Editorial : Sampai Kapan Penghinaan Nabi Terus Terjadi?

MuslimahNews.com, EDITORIAL – Tampaknya umat Islam akan kecewa lagi. Suara lantang dan kemarahan mereka soal penghinaan Nabi oleh koran Prancis akan tenggelam seperti yang sudah-sudah.

Penghinaan ini memang bukan yang pertama kali. Dari tahun ke tahun, kejadian serupa selalu muncul, menyertai kasus penistaan agama, kriminalisasi ajaran Islam dan pendakwahnya, persekusi ulama, dan sejenisnya. Hal itu tak hanya terjadi di Prancis, tapi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Ironisnya, umat Islam selalu tampak tak berdaya, padahal jumlahnya mayoritas di dunia. Mereka selalu jadi bulan-bulanan dan objek penghinaan. Bahkan kerap dimanfaatkan untuk kepentingan politik para pemburu kekuasaan.

Kalaupun ada perlawanan, mereka hanya bisa lantang mengecam, melakukan aksi massa besar-besaran, atau paling banter menyerukan boikot atas barang-barang produksi negara pendukungnya.

Namun seperti biasa, semua itu seolah tak berpengaruh apa-apa. Bahkan menguatkan citra yang sengaja dibangun oleh musuh, bahwa umat Islam pemarah, reaktif, sumbu pendek, anti kebebasan, intoleran, bahkan separatis.


Memang betul, untuk kasus Prancis, reaksi keras umat Islam sempat mengancam bursa saham produk mereka. Namun alih-alih menghentikan penghinaan, Macron presidennya tetap geming dalam kebebalannya.

Dia terus menegaskan bahwa sikap dan keputusannya tak salah sama sekali. Bahkan reaksi umat Islam seperti ini, seakan menjadi tambahan amunisi untuk menyerang lebih gencar lagi.

Dia selalu beralasan, apa yang dilakukan adalah cara memelihara peradaban sekuler liberal yang diagungkan. Peradaban ini dia pandang sebagai peradaban terbaik yang wajib diperjuangkan, apa pun risikonya.

Tampaknya dia melihat pesatnya perkembangan Islam di Eropa adalah sebuah ancaman. Apalagi tercatat dalam 30 tahun terakhir jumlah mualaf meningkat dua kali lipat.

Bahkan hari ini, Prancis menjadi rumah bagi lebih dari enam juta muslim atau sekitar sembilan persen dari populasi negara. Jumlah tersebut merupakan yang terbesar di Eropa.

Menurut Pew Research Center, tiga juta muslim kelahiran asing di Prancis sebagian besar berasal dari bekas koloni Prancis di Aljazair, Maroko, dan Tunisia. Dengan jumlah mualaf yang mencapai 10 tiap hari, maka jumlah muslim di Prancis akan melebihi 10 persen pada 2030 (Republika.co.id, 2/11/2020).

Baca juga:  Parpol Sekuler, Penebar Virus Islamofobia

Dalam sejarah peradaban dunia, tak dimungkiri jika Prancis merupakan tempat lahirnya peradaban sekuler liberal yang darinya lahir pemikiran dan budaya sampah yang membawa kemudaratan bagi dunia. Misalnya permisivisme, pluralisme, relativisme, feminisme, dan lain-lain.

Bahkan lahir pula darinya, sistem hidup yang rusak dan merusak seperti sistem kapitalisme yang melahirkan imperialisme. Termasuk sistem pemerintahan demokrasi yang menjadi habitat terbaik bagi tumbuh suburnya segala bentuk kerusakan karena berlandas pada prinsip kebebasan.

Rusaknya peradaban ini memang sejalan dengan sejarah kemunculannya. Selama ratusan tahun, gereja dan negara-negara di Eropa berkongsi mengurus rakyat dalam hubungan simbiosis mutualisma.

Ajaran gereja yang dogmatik dikukuhkan oleh kekuasaan politik. Siapa pun yang berani menentang pendapat gereja harus siap berhadapan dengan kerasnya hukum negara. Sebaliknya, kekuatan politik yang despotik dilegitimasi doktrin gereja, sehingga penentang kekuasaan raja dipandang sebagai penentang Tuhan atau agama.

Hubungan seperti ini, telah membuat kerusakan begitu merajalela. Hingga pada puncaknya, gereja dengan semena-mena mengeluarkan surat penebusan dosa dan memungut pajak semaunya.

Sementara penguasa mengeluarkan kebijakan zalim seenak perutnya. Mereka merebut tanah rakyat, menetapkan upeti tinggi, dan bahkan merebut perempuan yang disukainya. Saat itulah kalangan pemikir bangkit memimpin revolusi rakyat yang memakan korban jiwa.

Perkongsian itu pun hancur dan diambil jalan kompromi. Politik untuk raja, agama untuk gereja. Agama sejak saat itu sama sekali tak boleh berperan dalam urusan negara.

Kebebasan pun menjadi spirit utama peradaban mereka. Sementara urusan moral dan agama menjadi wilayah privat yang tak boleh disentuh aturan negara.

Itulah alasan mereka begitu alergi dengan munculnya narasi-narasi agama di ruang publik. Mereka serahkan pengaturan urusan kehidupan masyarakat kepada akal mereka yang terbatas.

