[Tanya Jawab] Moderasi Islam Masif, Dakwah Islam Jangan Pasif (Bagian 1/2)

Tujuan Moderasi Islam

Apa sebenarnya yang diinginkan dari masifnya moderasi Islam ini? Jazakillah khairan katsir atas jawabannya Ustazah. (Norhidayah, Banjarbaru)

Sekarang ini sudah sejauh mana penerapan Islam moderat di Indonesia dan apa tujuan akhir Islam moderat itu? (Fitri, Riau)

Jawaban dari Ustazah Retno Sukmaningrum:

MuslimahNews.com, TanyaJawab – Ukhti Nor di Banjarbaru dan Ukhti Fitri di Riau, perlu dipahami, bahwa masifnya moderasi Islam saat ini muncul dari rasa takut dan kepengecutan Barat terhadap kekuatan Islam.

Barat paham betul, Islam adalah sebuah agama yang mempunyai ideologi, pemikiran, dan pemahaman. Bukan sekadar agama ruhiyah, namun agama yang mengatur kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara. Secara empirik membuktikan, Islam pernah menjadi kekuatan global selama 13 abad lamanya dan menguasai 2/3 wilayah dunia.

Badan intel mereka meramalkan kekuatan global tersebut akan bangkit kembali. Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat (National Intelligent Council/NIC) pada Desember 2004 merilis laporan dalam bentuk dokumen yang berjudul Mapping The Global Future. “A New Caliphate provides an example of how a global movement fueled by radical religious identity politics could constitute a challenge to Western norms and values as the foundation of the global system.” (Mapping The Global Future: Report of the National Intelligence Council’s 2020 Project).

Dokumen ini berisikan prediksi atau ramalan tentang masa depan dunia tahun 2020. Dalam dokumen tersebut, NIC memperkirakan bahwa ada empat hal yang akan terjadi pada tahun 2020-an yakni:

(1) Dovod World: Kebangkitan ekonomi Asia. Cina dan India bakal menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia;

(2) Pax Americana: Dunia tetap dipimpin dan dikontrol oleh AS;

(3) A New Chaliphate: Kebangkitan kembali Khilafah Islam, yakni Pemerintahan Global Islam yang bakal mampu melawan dan menjadi tantangan nilai-nilai Barat.

Oleh karenanya, jelang 2020 hingga tepat tahun 2020 ini, kita makin rasakan berbagai upaya Barat untuk mencegah munculnya a new caliphate ini. Barat sudah punya pengalaman buruk mengalami babak belur dan terhinanya mereka di hadapan kekuatan Khilafah. Sifat serakah, sombong, dan kerusakan yang mereka buat di muka bumi, terbungkam oleh kekuatan Khilafah.

Baca juga:  Menggelikan, Benar-benar Menggelikan

Di sisi yang lain, mereka juga tak mampu mengalahkan kaum muslimin di medan peperangan. Mereka terlalu pengecut untuk berhadapan langsung dengan kekuatan kaum muslimin. Maka strategi yang mereka gunakan adalah membuat makar, dengan menggunakan tangan kaum muslimin sendiri untuk merusak Islam dari dalam, memunculkan Islam moderat.

Sebagaimana diketahui dari Garis besar dokumen Rand yang berisi kebijakan AS dan sekutu di Dunia Islam. Inti hajatannya adalah memetakan kekuatan (Mapping), sekaligus memecah-belah dan merencanakan konflik internal di kalangan umat Islam melalui berbagai (kemasan) pola, program bantuan, termasuk berkedok capacity building dan lainnya.

Dan sampai sejauh ini, mereka berhasil melakukan politik belah bambu di tengah kaum muslimin, dengan labeling yang mereka ciptakan: kelompok radikal/fundamental, kelompok tradisional, kelompok sekuler, kelompok moderat. Menciptakan ‘common enemy’ terhadap Islam radikal dan mendukung penuh gerakan Islam moderat termasuk dalam pendanaan.

Metode Dakwah

Ustazah, bagaimana cara memahamkan umat bahwa thariqah yang benar adalah bukan melalui jalan demokrasi, karena banyak masyarakat awam yang terjebak dengan demokrasi ini. Di mana menurut mereka, jika tidak mengikuti pemilihan Pilkada misalnya, maka akan dikuasai oleh orang kafir, atau bukan dari partai Islam. Karena sebenarnya masyarakat sudah banyak yang menginginkan Islam diterapkan secara kafah, akan tetapi karena pragmatis mereka terjebak oleh demokrasi itu sendiri. Jadi jalan yang dipakai tidak sesuai dengan metodenya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? (Dian, Depok)

Saat ini masih banyak umat muslim yang menganggap bahwa politik itu jahat dan juga kotor. Pertanyaan saya metode dakwah seperti apa yang bisa membuat umat muslim paham bahwa politik demokrasilah yang jahat dan politik Islam itu adalah mengurusi urusan umat? (Desi, Medan)

Jawaban dari Ustazah Retno Sukmaningrum:

Baca juga:  [Event Diskusi WAG] Moderasi Agama Menyasar Generasi Muda, Apa Bahaya?

MuslimahNews.com, TanyaJawab – Ukhti Dian di Depok dan Ukhti Desi di Medan, umat Islam hari ini sudah telanjur teracuni dengan pemikiran-pemikiran asing, sehingga tak mampu bedakan ajaran Islam atau bukan. Setiap yang diberi embel-embel Islam, mereka kira Islam. Termasuk demokrasi. Mereka kira hanya sekadar musyawarah, sebagaimana yang menjadi salah satu ajaran Islam.

Adanya persamaan antara syura dan demokrasi pada beberapa hal, sering kali digunakan untuk menyesatkan masyarakat bahwa seakan-akan demokrasi sama dengan musyawarah. Padahal ada perbedaan mendasar antara musyawarah dan demokrasi.

Pertama, musyawarah dalam Islam hanyalah salah satu mekanisme pengambilan pendapat, sementara demokrasi adalah sistem pemerintahan.

Kedua, musyawarah hanya dilakukan pada sesuatu yang hukumnya mubah secara syar’i, sementara demokrasi dilaksanakan dalam hal apa pun.

Ketiga, para musyawirin dalam Islam saat melakukan musyawarah sangat memahami bahwa kedaulatan tertinggi pada Allah SWT, sementara dalam demokrasi, kedaulatan tertinggi di tangan rakyat. Oleh karenanya, yang perlu dilakukan adalah bongkar kebatilan dan kerusakan demokrasi.

Jika umat ini paham akan rusak dan batilnya demokrasi sebagaimana kita memahaminya, Insya Allah mereka jijik dan menjauhinya, tak ingin berkubang di dalamnya.

Tunjukkan pula bahwa demokrasi bukanlah dari Islam. Tanpa jalan demokrasi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu menegakkan daulah Islam di Madinah.

Demokrasi bukanlah bagian dari syariat Islam. Demokrasi juga tak akan pernah berpihak pada kemenangan Partai Islam. Bukti nyata adalah kemenangan partai FIS di pemilu Aljazair. Hasilnya pada pemilu putaran pertama 20 Juni 1991, FIS memenangkan 54% suara dan mendapat 188 (81%) kursi di parlemen.

Umat Islam Aljazair menyambut gembira Kemenangan FIS ini disambut gembira oleh rakyat Aljazair. Namun itu tak berlangsung lama. Beberapa hari setelah kemenangannya, pemerintah sekuler Aljazair mengumumkan darurat militer, menganulir kemenangan FIS dan memberangusnya, serta mengumumkannya sebagai partai terlarang. Jadi jelas, demokrasi bukan dari Islam dan bukan untuk Islam.

Baca juga:  Bunuh Diri Politik di Balik Pengarusan Istilah Berbau Moderasi Islam

Cara untuk Fokus Dakwah

Bismillah. Bagaimana caranya kita untuk lebih fokus mendakwahkan Islam lebih baik lagi apalagi melalui adanya sebuah film yang dibuat oleh para tokoh-tokoh, Ustazah, mohon penjelasannya Ustazah? (Zafirah, Ambon)

Jawaban dari Ustazah Retno Sukmaningrum:

MuslimahNews.com, TanyaJawab – Ukhti Zafirah, sungguh dalam Islam mendidik kita senantiasa terjaga dari kesia-siaan amal.

Dalam Islam kita mengenal kaidah amal: “Al fikru wal amal li ajli ghayah mu’ayyanah” (berpikir dan beramal). Mau berpikir apa dan bertindak seperti apa sangat ditentukan oleh tujuan yang ditetapkan. Jika tujuan tidak dibatasi dan tidak tergambar dalam benak, maka berpikir pun akan ke mana-mana, tidak fokus. Begitu pula dalam beramal, akan mudah terbelokkan kepentingan-kepentingan sesaat.

Demikian pula bagi para pengemban dakwah yang melakukan amal dakwah, harus paham betul dan tergambar dalam benak tujuan yang akan mereka tuju.

Tujuan yang terbangun dari akidah akan membangun kesadaran bahwa tujuan hidup tertinggi adalah melakukan penghambaan kepada Allah SWT.

Bentuk penghambaan pada Allah adalah dengan tunduk pada syariat-Nya dalam setiap sisi kehidupan. Hal itu menuntut dorongan takwa dari individu, kesadaran masyarakat, dan tegaknya institusi negara yang menjaga dan menerapkan aturan-Nya.

Ketika gambaran tersebut jelas, maka pengemban dakwah senantiasa berupaya untuk mengukuhkan akidahnya dan mengonsumsi tsaqafah Islam yang dibutuhkan untuk membangun peradaban Islam yang dia citakan.

Dia pun akan giat beramal melakukan penyadaran di tengah umat sebagaimana yang dicontohkan baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Fokus dengan dakwah fikriyah siyasiyah. Tidak terbelokkan oleh politik praktis, tidak pula mudah terprovokasi, apalagi mengikuti suara-suara rakyat menyeru pada solusi pragmatis dan oportunis.

Begitu pula pengemban dakwah tidak akan melambat atau teralihkan pada penyelesaian persoalan cabang, ketika dia memahami betul akan simpul utama persoalan umat yang harus dia uraikan. [MNews/Gz] Bersambung ke bagian 2/2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *