[Sirah Nabawiyah] Interaksi Pemikiran dalam Dakwah

Oleh: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH – Esensi dakwah adalah berinteraksi menyampaikan ide kepada orang lain. Jika dakwah bertarget perubahan, maka interaksi yang dilakukan haruslah interaksi pemikiran.

Manusia yang menggunakan akalnya akan mudah mengindra fakta kerusakan dan memikirkan fakta penggantinya yang lebih baik. Mengubah berbagai  kebobrokan yang menyebabkan  kezaliman menuju kehidupan yang terhormat dan menyejahterakan.

Sejak awal, dakwah Rasulullah Saw. menyampaikan pemikiran Islam, bahkan menyerang pemikiran rusak yang eksis masa itu. Rasulullah Saw. bersama kelompok dakwahnya mengajak masyarakat mengesakan Allah, beribadah hanya kepada-Nya, meninggalkan penyembahan berhala, serta melepaskan diri dari semua sistem kehidupan yang rusak. Apa yang Rasulullah  Saw. dan para sahabatnya dakwahkan adalah mengajak orang untuk berpikir.

Merobohkan Pemikiran Rusak dan Membangun Pemikiran Islam

Ayat-ayat  Al-Qur’an yang diturunkan Allah SWT tidak hanya memukau dari sisi lafaz-lafaznya. Isinya juga membuat orang Arab yang mendengarkan akan merenungi maknanya. AlQur’an yang diwahyukan kepada Rasulullah Saw. menyerang kehidupan Quraisy kala itu.

Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah adalah umpan neraka jahanam. (TQS. Al Anbiya : 98)

Praktik riba yang mewarnai kehidupan masyarakat jahiliah pun diserang oleh Al-Qur’an dengan hantaman yang sangat keras.

Dan segala hal yang kalian datangkan berupa riba agar dapat menambah banyak pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah apa pun di sisi Allah.(TQS Ar Rum : 39)

Begitu juga terhadap orang-orang yang melakukan kecurangan dalam takaran dan timbangan, Allah SWT berfirman,

Baca juga:  Pemboikotan terhadap Dakwah Rasulullah Saw.

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.(TQS Al Muthaffifin : 1-3)

Al-Qur’an juga membangun pemikiran untuk hanya menyembah Sang Pencipta yaitu Allah SWT.

Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepadanya saja menyembah. (TQS  Fushshilat : 37)

Dakwah Pemikiran Berbuah Respons

Respons yang didapatkan, baik positif maupun negatif adalah hasil dari interaksi dakwah pemikiran. Apalagi ketika terjadi perubahan pemikiran. Ini merupakan langkah awal menuju perubahan sikap individu maupun masyarakat secara keseluruhan.

Thufail bin ‘Amru ad Dausiy datang ke Makkah. Dia adalah seorang laki-laki mulia, ahli syair, dan cerdas. Sementara kaum Quraisy meniupkan fitnah kepadanya agar berhati-hati kepada Muhammad Saw. dan menyarankan kepadanya agar tidak berbicara dan mendengarkan Nabi Saw.

Saat Thufail pergi ke Ka’bah dan Rasulullah Saw. ada di sana, dia mendengar sebagian sabda Rasulullah Saw. Thufail mendapati itu adalah ucapan yang baik.

Dia berucap di dalam hatinya, “Demi kemuliaan ibuku, demi Allah, sesungguhnya aku seorang penyair yang cerdas, yang tidak satu pun hal yang terpuji maupun tercela yang tersembunyi dariku. Lantas apa yang mencegahku untuk mendengarkan apa yang dikatakan laki-laki ini? Jika dia datang membawa hal yang terpuji, pasti aku menerimanya, dan jika dia datang membawa hal yang tercela, maka aku akan tinggalkan.”

Baca juga:  Fatimah binti Abdul Malik, Istri Khalifah yang Memilih Meninggalkan Kemewahan Dunia

Thufail mengikuti Rasul Saw. hingga ke rumahnya dan memaparkan urusannya dan apa yang berkecamuk dalam dirinya kepada Rasul Saw. Beliau Saw membacakan Al-Qur’an kepadanya, maka Thufail masuk Islam. Tidak cukup untuk dirinya, Thufail kembali ke kaumnya untuk mengajak mereka memeluk Islam.

Dua puluh orang-orang Nasrani menemui Rasul Saw. di Makkah. Mereka bertanya dan mendengarkan Beliau Saw. Kemudian mereka memenuhi ajakan Rasul Saw., beriman dan membenarkannya.

Ucapan kaum Quraisy tidak mampu memalingkan rombongan tersebut untuk murtad dari Islam. Bahkan iman mereka kepada Allah semakin bertambah.

Interaksi Dakwah ke Thaif

Kafir Quraisy semakin meningkatkan penganiayaan  terhadap para pengemban dakwah dan memperbanyak cara penindasan yang mereka lakukan.

Rasul saw pergi ke daerah Thaif untuk mencari pertolongan dan perlindungan dari para pemimpin bani Tsaqif, sekaligus mengharapkan mereka masuk Islam. Namun mereka menolak Beliau Saw. dengan jawaban yang sangat menyakitkan. Mereka menyuruh anak-anak dan orang bodoh untuk mencaci maki Nabi Saw. dan melemparinya dengan batu hingga kedua kaki beliau Saw. berdarah.

Beliau Saw. meninggalkan mereka dan pergi hingga di sebuah kebun anggur milik ‘Utbah dan Syaibah, dua anak Rabi’ah. Rasulullah Saw. berpikir tentang urusan diri beliau dan dakwahnya.

Di kebun itu Rasulullah saw berdoa, “Ya, Allah, kepada-Mu juga aku mengadukan kelemahan kekuatanku, kekurangan siasatku, dan kehinaan di hadapan manusia. Wahai Yang Paling Pengasih di antara para pengasih, Engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah, Engkau Rabku, kepada siapa hendak engkau serahkan diriku? Kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai urusanku? Aku tidak peduli asalkan Engkau tidak murka kepadaku, sebab sungguh teramat luas afiat yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari segala kegelapan dan karenanya urusan dunia dan akhirat menjadi baik, agar Engkau tidak menurunkan kemarahan-Mu kepadaku atau murka kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau rida. Tidak ada daya dan kekuatan selain dengan-Mu.”

Kemudian Beliau Saw. kembali ke Makkah dengan perlindungan Muth’im bin ‘Adiy. Demikianlah, dakwah terus berjalan di semua lini. Membongkar pemikiran dan sistem yang rusak dan menyampaikan risalah Islam yang menjadi solusi atas semua problem kehidupan manusia. Hanya dengan interaksi pemikiran yang membuat manusia menempuh jalan perubahan, dari kegelapan menuju cahaya Islam.

Baca juga:  [Sirah Nabawiyah] Dari Propaganda Jahat Hingga Pemboikotan

Aktivitas melakukan perubahan yang mendasar berkonsekuensi pada adanya penentangan, penghinaan, bahkan penyiksaan. Rasulullah Saw. memberikan teladan yang sangat baik bagaimana menghadapi  berbagai risiko  dalam berdakwah. Istiqomah dalam berjuang dan menyerahkan semua urusan dakwah ini kepada Zat yang Maha sempurna, Allah SWT. Wallahu a’lam bishshawab. [MNews, Rgl]

Sumber: Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, Al Azhar Press

One thought on “[Sirah Nabawiyah] Interaksi Pemikiran dalam Dakwah

Tinggalkan Balasan