Normalisasi dalam Islam

Oleh: Sulistiawati Ummu Aisyah

MuslimahNews.com, FOKUS – Amerika Serikat terus menggiring Bahrain dan Uni Emirat Arab untuk normalisasi hubungannya dengan Israel. Upaya ini diwujudkan pada 13/8/2020 di Abu Dhabi.  Upaya Trump tidak sampai di sini, ia terus mengupayakan negara-negara Arab agar melakukan normalisasi dengan Israel.

Amat tercium aroma kampanye Trump agar bisa melanggeng kembali pada tampuk kekuasaan. Trump ingin membuktikan pada dunia bahwa ia berhasil membuat terobosan besar di kawasan terbesar umat Islam ini.

Namun sayang, strategi ini bukanlah baru. Sejak Inggris menduduki Palestina, Israel mulai diberi jalan menempati tanah umat Islam yang diberkahi. Semua perang direkayasa agar dimenangkan Israel. Sandiwara yang tidak lagi aneh.

Hingga berganti kekuasaan ke tangan AS, langkah normalisasi bukanlah hal baru dan istimewa. Melainkan hanya membuka perselingkuhan lama yang kemudian dideklarasikan dalam bentuk normalisasi. Penguasa-penguasa Arab hanyalah boneka yang dikendalikan kekuatan Asing.

Namun istilah normalisasi tetaplah memiliki makna yang penting untuk dikritisi.

Normalisasi dalam Kamus Bahasa Arab

طَبَّعَ يُطَبِّعُ تَطْبِيعاً : مبالغة طَبَعَ.- روَّضه.-

“Yaitu membiasakan atau menjadikan normal.”

Ini menunjukkan apa yang berlaku sebetulnya adalah tidak biasa dan tidak normal. Makna bahasa ini sudah bisa menjelaskan bahwa sebelumnya perebutan hak umat Islam atas tanah Palestina adalah kesalahan.

Masyarakat dunia memahami apa yang terjadi di Palestina adalah penjajahan. Siapa pun yang berdamai dengan penjajah, menyerahkan haknya kepada perampas, dan bekerja sama dengan perampok, adalah tindakan yang tidak normal!

Baca juga:  Lebih dari 6.000 Warga Palestina Ditangkap Israel Selama Tahun 2018

Karenanya, Trump memanfaatkan situasi ini demi memenangkan dirinya pada kontestasi pemilu tahun ini. Dengan hegemoninya, AS mengubah persepsi yang tidak benar menjadi sebuah kebenaran. Inilah makna “normalisasi” yang diciptakan AS.

Dalam pandangan Islam, mendukung normalisasi adalah haram. Jelas keharaman karena tindakan ini terkategori muwalah (bersikap setia) kepada orang kafir.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi teman setia (wali, pelindung atau pemimpin)mu; sebagian mereka adalah pelindung (pemimpin) bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi teman setia (wali, pelindung, atau pemimpin), maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS Al-Maidah [5] : 51).

Orang kafir dalam terminologi syariat adalah orang yang tidak meyakini Allah SWT, mengingkari kenabian Muhammad Saw., dan melakukan penentangan kepada keduanya.

Secara tegas Islam menghinakan upaya mereka menghalangi Islam.

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحَآدُّونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ أُو۟لَٰئِكَ فِى ٱلْأَذَلِّينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina.” (QS Al Mujadilah:20)

Dalam tafsir Al Wajiz, Syekh Wahbah az Zulaili menuliskan,

Ini adalah janji sekaligus ancaman bagi siapa saja yang menentang Allah dan rasul-Nya dengan kekufuran dan berbagai kemaksiatan. Ia akan mendapatkan kerendahan dan kehinaan, dan tidak ada kesudahan baik baginya, serta tidak memperoleh kemenangan.

Tindakan Israel yang jelas membuat kerusakan dengan membunuhi umat Islam, mencaplok tanah umat Islam, dan menjarah kepemilikan umat, menegaskan Israel adalah penjajah. Maka, bagaimana bisa pemimpin Arab menyetujui normalisasi?

Baca juga:  Rumah Dirampas Israel, Muslim Palestina Huni Gua Sarang Kalajengking

Penjajahan harus dihentikan dengan kekuatan senjata, hingga mereka terusir dari tanah umat Islam. Terlebih lagi dalam Islam, menghadapi penjajahan wajib melakukan jihad fi sabilillah; Mengangkat senjata dan mengusir penjajah dari tanah milik umat Islam. Bukan dengan berdamai atau apa yang dinamakan normalisasi.

Seharusnya para pemimpin Arab menegaskan penolakan terhadap upaya apa pun yang melegalkan penjajahan Yahudi atas umat Islam. Termasuk menegaskan penolakan segala bentuk kezaliman yang diprakarsai oleh negara-negara kafir yang telah nyata memberikan kesengsaraan bagi dunia ini.

Penguasa Arab seharusnya ikut membongkar sikap hipokrit AS dan negara Barat lainnya. Di satu sisi membela korban terorisme jika korbannya adalah Barat, sisi yang lain mendiamkan pembantaian jutaan manusia jika korbannya adalah Muslim.

Penguasa Arab jangan malah merasa terpojok dan meminta maaf kepada AS, bahkan membayar sejumlah kompensasi yang tidak kecil kepada keluarga korban terorisme. Justru sikap tegas menentang hegemoni AS ini akan menyelamatkan posisi pemimpin di mata rakyatnya.

Sesungguhnya, masyarakat Arab sama sekali sudah merasakan kesempitan hidup di bawah tekanan AS. Mereka hidup di tengah himpitan ekonomi yang berat dan jerat utang yang semakin menumpuk.

Terlebih lagi, jika menegaskan sikap untuk tetap di sisi umat Islam dan antipenjajahan, Allah SWT akan membuka jalan kembalinya posisi umat Islam yang dulu pernah menjadi umat yang istimewa di bawah naungan syariat.

Baca juga:  Bendera Israel Berkibar di Papua, Netizen: Saat Semua Mengecam, di Negara Kita Masih Ada yang Mengibarkan Bendera Israel

Tidakkah penguasa Arab berpikir untuk menjadi mulia seperti kemuliaan suku ‘Aus dan Khajraj yang diabadikan dalam Al-Qur’an dengan kaum Anshar? Kaum yang mengorbankan diri mereka menolong agama Allah dan menolong Rasul-nya.

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلْإِيمَٰنَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِى صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ أُوتُوا۟ وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS Al Hasyr: 9)

Penguasa Arab (dan penguasa negeri muslim lainnya) wajib menegaskan untuk selalu berada di sisi umat Islam, menegakkan syariat secara konsisten dan menolong kekuasaan Islam agar kembali tegak, sekaligus menegaskan sikap pemimpin Arab berada sebagai anshar (penolong) agama.

Dengan inilah kemuliaan sejati akan diraih. Menolak normalisasi karena kehormatannya tidaklah sesulit dugaan manusia. Menghadapi tekanan AS tentu tidak sesulit menghadapi ancaman dari Sang Pemilik dunia beserta isinya. [MNews/Gz]

2 thoughts on “Normalisasi dalam Islam

Tinggalkan Balasan