompok perempuan, yaitu perempuan yang sudah menopause (kibaar), perempuan yang masih kecil (shighar), dan perempuan yang hamil (uulatul ahmaal).[2] 

Jadi, ayat di atas secara manthuq (makna eksplisit) menunjukkan masa iddah bagi anak perempuan kecil yang belum haid dalam cerai hidup, yaitu selama tiga bulan.

Baca juga:  Alasan Pragmatis Negara Sekuler Batalkan Pernikahan

Imam Suyuthi dalam kitabnya Al-Iklil fi Istinbath At-Tanzil hlm. 212 mengutip Ibnul Arabi, yang mengatakan,”Diambil pengertian dari ayat itu, bahwa seorang [wali] boleh menikahkan anak-anak perempuannya yang masih kecil, sebab iddah adalah cabang daripada nikah.”[3]

Jadi, secara tidak langsung, ayat di atas menunjukkan bolehnya menikahi anak perempuan yang masih kecil yang belum haid. Penunjukan makna (dalalah) yang demikian ini dalam ushul fiqih disebut dengan istilah dalalah iqtidha`, yaitu pengambilan makna yang harus ada atau merupakan keharusan (iqtidha`) dari makna manthuq (eksplisit), agar makna manthuq tadi bernilai benar, baik benar secara syar’i (dalam tinjauan hukum) maupun secara akli (dalam tinjauan akal).[4]

Maka dari itu, ketika Allah SWT mengatur masa iddah untuk anak perempuan yang belum haid, berarti secara tidak langsung Allah SWT telah membolehkan menikahi anak perempuan yang belum haid itu, meski kebolehan ini memang tidak disebut secara manthuq (eksplisit) dalam ayat di atas.

Dalil Sunah

Adapun dalil Sunah, adalah hadis dari ‘Aisyah ra, dia berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجَهَا وَهِيَ بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ ، وَأُدْخِلَتْ عَلَيْهِ وَهِيَ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ وَمَكَثَتْ عِنْدَهُ تِسْعًا

Baca juga:  Menikah Dini, Dibimbing Bukan Dituding

“Bahwa Nabi Saw. telah menikahi ‘Aisyah ra sedang ‘Aisyah berumur 6 tahun, dan berumah tangga dengannya pada saat ‘Aisyah berumur 9 tahun, dan ‘Aisyah tinggal bersama Nabi Saw. selama 9 tahun.” (HR Bukhari, hadis no 4738, Maktabah Syamilah).

Dalam riwayat lain disebutkan,

“Nabi Saw. menikahi ‘Aisyah ra ketika ‘Aisyah berumur 7 tahun [bukan 6 tahun] dan Nabi Saw. berumah tangga dengan ‘Aisyah ketika ‘Aisyah umurnya 9 tahun.” (HR Muslim, hadis no 2549, Maktabah Syamilah).[5]

Imam Syaukani dalam kitabnya Nailul Authar (9/480) menyimpulkan dari hadis di atas, bahwa boleh hukumnya seorang ayah menikahkan anak perempuannya yang belum baligh (yajuuzu lil abb an yuzawwija ibnatahu qabla al-buluugh).[6]

Berdasarkan dalil-dalil di atas, jelaslah bahwa mubah hukumnya seorang laki-laki menikah dengan anak perempuan kecil yang belum haid. Hukum nikahnya sah dan tidak haram. Namun syara’ hanya menjadikan hukumnya sebatas mubah (boleh), tidak menjadikannya sebagai sesuatu anjuran atau keutamaan (sunah/mandub), apalagi sesuatu keharusan (wajib). Wallahu a’lam. [MNews/Rgl]


Sumber:

[1] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, 8/149.

[2] Imam Suyuthi, Lubabun Nuqul fi Asbab An-Nuzul, hamisy pada kitabTafsir Jalalain, (Beirut: Darul Fikr), 1991, hlm. 408; Imam An-Naisaburi,Asbab An-Nuzul, hamisy pada kitabTafsir wa Bayan Kalimat Al-Qur`an Al-Karim, oleh Syaikh Hasanain Muhammad Makhluf, (Beirut: Dar Al-Fajr Al-Islami), 1994, hlm. 397

Baca juga:  Cukup Kehancuran Bagi Generasi, Moral, dan Nilai-Nilai

[3] Imam Suyuthi, Al-Iklil fi Istinbath At-Tanzil, (Kairo: Darul Kitab Al-Arabi), t.t., hlm. 212.

[4] Lihat pembahasan dalalah iqtidha`(disebut juga iqtidha` an-nash) dalam kitab-kitab ushul fiqih; Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul al-Fiqh, hlm. 150; Hudhari Bik, Ushul Al-Fiqh, hlm. 121; Wahbah Az-Zuhaili, Ushul Al-Fiqh Al-Islami, 1/355; Imam Syaukani,Irsyadul Fuhul, hlm. 178; Imam Al-Amidi, Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam, 3/45; Imam As-Subki, Jam’ul Jawami’, (Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah), 2003, hlm. 22.

[5] Imam Syaukani, Nailul Authar, (Beirut: Dar Ibn Hazm), 2000, hlm. 1255.

[6] Ibid.

Tinggalkan Balasan