Dari pemikiran filsafat ini lahir konsep-konsep hidup berlandas akal manusia. Seperti sistem pemerintahan demokrasi, konsep pembagian kekuasaan politik (trias politica), sistem ekonomi kapitalisme dan sosialisme, dan lain-lain.

Produk-produk pemikiran ini dipandang sebagai cara mereka menyelesaikan problem hidup yang bermunculan. Pemikiran ini disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia sebagai sebuah peradaban modern yang layak diadopsi.

Namun nyatanya, peradaban sekuler liberal ini tak pernah mampu membawa manusia kepada kebahagiaan. Sebaliknya, peradaban ini telah melegitimasi maraknya penjajahan demi hegemoni politik dan mengumpulkan kapital.

Baca juga:  Menggelikan, Benar-benar Menggelikan

Jargon kebebasan dari dogma agama bahkan menjadi akar krisis di berbagai bidang kehidupan. Mulai dari krisis moral, krisis ekonomi berupa merebaknya kemiskinan, krisis kemanusiaan berupa konflik dan peperangan, krisis lingkungan berupa kerusakan bumi, krisis politik berupa perebutan kekuasaan, dan lain-lainnya.


Sayangnya, umat Islam di dunia telah menjadi korban propaganda dan perang pemikiran. Modernitas dan kesejahteraan yang ditunjukkan negara-negara Barat membuat mereka terpukau hingga rela menjadi follower-nya.

Mereka lantas berbondong-bondong menanggalkan Islam sebagaimana bangsa Eropa meninggalkan gerejanya. Mereka mengira hidupnya akan lebih mulia tatkala menenggak racun sekularisme liberalisme dan menerapkan demokrasi sebagai aturan politiknya.

Mereka lupa bahwa di balik gemerlapnya peradaban barat ada kegelapan jalan hidup yang melingkupi rakyat dan penguasanya. Kebebasan dan penolakan akan peran agama telah menyebabkan gaya hidup rusak begitu merajalela. Hingga kemanusiaan mereka hancur dan kelestarian generasi kian terancam.

Bangsa Barat pun dikenal rakus dan tak kenal belas kasihan. Demi kesejahteraan dirinya, mereka melakukan penjajahan dan melegalkan perbudakan. Mereka menghalalkan segala cara demi merebut posisi sebagai negara adidaya.


Inilah wajah peradaban yang kita puji-puji sebagai kemodernan. Hingga secara sadar kita turut mengadopsi dan mempertahankannya.

Padahal sejatinya peradaban sampah ini telah membawa umat manusia pada tingkat hidup yang menyedihkan. Lebih buruk daripada hewan.

Sungguh, umat ini tak akan beroleh kemuliaan dengan cara mengekor pada sistem hidup yang diwariskan Barat. Bahkan kita akan lebih terhina karena turut menjaga sistem yang justru memberi ruang pada penghinaan agama.

Maka sampai kapan kita hidup dalam kesesatan?

Sudah saatnya umat Islam kembali ke pangkuan sistem yang diajarkan agamanya. Yakni sistem Khilafah yang berperan sebagai pengurus dan penjaga darah, nyawa, kehormatan, akal, dan agama.

Sistem ini tegak di atas peradaban mulia dan di saat yang sama juga melahirkan peradaban mulia. Karena dia tegak di atas asas ketundukan kepada Zat Yang Mahamulia, Tuhan Semesta Alam yang telah memberikan aturan hidup yang sangat sempurna sebagai solusi kehidupan manusia.

Baca juga:  Cina Tak Berniat Tutup Kamp-Kamp Konsentrasi Uighur di Xinjiang

Sejarah membuktikan bahwa saat sistem ini tegak selama belasan abad, umat Islam mampu meraih kedudukan yang mulia. Yakni sebagai sebaik-baik umat yang diturunkan di antara manusia, sebagaimana karakter yang disifatkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya QS Ali Imran ayat 110.

Maka jangan pernah berharap kafir Barat memuliakan agama Islam dan umatnya. Karena ideologi mereka dan peradaban yang dilahirkannya adalah lawan abadi Islam dan umatnya. Mereka akan terus berupaya menghinakan Islam bahkan memeranginya dengan berbagai cara.

Bahkan mereka akan terus berupanya, menjadikan sistem hidup yang diciptakannya sebagai poros peradaban dunia. Karena dengan cara itulah mereka bisa menjaga posisinya sebagai pemimpin dunia serta menjadikan umat dan bangsa lain sebagai budaknya.

Allah SWT berfirman,

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah (sistem hidup) mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS al-Baqarah: 120)

Lalu dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para Sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669) 

Tidakkah kita berpikir wahai Umat Islam? Wallaahu a’lam bi ash-Shawwab. [MNews/SNA]

3 thoughts on “Editorial : Sampai Kapan Penghinaan Nabi Terus Terjadi?

  • 11 November 2020 pada 14:01
    Permalink

    sudah seharusnya umat islam bersatu di bawah naungan aturan sang pencipta

    Balas
  • 10 November 2020 pada 14:50
    Permalink

    AllaahuAkbar

    Balas
    • 13 November 2020 pada 22:27
      Permalink

      Sudah jelas kita telah mengikuti orang kafir hingga kita tinggalkan ajaran agama kita yang sempurna. Semua kerusakan, kesulitan hidup yang kita rasakan adalah karena Allah tidak lagi meridhoi kita yang meninggalkan sistem hidup yang sdh Allah siapkan untuk kita. Saatnya kita kembali…

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *