Ummu Mabad Al-Khuza’iyyah ra., Pemilik Domba yang Penuh Berkah

Mengenal Lebih Jauh Tamu Kita yang Penuh Berkah Ini

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF – Di antara orang-orang yang namanya terkait erat dengan peristiwa besar hijrah Rasulullah Saw. dari Makkah ke Madinah adalah tamu kita yang penuh berkah ini, Ummu Ma’bad Al-Khuza’iyyah ra. (atau Ummu Mabad).

Tidak banyak orang yang mengenalnya di masa jahiliah, karena memang dia bukan seorang tokoh yang terkenal. Ia hanya seorang wanita yang tinggal di pedalaman padang pasir yang serba sederhana. Ia hanya dikenal oleh lingkungan kemah dan sanak keluarga yang ada di sekitarnya saja.

Akan tetapi, pada masa-masa Islam, ia menjadi wanita yang sangat terkenal karena Nabi saw. pernah menjadi tamunya ketika sedang dalam perjalanan hijrah yang penuh berkah ke kota Madinah.

Nama asli Ummu Ma’bad ra. adalah ‘Atikah binti Khalid bin Munqidz. la adalah saudara wanita dari Khunais bin Khalid Al-Khuza’i Al-Ka’bi, seorang sahabat Rasulullah saw. yang cukup terkemuka.

Khunais adalah seorang kesatria gagah berani yang terlibat dalam proses pembebasan kota Makkah. Saat itu, ia tergabung dengan rombongan pasukan yang dipimpin oleh Khalid bin Al-Walid ra. dan terbunuh pada hari itu juga sebagai syahid, semoga Allah meridainya.

Dalam perjalanan hijrah, Rasulullah saw. lewat di dekat kemah Ummu Ma’bad Al-Khuza’iyyah, seorang wanita yang tegar dan cukup terkenal di kawasan pedalaman. Ia suka berdiri di halaman kemah dan selalu bersedia memberi makan dan minum kepada siapa saja yang lewat di depannya.

Ketika Nabi saw. dan Abu Bakar ra. sampai di situ, mereka bertanya, “Apakah engkau memiliki makanan atau minuman?” Ummu Ma’bad menjawab, “Demi Allah, seandainya kami masih punya sesuatu, maka kami tidak akan segan-segan untuk menjamu kalian. Domba tidak lagi mengeluarkan susu, karena tahun ini sangat kering.”

Rasulullah saw. melihat seekor domba kurus di samping kemah, lalu bertanya, “Wahai Ummu Ma bad, mengapa domba ini ada di sini!” Ummu Ma bad menjawab, “Domba ini tidak bisa ikut kawanannya karena tidak sanggup berjalan jauh.”

Rasulullah saw. bertanya lagi, “Apakah masih ada susunya?” Ummu Ma bad menjawab, “Dia tidak mungkin lagi mengeluarkan susu.” Rasulullah saw. berkata, “Apakah engkau mengizinkan aku memerah susunya?” Ummu Ma bad menjawab, “Tentu. Jika menurutmu domba itu masih bisa diperah, maka lakukanlah.”

Baca juga:  Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

Rasulullah saw. mendekati domba tersebut dan mengusap susunya sambil membaca basmalah dan berdoa. Tiba-tiba, domba tersebut merenggangkan kedua kakinya dan susunya mengalir dengan deras.

Rasulullah saw. minta Ummu Ma’bad mengambilkan wadah besar yang biasa digunakan untuk minum sekeluarga. Lalu, beliau memerah susu domba tersebut hingga wadah menjadi penuh. Beliau menyuruh Ummu Ma’bad agar meminumnya hingga puas lalu disusul oleh sahabat-sahabatnya, sedangkan beliau sendiri meminumnya setelah mereka.

Kemudian beliau memerah lagi susu domba tersebut dalam wadah hingga penuh. Setelah itu, beliau berpamitan kepada Ummu Ma’bad untuk meneruskan perjalanan. Tidak lama kemudian, suami Ummu Ma’bad tiba di kemah sambil menggiring domba-domba yang kurus kering dan berjalan tertatih-tatih karena lemah.

Ketika matanya melihat susu dalam wadah, Abu Ma’bad terbelalak. Ia bertanya dengan terheran-heran, “Dari mana engkau mendapatkan susu ini, bukankah domba-domba kita tidak ada di sini? Di kemah juga tidak ada domba yang susunya dapat diperah?”

Ummu Ma’bad menjawab, “Memang benar, demi Allah. Hanya saja, tadi ada orang yang penuh berkah yang lewat di sini. Ia berkata begini dan begini, sedangkan penampilannya begini dan begini.” Abu Ma’had berkata, “Demi Allah, aku yakin dialah orang yang sedang dicari oleh orang-orang Quraisy. Wahai Ummu Ma’bad, coba terangkan ciri-cirinya kepadaku.”

Ummu Ma’bad menjelaskan, “Dia sangat tampan, wajahnya memancarkan sinar, perawakannya sempurna, perutnya tidak besar dan kepalanya tidak kecil. Parasnya sangat gagah, bola matanya hitam dan bulu matanya memanjang. Suaranya nyaring, lehernya panjang, matanya sangat jernih, alisnya jelas dan rambut kepalanya sangat hitam. Ketika diam, dia tampak sangat berwibawa dan ketika bicara, tampak sangat menakjubkan. Jika dilihat dari kejauhan, maka dia tampak bersinar, dan jika dilihat dari dekat, maka dia sangat indah dan menarik. Kata-katanya enak didengar, nadanya serius, tidak terlalu pendiam dan tidak pula banyak bicara yang tidak berguna. Kata-katanya itu seperti butir-butir berlian yang tersusun rapi. Perawakannya sedang tidak terhina karena terlalu pendek dan tidak pula menyusahkan karena terlalu tinggi. Dia ibarat cabang pohon yang diapit oleh dua cabang lainnya, sehingga ia tampak yang paling indah dan paling baik di antara ketiganya. Dia ditemani oleh beberapa sahabat yang selalu menjaganya. Jika dia berbicara, maka mereka akan mendengarkannya dengan seksama. Jika dia menyuruh, maka mereka segera mengerjakannya. Dia benar-benar disegani dan pantas menjadi pemimpin yang disenangi oleh pengikut-pengikutnya. Dia tidak suka cemberut dan tidak suka mengeluh.”

Baca juga:  Ummu Umarah, Tenaga Kesehatan Pemegang Panji di Medan Jihad

Abu Ma’bad berkata, “Demi Allah, itulah ciri-ciri orang yang sedang dicari orang-orang Quraisy, karena alasan-alasan yang telah mereka terangkan. Sebenarnya, sejak awal aku sudah tertarik dan ingin menjadi pengikutnya dan jika ada kesempatan, maka aku akan melakukannya.”

Bersamaan dengan peristiwa yang terjadi di kemah Unimu Ma’bad ini, di Makkah terdengar desas-desus yang menerangkan kejadian di kemah Ummu Ma’bad. Semua orang mendengarnya, tetapi tidak melihat siapa yang mengatakannya,

Semoga Allah, pemilik ‘Arsy, memberi balasan terbaik

Kepada dua sahabat yang singgah di kemah Ummu Ma’bad

Persinggahan dan kepergian mereka membawa kebaikan

Sungguh bahagia siapa pun yang menjadi teman Muhammad

Wahai keturunan Qushai sungguh semua tindakan kalian

yang telah digagalkan oleh Allah tidak pantas dibalas kemuliaan

Bani Ka’ab tidak perlu gelisah dengan anak perempuan mereka

Karena kemahnya menjadi tempat singgah orang-orang mukmin

Tanyalah saudara perempuan kalian tentang domba dan wadahnya

Karena jika kalian bertanya kepada domba, maka ia pasti bersaksi

Asma’ binti Abu Bakar berkata, “Selama itu kami tidak tahu, ke mana Rasulullah saw. pergi. Tetapi, ketika suara jin itu terdengar dari daerah rendah kota Makkah dan mengucapkan bait-bait puisinya tadi, sementara orang-orang Quraisy terus mengikutinya dan mendengar kata-katanya tetapi tidak melihat orangnya sampai suara itu keluar dari daerah tinggi kota Makkah, maka kami mengetahui tujuan Rasulullah saw. bahwa beliau menuju kota Madinah.”

Iman telah menyentuh lubuk hati Ummu Ma’bad sejak pertama kali mendengar dan melihat Rasulullah saw. Buktinya, ketika beberapa pemuda Quraisy yang mengejar Rasulullah saw. menemuinya dan menanyakan perihal Rasulullah saw., Umm Ma’bad mengkhawatirkan beliau sehingga tidak memberi jawaban yang benar. Ia berkata, “Kalian menanyakan sesuatu yang tidak pernah kudengar sejak setahun yang lalu.”

Baca juga:  Biografi 20 Shahabiyah Rasulullah SAW yang Asing di Telinga Kita

Memeluk Islam

Ummu Ma’bad sangat takjub dengan berkah-berkah yang ia saksikan langsung dari Rasulullah saw., sehingga beberapa saat kemudian, ia dan suaminya menemui beliau dan berbaiat kepadanya untuk menjadi muslim yang baik.

Pada suatu hari, Ummu Ma’bad menghadiahkan seekor domba kepada Nabi saw. Tetapi sungguh mengejutkan, beliau malah menolaknya. Hal ini membuat Ummu Ma’bad tidak enak hati. Para sahabat berkata, “Rasulullah saw. menolak hadiahmu karena beliau melihat susu domba itu sangat baik.”

Berdasarkan saran ini, Ummu Ma’bad menghadiahkan lagi domba yang tidak memiliki susu, dan ternyata Rasulullah saw. menerimanya. Ummu Ma’bad selalu ingin menyenangkan Rasulullah saw.

Ummu Ma’bad ra. melewati masa-masa hidupnya di bawah naungan iman dengan giat melaksanakan salat, puasa dan ibadah kepada Allah “Azza wa Jalla. Hal ini membuat hatinya sangat senang dan bahagia. Ia hidup di dalam surga dunia yang tentunya akan membuahkan kehidupan baru di dalam surga akhirat kelak.

Ummu Mabad ra. sangat senang jika mendengar berita tentang kemenangan kaum muslimin dalam perang melawan musuh-musuhnya dan sangat sedih jika yang terjadi adalah sebaliknya. Hati Ummu Ma’bad ra. selalu terpaut dengan Islam dan kaum muslimin hingga ia menerima kabar duka yang sangat menyedihkan, yakni berita wafatnya Rasulullah saw.

Kesedihan Ummu Ma’bad ra. tidak terperi hingga hatinya nyaris hancur. Ia selalu teringat dengan pertemuan pertamanya dengan Rasulullah saw., yakni waktu beliau singgah di kemahnya dalam rangkaian perjalanan hijrah ke Madinah.

Namun, Ummu Ma’bad ra, tidak larut dalam kesedihannya, ia tahu bahwa sikap rida adalah kunci segala kebaikan, sehingga ia sabar, rida dan menyerahkan kesedihan atas kepergian Nabi saw. kepada Allah swt., agar meraih pahala orang-orang yang sabar. [MNews/Gz]

Sumber: Mahmud Al-Mishri. 2006. 35 Sirah Shahabiyah (35 Sahabat Wanita Rasulullah saw.). Jilid 2. Al-I’tishom. Bandung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *