Kisruh Pilpres Amerika Serikat, Sinyal Kegagalan Demokrasi

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL – Joe Biden dipastikan melenggang ke Gedung Putih dengan 290 suara elektoral yang diraihnya di pemilihan presiden Amerika Serikat (pilpres AS). Kemenangan Biden diperoleh di atas kemelut pilpres. Calon petahana, Donald Trump, berulang kali menyebut adanya kecurangan dan mengklaim dia yang menang.

Kisruh pilpres AS juga mendapat sorotan dari media internasional. Media dunia mengangkat “kekacauan” yang timbul di tengah penghitungan suara, dengan fokus ke sejumlah negara bagian kunci yang menentukan siapa yang akan ke Gedung Putih.

Trump sebelumnya melayangkan gugatan ke Mahkamah Agung untuk menghentikan penghitungan suara dalam pemilu di Nevada, Pennsylvania, dan Georgia karena menuding adanya tindak kecurangan penghitungan suara. Trump tak terima sejumlah suaranya merosot di beberapa negara bagian. Dan Trump ingin semua pemungutan suara dihentikan.

Trump disebut tidak berencana untuk mengaku kalah dari Joe Biden di pilpres. Berdasarkan keterangan dari sumber terdekatnya, sang presiden diminta sejumlah penasihatnya untuk terus bertarung demi suaranya. Trump bersumpah melanjutkan perjuangannya di jalur hukum terhadap hasil pilpres AS di swing state.

Partai Republik sedang berusaha mengumpulkan setidaknya 60 juta dollar AS (Rp 852,6 miliar) untuk mendanai proses hukum atas tuntutan yang diajukan oleh Presiden Donald Trump terhadap hasil pemilihan presiden AS.

Baca juga:  Rezim Neolib Berkuasa, Islamofobia Menggejala

Kekecewaan terhadap Hasil Demokrasi

Kekalahan Trump mendapat respons positif dari warga AS. Warga New York bergembira bersama dengan turun ke jalan pada Sabtu (7/11/2020), untuk merayakan kekalahan Donald Trump. Di Manhattan para warga berteriak, bertepuk tangan, dan mengibarkan bendera. Kendaraan juga membunyikan klakson untuk ikut merayakan.

Ratusan orang berkumpul di luar Trump Tower. Banyak juga yang mengerubungi Grand Army Plaza Brooklyn. Mereka kompak menyuarakan “Anda dipecat” atau “Trump dipecat”.

Para ilmuwan AS juga mengaku lega ketika Joe Biden memenangkan pilpres AS 2020. Mereka berharap Biden bisa menghapus kebijakan anti-sains yang dibuat oleh Donald Trump selama menjabat. Setelah menjabat, Biden akan memiliki kesempatan untuk membalikkan banyak kebijakan Trump yang dinilai merusak sains dan kesehatan masyarakat.

Kebijakan Trump itu termasuk tindakan terhadap perubahan iklim, imigrasi, dan pandemi Covid-19, yang telah menginfeksi lebih dari seperempat juta jiwa warga AS sebelum Trump meninggalkan jabatannya pada Januari. Peneliti berharap banyak kerusakan bisa diperbaiki oleh Biden.

Sambutan positif publik atas kekalahan Trump menunjukkan kegagalan demokrasi AS dalam mewujudkan pemimpin harapan rakyat. Trump menang pada pilpres AS tahun 2016 secara demokratis. Nyatanya, pemerintahan Trump justru didominasi kekecewaan rakyat dan kejatuhannya ditunggu-tunggu.

Kemenangan Biden tidak Mengubah Apa pun Bagi Islam

Joe Biden berusaha meraih dukungan dari satu juta pemilih muslim di AS. Biden berjanji, jika terpilih dan berkantor di Kantor Oval Gedung Putih, dia akan menandatangani undang-undang kejahatan rasial dan menunjuk staf muslim.

Baca juga:  [Editorial] Mengais Harap dari Kepemimpinan Sekuler Demokrasi Neoliberal

Namun harus dipahami, bahwa secara umum Amerika adalah negara sekuler yang menjauhkan agama (Islam) dari kehidupan. Islam dan muslim di AS akan diterima asalkan tetap menjaga nilai-nilai Amerika seperti sekularisme, kebebasan, dan pluralisme.

Terkait isu Timur Tengah, dia berjanji akan mengembalikan dukungan ekonomi dan kemanusiaan kepada Palestina, membuka kembali misi Organisasi Pembebasan Palestina di Washington, dan membuka konsulat AS untuk Palestina di Yerusalem.

Namun, janji ini tidak akan mengubah apa pun. Israel memiliki pendukung fanatik di Washington. Biden pun sesungguhnya punya resolusi akhir yang serupa dengan Trump terkait masalah Israel-Palestina.

Biden sendiri mendukung pendudukan Israel atas Palestina. Biden bahkan diakui sebagai teman baik Israel. Netanyahu menulis di akun Twitter resminya, Minggu (8/11/2020), “Selamat untuk Joe Biden dan Kamala Harris.” Netanyahu melanjutkan,¬† “Joe, kita punya hubungan personal yang panjang dan hangat selama hampir 40 tahun dan saya mengenal Anda sebagai teman baik Israel.”

Sedangkan terkait dengan negara-negara Arab, Joe Biden berjanji akan menilai ulang hubungan AS dengan Arab Saudi, mengingat Putra Mahkota Mohammed bin Salman dikenal lantang membasmi perbedaan pendapat dengan memenjarakan sejumlah aktivis.

Biden juga berjanji akan mengakhiri dukungan AS dalam peperangan di Yaman yang telah merenggut setidaknya puluhan ribu nyawa dan memicu wabah penyakit hingga kelaparan.

Baca juga:  Pelecehan Alquran di Swedia dan Norwegia, Pengamat: Kemunafikan Demokrasi Atas Nama Kebebasan Berpendapat

Meski begitu, janji ini tak sepenuhnya sesuai dengan langkah yang dilakukan Biden ketika menjadi wapres bersama Presiden Barack Obama. Kala itu AS menjual miliaran dolar senjata untuk Arab Saudi dan melakukan pemboman terhadap Yaman.

Menurut catatan sejarah, Gedung Putih di bawah Obama-Biden juga tak banyak melakukan upaya yang berarti untuk meredam monarki absolut Arab Saudi, meskipun MBS saat itu sudah melakukan pembungkaman kritik.

Selain itu, Biden juga sangat pro terhadap kaum penyuka sejenis yang terlarang dalam Islam. Dalam pidato kemenangannya, Biden mengatakan mendapatkan dukungan dari koalisi terbesar dan paling beragam dalam sejarah AS. Koalisi ini dibentuk dari kalangan Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender (LGBT).

Demikianlah, pilpres AS menunjukkan demokrasi dan tidak akan membawa harapan apa pun bagi Islam. AS akan tetap melakukan penjajahan di dunia Islam, baik dengan hard power ala Trump maupun soft power ala Biden. Muslim AS dirayu hanya untuk didulang suaranya, untuk kemudian dilupakan dalam pengambilan keputusan. [MNews/Rgl]

One thought on “Kisruh Pilpres Amerika Serikat, Sinyal Kegagalan Demokrasi

  • 10 November 2020 pada 19:16
    Permalink

    Apapun hasilnya, demokrasi tetaplah sistem yang batil,kita sebagai muslim jangan terkecoh dan lengah.hanya sistem Islam yang Haq yang mampu mengatur seluruh dunia

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *